
Sebenarnya Radit hanya dekat dengan seorang wanita, belum Sampai ke jenjang yang lebih dalam. Hanya sekadar sering bertemu dan asyik berbincang. Dia juga masih waras dan rasa cintanya kepada Echa sangat besar. Apalagi ketika anak-anaknya yang seolah mengetahui apa yang dilakukan oleh ayah mereka dengan wanita lain. Walaupun hanya jalan berdua dan berbincang ria.
Namun, hati wanita itu sangat peka. Apa yang suaminya lakukan pasti akan terendus. Sama halnya dengan Echa. Ketika dia merasa ada kejanggalan, dia memilih untuk mengadu kepada sang mertua. Beruntungnya Echa memiliki mertua yang sangat menyayanginya. Addhitma mencari tahu semuanya dan apa yang Echa rasakan janggal terbukti. Dari situlah Addhitama mulai bersikap tegas dan melindungi menantunya dengan sepenuh hati.
"Kamu jangan khawatir. Jika, suami kamu bersikap bodoh. Kamu yang akan Papih bela dengan segala kemampuan Papih."
Itulah sebabnya Echa memilih untuk diam karena suaminya memang hanya sebatas dekat. Dia juga tahu, suaminya masih berjaga jarak pada perempuan itu. Hebatnya Echa, dia mampu bersikap biasa di depan keluarganya hingga mereka semua tidak mengetahui masalah yang tengah Echa hadapi.
Satu bulan berselang setelah Radit memutuskan untuk mengganti ponselnya, dia semakin manja kepada sang istri. Tak mau jauh dari istrinya barang sedetik pun.
"Ikut, ya. Aku ingin ditemani kamu," pinta Radit dengan sangat manja.
"Aku ada meeting penting, Ay."
Echa masih fokus pada wajahnya karena dia sedang memakai skincare siang sebelum beraktivitas.
"Pulang meeting langsung ke kantor aku. Nanti aku suruh sopir untuk jemput kamu," ujar Radit.
Helaan napas kasar keluar dari mulut Echa. Dia menatap Radit dengan tatapan jengah.
"You're not alone. This woman--"
Radit membungkam bibir Echa dengan bibirnya. Mengecup lembut bibir manis sang istri.
"Aku sudah tidak berhubungan lagi dengan dia, Sayang. Ponsel kamu pun sudah terhubung dengan aplikasi pesan hijau milikku. Semua chat yang masuk atau keluar dari ponsel aku pasti bisa kamu pantau," ujar Radit.
"Itu hanya di dunia online. Aku tidak tahu bagaimana kamu di dunia nyata ketika bekerja berdua," balas Echa.
Wanita adalah ahli sejarah. Sekecil apapun kesalahan yang pria buat pasti akan dia ingat sampai dia menutup mata. Helaan napas kasar keluar dari mulut Radit. Mulut istrinya memang memaafkan, tapi tidak dengan hatinya yang masih menyimpan sedikit dendam.
"Sayang, please! Aku ingin menikmati hari ini berdua sama kamu di kantor."
"Akan aku usahakan."
__ADS_1
Mendengar jawaban sang istri yang sangat ketus membuat Radit menyerah.
"Kalau begitu, aku yang akan ikut kamu meeting. Setelah selesai meeting kamu temani aku sampai sore di kantor." Echa hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan sang suami.
"Terserah kamulah," sahut Echa.
Radit merealisasikan ucapannya. Dia menunggu istrinya meeting sampai selesai. Dia tersenyum ketika melihat sang istri sudah keluar dari ruangan rapat. Radit pun berdiri dan segera menghampirinya.
"Sudah selesai?" Echa mengangguk dengan wajah yang sedikit muram.
Radit menggenggam tangan Echa dan membawanya keluar kantor cabang. Dahi Echa mengerut ketika mobil Radit bukan menuju kantornya.
"Mau ke mana kita, Ay?" Radit hanya tersenyum dan mengusap lembut rambut sang istri.
"Nanti juga kamu akan tahu."
Mobil pun berhenti di sebuah kedai es krim yang sudah sangat lama tidak mereka kunjungi. Radit terus menggenggam tangan Echa dan membawanya duduk di pinggir jendela setelah memesan es krim kesukaan mereka.
"Kenapa?"
"Aku tahu kamu marah sama aku. Aku tahu kamu belum bisa memaafkan aku, tapi ketika kamu sedang merasa lelah ... pundak aku akan selalu ada untuk kamu. Jadikanlah bahuku ini tempat bersandar untuk segala masalah kamu," ucapnya.
Echa hanya terdiam, tidak ada balasan apapun darinya. Radit merengkuh pinggang Echa dan meletakkan kepala Echa dengan lembut di bahu Radit.
"Aku merindukan ini, sungguh," lirih Radit.
Bukan hanya Radit yang merindukan momen seperti ini. Echa pun merasakan hal yang sama. Tanpa Echa sadari tangannya melingkar di pinggang Radit. Sang suami memejamkan matanya untuk sejenak. Merasakan pelukan yang benar-benar hangat.
"Aku tidak akan menyia-nyiakan kamu, Sayang. Aku janji." Kecupan hangat di ujung kepala Evha Radit berikan.
Pesanan yang mereka pesan sudah ada di meja. Namun, dahi Echa mengerut ketika melihat hanya satu es krim yang suaminya pesan.
"Buat kamu?" Radit hanya tersenyum.
__ADS_1
"Aku ke sini bukan ingin menikmati es krim, tapi menikmati kecantikan wajah kamu, Sayang." Tangan Radit mengusap lembut pipi sang istri.
Radit menatap Echa dengan rasa yang sangat bersalah. Penyesalan yang sangat dalam. Dia hampir saja menyia-nyiakan permata berharga dan langka.
"Mau?"
Sendok berisik es krim sudah berada di depan mulut Radit. Dia tersenyum dan membuka mulutnya. Manisnya es krim mengalahkan manisnya wajah istrinya.
"Temani aku di kantor ya, sampai sore." Echa pun menyetujuinya.
Setelah selesai memakan es krim, Radit kembali menghidupkan mesin mobil dan akan menuju kantornya.
"Mau mampir beli makanan lagi gak?" tanya Radit. Echa menggeleng.
"Aku udah kenyang."
Tibanya di kantor, Radit dan Echa berjalan beriringan dengan tangan yang bergenggaman. Mereka berdua menaiki lift di mana ruangan Radit berada. Berkali-kali Echa menghembuskan napas kasar. Ini kali pertama dia akan bertemu dengan wanita yang hampir merusak rumah tangganya.
Ketika mereka keluar dari lift, langkah Echa terasa berat untuk melangkah. Radit mengerti akan hal ini. Dia terdiam sejenak. Kecupan hangat Radit berikan di kening Echa.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan," imbuh Radit. Echa masih terdiam.
Mereka berdua terus berjalan hingga langkah Echa sedikit terseret ketika seorang wanita cantik tengah duduk di depan ruangan sang suami. Ya, dia sekretaris sang suami. Namanya Renita, begitulah info yang Echa dapat.
Echa melihat jelas jikalau sekretaris dari suaminya itu tersenyum manis kepada Radit. Dia sama sekali tidak ingin melihat reaksi suaminya. Ketika Echa dan Radit mendekat, senyum wanita itu pun pudar. Terlebih Radit terus menggenggam tangan Echa dengan sangat posesif. Juga penampilan Echa yang sederhana, tapi berkelas. Menandakan dia bukan wanita sembarangan. Sapaan dari Renita hanya dijawab anggukan oleh Radit. Tak ada ekspresi apapun.
Renita masih terdiam dalam rasa sakitnya. Pria yang hampir jatuh ke tangannya, ternyata memiliki istri yang tidak sebanding dengan dirinya.
"Kamu bisa lihat 'kan seperti apa istri dari putra saya."
Suara seseorang membuat Renita tersentak. Dia menunduk dalam ketika melihat ayah dari Raditya Addhitama ada di depannya.
"Dia wanita berkelas juga terhormat. Melepaskan putra saya bukan akhir dari hidupnya, tapi saya yakin putra saya yang akan mengakhiri hidupnya karena telah menyia-nyiakan permata berharga yang sudah dia genggam demi permata imitasi."
__ADS_1
"Sebagus-bagusnya permata imitasi tetap saja MURAH. Berbanding terbalik dengan permata sungguhan."
Jleb.