Yang Terluka

Yang Terluka
Tiga Bersaudara


__ADS_3

"Kak."


Panggilan seseorang membuat langkah terhenti. Dia mendengar napas yang ngos-ngosan di belakangnya.


"Kakak kenapa?"


Pertanyaan apa itu? Begitulah batin Rifal. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Keysha dengan tatapan tak dapat dimengerti.


"Key, hanya rindu sama Kak Aska."


Keysha menunduk dalam tak berani menatap mata Rifal yang sedang mengibarkan sebuah api. Api cemburu dan api kemarahan.


"Kamu anggap aku apa?"


Pertanyaan yang berhasil membuat Keysha tersentak.


"Aku ada di depan mata kamu, tetapi kamu malah bermanjaan dengan pria lain. Apa itu sikap yang benar?"


Ucapan Rifal sangat menusuk hati Keysha. Dia terdiam sesaat. "Maaf." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Keysha.


"Meskipun dia itu saudara kamu, harusnya kamu bisa jaga sikap, Keysha."


Suara Rifal sedikit membentak Keysha membuatnya sedikit tersentak.


Rifal melanjutkan langkahnya masuk ke dalam mobil dan meninggalakan Keysha begitu saja.


Sabar, sudah Rifal lakukan. Wajar, jika sekarang Rifal berteriak. Bukan tanpa alasan karena rasa cemburu yang menggebu yang membuat Rifal meluapkan semuanya.


Echa sudah menunggu Keysha di depan pintu perawatan. Dia tahu kakak iparnya pasti marah. Apalagi raut cemburu Rifal nampak terlihat jelas. Langkah gontai Keysha membuat Echa menghembuskan napas berat. Dia segera memeluk tubuh Keysha.


"Kak Rifal marah," keluhnya dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Kakak tahu."


Echa mengajak Keysha duduk di kursi tunggu yang ada di depan kamar perawatan Aleesa.


"Mencintai pria dewasa itu tidak mudah. Harus memiliki kesabaran ekstra. Kamu juga harus belajar bersikap dewasa biar bisa mengimbangi."


Echa mulai menjadi penasihat untuk Keysha. Bagaimana pun anak ABG menjalin hubungan dengan pria dewasa pasti akan seperti ini. Kuncinya hanya saling mengerti dan juga menghargai.


"Kamu juga harus tahu, mana yang disuka sama Kak Rifal mana yang tidak dia suka. Jika, ada Kak Rifal hargailah dia. Rasa cemburu itu. datangnya bukan hanya ketika kamu bersama pria lain, dengan saudara pun bisa timbul cemburu. Apalagi, jika kamu sangat dekat dengan saudara kamu dan secara tidak langsung mengabaikan kekasih kamu," tutur Echa.


"Sekarang hapus air mata kamu." Keysha mengangguk patuh.


Echa tersenyum seraya menghembuskan napas kembali. Sudah pasti, nanti malam kakak iparnya akan uring-uringan dan berimbas mengunjungi mereka di sini.


Apa yang dipikirkan Echa benar adanya, tampang suaminya sedang kusut. Kemudian menunjukkan pesan yang dikirimkan oleh Rindra.


"Mana bisa aku ninggalin kamu? Aku gak mau," ujar Radit.


"Suruh ke sini aja."


Radit menatap tajam Echa. "Kamu mau dia ganggu anak-anak lagi tidur?"


Serba salah, itulah yang Echa rasakan. Sebenarnya Radit sedang dilanda kebingungan. Bagaimana pun Rifal adalah kakak yang selalu mengerti dirinya. Semenyebalkan apapun Rifal, dia sangat menyayangi sang kakak. Namun, di sisi lain Radit tidak ingin meninggalkan Aleesa. Bukan tanpa alasan, dia takut jika Aleesa kambuh kembali.


"Bisa pakai kamar sebelah 'kan. Pasti Abang juga akan datang ke sini," ujar Echa.


Mereka berbicara di kamar khusus mereka berdua ataupun Aleena dan Aleeya tidur. Agar tidak terganggu.


Ketika semua orang telah pulang, orang yang sedang galau dan merana datang. Tak lupa membawa jinjingan makanan yang Echa pesan. Ada martabak, donat, nasi goreng, bakso dan es kopi kesukaannya.


"Ganti uangnya, di masing-masing plastik ada bon-nya."


Echa berdecak kesal dan menatap nyalang ke arah sang kakak ipar. "Ogah!" sahut Echa.


Ya, begitulah mereka. Rifal tidak akan pernah bisa menolak apa yang diinginkan oleh Echa. Apapun akan dia belikan tanpa meminta uang ganti. Terlalu sayang kepada adik iparnya, itulah Rifal.


"Kakak nyuruh Abang juga ke sini?" Rifal mengangguk.


Dia berdecak kesal ketika melihat sang adik sudah bersikap manja kepada sang istri, minta disuapi. Ingin rasanya Rifal melempar wajah Radit dengan kuah bakso panas.


"Kenapa? Iri?" ejek Radit.


"Berisik!" geram Rifal.


Rasa itu itu pasti ada, apalagi melihat adiknya yang masih terlihat mesra dengan sang istri. Padahal kebersamaan mereka sudah sangat lama.

__ADS_1


Ingin deh seperti mereka.


Lamunan Rifal harus buyar karena kedatangan Rindra yang dengan sengaja meletakkan minuman kaleng di meja.


"Biasa aja Napa?" oceh Rifal.


"Lagian ganggu aja. Emang ada apaan? Kenapa pengen kumpul?" Rindra mendudukkan dirinya di sofa sambil mengambil satu buah martabak yang sudah tersedia di atas meja. Mereka berbincang di sofa dekat brankar rumah sakit. Sedangkan ketiga anaknya sudah Radit pindahkan di kamar yang tersedia di sana.


"Si Kakak tuh," ujar Radit.


"Kenapa lagi? Cemburu?"


"Siapa sih yang gak akan cemburu ngeliat pacarnya sama pria lain," imbuh Rifal.


"Dia saudaraan, Fal," balas Rindra.


"Wajar sih Bang kalau dia cemburu. Aku juga pernah ngalamin kayak gitu." Mata Echa melebar mendengar penuturan Radit.


"Sama siapa?"


Echa sudah menegakkan garpu ke arah wajah Radit. Sedangkan Rifal dan Rindra hanya saling tatap.


"Sama kamu lah. Siapa lagi?" jawab Radit.


"Eh?"


Echa bingung dengan yang dikatakan oleh Radit. Begitu juga dengan Rifal dan Rindra.


"Lu cemburu sama siapa?" tanya Rifal penasaran.


"Sama bapaknya Keysha."


"Hah?" ucap Echa dan kedua kakak iparnya berbarengan.


"Kelakuan Echa gak jauh beda sama Keysha. Sebelah dua belas lah. Ketahuan ada aku ngejogrog di situ. Masih aja rangkulan, pelukan. Padahal ada emaknya si Keysha juga. Untung aja aku mah sabar orangnya," ungkap Radit.


Kedua kakak iparnya kini menatap tajam ke arah Echa. Sedangkan Echa hanya tersenyum sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Kenapa sikap jelek lu nurun ke si Keysha?" tanya heran Rifal.


"Kok kamu gak bilang sih, Ay."


"Harusnya kamu peka tanpa aku bilang." Echa mulai merangkul lengan sang suami dan merebahkan kepalanya di pundak tegal Radit.


"Maaf."


"Udah lewat juga, Yang." Radit mengusap lembut kepala Echa.


"Tau gini gua bawa bini gua," keluh Rindra.


"Lah terus aku? Jadi nyamuk gitu? Menyaksikan kemesraan kalian."


Mereka bertiga pun tertawa membuat Rifal mengerang kesal.


"Gak guna minta solusi sama kalian!"


"Gini ya, Fal. Keysha itu masih SMA, jalan pikirannya jauh sama kamu. Kamu harusnya bisa mengerti sambil mengatakan pelan-pelan bahwa kamu itu tidak suka, jika Keysha dekat dengan pria lain. Meskipun, pria itu adalah saudaranya. Kalau kamu gak ngomong dia mana bisa ngerti," terang Rindra.


"Apa yang dikatakan Abang benar, Kak. Mulailah saling mengerti satu sama lain. Ini baru ujian awal dari LDR. Masih akan ada ujian-ujian selanjutnya yang lebih dari ini. Kakak sendiri tahu 'kan bagaimana aku LDR-an sama Echa? Itu gak mudah, Kak. Saling percaya dan saling mengerti. Dua modal awal untuk memulai LDR," tambah Radit.


Rifal menghela napas berat. Dia membuka minuman kaleng beralkohol yang Rindra bawa.


"Jadi, gua harus gimana?"


"Makin ke sini kenapa kamu makin bhego sih, Fal?" geram Rindra.


"Bicara baik-baik, jangan ambekan jadi pria. Malu sama umur," cibir Rindra.


Rifal menyandarkan tubuhnya di sofa, dia mengurut pangkal hidungnya yang terasa pusing.


"Konsekuensi pacaran sama anak di bawah umur, ya begini, Kak," kata Radit.


"Apa yang gak kita suka itu bisa jadi adalah kesukaannya. Sama halnya ketika aku sama Echa pas awal-awal pacaran. Pusing sebenarnya, tetapi pelan-pelan aku ikutin arus dia. Sesekali juga aku bawa dia ke arus aku. Makanya, kita bisa bersama sampai sekarang. Membangun pondasi awal itu yang sangat susah. Kalau ke sananya tinggal jalan aja. Meskipun. banyak kerikil-kerikil tajam."


Echa tersenyum ke arah Radit begitu juga Radit. Rifal semakin iri dengan kemesraan yang adiknya tunjukkan.


"Sumpah, gua iri!" pekik Rifal.

__ADS_1


Radit dan Echa pun tertawa. Melihat Rifal seperti ini seperti melihat anak ABG yang sedang bertengkar dengan kekasihnya.


"Perbaiki lah!" ujar Rindra.


"Aku bingung, Bang."


Rindra menatap tajam ke arah Rifal. Dia benar-benar tidak mengerti apa yang dikatakan oleh adiknya ini.


"Papih tadi manggil aku. Dia sudah tahu hubungan aku dengan Keysha. Dia juga memperingatkan aku akan menjalin hubungan dengan ABG. Belum kering ucapan papih, hubungan aku malah kayak begini."


Ada rasa iba di hati Rindra dan juga Radit. Dia juga heran kenapa kakaknya bisa mencintai anak ABG. Padahal, wanita matang di luaran sana masih banyak. Akan tetapi, mereka berdua tidak ingin menyalahkan dan menanyakan. Mereka mengerti cinta itu datang tiba-tiba dan tanpa mengenal usia.


"Apa aku boleh tanya, kenapa Kakak masih betah melajang? Dan baru kali ini Abang terang-terangan kepada aku dan juga Abang tentang wanita yang Kakak sukai?"


Hembusan napas berat yang menjadi jawaban dari Rifal. Dia menatap ke arah Rindra dan juga Radit bergantian.


"Aku anak tengah, aku harus bisa melerai pertikaian kalian dan melihat kalian berdamai."


Jawaban yang sangat menohok. Mampu membuat dada Radit dan Rindra tertusuk.


"Aku janji pada diriku sendiri, aku tidak akan menikah dulu sebelum Abang dan kamu mendapatkan kebahagiaan kamu. Aku hanya ingin keluarga kita harmonis, meskipun sudah tidak lengkap lagi."


Mata Echa berkaca-kaca mendengar penuturan dari Rifal. Begitu mulia sekali hati kakak iparnya ini.


"Ketika Abang sudah menikah, aku sedikit bahagia meskipun aku juga sempat ragu. Aku sangat ragu, Mbak Nesha mampu bertahan dengan Abang. Namun, keraguan ku terpatahkan karena Abang memang benar-benar mencintai Mbak Nesha. Apalagi, kehadiran Rio membawa banyak sekali perubahan pada diri Abang," terang Rifal, seraya menatap ke arah Rindra.


"Aku hanya ingin Abangku yang hangat kembali lagi. Doaku dijabah, ketika Rio lahir Abang menjadi sosok yang telah lama aku rindukan." Rindra berhambur memeluk tubuh adiknya ini. Sedangkan Echa sudah menyeka ujung matanya dan Radit tidak bisa berkata apa-apa.


"Makasih, Fal. Sudah tidak membenci Abang," ujar Rindra.


"Aku tidak pernah membenci Abang. Aku hanya membenci sifat Abang. Hampir lima belas tahun aku kehilangan Abang yang sangat hangat dan mengayomi. Sekarang, Abangku telah kembali."


Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan perasaan mereka berdua. Begitu juga dengan Radit dan Echa. Echa sudah membenamkan wajahnya di dada bidang sang suami. Tak tahan mendengar ucapan yang sangat tulus yang Rifal lontarkan.


"Aku juga bahagia, melihat kamu dan Echa bisa bersama. Bisa berdamai dengan Abang dan juga Mbak Nesha. Meskipun, Mbak Nesha tidak mengetahui apapun tentang masalah kamu dan juga Abang."


"Apalagi, kehadiran ketiga anak-anakmu yang lucu sudah menyempurnakan rumah tangga kamu. Sekarang, saatnya aku mengurusi kebahagiaanku sendiri. Makanya, aku berani mempublish kepada kalian. Agar kalian tahu, aku juga ingin bahagia seperti kalian."


Echa berhambur memeluk tubuh Rifal. Setiap perkataan Rifal mampu membuat dada Echa bergetar. Bahagia dan haru jadi satu.


"Makasih sudah menyayangi suami Echa dengan sangat tulus."


Suara Echa terdengar sangat berat dan Rifal mengusap lembut kepala Echa.


"Semua kakak pasti menyayangi adiknya. Aku juga yakin, di lubuk hati paling dalam Abang pasti sangat menyayangi Radit. Kami memiliki aliran darah yang sama dan tidak bisa terpisahkan."


Radit menatap sang Abang dengan mata nanar. Rindra memeluk tubuh adik bungsunya.


"Maafkan sikap Abang kepada kamu, Dit. Benar kata Rifal, Abang selalu membuntuti kamu karena Abang sayang sama kamu. Selalu ingin mengetahui keadaan kamu."


Radit tidak bisa berkata. Dia hanya tersenyum bahagia dengan bulir bening yang terjatuh begitu saja.


"Besok, kita harus ke makam Mamih. Tunjukkan pada Mamih bahwa kita sudah kembali kompak," kelakar Rifal menyudahi keharuan yang ada.


Dari cerita tentang perasaan Rifal berakhir dengan pernyataan perasaan masing-masing antara Kaka beradik yang memang saling menyayangi. Rindra terus mengutamakan ego dan obsesinya, sedangkan Radit hanya diam dan tidak ingin memulai. Bagiamana mau bersama dan saling merangkul?


Keesokan paginya, Radit pamit kepada Echa untuk ke makam sang Mamih. Hari ini juga Aleesa sudah diperbolehkan pulang ke rumah.


"Aku berangkat, ya. Abang dan Kakak udah nunggu." Echa mengangguk pelan. Tak lupa, Radit mengecup kening sang istri. Dia melanjutkan berkemas barang untuk kepulangan Aleesa. Sedangkan ketiga anaknya sedang diajak berjemur oleh Ayanda dan juga Gio. Setiap pagi mereka selalu datang ke rumah sakit.


Tiga bersaudara itu sudah tiba di pemakaman. Mereka memakai baju yang senada, baju berwarna hitam dengan membawa air mawar dan juga bunga kesukaan sang Mamih.


"Assalamualaikum, Mih."


Senyum melengkung di wajah ketiga pria tampan itu. Mereka berjongkok di samping makam sang ibu.


"Mih, ketiga anak Mamih kini sudah rukun. Abang dan Radit sudah bahagia dengan pasangan dan rumah tangganya. Tugas Ipang selesai ya, Mih. Ipang sudah berhasil menyatukan Abang dan Radit. Ipang juga sudah melihat Abang dan adik Ipang bahagia. Restui Ipang dengan siapapun wanita yang kelak akan mendampingi Ipang ya, Mih. Ipang juga ingin bahagia seperti mereka."


Rifal seperti orang yang tengah mengadukan apa yang telah terjadi ke pusara sang Mamih. Rifal merasa Mamihnya ada di sana.


"Maafkan Abang, Mih. Abang sudah keras kepala," sesal Rindra.


"Abang belum bisa jadi kakak yang baik untuk kedua adik Abang."


"Radit yakin, di sana Mamih bahagia. Kami tiga R sudah kompak kembali. Saling mengisi dan melengkapi serta saling support satu sama lain.


"Makasih telah melahirkan Abang dan Kakak yang luar biasa untuk Radit. Radit sayang Mamih."

__ADS_1


Rindra dan Rifal menunduk dalam. Dadanya sesak ketika mendengar ucapan Radit yang terakhir. Mereka berdua seperti kembali ke masa kecil. Di mana mereka melihat bayi tampan yang menangis keras, ternyata bayi itu menangisi kepergian ibunya untuk selamanya. Tidak ada sentuhan lembut apalagi asi yang diberikan oleh sang wanita yang telah melahirkannya. Raditya Addhitama, anak laki-laki yang tidak dapat merasakan kasih sayang ibunya meskipun hanya seujung kuku.


__ADS_2