
Senyum terus mengembang di bibir sepasang merpati ini. Hanya kebahagiaan dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Tangan mereka saling bertautan dan seperti tidak ingin terpisahkan.
"Apa Papa dan Ayah kamu akan mempermudah pinanganku?" Khawatir, itulah yang Radit rasakan.
"Entahlah," jawab Echa sedikit acuh membuat Radit gemas.
Waktu terus berputar. Hubungan Echa dan Radit terus berjalan. Pertengkaran kecil, cemburu buta sudah menjadi makanan mereka sehari-hari. Seperti kali ini, Echa sedang bersama Jonathan teman kampusnya. Mereka sedang berbincang tentang skripsi yang sedang mereka selesaikan. Tanpa memberitahu, Radit menjemput Echa di tempat kuliah. Matanya melebar ketika melihat sang kekasih hati sedang berdua dengan seorang pria. Marah dan cemburu jadi satu. Radit melangkah dengan lebar dan tanpa basa-basi mencium pipi Echa sehingga membuat Echa terkejut.
"Kok kamu ...."
"Kenapa? Ketauan selingkuh," ketus Radit.
Jonathan hanya terdiam karena tidak mengerti apa yang sedang Echa dan Radit bicarakan.
"Siapa yang selingkuh, Bhal?" Echa mulai melemah. Ketika Radit sedang dilanda cemburu seperti ini dia lah yang harus mengalah. Echa tahu, cinta Radit sangat besar dan tulus untuknya. Jadi, dia tidak ingin membuat Radit kecewa.
Tidak ada jawaban dari Radit. Hanya tatapan tajam dan tidak bersahabat yang Radit tunjukkan kepada Jonathan.
"Who is he?" tanya Jonathan yang merasa terganggu dengan tatapan Radit.
"He's my boy friend," jawab Echa dengan seulas senyum. Tetapi, Radit masih dalam keadaan cemberut menunjukkan kemarahannya. Padahal di lubuk hatinya paling dalam dia tertawa bahagia.
"I think you are still single."
(Aku pikir kau masih sendiri)
"No, he is my future husband," ucap Echa sambil merangkul manja lengan Radit.
(Tidak, dia adalah calln suami aku)
"Ya ampun, lenjeh banget sih gua," batin Echa yang tidak biasa bersikap seperti ini kepada Radit.
"Oh, congratulation. I hope you two will be a lasting couple," ujar Jonathan sedikit kecewa.
(Oh, selamat. Aku harap kalian akan menjadi pasangan yang langgeng)
"Thanks, Jo."
Jonatahan pun pergi meninggalkan Radit dan Echa dengan hati yang hampa. Bukannya Echa tidak tahu jika Jonathan mengagumi dirinya. Jonathan rela memperdalam ilmu agama Islam karena syarat menjadi kekasih Echa itu seiman. Namun, wanita yang Jonathan sukai sudah milik orang lain. Apalagi sampai Echa menyebutnya calon suami. Sakit mendengarnya.
__ADS_1
"PUAS!" Mata Echa mendelik kesal ke arah Radit yang kini sudah menggenggam erat tangan Echa.
Tidak ada jawaban dari Radit hanya bibirnya yang terus melengkung membuat Echa ingin memaki Raditya Addhitama si manusia posesif.
"Kok ke sini?" tanya Echa ketika Radit menghentikan mobilnya di apartemen milik Radit.
"Kamu mau ngerjain tugas skripsi 'kan?" Echa mengangguk.
"Aku sudah menyuruh Charlie untuk menutup tempat praktek. Aku ingin menemani kamu menyelesaikan tugas skripsi. Lalu, secepatnya kita menikah."
"Gak semudah itu, Bambang," geram Echa dan langsung melangkahkan kakinya menuju unit milik Radit. Dengan mudahnya Echa bisa masuk ke dalam unit milik Radit. Karena Radit sudah memberikan kodenya kepada Echa.
"Mau telepon siapa?" tanya Radit yang sudah memeluk tubuh Echa dari belakang.
"Aku harus telepon Kakek. Aku mau ijin untuk tidak pergi ke kantornya selama dua minggu ke depan. Aku mau fokus pada tugas akhirku," terangnya.
Radit melepaskan pelukannya dan membiarkan Echa untuk menghubungi Kakek Genta. Setengah jam berlalu, selama setengah jam Echa mengobrol dengan sang kakek.
"Mata-mata Kakek ada di mana-mana. Jangan sampai kamu bertindak bodoh." Nasihat Genta untuk Echa.
Echa menghela napas kasar, setelah itu mendudukkan diri di samping kekasihnya. Meletakkan kepala di pundak Radit.
Radit memeluk hangat tubuh Echa. Dia tahu, Genta tidak akan memberikan ijin kepada Echa. Ketika Echa sudah masuk ke dalam perusahaan Genta di situlah Echa harus belajar bertanggung jawab dengan pekerjaannya.
"Kan ini keinginan kamu. Kakek gak akan membeda-bedakan karyawannya. Walaupun kamu adalah cucu kesayangannya," terang Radit.
Echa terdiam dan mengeratkan pelukannya kepada Radit. "Satu minggu. Apa aku bisa menyelesaikannya?" tanya Echa.
"Optimis, Sayang. Aku tahu kamu wanita pintar. Kamu wanita tangguh. Tidak akan kalah hanya karena ini. Aku akan membantu kamu," kata Radit.
Beginilah hubungan mereka berdua. Selalu ada dan saling membantu di saat mereka sedang membutuhkan. Radit bukanlah menggombal atau berbicara omong kosong belaka. Tetapi. Radit benar-benar membantu Echa.
Seperti malam ini, Radit menemani Echa dalam mengerjakan tugas akhirnya. Bukan hanya menemani, dia juga membantu apa yang dia ketahui. Hingga Echa kelelahan dan tertidur di samping Radit yang sedang mengecek tugas yang dikerjakan oleh Echa.
"Capek banget, ya," gumam Radit.
Dia segera membenarkan posisi Echa dan menyelimuti tubuh Echa yang hanya memakai piyama panjang.
"Good night, Sayang." Radit mengecup kening Echa sangat dalam dan meninggalkan kamar Echa serta membawa laptop milik Echa.
__ADS_1
Pagi harinya, Echa menatap sekelilingnya yang sudah terkena bias sinar matahari. "Ya ampun, aku ketiduran," gumamnya.
Echa segera ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Lalu, keluar kamarnya menuju dapur. Niat hati ingin membuatkan sarapan untuk Radit. Ternyata Radit sudah dulu menyiapkan sarapan untuknya.
"Kok udah bangun?" tanya Radit.
"Maaf, ya. Aku ketiduran."
"Gak apa-apa, Sayang," ucap Radit sambil mengecup kening Echa.
"Sarapan dulu, yuk," ajak Radit yang sudah menawarkan roti bakar kesukaan Echa.
"Laptop aku mana, Bhal?" Echa tidak menghiraukan ajakan Radit melainkan mencari laptop miliknya. Membuat Radit menghela napas kasar.
Setelah laptopnya ditemukan, Echa segera meraihnya dan memangkunya di sofa. Ponselnya berdering dan dosen pembimbingnya lah yang menghubunginya. Tubuhnya terkulai lemas ketika harus revisi ulang.
Radit membawa nampan berisi roti bakar dan juga susu cokelat hangat untuk Echa. Meletakkan di atas meja. Radit menyerahkan beberapa lembar kertas HVS kepada Echa.
"Ini sketsa yang aku buat untuk merevisi skripsi kamu. Ini aku dapat dari orang-orang yang berkompeten. Mereka bilang isinya sudah bagus tetapi masih banyak yang kurang. Poin-poin yang aku tulis itu yang harus kamu revisi."
Echa menatap Radit dengan tatapan takjub. Dia langsung memeluk tubuh Radit. "Makasih, Bhal."
"Iya, sekarang kamu makan dulu baru lanjut kerjain tugasnya." Echa pun mengangguk patuh.
"Kapan pun kamu butuh aku, aku akan selalu ada untuk kamu. Jangan pernah merasa sendiri, ada aku yang menemani."
Lagi-lagi Echa dibuat terkesima oleh ucapan Radit ini. Radit bukanlah pria yang suka menggombal. Namun, ketika gombalannya keluar itu murni dari lubuk hatinya yang paling dalam.
Sungguh manis sekali hubungan Radit dan Echa. Membuat iri semua orang. Radit dan Echa membuktikan hubungan lama mereka masih langgeng sampai saat ini karena mereka saling mengisi satu sama lain. Tidak mementingkan ego mereka masing-masing.
Ponsel Radit berdering dan dahinya mengkerut ketika melihat siapa yang meneleponnya.
"Minggu depan kamu harus pulang. Abang kamu mau menikah."
...****************...
Kangen gak?
Komen yang banyak dong, biar semangat buat up-nya. Biar ceper ketemu si Uyal, uyil, Uyul yang diasuh Engkong Rion.
__ADS_1