
Sekarang baru menunjukkan pukul sepuluh pagi. Selagi mereka sedang anteng, Rion ingin menikmati secangkir kopi panas di dapur sepertinya nikmat. Setelah lima menit berselang, dan secangkir kopi masih tersisa setengahnya. Rion kembali ke tempat di mana para cucunya berada. Matanya melebar ketika tidak mendapati mereka di ruang bermain.
Rion terus mencari mereka sambil meneriaki nama ketiga cucunya. Matanya melebar ketika melihat ketiga cucunya sudah berada di kolam mini miliknya. Ketika Rion mendekat, tubuhnya langsung lemas.
Aleesa sedang membanting ikan koi kesayangannya dengan penuh amarah.
"Natal!" ocehnya.
Setelah dibanting, lalu ikan itu Aleesa cekik hingga mati sungguhan.
"Ya Tuhan, ikan mahalku," lirih Rion.
"Yeay, ati Uda," teriak Aleeya tertawa bahagia sambil mengangkat tinggi-tinggi ikan koi yang satunya lagi berhasil dia eksekusi dengan sempurna.
Rion hanya bisa duduk di tanah menyaksikan ketiga cucunya bermain di kolam dengan ikan yang sudah mati.
"Apa salah dan dosaku, Tuhan?" Ingin sekali Rion berteriak seperti itu.
"Ya ampun, kenapa Bapak biarin anak-anak ini nyebur ke kolam. Kalau Neng Echa tahu bisa marah besar," omel Mbak Ina.
Tidak ada daya dan upaya dari tubuh Rion. Tubuhnya seperti tak bertualang. Ikan koi itu susah didapatkan dan itu pun dibeli dengan harga yang sangat mahal. Namun, sekarang ikan itu hanya tinggal nama.
"Ba, itangna goyeng," ucap Aleeya sambil memberikan ikan koi yang sudah tak bernyawa kepada Mbak Ina.
Dengan mengumpulkan kesadaran dan keikhlasan, Rion bangkit dari keterpurukannya dan membawa tiga bocah ini ke tempat cuci mobil. Di sana ada selang panjang yang bisa Rion gunakan untuk memandikan ketiga cucunya yang super aktif.
Mereka nampak bahagia seperti menemukan mainan baru. Hal sederhana yang membuat mereka tertawa lepas. Bermain air sepuasnya karena tidak akan ada yang melarang.
"Setelah ini, minum susu lalu bobo. Okay?" Mereka bertiga pun mengangguk.
Puas bermain air, mereka Rion bawa ke kamar. Membilasnya ulang dengan sabun. Setelah itu, dipakaikan minyak telon untuk menghangatkan badan dan juga pakaian yang tentunya sama.
"Udah cantik. Engkong buatin susu dulu, ya."
Satu per satu botol yang berisi susu Rion berikan kepada ketiga cucunya. Mereka meminumnya seperti orang yang benar-benar kehausan. Sepuluh menit berselang, mereka pun tertidur dengan damainya.
"Jangan cepat besar, ya." Itulah yang Rion ucapkan.
Setelah dirasa mereka tertidur nyenyak, Rion menuju kolam di mana ikan kesayangannya di eksekusi mati oleh ketiga cucu kesayangannya.
"Kolam hanya tinggal kolam," ucapnya sangat lirih.
Dia teringat akan ketidak setujuan Echa dalam membuat kolam ini.
"Gak ada kolam-kolaman. Nanti akan membahayakan anak-anak Echa. Bagaimana jika mereka nyemplung ke situ?"
"Karma seorang ayah pembangkang," keluhnya.
Rion membersihkan kolam itu, membuang semua airnya. Namun, dia dikejutkan oleh ketiga cucunya yang datang dengan saling bergenggaman tangan.
"Loh kok udah bangun?" tanya Rion heran.
"Lapal," kawan Aleesa.
"Mau makan?" Mereka bertiga mengangguk.
"Mau makan apa?"
"Omlet," jawab Aleeya.
"Baiklah, kalian ke dalam dulu, ya. Engkong bersih-bersih dulu." Anak-anak Echa memang anak-anak yang sangat penurut. Apa yang dikatakan oleh orang tuanya langsung mereka lakukan.
Rion membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum membuatkan makanan untuk ketiga cucunya. Mereka terbiasa dibuatkan makanan oleh Echa. Maka dari itu, mereka tidak akan mau dibuatkan makanan oleh Mbak Ina.
Setelah tubuhnya bersih dan berganti pakaian, Rion menemui ketiga cucunya yang sedang asyik menonton televisi. Menciumnya satu per satu baru lah dia ke dapur.
"Omlet, ya." Rion mencari bahan untuk membuat omlet.
"Omlet 'kan telur dadar." Dengan percaya dirinya, dia memecahkan tiga telur dan mengocoknya lepas hingga berbuih. Kemudian, setelah wajan panas dia masukkan ke dalam wajan. Menunggu hingga cukup kering baru lah Rion angkat.
Rion mengambil piring khusus ketiga cucunya makan. Mengambil nasi kemudian di atasnya diberi telur dadar. Dibubuhi kecap manis di atas telur dan di atas nasi. Rion melihat ke arah meja makan. Ada kerupuk udang. Tangannya segera mengambil tiga kerupuk udang untuk tambahan di piring makan si triplets. Jika, Echa mengetahuinya sudah pasti tanduk dan taring Echa keluar.
Makananan pun sudah siap. Kursi khusus makan pun sudah Rion siapkan. Ketiga cucunya sudah duduk manis di sana sambil menonton televisi. Satu per satu piring Rion letakkan di meja. Hati Rion senang sekali ketika mereka sangat menikmati hasil masakannya.
"Enak?" Ketiga anak Echa mengangguk cepat.
Tidak sampai sepuluh menit, makanan mereka habis tak tersisa. Biasanya, jika bersama Echa ketiga anak ini sulit untuk makan. Padahal makannya dengan makanan yang serba enak dan bergizi. Namun, si triplets seakan mengunci mulut mereka dengan sangat rapat.
Setelah acara makan ketiga cucunya sudah selesai. Rion membawa piring bekas makan ketiga cucunya ke dapur untuk dia cuci. Semua kursi makan mereka sudah Rion rapihkan. Serta makanan yang tercecer di lantai Rion sapukan. Dia tidak ingin ketiga cucunya dikerumuni semut.
Rion menghela napas berat. Dia membayangkan bagaimana anaknya ketika mengurus ketiga balita ini? Sekarang sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Dia belum makan, tidak mungkin meninggalkan tiga kurcaci ini.
Apa kamu selalu menunda makan?
Lamunan Rion harus terhenti karena rengekan ketiga cucunya.
__ADS_1
"Uah," kaya Aleeya.
"Dus," sambung Aleena.
Rion hanya terdiam, sedang memikirkan apa yang dikatakan oleh cucu-cucunya. Lama berpikir, ketiga cucunya sudah tidak sabar dan mulai menangis.
"Jangan nangis, tetapi Engkong gak tahu apa yang kalian inginkan," ujar Rion.
Ketiga kurcaci itu bangkit dari duduknya. Meraih tangan Rion untuk berdiri. Membawanya ke depan lemari pendingin.
"Buta!" tidak Aleeya.
Rion mengikuti perintah cucunya. Aleeya mengambil anggur ungu, Aleesa mengambil anggur hijau dan Aleena mengambil alpukat.
"Dus," kata Aleena.
Rion mengangguk paham sekarang. Ketiga cucunya ingin buah sebagai cuci mulut. Sedangkan Aleena ingin dibuatkan oleh jus alpukat.
Mereka bertiga kembali ke ruang televisi, Rion masih mengeluarkan
daging alpukat. Ketika blender berputar, pikirannya pun ikut berputar.
Untung saja kamu mendapat pendamping hidup yang sangat berkecukupan. Andai, kamu mendapat pendamping hidup yang serba pas-pasan, anak-anak kamu pasti akan kelaparan.
Apa yang dikatakan oleh Rion benar adanya. Biaya per bulan si triplets hampir setara satu buah sepeda listrik. Namun, Echa dan Radit tidak akan mempermasalahkannya. Mereka selalu mengutamakan kesehatan ketiga buah hatinya.
Rion memberikan jus kepada Aleena yang sudah Rion tuangkan ke dalam gelas khusus. Dengan cepat Aleena menghabiskan satu gelas jus alpukat.
"Bis," ucap Aleena sambil memperlihatkan gigi susunya.
Bagaimana Rion bisa marah jika wajah ketiga cucunya sangatlah lucu. Mereka adalah pelipur lara dan pengobat rasa sepi untuk Rion.
Setengah jam berselang, mereka asyik menonton televisi. Mulut mereka mulai menguap. Rion segera membuatkan susu untuk ketiga cucunya. Mereka meminumnya dengan posisi tiduran.
"Apa kalian mau Engkong bacakan dongeng?"
"Ongeng tu pa?" tanya Aleeya.
Rion menjabarkan singkat tentang dongeng agar ketiga cucunya mudah memahami.
"Au ngel ongeng," kata Aleena.
"Matikan dulu teleivisnya."
Setelah televisi mati, Rion mulai bercerita. "Kancil dan Buaya ...."
Rion memunguti botol susu yang sudah tak berisi. Mencucinya dengan sabun cuci piring khusus bayi.
"Tadinya taruh aja di situ, Pak," imbuh Mbak Ina.
"Tidak apa-apa, Mbak. Oh iya, Mbak. Apa Echa kewalahan dalam mengurus ketiga anaknya?" tanya Rion.
"Kewalahan sih sudah pasti, Pak. Namun, sepertinya itu tidak masalah untuk Neng Echa. Padahal, waktu untuk makannya mulai tidak teratur. Ketika ketiga anaknya tertidur barulah Neng Echa bisa makan. Untuk mandi pun begitu. Ketika anak-anaknya anteng, baru lah Neng Echa bisa mandi," terang Mbak Ina.
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Rion.
"Bapak jangan khawatir, kodrat wanita memang seperti itu. Meskipun lelah, tetapi Neng Echa terlihat bahagia."
Rion mengangguk kecil dan kembali ke tempat si kembar tertidur. Setelah mencuci botol, Rion makan sedikit untuk mengganjal perutnya. Dia tidak bisa berlama-lama meninggalkan ketiga cucunya. Takut, mereka kabur lagi.
Dia ikut merebahkan diri di samping si triplets. Perut sudah terisi kini naik ke mata. Berkali-kali dia menguap, dan akhirnya matanya terpejam.
Baru masuk ke alam mimpi, suara getar ponsel miliknya mengganggu keindahan mimpi yang baru saja akan terjadi. Rion mendengus kesal ketika melihat nama pemanggil yang tertera di ponselnya.
"Hem."
"Ke kantor sekarang juga, ada tamu penting," ujar Arya.
"Gak bisa, gua lagi jaga cucu-cucu gua."
"Gak ada alasan dan bantahan. Pokoknya lu ke sini sekarang."
Sambungan telepon pun diputus secara sepihak oleh Arya. Rion berdecak kesal. Ketika dia di rumah masih saja harus ke kantor. Dengan langkah malas, Rion menuju kamarnya. Membersihkan badannya dan menggunakan pakaian yang baik pakai ke kantor.
"Bubu ...."
Suara tangisan si triplets membuat Rion tersentak. Dia segera keluar dari kamar dan mencari keberadaan ketiga cucunya.
Rion terkejut ketika mendapati ketiga cucunya sudah berurai air mata dengan terus bergandengan tangan.
"Bubu," panggil mereka.
Rion segera memeluk tubuh mungil ketiga cucunya. Mengecup kening si triplets secara bergantian.
"Jangan nangis ya, cucu Engkong. Ada Engkong di sini." Rion membawa ketiga cucunya masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Setelah tangis mereka reda, Rion mulai menyiapkan baju untuk mereka kenakan. Dia mengelap tubuh ketiga cucunya satu per satu.
"Au nana?" tanya Aleena.
"Ke kantor Engkong." Mereka bertiga tidak banyak bertanya.
Semua perlengkapan si triplets sudah dimasukkan ke dalam tas. Susu, popok bayi, baju ganti serta cemilan mereka sudah masuk ke dalam tas multifungsi.
Rion menuntun ketiga cucunya masuk ke dalam mobil. Mereka terus berdendang ria dengan bahasa mereka di kursi belakang. Membuat Rion dan Pak Mat tertawa mendengarkan celotehan mereka.
Tibanya di kantor, Pak Mat membantu menurunkan satu-persatu cucu Rion. Kedatangan trio kurcaci membuat heboh kantor Rion. Semua pekerja di sana berlomba-lomba ingin mengambil gambar cucu kesayangannya ini. Namun, sangat disayangkan mereka bertiga seakan acuh. Tidak mau disentuh oleh siapapun.
"Mereka tidak terbiasa disentuh oleh orang lain," ujar Rion.
Baru saja Arya hendak memaki Rion, mulutnya seketika tercekat karena melihat si triplets bersama Rion.
"Ke atas cepatan, Pak Wira udah nunggu dari tadi."
Feeling Rion sepertinya benar, pasti kedatangan kolega resek yang membuat Arya meneleponnya.
"Titip cucu-cucu gua," ucap Rion.
Dengan senang hati Arya mengajak bermain ketiga anak-anak Echa. Mereka bermain kejar-kejaran dan terawat terbahak-bahak. Setengah jam berselang, wajah mereka mulai berubah.
"Aus," ucap Aleeya.
"Mau susu?" Mereka bertiga menggeleng.
Arya berinisiatif untuk membawa ketiga kurcaci lucu ini ke mini market. Ketika pintu minimalis market baru saja dibuka, Arya dikejutkan dengan keranjang yang diseret oleh masing-masing dari mereka.
Mata Arya melebar, jantungnya seperti berhenti berdetak ketika melihat tangan mungil itu mengambil satu per satu makanan yang memang bisa mereka makan.
"Kecil-kecil udah doyan belanja," gumam Arya sambil menggelengkan kepala.
Arya dikejutkan kembali ternyata keranjang mereka penuh dengan makanan balita dan juga minuman. Jantung Arya sudah mulai berdegup kencang. Feeling-nya mengatakan akan terjadi sesuatu hal.
Seorang karyawan membantu Arya membawa keranjang belanjaan mereka. Cukup banyak tenyata belanjaan ketiga bocah ini.
"Total belanjaannya sembilan ratus dua puluh tujuh ribu tiga puluh lima rupiah."
Kaget, sudah pasti. Belanjaan anak kecil sebanyak ini. Sungguh membuat kantong Arya jebol.
"Sumpah jebol gua. Jebol," teriaknya dalam hati.
Terpaksa Rion menggunakan kartu debit miliknya. Uang cash yang ada di dompetnya sangat tidak cukup. Sedangkan kartu kreditnya sedang diblokir oleh Polda (polisi dapur).
"Tabungan gua buat beli ******."
Ketiga balita ini sangat menikmati cemilan yang mereka beli. Mereka tak lupa menawarkan kepada Arya. Dengan cepat Arya menggeleng. Didikan Echa dan Radit sangatlah bagus.
Setelah kenyang dan Rion tidak kunjung turun. Bosan melanda mereka kembali.
"Ton ama," ucap Aleeya.
"Au uang," kata Aleesa.
Arya sudah panik jika melihat di triplets sudah merengek. Dia segera menghubungi Rion, tetapi tak kunjung dijawab. Terpaksa dia menghubungi Echa.
"Jemput anak lu di kantor. Sekarang!"
Lima belas menit berselang, Echa dan Radit tiba di kantor. Ketiga anaknya segera berhambur memeluk Echa dan Radit. Setelah pamit mereka pulang ke rumah. Terlihat ketiga anaknya lelah.
Tibanya di rumah, mereka Echa bersihkan dan ganti pakaian. Setelah selesai baru lah Echa meninggalkan mereka di rumah bermain bersama Iyan. Echa juga harus membersihkan tubuhnya.
"Bubu, lapal," kata Aleesa.
"Baiklah, Bubu buatkan sup ayam, ya."
"Nyonyonyo," tolak mereka bertiga.
Dahi Echa mengkerut ketiga menerima penolak dari ketiga anaknya.
"Au telul," imbuh Aleeya.
"Telur?" Mereka mengangguk kompak.
"Goyeng," tambah Aleena.
"Telur goreng?" Lagi-lagi mereka mengangguk.
Aleesa menunjuk ke arah kecap Malika yang berada di atas meja makan. Aleena pun menunjuk ke arah kerupuk yang berada di toples besar di atas meja.
"Telur dadar, kecap dan kerupuk?" Ketiga anaknya pun mengangguk.
"Siapa yang ngasih makan seperti itu?"
__ADS_1
"Ton," jawab mereka bertiga.