
Echa calling ...
"Mampoes! Bilang apa gua," gumamnya.
Rifal tidak berani menjawab telepon dari Echa. Sudah pasti dia akan kena marah sang adik ipar yang kecepatan ocehannya 180km/jam.
"Ke mana ini bocah," keluhnya.
Jantung Rifal sudah berdegub sangat kencang. Pikiran jelek sudah berkelana di kepalanya. Rifal bertanya kepada semua orang yang berada di sana. Namun, mereka menjawab tidak tahu.
"Ke mana sih kalian? Bukan hanya emak kalian yang marah, Opa kalian juga pasti akan melontarkan umpatan-umpatan yang menusuk kalbu."
Sebelumnya ...
Echa merasa hatinya sangat tidak tenang. Padahal dia sedang menikmati sensasi pijatan demi pijatan.
"Ay, anak-anak sama siapa?" tanya Echa.
"Lagi sama Om mereka."
"Hati aku gak tenang, ya. Coba Ay hubungin Kak Rifal."
Radit mencoba menghubungi sang kakak. Namun, panggilannya selalu sibuk. Berkali-kali Radit menghubungi Rifal, tetapi tidak ada jawaban juga.
"Gak dijawab."
Raut wajah khawatir nampak jelas di wajah Echa. Namun, Radit terus menenangkan istrinya. "Aku yakin mereka baik-baik saja."
Senja sudah berganti malam, tetapi si triplets dan juga Rifal belum kembali juga. Rasa khawatir kini menghampiri hati kedua orang tua si triplets.
"Pih, coba hubungi Kakak. Dari tadi Echa hubungi Kakak gak diangkat-angkat," adu Echa dengan raut wajah cemas.
"Echa takut terjadi apa-apa dengan si triplets." Addhitama mengusap lembut punggung sang menantu.
"Papih coba hubungi, ya."
Baru saja Addhitama menekan tombol dial, orang yang mereka cari sudah ada di ruang tamu.
"Anak-anak Echa mana?" sergah Echa.
Mata Echa terus berkeliling mencari si triplets. Namun, Rifal hanya datang seorang diri.
"Mana anak-anak aku, Kak?" hardik Radit.
"Me-mereka hilang."
Tubuh Echa seketika terkulai lemas mendengar penuturan dari Rifal. Kakinya sudah tidak mampu menopang berat badannya.
"Jangan bercanda, Kak!" bentak Radit.
"Serius, Dit."
"Anak-anak Bubu," lirih Echa.
__ADS_1
Radit memapah tubuh sang istri ke atas sofa. Air mata Echa sudah luruh tak tertahankan.
"Di mana kamu kehilangan cucu-cucu Papih?" Suara Addhitama sangat murka.
"Di-kedai es krim di samping minimarket," sesal Rifal.
"Aku gak mau tahu, temuin anak-anak aku sekarang juga!" Radit pun sudah murka apalagi istrinya sudah menangis keras.
"Harusnya aku gak usah dipijit kalau endingnya kayak begini," lirih Echa.
"Jangan khawatir, Cha. Papih akan mengerahkan anak buah Papih untuk mencari si triplets."
Rifal hanya menunduk dalam ketika melihat ketiga orang di depannya sedang memasang wajah murka.
"Ya udah, aku cari mereka lagi." Rifal pergi dari rumahnya dan mencari ketiga keponakannya dengan bantuan orang kepercayaannya.
"Kenapa aku bodoh!" pekiknya.
Keysha menghubungi Rifal kembali, tetapi Rifal abaikan. Kali ini, keponakannya yang lebih penting. Berkali-kali ponsel Rifal berdering, tetapi tak pernah dia jawab. Pandangannya tengah fokus ke depan, kiri dan kanan. Mencari tiga tuyul yang entah hilang ke mana.
"Please ... kembali," gumamnya dengan sedikit frustasi.
Sudah jam sepuluh malam, tetapi Rifal dan si triplets belum juga kembali. Sedangkan Echa dan Radit sudah sangat khawatir.
"Ay," lirihnya.
"Sabar ya," balas Radit.
Jam dua belas malam, Rifal pulang dengan tangan hampa. Dilihatnya lampu rumahnya masih menyala dan semua mobil keluarga Echa sudah terparkir di sana.
Sebelum ke luar dari mobil, dia menarik napas panjang terlebih dahulu. Rifal harus menerima kenyataan sepahit apapun karena si triplets adalah cucu kesayangan semua orang.
Rifal melangkahkan kaki menuju rumahnya. Dalam hatinya dia terus berdoa agar si triplets sudah ketemu. Namun, dia mendapat tatapan tajam dari semua orang. Terlebih dari dua kakek si triplets yang lain. Pandangan mata mereka seperti elang yang akan membunuh mangsanya.
Dia juga melihat Echa yang terlihat sangat kacau dengan wajah yang sembab. Tangannya tak pernah sekalipun terlepas dari pinggang Radit.
"Maaf." Hanya kata itu yang terucap dari bibir Rifal.
"Aku sudah mencarinya, tetapi tidak ketemu. Aku janji, setelah dua puluh empat jam aku akan lapor ke polisi," sesalnya.
Tidak ada tanggapan dari semua orang yang berada di sana. Mereka masih memandang tajam pada Rifal.
"Lu boleh marah sama gua, Cha. Kalau terjadi apa-apa sama anak-anak lu. Lu boleh hukum gua," ujar Rifal.
Tidak ada jawaban dari Echa. Dia masih memeluk pinggang Radit dengan eratnya. Kini, semakin menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami.
"Maafin gua, Cha," sesal Rifal yang kini mendekat ke arah Echa.
"Jangan mendekat!" Echa berbicara sangat lantang. Bagaimana pun dia masih sedih karena ketiga anaknya belum kembali.
Addhitama menarik baju Rifal agar menjauhi Echa. Tatapannya sangat tajam dan membunuh.
"Kalau terjadi apa-apa dengan ketiga cucu Papih kamu harus tanggung jawab," bentak Gio.
__ADS_1
Rifal sama sekali tidak bisa menegakkan kepalanya. Dia terus menunduk dalam.
"Cemamat ulang aun," ucap si triplets.
Rifal seketika mencari ke asal suara dan ternyata ketiga keponakannya sudah ada di sampingnya dengan membawa kue ulang tahun. Dia berhambur memeluk tubuh si triplets.
"Kalian ke mana aja? Om khawatir." Rifal menyeka ujung matanya yang berair.
"Antuk," ucap Aleeya sambil berlari ke arah Rion.
"Selamat ulang tahun adik Abang." Rifal menatap tajam ke arah Rindra yang sudah terkekeh.
"Jadi ...."
"Iya, ini bagian dari rencana kita," potongnya.
"Pada pintar drama, ya. Jantung aku hampir mau copot ini," sentak Rifal.
"Lu lag!" bentaknya pada Echa.
Echa hanya menjulurkan lidahnya dan tak mau lepas dari pelukan Radit. Sedangkan ketiga anaknya sudah bersama kakek mereka. Ada yang bersama Rion, Gio dan juga Addhitama.
"Ini Om, kuenya. Maaf, kuenya tinggal separuh karena dimakan Iyo dan boneka cantik," ucap Rio.
Rifal mengusap lembut kepala Rio, kemudian menggendongnya.
"Ketemu Boneka cantik di mana?" tanyanya.
Bel
"Di samping minimarket. Om-nya lagi asyik video call-an makanya aku ajak aja," terang Rio.
Addhitama menjewer telinga Rifal dengan sangat keras, hingga dia mengaduh.
"Apa yang Rio katakan benar?" Cucu pertamanya itu mengangguk pelan.
"Video call-an sama siapa?" Kini Addhitama mulai penasaran.
"Sama Ka--" Rifal membekap mulut Rio.
"Sama klien lah," jawab Rifal.
Rindra memukul tangan Rifal yang tengah membekap mulut Rio. "Anak gua entar mati," sergah Rindra.
"Sama siapa Rio? Beri tahu Opa," paksanya.
"Opa, Tata Na antuk," kata Aleena.
"Baiklah, kita tidur, ya."
Rifal bisa bernapas lega karena Aleena sudah menyelamatkan hidupnya.
Sedangkan Echa, Radit dan Rindra sudah mengulum bibir mereka. Mereka kira sang Papih sudah mengetahui hubungan Rifal dengan Keysha.
__ADS_1
"Kenapa harus disembunyikan?" bisik Rindra.
"Belum saatnya. Kalau udah saatnya pasti aku kasih tahu," tukasnya.