
"Ma-mah!"
Ayanda hanya menyunggingkan senyum kepada putrinya. Dia pun berkata, "ikut Mamah, Kak."
Echa semakin terkejut dengan apa yang dikatakan oleh ibunya. Tidak ada interogasi seperti biasanya sehingga dia tidak bisa menjawab apapun. Dia hanya bisa memandang wajah ibunya dengan mata yang sudah nanar.
Ayanda memeluk tubuh sang putri. "Tanpa kamu bilang apapun, Mamah tahu semuanya, Kak." Air mata Echa menetes begitu saja. Kekuatannya seakan runtuh. Tangannya sudah memeluk erat tubuh sang ibu. Isakannya terdengar sangat lirih seakan tengah meluapkan segalanya dalam dekapan hangat sang bunda.
"Naluri seorang ibu itu sangat kuat, Kak." Ayanda mengusap lembut punggung Echa yang masih bergetar karena tangisan yang belum juga reda.
Setelah tangisnya selesai, Ayanda mengurai pelukannya dan mengusap lembut pipi Echa yang banjir dengan air mata. Ayanda masih bisa tersenyum ke arah putrinya.
"Kamu ganti baju. Kemudian, ikut Mamah."
"Ke-mana?"
"Ikut aja."
Tak berapa lama, Echa sudah berganti pakaian dan mengikuti langkah sang ibu. Dia memperhatikan jalanan dan dahinya mengkerut ketika mobil sudah masuk Jogja bagian kota. Echa menatap ke arah sang ibu, tetapi Ayanda hanya tersenyum.
Mobil berbelok ke area rumah sakit Kedua alis Echa menukik dengan sangat tajam. Hatinya sudah berdegup tak karuhan.
"Ada apa ini?"
"Mah-"
__ADS_1
Ayanda tak menjawab, dia menggenggam tangan Echa memasuki rumah sakit dan berjalan beriringan. Echa tak banyak bicara. Dia hanya terus merapalkan doa agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Lantai dua, Ayanda dan Echa sudah berada di sana. Tak sedikitpun Ayanda melepaskan genggaman tangannya kepada Echa. Sesekali Ayanda menoleh ke arah sang putri. Echa terlihat khawatir.
Langkah Ayanda terhenti di depan sebuah kamar perawatan. Echa bisa melihat itu kamar perawatan khusus karena berbeda dengan yang lain. Sebelum membuka pintu, Ayanda memandang wajah Echa sejenak.
Klek!
Bertepatan dengan suara pintu terbuka, seseorang yang tengah berada di kursi samping ranjang pesakitan menoleh. Echa sangat terkejut.
"Pa-pa-pih."
Addhitma tersenyum ke arah Echa. Dia menggeser tubuhnya sedikit dan kejutan disuguhkan kembali untuk Echa. Mata Echa terbelalak ketika dia melihat pria yang tengah berbaring di atas ranjang dengan keadaan terpejam.
"K-kak ... Radit."
"Maafkan saya, Bu. Saya tidak bisa menjaga Bapak."
Mendengar ucapan dari Riki, membuat hati Echa bergetar. Air mata yang sudah menganak akhirnya tumpah jua.
"Lebih dari dua hari ini, Bapak hanya tidur beberapa jam saja demi menyelesaikan pekerjaannya. Lupa makan dan malah tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam perutnya. Beliau hanya ingin pekerjaannya cepat selesai dan bertemu Ibu."
Air mata Echa menetes sangat deras mendengar ucapan dari asisten sang suami.
"Radit pingsan tadi dan langsung dibawa ke sini. Dia sudah sadar sebentar, dan nama kamulah yang dia panggil."
__ADS_1
Echa sangat merasa berdosa. Bukan hanya satu orang yang berbicara seperti itu.
Ayanda mengusap lembut punggung Echa dan menatapnya dengan tatapan sangat hangat. Anggukan kecil dari sang ibu membuat Echa memberanikan diri melangkah menghampiri ranjang pesakitan Radit.
"Radit tidak ingin berpisah dengan Echa, Mih. Radit sayang Echa. Radit cinta Echa."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Addhitma. Sedangkan tubuh Echa menegang, dan Ayanda serta Riki terkejut dengan igauan Raditya.
"Setiap Radit sakit dan terbaring lemah, pasti dia akan memanggil-manggil nama ibunya. Ini sudah terbiasa terjadi ketika Radit dirawat di rumah sakit."
"Radit sayang Echa, Mih. Sa-yang dia." Echa melihat jelas air mata menetes di ujung mata Radit yang terpejam. Terlihat Radit sangat kesakitan mengatakan itu semua.
"Keputusan ada di tangan kamu, Cha." Addhitma sudah menatapnya.
"Tubuhnya drop karena kelelahan. Dia sampai rela bolak-balik Jogja-Bogor-Jogja untuk menemui Mamah. Radit sudah berterus terang kepada Mamah tentang semuanya."
Echa tercengang, yang ada di kepalanya kenapa mamahnya tidak marah?
Ayanda mendekat ke arah sang putri, mengusap lembut pundak Echa. "Radit adalah pria yang benar-benar luar biasa. Mau mengakui kesalahannya dan tidak takut akan respon Mamah nantinya seperti apa. Laki-laki seperti itu sulit untuk didapati untuk sekarang ini."
Echa terdiam, sedari tadi air matanya tak bisa tertahan ketika melihat tubuh lemah suaminya. Perlahan, Echa menggenggam tangan Radit. Air matanya masih berjatuhan.
"Ay, bangun."
...****************...
__ADS_1
Yang minta UP harus komen ya ...