Yang Terluka

Yang Terluka
Penculikan


__ADS_3

Radit terus bersungut-sungut ketika anak keduanya tetap memaksa membawa lontong berwajah merah ke rumahnya.


"Ini ya, kalau ada orang yang punya Indra keenam disangka pesugihan kita bawa pocong di atas mobil. Udah kayak barang bawaan mudik aja," dengusnya kesal.


Echa hanya tertawa, berkali-kali mereka melarang, Aleesa tetaplah Aleesa.


"Ante pocinya gak dimasukin ke mobil. Ditaluh di atas aja."


Sungguh ide di luar nalar kepala orang dewasa. Ajaib sekali anak yang satu ini. Di mana anak-anak yang lain senang bermain dengan anak-anak seusianya, Aleesa malah senang bermain dengan para makhluk tak kasat mata.


"Udah, Ba. Bialin aja, poci itu gak selem kok. Kayak ondel-ondel yang suka ada di lampu melah," ujar Aleeya sedari tadi mengunyah makanan.


"Emang kamu bisa lihat?" tanya kedua orang tuanya bersamaan.


"Ketika tangan Kakak Sa memegang tangan kita, pasti kita bisa lihat. B aja, Ba. Gak usah lebay," jelas Aleeya.


Radit dan Echa tercengang mendengar ucapan anak ketiga mereka. Diajari siapa mereka mengenal bahasa gaul.


"Ayo, Ba. Pulang," ajak Aleena.


Mereka pun bertolak ke Jakarta. Selama diperjalanan banyak mobil yang mengklakson mobil yang dikendarai Radit.


"Menepi dulu, Pak. Ada pocong di atas mobil Bapak," teriak salah satu pengendara.


Radit menatap tajam ke arah Aleesa dan anaknya hanya tertawa.


Tibanya di Jakarta, Aleesa turun dengan sangat gembira. Dia juga menyapa Om Poci yang masih setia berdiri di depan rumahnya. Senyum


Om Poci pudar ketika melihat sosok yang sama dengan dirinya. Namun, dia terlihat mabuk dan kepalanya terus berputar-putar.


Sebenarnya itu ulah Radit. Sengaja Radit melajukan mobil dengan kecepatan tinggi berharap pocong itu jatuh.


"Om, teman balu Om. Namanya Ante Poci. Jangan belantem ya," ucap Aleesa dan kemudian dia berlalu.


Dua pocong bertengkar? Bagaimana caranya? Itulah yang ada dipikiran manusia waras.


"Bawa hantu baru, ya?" sergah Iyan.


Aleesa hanya tertawa. Iyan menggelengkan kepala tak percaya. Hobi Aleesa adalah mengumpulkan makhluk halus.


Malam pun tiba, rumah sudah gelap. Keadaan mulai sepi, tak ada suara sedikitpun. Di depan rumah Om poci dan Ante Poci berjaga dengan baik. Mereka bagai satpam komplek yang patuh.


Mata mereka memicing ketika ada motor yang berhenti di depan pagar rumah. Kebetulan penjaga pos sedang ke belakang. Berjaket dan bertopi serba hitam. Sangat mencurigakan.


Kedua lontong putih itu menghampiri si pengendara motor. Namun, belum juga mereka sampai Si pengendara itu sudah pergi karena melihat Pak Yok sudah keluar dari halaman samping.


Lontong bermuka hitam seolah merasakan hal yang aneh. Ada aura tidak enak yang dia rasakan.


Senin pagi adalah hari yang sangat menyibukkan bagi semua orang. Jalanan macet karena banyak orang yang berangkat kerja dan sekolah. Begitu juga dengan si triplets mereka terlihat gembira pergi ke sekolah. Sedari tadi Om Poci terus saja diam. Seakan dia memiliki ikatan batin kepada Aleesa. Hatinya sungguh tak karuhan.


"Dadah."


Tangan Aleesa melambai ke arah Om Poci dan Ante Poci. Kedua lontong putih hanya terdiam.


Di sekolah si triplets pun tidak ada yang berbeda, seperti hari-hari biasa. Hanya saja, kenakalan Aleeya sedikit berkurang.


"Kembar tiga, jangan dulu pulang, ya."


Seruan wali kelas mereka dijawab anggukan oleh si triplets. Mobil yang dikendarai Echa mengalami kempes ban. Sedangkan Radit ada meeting penting dan tidak bisa ditunda.


"Nanti aku suruh orang kantor yang jemput."


Begitulah ucap Radit dari balik sambungan telepon. Echa menurutinya saja karena mobilnya pun masih lama kembali untuk benar. Apalagi kondisi bengkel sangat ramai.


Ketiga anak itu menunggu di bangku taman sekolah. Mereka terus menggerak-gerakkan kaki mereka bertanda mereka sudah kesal.


"Panas," ucap Aleeya.


"Haus," ujar Aleena.


Bekal yang mereka bawa pun sudah habis. Mereka memang membawa uang jajan, tetapi mereka tidak boleh keluar pagar sekolah.


"Triplets, kalian dijemput oleh orang kantor ayah kalian, ya." Mereka pun mengangguk, ketika guru mereka menghampiri mereka.


Tak lama, dua orang memakai kemeja hitam datang. Mereka menyapa sopan kepada guru yang menemani ketiga anak itu.


"Om, beli minum dulu ya di Aplamalet," pinta Aleeya sebelum naik ke dalam mobil.


Kedua orang itu hanya tersenyum. Namun, Aleena hanya mematung. Dia merasa ada yang sedikit aneh. Enggan kakinya untuk melangkah. Padahal kedua adiknya sudah masuk ke dalam mobil.


"Ayo, Sayang. Masuk," ujar salah seorang yang mengenakan kemeja hitam.


Terpaksa Aleena pun masuk. Sedari tadi hatinya mengatakan ada hal yang tidak beres.


Sesuai permintaan anak kembar tiga ini. Mobil berhenti di sebuah minimarket. Mereka dengan asyik mengambil minuman serta makanan yang mereka suka.


"Bayal, Om," titah Aleesa yang sudah meminum air mineral dalam botol.

__ADS_1


Mata dua orang itu terbelalak ketika mengetahui total belanjaan dari anak-anak tersebut.


"Lima ratus ribu?" gumam mereka berdua.


Gerutuan terus keluar dari mulut mereka berdua. Belum apa-apa ketiga anak ini sudah membuat mereka rugi.


Aleena terus menatap ke arah jalan. Dia sangat tahu bahwa itu bukan jalan menuju rumahnya. Matanya melebar, sedangkan Aleeya sedang menikmati makanan yang dia beli di minimarket. Begitu juga dengan Aleesa.


"Mau ke mana kita?" Akhirnya Aleena membuka suara.


"Mau pulang lah, Kakak Na. Mau ke mana lagi," jawab Aleeya.


"Ini bukan alah lumah kita," seru Aleena.


Aleesa dan Aleeya pun menatap ke jalanan. Apa yang dikatakan kakak mereka benar adanya.


"Jangan berisik!" Kini salah seorang yang memakai Kemeja hitam membentak mereka.


Aleeya sudah mulai ketakutan, Aleena masih menyembunyikan ketakutannya agar kedua adiknya tidak merasa takut. Sedangkan Aleesa terlihat tenang.


"Bialin aja, anggap aja kita lagi jalan-jalan." Dia malah menyandarkan tubuhnya di jok mobil. Aleena dan Aleeya menatap heran ke arah Aleesa.


Mobil mereka berhenti di sebuah gudang tua. Tangan mereka diikat membuat air mata Aleeya menetes.


"Bubu."


Di bengkel, hati Echa mulai tidak tenang. Dia menelepon wali kelas si triplets. Wali kelasnya mengatakan bahwa anak-anaknya sudah dijemput oleh orang-orang berkemeja hitam, orang yang ditugaskan oleh suaminya. Agar lebih meyakinkan, Echa menghubungi suaminya. Panggilannya tak kunjung dijawab. Resah dan gelisah hatinya rasakan. Dadanya berdegup sangat cepat seakan tengah terjadi sesuatu kepada orang terdekatnya.


Dipanggilan ketujuh barulah dijawab. Namun, Radit mengatakan bahwa orang suruhannya berjumlah satu orang. Itu juga si triplets kenal. Tubuh Echa mulai lemas, ponsel di tangannya hampir terjatuh.


"Jadi, anak-anak dijemput sama siapa?" Ucapan yang terdengar sangat lirih.


Radit segera memutuskan sambungan telepon. Dia segera menghubungi orang-orang kepercayaannya untuk mencari ketiga anaknya.


Echa menghubungi orang rumah, masih berharap si triplets memang pulang ke sana. Akan tetapi. jawaban Mbak Ina membuat tubuhnya lemas tak bertulang.


"Di mana kamu, Nak?"


****


Suara tawa seseorang menggelegar. Mata si triplets memicing, mereka tidak mengenal orang yang baru saja keluar itu.


"Ternyata kalian anak-anak Raditya Addhitama," ucap orang itu, dengan seringainya.


"Om siapa?" tanya Aleesa yang masih nampak tenang. Berbeda dengan Aleena dan Aleeya yang ketakutan.


"Kenapa aku halus takut?" tantang Aleesa.


Pria itu mendekat ke arah Aleesa, dia ingin berbuat kasar kepada putri kedua dari Radit tersebut. Namun, tangannya seperti ada yang menceka hingga membuat pria itu meringis kesakitan.


"Payah, belum juga apa-apa udah jelit-jelit," ejek Aleesa.


"Kakak Sa."


Aleena sudah menggeleng, memberi kode bahwa jangan dilanjutkan lagi.


Sekarang malah pria berkemeja hitam itu yang mendekat ke arah Aleeya dan Aleena. Dia mencengkeram wajah kedua bocah kembar itu. Pria yang sedang kesakitan itu tak menyia-nyiakan kesempatan, dia mengambil gambar kedua anak Radit yang tengah dianiaya. Kemudian, dia akan mengirimkan gambar tersebut kepada Radit.


"Jangan sentuh Kakak Na dan Dedek!" sentak Aleesa.


Aura kemarahan muncul. Gudang itu berubah menjadi panas. Membuat dua pria berkemeja itu mundur. Aleena dan Aleeya sudah menangis. Mereka terus memanggil kedua orang tua mereka.


Radit menjemput Echa di bengkel, dia menangis histeris ketika Radit datang.


"Anak-anak," lirihnya.


"Kamu tenang, ya."


Radit bisa berkata seperti itu. Sedangkan dirinya juga tengah cemas. Radit membawa Echa pulang ke rumah. Dia tidak ingin terjadi sesuatu dengan istrinya.


Baru saja turun dari mobil. Langkah Radit terhenti tepat di depan lontong putih bermuka hitam.


Mata Radit membelalak ketika mendapat pesan dari orang yang tidak dia kenal. Sebuah foto membuat Radit mengerang kesal.


"Si Alan!" Pekikan suara Radit membuat langkah Echa terhenti.


"Ada apa, Ay?" Mata Echa menginginkan penjelasan dari Radit.


Radit tidak ingin menyembunyikan apapun dari istrinya. Dia memberikan foto yang baru saja dia dapatkan. Seketika tubuh Echa luruh ke lantai. Air matanya menetes tak tertahan.


"Tenang, Sayang. Aku udah mengerahkan anak buahku untuk melacak nomor ponsel ini," terangnya.


Sedari tadi Om poci sudah hilang entah ke mana. Tinggal Ante Poci yang memandang nanar ke arah Echa. Meskipun peliharaan baru, dia mencoba memberitahu kepada peliharaan Aleesa yang lama. Dia melompat menuju halaman samping. Memanggil-manggil penghuni yang ada di sana.


"Kamu siapa?" tanya Dev yang hanya menampakkan kepalanya.


"Saya ...." Lontong putih berwajah merah itu berpikir sejenak. Dia lupa akan panggilan yang diberikan Aleesa kepadanya.

__ADS_1


"Oh, saya ingat. Saya Ante poci. Begitulah Aleesa memanggil saya," terang si lontong putih berwajah merah layaknya si Cepot.


"Ada apa kamu datang ke sini?" Suara menggelegar Om Uwo hampir mengejutkannya.


"Aleesa ... ibunya Aleesa menangis. Mereka belum pulang sekolah."


Dev segera masuk ke dalam rumah Aleesa. Apa yang dikatakan ante poci benar adanya.


"Di mana kamu?" Terdengar suara Radit yang sangat murka.


"Baba!" teriak Aleena dan Aleeya dari balik sambungan telepon.


"Anak-anak," panggil Radit.


Echa yang sedari tadi duduk kini mulai bangkit, dia meraih ponsel Radit.


"Sayang ... kalian gak apa-apa 'kan?"


"Bubu." Terdengar mereka menangis dari balik sambungan telepon sana.


"Katakan kepada suamimu. Kembalikan semua perusahaan ku, atau ...." Suara seseorang itu pun menggantung.


"Jangan harap anak kalian akan kembali kepada kalian."


Ancaman yang sungguh membuat Echa ketakutan. Sambungan telepon itu pun diputus secara sepihak oleh pria tersebut. Echa menangis meraung-raung.


"Perusahaan siapa yang sudah kamu ambil?" tanya Echa dengan bermandikan air mata.


"Aku tidak pernah mengambil perusahaan orang lain."


"Tapi, pria itu bilang ...."


Urat-urat kemarahan sudah muncul di wajah Radit. Dia tahu siapa dalang dari penculikan ini.


"Pasti ulah si Seto."


Tanpa pamit, Radit segera pergi. Panggilan dari istrinya tak dia hiraukan. Dia sibuk menghubungi orang-orang yang akan mengawalnya.


"Tak akan pernah aku biarkan kamu melukai anak-anakku. Jangan harap aku bersedia mengembalikan perusahaanmu," geram Radit.


Di gudang tersebut, Aleeya sudah menangis keras hingga mulutnya kini diberi lakban hitam agar tidak mengundang kecurigaan warga setempat. Aleena yang awalnya menangis, kini dia terpaksa diam. Namun, dia merasa iba kepada Aleeya yang sudah dibekap. Hanya air mata yang mengalir deras membasahi wajah Aleeya seolah meminta tolong.


Ketiga orang tersebut ingin mengancam Aleesa, tetapi mereka seakan tidak bisa menyentuh Aleesa. Ada pelindung tebal yang menempel di tubuh Aleesa.


Mata Aleesa memicing ketika dia melihat sosok putih berwajah hitam. Bibirnya tersungging dengan sempurna. Namun, kehadiran om poci tidak akan memberikan bantuan apapun. Tidak akan bisa melepaskan ikatan mereka karena tangan Om poci sendiri pun terikat.


Akan tetapi, dia melihat sosok kerdil yang muncul di balik kain putih Om Poci.


"Botak," gumam Aleesa.


Si botak pun berlari ke arah Aleesa. Dia mencoba naik ke atas kursi di mana Aleena duduk.


"Aku akan buka tali ini," ucapnya.


Tak perlu waktu lama, tali pengikat tangan Aleesa terbuka. Namun, dia masih berpura-pura terikat. Aleena melebarkan matanya begitu juga Aleesa. Kedipan mata dari Aleesa membuat adik dan kakaknya mengangguk. Si botak pun membuka ikatan tali Aleena dan juga Aleeya.


Suara mobil terdengar dari luar. Ternyata sang ayah datang seorang diri.


"Akhirnya, datang juga kamu," hardik Seto.


"Saya tidak akan pernah takut. Dasar pengecut! jawab Radit.


Ada kelegaan di hati Radit ketika dia melihat ketiga anaknya baik-baik saja. Namun, hatinya sakit ketika melihat Aleeya tengah dibekap mulutnya memakai lakban hitam.


Dua orang berkemeja hitam berjalan ke arah si triplets dengan membawa pisau lipat yang sudah tegak. Mata Radit membola.


"Jangan pernah sentuh anak-anakku!" teriak Radit.


Baru saja Radit berteriak, mereka berdua sudah tersungkur ke lantai. Pisau yang dibawa mereka pun terlempar.


"Cepat lari!"


Itulah yang dapat Aleesa dengar. Dia bangkit dari duduknya dan diikuti oleh adik dan kakaknya. Mereka langsung menyerang Seto dengan pasir di tangannya.


Radit tercengang, dia merasa bingung dengan pasir yang anak-anaknya genggam. Dari mana asal pasir itu? Mata Seto pun tak dapat terbuka sedangkan dua pria berkemeja hitam tidak bisa bangkit seperti ada yang tengah menindih tubuh mereka.


"Ayo!" ajak Aleesa.


Si triplets mengajak ayahnya pergi, ternyata sudah ada polisi di sana dan ada sang ibu yang tengah menangis.


"Bubu."


Mereka bertiga memeluk tubuh Echa. Aleeya dan Aleena menangis tersedu sedangkan Aleesa hanya tersenyum bahagia.


"Kalian gak apa-apa?" Echa menelisik tubuh anak-anaknya.


"Tidak ada apa-apa, Bubu. Jangan khawatil, banyak yang jagain kita," jawab Aleesa.

__ADS_1


Sebenarnya Radit tidak datang sendiri. Di belakang Radit ada rombongan makhluk tak kasat mata penghuni komplek di mana mereka tinggal. Mereka semua disweeping oleh Om Uwo. Suhu dari segala hantu.


__ADS_2