
Hari ini Echa berkunjung ke kantor sang ayah ditemani oleh suaminya. Sekarang, Echa yang tidak ingin lepas dari Radit. Tangannya terus melingkar di lengan Radit dan kepalanya terus bersandar di bahu Radit.
"Aduh senangnya pengantin baru, shalalalalala." Dendang Arya sambil mengejek Echa.
"Berisik, Om," sergah Echa dengan wajah yang menunjukkan ketidak sukaan.
"Kalian gak berniat berbulan madu?" tanya sang ayah.
"Gak. Sebentar lagi aja Echa sama suami Echa berangkat ke Ausi. Anggap aja Ausi tempat bulan madu kita," terang Echa.
"Ayah lu udah nyiapin tiket buat kalian terbang ke Belitong," jelas Arya.
"Papa juga sudah nyiapin tiket ke New Zealand, tapi Echanya gak mau. Papih pun sudah menyiapkan tiket untuk ke Paris. Lagi-lagi istri Radit memilih untuk rebahan." Arya pun tertawa terbahak-bahak.
"Penyakit lama lu itu belum sembuh-sembuh, emang?" ledek Arya.
"Rebahan is my passion." Mereka pun tertawa mendengar ucapan dari Echa.
Echa dan Radit memutuskan untuk bermalam di rumah sang Papih. Sedari di kantor Rion, Addhitama selalu menghubungi Radit untuk datang ke rumahnya. Setelah dari kantor Rion, mereka berdua menuju kediaman Addhitama. Sambutan hangat diberikan oleh Addhitama, Rifal serta Satria.
Echa merasa sangat disayangi oleh tiga pria ini. Terlebih Addhitama yang selalu memanjakan Echa, Memberikan yang terbaik untuk menantunya.
"Papih ingin cepat menimang cucu," imbuhnya, Radit tersenyum mendengar ucapan sang Papih.
"Doakan saja, Pih." Sedangkan Echa hanya tersenyum simpul.
"Kamu mau makan apa, Cha? Biar Papih minta buatkan kepada Bibi yang ada di dapur.
"Nanti saja, Pih. Echa masih kenyang. Kalo lapar, biar Echa masak sendiri," tolak Echa secara halus.
"Emang kamu bisa masak?" tanya Rifal.
"Bisa, masak mie instan," sahut Echa seraya tertawa. Semua orang pun tertawa mendengar celotehan kakak ipar dengan adik ipar yang memiliki kehumoran yang sama. Setelah berbincang bersama. Bercanda dan juga tertawa, Radit dan Echa memutuskan untuk beristirahat di kamar.
Tangan Radit terus memeluk pinggang sang istri ketika mereka duduk di sofa sambil menonton acara televisi.
"Yang, kamu benar tidak ingin berbulan madu?" Lagi-lagi Radit menanyakan hal itu.
Echa menatap ke arah suaminya. Menangkup wajah Radit, lalu mengecup bibir Radit secara singkat.
"Aku bosan dengan pertanyaan itu. Sekali tidak tetal tidak," tegas Echa.
"Semua wanita pasti mendambakan bukan madu yang mewah, Yang," ujar Radit.
"TIdak dengan aku, Ay." Echa pun merebahkan kepalanya di pundak sang suami. "Aku tidak ingin ke mana-mana. Aku hanya ingin menghabiskan hariku berdua bersama kamu. Sebelum kamu kembali sibuk dengan pekerjaanmu." Ucapan Echa mampu membuat Radit sedikit tersentil. Memang benar, ketika mereka kembali ke Ausi pekerjaan sudah menanti Radit di sana. Di mana dia harus berangkat pagi buta dan pulang larut malam.
"Maafkan aku, Sayang," ucap Radit.
Echa membalikkan tubuhnya dan menatap bingung ke arah Radit.
"Aku janji, aku akan lebih mengatur waktu kerjaku. Aku tidak ingin kamu merasa kesepian," imbuh Radit.
Echa hanya menjawab dengan seulas senyum manisnya. Mengusap lembut pipi sang suami.
"Aku tidak apa, Ay. Kamu kepala keluarga. Kamu harus bekerja keras untuk masa depan anak-anak kita," balas Echa.
Radit benar-benar beruntung mendapatkan Echa. Tangannya semakin erat memeluk tubuh sang istri. Menuangkan rasa cinta yang teramat dalam. Sekarang, bibirnya sudah tidak bisa dikondisikan. Sudah membuat bulu kuduk Echa meremang.
"Ay." Suara Echa terdengar parau.
Radit semakin membuat Echa terbuai. Alunan merdu yang keluar dari bibir Echa membuat Radit bergelora.
"Yang." Mata Radit seperti meminta. Dijawab anggukan oleh Esha.
__ADS_1
Baru aja akan masuk ke dalam sebuah kenikmatan yang membuat mereka tidak ingin melepaskan, Ketukan pintu membuat aksi yang baru saja akan Radit lakukan terhenti. Lagi-lagi Radit harus mengerang kesal.
Radit membuka pintu kamarnya. Sang kakak sudah ada di dalam kamarnya dengan cengiran menggoda. Apalagi rambut Radit sudah terlihat berantakan.
"Dipanggil Papih ke ruangannya," ujar Rifal. Radit hanya mendengus kesal.
Radit masih memasang wajah frustasi. Kemudian menelusupkan wajahnya ke dada sang istri yang polos. Seperti mendapat asupan tenaga jika menyentuh dua benda kesayangan Radit yang berada di tubuh istrinya. Setelah puas, Radit mengecup bibir Echa sangat lama. Kemudian, beralih mengecup kening Echa.
"Aku dipanggil Papih," ucpnya lesu. Echa hanya tersenyum sambil mengusap lembut rambut Radit.
"Temuilah! Mungkin ada hal penting yang ingin Papih sampaikan. Lagi pula kita bisa melakukannya kapanpun. Aku sudah resmi milikmu, Ay." Lengkungan senyum terukir di bibir Radit. Istrinya mampu membuat kegelisahan Radit menghilang.
"Aku mandi dulu, ya."
Selagi Radit mandi, Echa mengambil baju suaminya di lemari. Senyum melengkung di bibirnya ketika melihat tumpukan baju Radit tersusun dengan rapi. Serta tumpukan bajunya sudah Radit persiapkan di sana. Namun, mata Echa terlihat sendu ketika melihat sebuah figura yang Radit simpan di atas laci lemarinya.
Echa mengambil figura tersebut. Diusapnya dua wajah yang berada di dalam figura. "Bagaimana perasaan kamu sesungguhnya, Ay? Sepertinya aku belum terlalu mengenal kesedihan kamu," gumam Echa. Ketika pintu kamar mandi terbuka. Echa buru-buru meletakkan figura itu pada tempatnya. Menghampiri suaminya yang hanya mengenakan handuk di pinggang.
"Makasih, Sayang." Radit hobi sekali mengucapkan terimakasih dan maaf. Serta mengecup kening istrinya.
"Di lemari sengaja aku siapkan baju untuk kamu. Ketika kita akan menginap di sini, kita gak perlu repot bawa baju dari rumah Mamah." Echa mengangguk pelan.
"Aku temui Papih dulu, ya. Kamu istirahat aja. Kalo ingin sesuatu hubungi aku." Radit menjatuhkan kecupan singkat di bibir sang istri sebelum dia keluar kamar. Jangan ditanya bagaimana perasaan Echa sesungguhnya. Bahagia yang tidak terkira.
Namun, pikirannya kini beralih pada sebuah figura yang dia temukan di laci lemari. Echa menatap sekeliling kamar Radit yang hanya terpajang foto mereka berdua semasa pacaran, tunangan, serta pernikahan. Tanpa ada foto masa kecil Radit.
Echa kembali mengambil figura yang berada di laci. Dia mengusap lembut foto sang Mamih mertua yang sangat cantik ketika masih hidup. Mata Echa beralih pada foto Radit yang Echa tahu bahwa ini hanya editan belaka. Radit sudah ditinggalkan Mamihnya semenjak dia lahir. Jadi, tidak mungkin dia memiliki foto dengan ibunya.
Dada Echa terasa sesak. Bulir bening pun membasahi pipinya. Dia sedang membayangkan bagaimana menjadi Radit kecil. Tumbuh tanpa seorang ibu. Hanya ada sosok seorang ayah yang pastinya tidak bisa menjadi ibu yang sesungguhnya. Dering ponsel Echa menyudahi kepiluannya. Ternyata, sang suami menyuruhnya untuk makan. Radit tahu Echa belum makan sedari pulang dari kantor Rion. Dia hanya meminum es kopi kesukaannya.
Setelah membersihkan badan dan menggunakan piyama yang sopan. Echa menuju dapur. Dilihatnya ada sang kakak ipar sedang membuat kopi.
"Mau begadang?" Suara Echa mengagetkan Rifal. Untung saja kopinya tidak tersenggol.
"Ngagetin lu kayak setan," sergah Rifal.
"Kak," panggil Echa lirih.
Rifal menoleh ke arah Echa. Wajahnya sudah berubah. Membuat Rifal mengerutkan dahinya.
"Ada apa?" tanya Rifal.
"Duduklah." Kakak kedua suaminya ini ternyata sangat lembut. Sama seperti Radit. Namun, Rifal membungkus dirinya dengan keselengean yang hakiki.
"Kenapa di dalam kamar Kak Radit, tidak ada foto Kak Radit sewaktu kecil?" Pertanyaan yang membuat Rifal tersenyum kecut.
"Itu permintaan suamimu," jawab Rifal yang memandang lurus ke depan.
"Sedari kecil, Radit menolak jika Papih ingin memasang foto dirinya di kamar. Radit selalu bilang, jika masa kecilnya sangat menyedihkan. Dia tidak ingin larut dalam kesedihannya." Sakit sekali hati Echa mendengarnya.
"Kamu pasti sudah melihat figura yang berada di dalam laci lemari Radit." Echa pun mengangguk.
"Itu foto keluarga yang Radit inginkan. Namun, ketika foto itu dicetak dan sudah dipajang di kamarnya. Keesokannya, Radit menangis meraung-raung. Dia meminta kepada Papih untuk menurunkannya kembali. Katanya, setiap menatap figura itu. Dia merasa Mamih selalu menangis." Helaan napas kasar keluar dari mulut Rifal.
"Dari lahir ke dunia hingga usianya sedewasa ini. Radit tidak pernah mengenal sosok Mamih. Ketika Radit kecil menanyakan perihal Mamih. Papih selalu bilang Mamih pergi sebentar. Namun, semakin dia besar Papih memberitahukan yang sebenarnya. Radit hanya mematung tanpa ekspresi ketika berada di depan makam Mamih. Ditambah perlakuan Abang membuat Radit menjadi anak yang sangat tertutup akan hal apapun. Di keluarga Mamih, Radit pun sangat dikucilkan karena selalu disalahkan. Mereka bilang Radit adalah anak pembawa sial dan pembunuh. Karena melahirkan Radit Mamih pergi selama-lamanya."
Air mata Echa menetes mendengar penuturan sang kakak ipar. Hatinya benar-benar sakit. Echa terus mendengarkan bagaimana perjuangan. Radit bisa berada di titik seperti sekarang.
"Semenjak mengenal kamu, Radit yang datar mulai bisa tersenyum. Aku bisa melihat bahwa Radit bahagia mengenal kamu. Di situlah perubahan Radit terjadi. Aku pribadi sangat berterimakasih sekali kepada kamu. Telah mengembalikan adikku yang sesungguhnya." Echa tersenyum dengan air mata yang masih menetes.
"Radit adalah anak yang susah sekali dekat dengan seseorang. Sekalinya dia dekat, berarti dia sudah menganggap orang itu seperti rumah dia sendiri. Akan bersikap manja, tertawa serta bercanda. Aku melihat Radit bersikap demikian jika sedang bersama kamu. Di situlah aku yakin, Radit akan terus memperjuangkan kamu. Menunggu kamu dan tidak akan pernah mundur untuk mendapatkan kamu. Sekarang terbukti, Radit bisa memperistrikanmu," ungkap Rifal.
Rifal menggenggam tangan Echa dengan sorot mata penuh harap. Penuh permohonan, berharap dikabulkan.
__ADS_1
"Jangan tinggalkan Radit. Tetaplah bersamanya apapun halangan dan rintangannya. Radit sangat mencintaimu. Radit menemukan sosok Mamih dari diri kamu. Aku yakin, Radit tidak akan pernah menyakitimu." Echa mengangguk pelan dengan senyum yang merekah.
Radit pun datang, Echa segera menghapus air matanya. Meskipun matanya yang masih merah nampak terlihat jelas.
"Kamu nangis?" tanya Radit yang kini sudah mengusap lembut kepala istrinya. Echa hanya bisa memeluk perut Radit. Karena posisi Echa sedang duduk dan Radit berdiri.
Radit menatap ke arah Rifal. Hanya seulas senyum yang Rifal tunjukkan.
"Sayang, kamu kenapa?" Radit benar-benar khawatir karena dia merasakan bajunya yang basah. Sudah pasti Echa menangis.
Radit mensejajarkan posisinya. Menatap manik Echa. Menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Echa.
"Kamu kenapa, Yang?"
"Aku akan selalu ada di samping kamu, Ay." Echa memeluk tubuh Radit kini lebih erat. Radit hanya menutup matanya sejenak dan menghembuskan napasnya dengan kasar. Dia yakin, kakaknya sudah menceritakan masa lalunya.
"Terbukalah pada Echa. Dia istrimu, dia berhak tahu apa saja tentang dirimu," ucap Rifal.
"Jangan sakiti istrimu, Dit. Jaga dia dengan jiwa dan ragamu. Agar kamu bisa terus bersama istrimu hingga maut yang akan memisahkan kalian." Pesan dari Addhitama yang baru saja masuk ke dapur.
Addhitama dan Rifal tersenyum bahagia ketika melihat Radit menemukan kebahagiaannya. Cinta Radit dan Echa sangat kuat. Pondasi cinta mereka karena masa kecil mereka yang sama. Meskipun berbeda kisah.
Setelah puas menangis, Radit membawa tubuh istrinya naik ke lantai atas di mana kamarnya berada.
"Jangan menangis lagi, Sayang. Kamu tidak perlu menangisi masa kecilku. Dari masa kecilku yang menyedihkan kini Akau menemukan kebahagiaan. Bisa bersanding kamu, wanita yang aku cintai." Radit mengecup kening Echa dengan tangan yang sudah memeluknya.
Ketika istrinya sudah terlelap. Radit turun dari tempat tidur dan membuka laci lemari. Dia menatap bahagia ke arah gambar sang mamih.
"Mamih, Radit sudah bahagia sekarang. Semoga Mamih juga bahagia melihat Radit dari surga."
Seperti biasa, Echa bangun lebih awal dari Radit. Echa tersenyum ke arah suaminya yang masih betah memeluk tubuhnya. Wajahnya sangat damai. Echa pun mengecup kening Radit sangat dalam sebelum dia turun dari ranjang. Setelah membersihkan wajahnya, Echa menuju dapur di mana asisten rumah tangga di rumah orang tua Radit sedang sibuk memasak.
"Mbak, ada yang bisa saya bantu?" Si asisten itu pun sedikit terkejut.
"Tidak, Non. Bibi biasa melakukannya," ucap sopan asisten rumah tangga.
"Yang." Panggilan yang membuat Echa dan asisten menoleh ke arah Radit yang masih dalam keadaan berantakan setelah bangun tidur.
"Kok udah bangun?" tanya Echa setelah dia berada di depan suaminya. Merapihkan rambut suaminya yang berantakan.
"Gak ada kamu," ucapnya manja yang kini sudah duduk di kursi meja makan.
"Aku mau nyiapin sarapan dulu buat kamu, Papih, sama Kakak." Radit segera memeluk pinggang istrinya karena Echa dalam posisi berdiri.
"Ada Bibi. Biar Bibi yang nyiapin semuanya," ujar Radit.
Echa hanya menghela napas kasar. Dia menoleh ke arah bibi asisten rumah tangga.
"Gak apa-apa, Non. Non, istirahat lagi aja. Hari masih gelap kok. Ini udah tugas Bibi," balas asisten rumah tangga Radit.
"Baiklah."
"Bi, boleh Echa minta tolong sesuatu?" tanya Echa ragu.
"Apa, Non?"
"Tolong buatkan Echa jus alpukat, ya. Buat sarapan nanti." Bibi asisten rumah tangga itu pun mengangguk. Kemudian dia terkekeh melihat Radit yang sudah terlelap sambil memeluk pinggang Echa.
"Non Echa sangat memberikan kenyamanan untuk Den Radit," imbuhnya.
Echa melihat ke arah bawah di mana sang suami tengah mendengkur halus. Senyum pun terukir di bibir Echa.
"Bayi manjaku."
__ADS_1
...****************...
Komennya mana?