
Nyonya Bhaskara dan juga Arina tengah berkeliling mall sambil membawa tiga kurcaci kecil. Mereka terlihat sangat bahagia. Membelikan apa saja yang lucu untuk ketiga anak Echa.
"Kalian suka?"
Anak-anak Echa mengangguk dengan ceria. Nyonya Bhaskara dan juga Arina terus membawa mereka berkeliling. Hingga mereka lelah dan duduj di food court.
"Anteu, au es tlim."
Dengan senang hati Arina membelikannya untuk ketiga anak Echa. Mereka memakannya dengan lahap.
Di kediaman Nyonya Bhaskara, dua orang manusia sudah bersitegang. Di mana Arya yang tidak tahu menahu di mana keberadaan anak-anak Echa, dan Echa mendesak Arya untuk mencari si triplets.
"Echa gak mau tahu, pokoknya Om cari mereka!" titahnya, sambil berkacak pinggang.
"Dih, gua gak tahu mereka di mana. Mbak Arin sama Mamih aja gak balas chat gua. Telepon gua aja gak pernah diangkat."
"Pokonya cari!" seru Echa.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Arya. Dia teringat akan sopir sang Mamih. Ketika dia menghubungi, Arya bisa menghela napas lega.
"Ayo, ikut gua."
Arya masuk ke dalam mobil diikuti Echa. Mereka menuju sebuah mall yang sangat besar. Jaraknya cukup jauh dari kediaman sang Papih. Mall favorit dari istri Antonio Bhaskara.
"Om yakin anak-anak Echa dibawa ke sini?"
"Sepertinya."
Echa menatap tajam ke arah Arya. Ditanggapi dengan delikan kesal oleh Arya.
Tibanya di parkiran sebuah mall. Echa merangkulkan tangannya di lengan Arya. Mereka berjalan beriringan, semua mata tertuju pada mereka berdua.
"Gua dianggap jalan sama bocah," gerutunya, sedangkan Echa malah tertawa.
"Gak apa-apa, sekali-kali jalan sama om-om berduit."
Arya terkekeh dan mengusap lembut kepala Echa. Bagi Arya, Echa tetaplah keponakan kecilnya.
"Kalau ada si Radit dibogem gua nih."
Echa tertawa mendengar ucapan Arya. Mereka lupa akan tujuan mereka, malah berkeliling mall sambil bercerita. Tidak sengaja, Arya menabrak tubuh seseorang. Baru saja dia akan membuka mulut, malah dia urungkan. Dengusan lah yang keluar dari mulutnya.
"Ngapain lu di sini?" Siapa lagi jika bukan bapak dari si bocah Bangor.
"Menurut Lo?" balas Arya.
"Anak-anak kamu mana?" Kini, Rion bertanya kepada Echa.
"Lagi dibawa emak sama mbak gua. Ini lagi gua cari."
"Sunarya!"
Teriakan khas emak-emak komplek terdengar. Semua orang menatap heran ke arah Arina.
"Cantik-cantik kok norak!"
Begitulah kata para pengunjung yang lainnya. Apalagi, dia memanggil Arya dengan sebutan Sunarya.
"Bubu!"
"Enton!"
Ketiga kurcaci berlari dan memeluk tubuh Echa dan juga Rion. Aleeya dan Aleena digendong oleh Rion sedangkan Aleesa digendong Echa.
"Tua amat panggilannya," ejek Arin kepada Rion.
"Berisik Mbak!" geram Rion.
Datanglah sosok kanjeng mamih yang telah membawa beberapa paper bag di tangannya. Rion dan Echa mencium tangan Nyonya Bhaskara dengan sangat sopan.
"Makan dulu, yuk. Mamih lapar," ajaknya.
Tidak main-main, ibu dari Arya Bhaskara ini mengajak makan di restoran yang cukup mewah. Semuanya dia pesan. Termasuk kesukaan si triplets, telur mata sapi.
"Anak lu gampang banget makannya," imbuh Arina.
"Diajarin Engkongnya, noh," sungut Arya.
"Kakek medit lu!" sarkas Arina.
"Medit dari mana coba? Telur itu dibeli pakai uang. Belum pelengkap yang lainnya," belanya.
"Susah ngomong sama lu mah Rion oon," geram Arina.
__ADS_1
Nyonya Bhaskara kan terkekeh jika Arina sudah bertemu dengan Rion. Ada saja yang mereka ributkan.
"Kalau Rion sama Arina jadi sepasang suami-istri gimana, ya?"
Pikiran gila sudah menggerayangi kepalanya. Sedangkan keempat orang yang berada di meja itu malah menatap aneh ke arah Nyonya Bhaskara.
"Gak sudi punya kakak ipar macam nih orang," jawab Arya, sambil menunjuk ke arah Rion.
"Ogah juga gua punya adik ipar kayak lu!"
"Apa lagi gua, gak sudi banget punya suami macam lu! Punya adik kayak si Sunarya aja terpaksa."
"Astaghfirullah ... jaga ucapan lu, Mbak," ujar Arya.
"Napa? Tanya noh Mamih, lu itu anak yang tidak diinginkan dan direncanakan. Harusnya gua yang menjadi pewaris tunggal perusahaan Papih."
Arina berucap dengan berapi-api sedangkan Arya sudah tersulut emosi. Tidak ada tanggapan dari Nyonya Bhaskara, dia masih asyik menyuapkan makanannya ke dalam mulutnya.
Pemandangan ini jarang sekali terjadi semenjak anak-anaknya sudah berkeluarga. Dia sangat merindukan hal seperti ini. Teringat akan Arina dan Arya sewaktu kecil.
"Oma, sebentar lagi mereka jambak-jambakan itu," imbuh Echa.
"Biarkan saja. Lebih baik nikmati makanan kamu. Kalau mereka jambak-jambakan biar Oma video 'kan, lalu Oma kirim kepada Opa."
Echa tidak mengerti dengan jalan pikiran dari Omanya Beeya ini. Apalagi wajahnya tampak bahagia melihat kedua anaknya yang sudah adu mulut dan sudah perang tangan.
"Kok Tante gak melerai?" tanya Rion heran.
"Untuk apa? Justru Tante rindu akan hal seperti ini. Dulu ... ketika mereka kecil Tante memang pusing melihat kelakuan mereka bagai tikus dan kucing. Akan tetapi, di saat mereka tumbuh dewasa. Mereka berkeluarga, Tante merindukan hal ini. Merindukan kedua anak Tante yang sudah jauh dari Tante."
Echa menatap nanar ayahnya. Apa ayahnya merasakan hal yang sama seperti itu?
"Kamu mah enak, masih satu rumah dengan anak-anak kamu. Bisa bermain dengan cucu kamu setiap hari. Beda dengan Tante," lirihnya.
Rion mengusap lembut pundak Nyonya Bhaskara. Dia merasakan kerinduan yang dialami oleh seorang ibu terhadap anak-anaknya. Dia kita merayakan hal yang sama ketika anak-anaknya sudah beranjak dewasa. Apalagi, dia hidup sendiri tanpa pendamping.
"Jaga anak-anak kamu. Jangan sia-siakan lagi." Rion tersenyum dan mengangguk.
"Lihatlah putri yang kamu terlantarkan itu!" tunjuknya pada Echa.
"Seharusnya kamu malu kepada dia, dia yang ditelantarkan saja masih bisa menerima kamu dengan tulus. Mau merawat kamu dengan ikhlas. Tanpa diminta tanpa kamu paksa. Itulah kasih sayang seorang anak yang sesungguhnya."
"Anakmu adalah anak yang baik. Tidak peduli perilaku kamu di masa lalu kamu. Tidak peduli bagaimana sifatnya dulu kepada dirinya. Dia hanya ingin berbakti kepada kamu dan membalas segala jasa kamu. Bagaimanapun kamu adalah ayahnya. Darah kami mengalir di dalam darahnya."
Rion memeluk tubuh Nyonya Bhaskara yang menjadi ibu kedua untuknya. Apa yang dikatakan oleh Nyonya Bhaskara tidak ada yang salah.
Setelah puas berbelanja dan juga makan. Mereka kembali ke rumah masing-masing. Echa pulang dengan sang ayah dan ketiga anaknya sudah terlelap di kursi penumpang belakang,
Tibanya di rumah, Rion membantu Echa membawa tubuh ketiga anaknya dengan sangat hati-hati agar mereka tidak terbangun.
"Aleesa sudah minum obat, Dek?" tanya Rion.
"Sudah, Ayah."
Rion melangkahkan kaki meninggalakan Echa. Namun, tangannya dicekal oleh Echa. Dia pun menatap sang ayah dengan tatapan tak terbaca.
"Apa Ayah merasakan hal yang sama seperti yang Oma rasakan tadi?"
Dahi Rion berkerut mendengar pertanyaan dari putrinya. Mata putrinya sudah berair seperti sedang menahan tangis.
"Loh, kamu kenapa?"
"Jawab pertanyaan Echa, Ayah."
Echa sudah menggenggam tangan ayahnya dengan sangat erat.
"Pasti lah, Dek. Bohong, jika Ayah tidak merasakan hal itu."
"Semakin hari kalian semakin dewasa, yang dulunya kalian bermanja dengan Ayah kini malah sebaliknya, malu. Sudah pasti Ayah kehilangan sosok manja kalian. Namun, Ayah harus berdamai dengan waktu. Ayah tidak dapat menghentikan waktu yang terus berputar. Jika, Ayah boleh meminta ... Ayah ingin meminta kalian tidak cepat tumbuh dewasa."
Hati Echa terenyuh mendengarnya. Dia segera memeluk tubuh sang ayah.
"Maafkan Echa, Ayah. Echa jarang menemani hari-hari Ayah. Echa sibuk sendiri dengan pekerjaan Echa, anak-anak Echa dan juga suami Echa. Maafkan Echa, Ayah."
Rion sangat tersentuh mendengar ucapan maaf yang terdengar sangat tulus itu. Dia sangat merasa bersyukur karena memiliki anak-anak seperti Echa. Hanya dia yang selalu memberikan perhatian lebih dari kedua anaknya. Mungkin juga, kedua anaknya yang lain tengah sibuk dengan kegiatannya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Tidak ada yang salah. Kita tidak dapat menghentikan paksa waktu yang sudah bergerak."
Tangan Echa mendekap erat tubuh sang ayah yang sudah berbeda ketika dia masih muda. Sorot mata lelahnya nampak terlihat jelas.
Malam hari, Echa mengumpulkan kedua adiknya di kamarnya. Riana dan Iyan menatap aneh ke arah sang kakak yang nampak sendu.
"Kakak kenapa?"
__ADS_1
Itulah yang mereka berdua tanyakan. Echa tersenyum getir ketika mengetahui ayahnya sudah mulai senja.
"Kakak minta, kalian luangkan waktu barang sehari atau dua hari untuk ayah."
Kening Riana dan Iyan mengkerut, tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang kakak. Echa menghembuskan napas kasar sebelum menjelaskan.
"Ayah merasa kesepian dan sedih karena kita sudah jarang sekali memiliki waktu bersama dengan ayah. Kakak sibuk dengan keluarga Kakak, kalian sibuk dengan pendidikan kalian. Ayah merasa sendiri dan merindukan kita berkumpul bersama kembali. Masa di mana kita bermanja dengan ayah. Duduk di pangkuan Ayah dan ...."
Echa tidak sanggup melanjutkan bicaranya. Begitu juga dengan Riana yang sudah menunduk dalam.
"Luangkan waktu kita untuk memeluk ayah. Bercengkrama dengan ayah. Mengobrol dengan ayah, supaya ayah tidak merasa kehilangan kita, anak-anaknya."
"Semakin hari Ayah semakin tua. Kita tidak tahu, sampai kapan kita akan bersama ayah seperti ini? Kita tidak tahu, apakah ayah atau kita yang akan pergi terlebih dahulu. Kakak mohon ... kita berikan sedikit waktu kita untuk ayah. Ayah tidak minta banyak kepada kita, hanya itu."
Riana memeluk tubuh kakaknya, begitu juga dengan Iyan.
"Maafkan Ri, Kak. Ri, terlalu fokus pada pelajaran."
"Maafkan Iyan juga, Iyan gak pernah tahu isi hati Ayah."
Echa mengangguk pelan, bukan hanya kedua adiknya yang merasa menyesal. Dia pun merasakan hal yang sama.
Semenjak kejadian itu, mata Echa dan kedua adiknya terbuka lebar. Setiap akhir pekan mereka selalu berkumpul bersama Rion. Bercerita, tertawa dan juga bercanda. Seperti malam ini. Echa mengadakan bakar-bakar sederhana di halaman samping.
Ayahnya dan juga Radit sedang berkaraoke bersama. Bernyanyi lagu-lagu lawas kesukaan Rion, sedangkan tiga kurcaci sedang asyik makan sosis bakar jumbo pesanan mereka.
Mbak Ina sudah menyiapkan nasi liwet beserta sambal kesukaan sang majikan. Setelah semuanya siap, mereka duduk di atas tikar secara lesehan. Di depan mereka sudah ada daun pisang yang disusun secara memanjang.
"Ya ampun, ingat di Bandung," ucap Rion dengan binar bahagia.
Echa tersenyum melihat ayahnya. Bahagia ayahnya itu sederhana. Terkadang anak-anaknya lah yang lupa bagaimana caranya membahagiakan sang ayah?
Mereka menikmati nasi liwet, sambal dan aneka seafood bakar dengan lahapnya. Tidak ketinggalan lalapan dedaunan, serta pemeran utama yang tidak boleh terlewatkan. Jengkol dan Pete.
"Idih ... bau, Yah."
Riana sudah menutup hidungnya ketika sang ayah sudah memakan jengkol.
"Enak tau, Ri."
Rion menyodorkan jengkol ke Riana, dengan cepat Riana menutup mulutnya dan Rion pun tertawa.
Dia kemudian memicing ke arah ketiga cucunya yang seperti kambing. Memakan daun selada dan kemangi dengan lahapnya hanya dengan nasi liwet. Padahal mereka sudah diberi ikan bakar dan juga sosis bakar, tetapi malah memakan hanya dengan itu.
"Cucu-cucu Engkong suka?" Mereka bertiga mengangkat jempol.
"Itu baru orang sunda," tunjuknya pada si triplets yang suka dengan lalapan.
Bibir Echa melengkung dengan sangat lebar ketika melihat sang ayah makan dengan sangat lahap. Riana dan Iyan hanya menggeleng tak percaya. Ternyata bukan hanya Rion yang masih tak mau berhenti makan. Radit pun sama.
"Ba, nanti perut kami buncit loh."
Echa mulai menakuti, tetapi Radit masih asyik dengan kegiatan kunyah mengunyahnya.
"Ayah, jangan banyak-banyak makan jengkolnya," larang Echa.
Ucapan Echa bagai angin lalu bagi dua pria yang belum juga menyudahi makan malamnya. Sedangkan Echa serta kedua adiknya dan juga anak-anaknya sudah mencuci tangan.
"Nih ya, Dit. Lebih enak lagi makan nasi liwet di rumah Nenek. Cuma pakai tahu, ikan asin dan sambal doang juga beuh ... nikmat," terangnya pada Radit.
"Tahu Bandung 'kan beda sama tahu sini, Yah."
"Nah itu. Lembut dan enak banget. Kalau kamu ke rumah Nenek, kamu harus cobain kacang merah goreng. Pokoknya mantul. Makan sederhana, tetapi menggugah selera."
Echa yang mendengar ucapan sang ayah, memiliki ide untuk menghabiskan akhir pekan depan.
Ketiga anaknya sudah terlelap, begitu juga dengan kedua adiknya. Kini tinggal Echa yang uring-uringan karena Radit memaksa untuk tidur di kamar.
"Jangan tidur di sini, Ay!"
Lemparan bantal mengenai wajah Radit, tetapi dia masih bergeming.
"Kenapa sih, Yang?"
Buru-buru Echa menutup hidungnya. Harum semerbak makanan yang membuat orang tidak berhenti mengunyah tercium.
"Kamu bau! Cepat keluar!"
Echa terus mengusir Radit. Echa dan Riana benar-benar tidak suka dengan Pete dan jengkol. Apalagi baunya, membuat perutnya bergejolak tak karuhan.
"Kalau kamu gak mau keluar, biar aku yang tidur di kamar anak-anak."
Echa sudah turun dari tempat tidur untuk meninggalakan sang suami. Namun, tangan Echa ditarik hingga membentur tembok.
__ADS_1
"Iya, aku keluar."
Echa buru-buru pergi ke kamar mandi, dia memuntahkan isi perutnya karena aroma mulut Radit yang memabukkan. Meskipun sudah sikat gigi, tetapi aroma itu sulit untuk dihilangkan.