Yang Terluka

Yang Terluka
Akar Permasalahan


__ADS_3

"Bunda?"


Echa mematung melihat seorang wanita yang tengah bersama Iyan. Tidak mungkin, bundanya masih hidup. Echa memang tidak melihat bundanya ketika tiada. Akan tetapi, kedua adiknya menyaksikan dengan jelas.


Tangan Echa segera mengambil ponsel di dalam tas. Menghubungi suaminya, itulah pilihan terbaik. Tak berselang lama, Radit tiba di tempat di mana Echa mengirim lokasi. Wajah Echa nampak terlihat syok.


"Kamu salah lihat kali, Sayang."


"Nggak, Ay. Itu mirip banget Bunda," jawabnya.


Radit membawa Echa duduk di warung kelontongan. Mengambil air mineral dan menyuruh istrinya untuk meminumnya. Dia tahu, Echa sedang pusing.


"Coba aku tanya sama ibu pemilik warung."


Radit memanggil si ibu pemilik warung dan mengajaknya berbincang.


"Oh ... itu si Parmi. Dia tinggal berdua sama anaknya, namanya Anggi. Setahu saya sih, suaminya sudah meninggal kelindas kereta api semenjak Anggi masih di dalam kandungan."


Hati Echa terasa sakit mendengar cerita dari si ibu pemilik warung tentang wanita yang tengah bersama Iyan. Nasib Anggi sama seperti Radit. Tidak merasakan kasih sayang salah satu orang tuanya.


"Sekarang juga, mereka hidup serba kekurangan. Mengandalkan hasil mulung botol bekas, sedangkan


si Parmi sendiri punya penyakit paru-paru yang mengharuskan dia meminum obat rutin. Makanya anaknya itu gak sekolah, cuma sekolah seminggu sekali aja khusus anak jalanan."


Echa menatap ke arah Radit. Matanya sudah berkaca-kaca. Radit menggenggam tangan Echa dan menggelengkan kepala.


"Tapi ... semenjak ada anak laki-laki yang sering datang ke rumah si Parmi. Si Parmi suka beli tempe buat lauk makan. Biasanya mah cuma beli kecap doang atau kerupuk."


Deg.


Mendengar nasi dan kecap atau kerupuk membuat kenangan masa lalu Echa kembali terbuka. Dari lezat menjadi tidak nikmat. Dari suka menjadi bosan, itulah yang dia rasakan.


"Ngomong-ngomong ... kalian ini siapa? Kenapa tiba-tiba kalian menanyakan si Parmi? Apa kalian keluarga dari anak laki-laki itu?"


"Bukan, Bu. Kami hanya kasihan melihay Bu Parmi. Makanya menanyakannya itu kepada ibu," ujar Radit.


"Oh ... saya kira kalian ada hubungannya dengan anak laki-laki itu. Soalnya, anak itu sering membawa bungkusan terus kalau datang ke rumah si Parmi. Kelihatannya juga dia anak orang kaya."


"Berapa Bu, air mineralnya?" Radit menyudahi sesi tanya jawabnya.


"Empat ribu."


Radit mengambil satu lagi air mineral dalam botol dan membayarnya dengan uang pecahan lima puluh ribu.


"Sebentar saya ambil kembalian dulu."


"Tidak usah, Bu. Buat ibu saja."


"Eh ... serius ini, Pak?" Radit mengangguk. "Terima kasih banyak, Pak."


Radit mengajak istrinya untuk pulang. Dia tahu, Echa sedang teringat akan masa lalunya yang menyedihkan.


Sepanjang perjalanan pulang, Radit terus menggenggam tangan istrinya. Memberikan kehangatan kepada Echa.


"Besok kita ke sini lagi. Kita tanya kepada ibu Parmi langsung." Echa pun setuju.


Ketika makan malam tiba pun, Echa seperti tidak menikmati. Rion dan kedua adiknya menatap heran ke arah Echa. Namun, Radit menggelengkan kepala menandakan jangan bertanya apapun.


"Sayang ...."


Echa segera memeluk tubuh Radit. Menumpahkan semuanya, terlalu sedih menjadi dirinya dulu. Terlalu perih masa lalunya.


"Udah ya, jangan nangis lagi. Masa lalu pasti memberikan pelajaran yang sangat berharga."


Keesokan sorenya, ketika Iyan sudah pulang sekolah. Echa dan Radit berangkat ke rumah ibu Parmi. Kaki Echa terlalu berat untuk melangkah. Echa menatap nanar ke arah rumah yang hampir roboh ini.

__ADS_1


Ucapan salam Radit, dibalas oleh penghuni rumah. Seorang wanita yang sangat pucat membukakan pintu. Bukan hanya Echa yang tercengang, Radit pun terkejut.


Benar-benar mirip.


"Maaf, cari siapa ya?" tanya bu Parmi.


Echa menyeka ujung matanya dan mencoba untuk tersenyum ke arah perempuan yang mirip dengan bundanya.


"Apa ibu ini bu Parmi?"


Bu Parmi pun mengangguk, dia heran kenapa ada orang kaya yang mencarinya. Apa salahnya?


"Boleh kita berbincang?"


"Boleh ... tapi rumah saya seperti ini."


"Tidak apa-apa, Bu." Kini Radit yang menjawab.


Baru saja melangkah masuk, air mata Echa sudah jatuh. Rumah yang tak layak huni. Bolong di sana-sini, serta tempat tidur yang pastinya sangat tidak nyaman


"Silahkan duduk."


Bu Parmi sudah membawa dua bangku plastik untuk Radit dan juga Echa. Mulut Echa sulit untuk terbuka karena sesak di dadanya.


"Bu, apa saya boleh tanya sesuatu?" Bu Parmi mengangguk.


"Anak laki-laki yang sering ke sini itu siapa?" tanya Radit.


"Oh ... itu Iyan."


"Anak ibu kah?" Radit sudah sedikit memancing. Namun, ibu itu menggeleng.


"Saya ketemu dia di lampu merah. Dia menangis dan memanggil saya bunda. Katanya, wajah saya mirip ibunya yang telah tiada."


Echa sudah menunduk dalam. Apa yang dia curigai benar adanya.


"Apa Ibu tahu, Iyan tinggal di mana?"


Bu Parmi menggeleng. Wajahnya nampak sangat sendu.


"Dia selalu mengatakan, jika dia bukan siapa-siapa. Bukan juga anak dari orang berada. Padahal ... dari penampilannya saja sudah terlihat jelas. Apalagi, ketika Iyan membayar hutanh saya kepada rentenir. Dia mengeluarkan uang lembaran berwarna merah dari dalam tasnya. Kata rentenir itu jumlahnya satu juta. Saya yakin, dia adalah anak orang kaya."


Bu Parmi mulai memandang wajah Echa dan juga Radit.


"Bukannya saya ingin memanfaatkan Iyan. Saya juga tidak ingin dikasihani terus-terusan. Akan tetapi, Iyan yang tetap memaksa. Dia bilang, dia hanya ingin menghabiskan waktunya dengan saya, wanita yang dia anggap seperti bundanya."


Akar permasalahannya sudah diketahui. Uang outbond dan SPP yang tidak Iyan bayarkan ke sekolah ternyata Iyan gunakan untuk membayar hutang Bu Parmi ke rentenir.


Sungguh mulia sekali hatimu, Yan.


Ucapan salam dari seorang anak perempuan membuat Radit dan Echa menoleh. Anak yang sangat cantik dengan bola mata yang sangat indah.


"Maaf, Om dan Tante. Tangan Anggi kotor. Anggi tidak bisa salaman kepada Om dan Tante. Takut, membawa virus dan penyakit untuk Om dan Tante."


Ucapan itu seperti kalimat sindiran untuk orang-orang yang selalu menganggap hina para pemulung.


"Ibu, hari ini Anggi dapat uang dua puluh ribu. Lima belas ribu tolong Ibu simpan untuk nanti beli obat Ibu. Lima ribu lagi buat beli mie goreng. Anggi ingin makan mie goreng."


Wajah Anggi terlihat sangat riang, padahal hanya memegang uang lima ribu rupiah. Makan mie instan pun Seperti hal mewah baginya.


"Ibu ... Bapak, sebenarnya kalian ini siapa? Apa keluarganya Iyan?"


Echa menggeleng, dia tidak ingin ibu ibu mengatakan kedatangannya kepada Iyan.


"Oh iya, Bu. Apa ibu sakit? Kenapa anak ini bilang jika uangnya untuk membeli obat."

__ADS_1


Bu Parmi hanya menyunggingkan senyum. "Penyakit biasa, Pak," jawabnya.


"Biasa?" ulang Radit.


"Iya. Penyakit paru-paru."


Radit tercengang mendengar ucapan dari Bu Parmi. Penyakit paru-paru dia katakan penyakit biasa. Padahal, itu adalah penyakit yang sangat mematikan.


"Bagaimana jika saya bawa ibu berobat?" Radit menawarkan pengobatan gratis. Akan tetapi, Bu Parmi menolak.


"Tidak, terima kasih. Biarkan saya seperti ini. Jika, saya dirawat, siapa yang akan menemani Anggi. Saya tidak ingin meninggalakan putri saya."


"Tapi, Bu ... penyakit paru-paru itu sangat membahayakan. Bisa merenggut nyawa. Apa ibu tidak ingin terus mendampingi Anggi?"


Bu Parmi terdiam sejenak. Dia menatap ke arah Echa dan Radit secara bergantian. Kemudian, menatap putrinya yang kini sudah duduk di sampingnya.


"Manusia mana yang tidak ingin memiliki umur yang panjang. Akan tetapi, semua manusia sudah memiliki takdir masing-masing. Jika, Tuhan menakdirkannya saya meninggal dan tidak dapat merawat Anggi kembali, saya hanya bisa ikhlas dan pasrah. Saya juga sudah menitipkan Anggi ke salah satu panti asuhan untuk berjaga-jaga jika saya tiada. Jadi, Anggi tidak pusing akan pulang ke mana."


Ya Tuhan, sungguh mulia sekali hati ibu Parmi. Echa dan Radit sangat malu setiap mendengar ucapan demi ucapan dari Bu Parmi. Seperti kalimat penyejuk hati.


Echa sudah tidak tahan, dia mengajak suaminya untuk segera pulang. Namun, sebelumnya Echa memberikan uang yang cukup banyak untuk Bu Parmi.


"I-ini apa, Bu?"


Bu Parmi gemetar ketika menerima uang yang cukup banyak yang diberikan eh Echa.


"Itu rejeki buat ibu dan juga Anggi."


Senyum terpaksa Echa berikan. Dia tidak ingin terlihat rapuh di depan siapapun. Setelah berpamitan, Echa menghubungi seseorang. Banyak barang yang Echa sebutkan. Di antaranya adalah sembako.


Radit tersenyum ketika melihat sang istri. Sifat istrinya inilah yang sangat Radit sukai.


"Kamu gak marah 'kan?"


Echa tersenyum dan merangkul lengan suaminya. Mengeluarkan uang untuk membantu sesama lebih menyenangkan, ketimbang membeli barang mewah hanya untuk dipakai sendiri. Ketika bosan hanya disimpan.


"Kita pelan-pelan aja ngomongnya ke Iyan."


Echa setuju dengan ide suaminya. Radit memang berotak pintar. Ide yang dia keluarkan pasti cemerlang.


Hari demi hari Echa selalu mengawasi Iyan. Ada perubahan dari Iyan. Sudah tidak membolos lagu dan juga pulang tepat waktu.


Selain itu, Echa juga terus memantau Bu Parmi dan juga Anggi. Semua keperluan Bu Parmi dan juga Anggi diam-diam selalu Echa penuhi. Obat yang selalu Bu Parmi minum pun Echa ganti dengan obat yang lebih bagus.


"Gimana?" tanya Radit.


"Aku belum bicara ke Iyan."


Radit memeluk tubuh istrinya dan mengecup ujung kepala Echa.


Sore hari, ketika Iyan sedang berada di kamar. Echa mengetuk pelan pintu kamar adiknya. Suara dari dalam terdengar, barulah Echa masuk ke kamarnya.


"Lagi apa?" tanya Echa yang sudah duduk di samping adiknya sedang memainkan gadgetnya.


"Lagi main game sama Jojo."


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Echa. Dia menatap lamat-lamat wajah adiknya.


"Apa Kakak boleh tanya sesuatu?"


Iyan menatap bingung ke arah sang kakak. Wajah kakaknya sudah terlihat sangat serius.


"Tanya apa?"


Iyan masih menyembunyikan rasa takutnya di hadapan sang kakak.

__ADS_1


"Kemana kamu tiga hari gak masuk sekolah?"


Deg.


__ADS_2