
Di sebuah kafe kekinian yang bernama Jomblo's cafe seorang laki-laki tampan sedang memandang sebuah gelas yang berisi Thai tea.
"Minuman kesukaan si jigong," gumamnya, seraya tersenyum kecut.
"Sekarang lu ada di mana? Udah empat tahun berlalu, nama lu masih gua ingat selalu." Helaan napas kasar terdengar, dia meminum Thai tea yang sengaja dia pesan.
"Kenapa lu?" tanya Ken.
Kafe ini milik Aska, Ken dan juga Juno. Mereka tengah berada di Bandung memantau kafe yang mereka bangun.
"Lagi ingat masa lalu," jawab Aska.
Rasa rindu kepada seseorang yang dia panggil dengan sebutan jigong selalu hadir di kala senja datang. Seperti saat ini, senja mulai menampakkan dirinya. Warna kemerah-merahan sudah hadir di langit Kota Bandung.
"Nikmati kegalauan lu, ya. Gua ke atas dulu nemenin Juno." Ken menepuk pundak Aska, dan berlalu meninggalkan Aska.
Bayang-bayang wajah perempuan itu selalu menghiasi kepalanya ketika dia sudah benar-benar membuang rasa kepada Riana. Perempuan yang sangat sederhana, tetapi memiliki paras yang sangat manis. Sayang seribu sayang, perempuan itu pergi tanpa meninggalkan pesan. Ketika Aska hendak menyatakan perasaannya, dia malah pindah sekolah. Padahal, Aska sudah siap dengan konsekuensinya jika dia berpacaran dengan si jigong itu. Dicemooh sudah pasti. Aska adalah siswa populer di sekolahnya, sedangkan perempuan yang Aska sukai hanya siswi biasa lebih cenderung siswi culun di kelasnya. Selalu menjadi bahan ejekan oleh teman-temannya, terlebih teman-teman Aska. Berbeda dengan Aska, dia melihat perempuan itu seperti emas murni. Hanya tinggal dipoles dan divermak sedikit saja pasti akan menjadi permata yang bernilai tinggi.
"Di mana kamu sekarang?"
Padahal banyak wanita cantik dan populer yang mendekati Aska, tetapi Aska bukanlah pria yang mudah dimiliki.
"Hai Aska!" sapa seorang wanita cantik. Aska menoleh dengan sangat malas, dan ekspresinya pun datar.
Dia adalah Rindu, seorang model cantik yang terus saja mendekati Aska. Meskipun, berkali-kali Aska menolaknya.
"Kok datang ke sini gak bilang-bilang."
Aska masih bergeming, dia tidak ingin membahas apapun bersama wanita ini. Ken dan Juno kadang merasa heran kepada Aska. Perempuan secantik Rindu bisa-bisanya Aska tolak mentah-mentah.
"Boleh gak aku promosiin kafe kamu ini? Aku jamin pasti banyak yang datang deh. Konsep kafenya juga oke banget untuk anak-anak zaman now." Rindu berbicara seraya tersenyum manis ke arah Aska.
"Kalau kamu ikhlas sih gak apa-apa. Kalau bantu karena ada apa-apanya lebih baik gak usah."
Kalimat yang teramat menusuk yang Aska ucapkan. Beginilah Aska, mulutnya tidak ada manis-manisnya kepada wanita yang dia anggap parasit. Aska pun meninggalkan Rindu seorang diri. Dia memilih untuk ke lantai atas, sedangkan Ken dan Juno menggelengkan kepala mereka.
"Parah ya si Aska. Cewek cantik gitu malah ditolak," ucap Ken.
"Aska itu pria yang beda. Terserah dia lah, kayaknya dia tahu mana yang tulus dan mana yang modus," ujar Juno.
Hari semakin malam, memasuki jam delapan malam kafe mulai penuh didatangi muda-mudi. Apalagi sekarang malam Minggu. Pengunjung akan menjalar hingga keluar.
Aska, Ken dan Juno akan turun ke lapangan karena sudah pasti para pekerja kafe tersebut akan kewalahan. Para perempuan-perempuan muda selalu menunggu kedatangan tiga pria jomblo itu. Mereka akan bersikap histeris ketika Aska, Ken dan Juno yang melayani mereka.
"Ya ampun, ganteng banget. Betah deh lama-lama di sini," ujar salah seorang perempuan ketika Aska meletakkan minuman yang dipesan.
"Silahkan dinikmati, Kak."
Para perempuan itu pun berteriak gembira ketika melihat senyum Aska yang begitu manis.
"Meleleh aku."
Mata Aska memicing ketika dia melihat seorang pria yang sedang duduk seorang diri di meja samping jendela. Aska mendekat dan duduk di hadapannya. Pria itu pun cukup tersentak.
Aska sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Menatap tajam ke arah Rifal.
"Ngapain lu?" sergah Rifal.
Aska menatap Rifal dengan tatapan jengah. Dia tegakkan duduknya dan mulai memajukan tubuhnya.
"Lu apain Keysha?"
Jika, sudah marah dan kesal Aska akan berbicara kasar dan tidak sopan.
"Gak ada urusan sama lu," jawab Rifal.
Aska sudah sangat geram mendengar jawaban dari Rifal. Ingin rasanya dia menonjok wajah Rifal.
"Keysha itu sayang sama lu!" seru Aska dengan wajah yang sudah memerah.
Aska mengeluarkan ponselnya, dia memperlihatkan tubuh Keysha yang terbaring lemah dengan jarum infus di tangannya.
"Lu lihat ini!" sentak Aska.
"Keysha tahu, selama ini lu sering bolak-balik Singapura. Memantau Keysha dari kejauhan. Ketika Keysha mendekat, kenapa lu seolah acuh kepada dia?"
Rifal hanya terdiam mendengar ucapan Aska. Apa yang diucapkan Aska semuanya benar. Dia tidak bisa menyangkal apapun.
"Maksud lu apa? Ketika di acara resepsi teman bisnis lu. Lu mengatakan bahwa lu gak kenal sama Keysha. Apa maksud lu?" Aska sudah mulai geram.
"Karena ucapan lu itu, Keysha sakit. Sudah seminggu ini di dirawat. Lu juga pasti udah lihat 'kan bagaimana kondisi Keysha," hardik Aska.
"Jangan jadi pecundang. Kalau lu masih sayang sama Keysha, bilang sayang. Kalau enggak lebih baik lu tinggalin. Jangan pernah lu sakiti. adik sepupu gua!"
Aska meninggalakan Rifal yang membisu. Kalimat terakhir yang diucapkan Rifal sangat menusuk hatinya.
__ADS_1
"Kalau itu maunya Kak Rifal, anggap saja kita tidak pernah ada hubungan apapun apalagi saling mengenal."
Ucapan terakhir dari Keysha untuk Rifal di acara resepsi pernikahan rekan bisnis Rifal dan juga Kano.
Selama hampir dua tahun ini, Rifal rutin pergi ke Singapura hanya untuk memastikan keadaan Keysha. Namun, dia tidak memiliki nyali yang cukup besar untuk mendatangi Keysha. Terlalu canggung apalagi teman-teman Keysha masih muda-muda. Berbeda dengan dirinya yang sudah dewasa.
"Maafkan aku, Keysha," lirih Rifal.
Keesokan paginya, Rifal mendatangi Jomblo's cafe kembali. Dia ingin bertemu dengan Aska. Aska lah yang tahu bagaimana Keysha.
"Ada yang nyari lu di bawah," ujar Juno kepada Aska.
"Siapa?"
"Cowok," jawab Juno.
Aska yang sedang mengecek keuangan kafe terpaksa harus bangkit dan menemui orang tersebut. Dia menghela napas kasar ketika melihat Rifal yang sudah duduk manis.
"Ngapain lagi lu ke sini?" Pertanyaan yang tidak ada lembut-lembutnya yang keluar dari mulut Aska.
"Gua mau nanya tentang Keysha."
Aska tersenyum miring mendengar ucapan Rifal.
"Ngapain lu tanya sama gua? Pria sejati itu harus cari tahu sendiri," balas Aska.
"Gua mohon, Ka. Gua tahu lu yang paling dekat sama Keysha. Lu juga pasti tahu semua tentang Keysha."
Aska menatap malas ke arah Rifal. Namun, dia juga kepikiran akan pesan yang dikirim Keysha semalam kepadanya.
Baru pertama merasakan jatuh cinta, tetapi harus terluka sedalam ini.
"Mau lu apa sekarang?" tanya Aska yang sudah menarik kursi untuk dia duduki.
"Gua masih sayang sama Keysha, tapi ... gua merasa gak pantas aja. Umur gua sama dia aja terpaut jauh banget. Apa nantinya dia gak malu punya pacar dan pendamping kayak gua?" Rifal kini menunduk dalam.
"Lu-nya yang terlalu insecure sama diri lu sendiri. Harusnya lu percaya diri. Biarin aja orang mau bilang ini dan itu. Lu yang jalanin, mereka hanya bertugas komentarin. Kenapa harus didengerin?"
"Heran gua sama lu. Udah cukup umur, tapi masih aja bodoh," cibir Aska.
Kali ini Rifal tidak akan membantah segala ucapan Aska. Bukan tanpa sebab, apa yang diucapkan Aska memang benar. Dia memang terlalu bodoh perihal ini dan karena kebodohannya dia menyakiti perempuan yang dia sayangi.
"Sekarang apa yang harus gua lakuin?" tanya Rifal.
"Lu tanya sama diri lu sendiri. Lu yakin gak sama perasaan lu. Kalau gak yakin mending lupain aja. Dari pada nanti Keysha sakit hati lagi karena kebodohan lu," terang Aska.
Aska tertawa mendengar ucapan lirih Rifal. Dia menggelengkan kepala tak percaya.
"Kalau lu pejuang cinta beneran gak akan merasa kalah sebelum bertanding. Kalau lu sayang dan cinta sama Keysha, lu buktiin. Lu luluhin hati kedua orang tua Keysha. Bukan malah mundur dan menjadi pecundang. Udah gak zaman kayak gitu," terang Aska.
Aska mengeluarkan ponselnya. Dia memberikan nomor ponsel Keysha kepada Rifal.
"Lu hubungin nomor ini," ujar Aska.
Rifal memasukkan nomor yang Aska beri ke kontak ponselnya. Dia hanya memandang nomor itu tanpa melakukan sesuatu.
"Terserah lu sekarang mah. Mau hubungin dia atau gak. Bantuan gua cukup sampai sini. Jangan sampai lu menyesal."
Aska meninggalakan Rifal yang tengah termenung memandang layar ponselnya.
Kebimbangan masih memenuhi hati Rifal. Antara menghubungi atau tidak. Egonya masih tinggi dan ada segelumit ketakutan di hatinya. Takut diacuhkan dan ditolak oleh Keysha.
"Cinta bisa membuat orang pintar menjadi bodoh," gumam Aska sembari menggelengkan kepalanya.
Aska tiba di rumah tepat jam sepuluh malam. Di mana keadaan rumah sudah gelap karena penghuni rumah sudah terlelap. Aska merebahkan tubuhnya di kasur yang sangat empuk.
Makasih ya, Kak. Kak Rifal sudah menghubungi Key lagi.
Lengkungan senyum terukir di wajah Aska. Ada kelegaan di hatinya. Pintu kamar Aska terbuka membuat pandangan Aksa tertuju pada pintu kamarnya.
"Gimana kafe kamu?" Sang Daddy lah yang masuk ke kamarnya.
Aska yang semula merebahkan tubuhnya, kini menegakkan duduknya sambil bersandar di kepala ranjang.
"Lumayan berkembang, Dad. Sepertinya dalam waktu dekat mau buka cabang di Jakarta," ucap Aska.
"Wah, keren dong," puji Gio.
"Belum apa-apalah, Dad. Rencananya bulan depan mau cari-cari tempat dulu."
Gio mendekat ke arah Aska dan duduk di samping tempat tidur.
"Apa yang bisa Daddy bantu?" Aska tersenyum, kemudian menggelengkan kepalanya.
"Cukup bantu doa saja, Dad. Adek mau berjuang dengan keringat Adek sendiri." Gio menepuk pundak sang putra bungsu. Dia sangat bangga dengan kegigihan Aska.
__ADS_1
Modal yang Aska gunakan untuk membangun Jomblo's cafe adalah hasil tabungan dari uang jajan yang Gio dan Ayanda berikan selama Aska sekolah. Tanpa Gio dan Ayanda ketahui, Aska memiliki tabungan yang luar biasa. Mampu mendirikan sebuah kafe bersama teman-temannya. Pernah dan malah sering gagal tetapi Aska tidak mundur dan menyerah.
"Kenapa kamu tidak ingin seperti Abang?" tanya Gio penasaran.
"Untuk saat ini Adek belum ingin. Suatu saat nanti, pasti Adek akan bantu Abang di perusahaan."
Gio tersenyum mendengar ucapan Aska. Kedua anaknya memiliki sifat yang sangat berbeda walaupun wajahnya sama. Aksa dituntut sempurna, sedangkan Aska hanya ingin menjalani masa mudanya layaknya pemuda pada umumnya. Tanpa, berleha-leha.
Pagi harinya, meja makan di rumah Gio terisi oleh tiga orang. Kedatangan Echa membuat Ayanda dan Gio menyunggingkan senyum.
"Adek, bisa tolong Kakak gak? Jam sebelas jemput si triplets di sekolah."
Aska yang tengah mengunyah nasi goreng belum menjawab permintaan sang kakak.
"Bisa ya, Dek. Kakak ada meeting ke Bekasi. Ayah dan Om Arya lagi ke Bandung. Babanya si triplets ada meeting penting."
"Iya, tapi ada imbalannya, ya," jawab Aska.
"Iya, tenang aja."
Ayanda dan Gio selalu merasakan kehangatan ketika anak-anaknya mampu membantu saudaranya yang lain.
"Ketiga cucu Papah di mana?" tanya Gio.
"Sudah berangkat sama Kak Radit, Pah. Kan searah."
Echa pamit dan tak lupa mencium tangan mamah dan Papahnya.
"Dek, jangan lupa jam sebelas jemputnya."
"Iya," jawab Aska.
Hari ini Aska memang tidak ada mata kuliah. Dia lebih memilih berdiam diri di rumah. Jam setengah sebelas, dia sudah siap dengan pakaian santai dan juga masker untuk menjemput ketiga keponakannya.
Tibanya di sana, banyak para orang tua murid yang sudah menunggu para anaknya. Penampilan ibu-ibu itu membuat Aska menggelengkan kepala.
"Mau jemput sekolah apa mau kondangan?" gumam Aska.
Dia melihat ketiga keponakannya yang berjalan beriringan. Senyum Aska mengembang, sedetik kemudian mata Aska melebar ketika melihat ada seorang anak laki-laki mendorong ketiga keponakannya hingga tersungkur ke tanah. Aska segera berlari menghampiri si triplets yang sudah menangis karena melihat darah di kaki mereka.
"Cengeng!" ejek anak laki-laki tersebut.
Aska sangat geram melihat anak laki-laki gembul yang telah mencelakai ketiga keponakannya. Tangan Aska sudah memelintir telinga anak laki-laki itu hingga dia mengerang kesakitan dan menangis.
"Masih kecil udah Badung banget lu. Gimana gedenya," geram Aska.
Seorang ibu-ibu dengan membawa tas branded menghampiri Aska dan menarik paksa tangan Aska yang menempel di telinga putranya.
"Ngapain kamu jewer-jewer telinga anak saya," sergah si ibu itu.
"Harusnya Anda mikir, pasti ada apa-apa jika saya sampai menjewer telinga anak Anda," balas Aska.
Aska membantu ketiga keponakannya berdiri. Darah sudah menetes di kaki mereka.
"Sakit, Om."
"Kita obati, ya." Aska membawa ketiga keponakannya ke dalam mobil dan tidak mengindahkan ucapan-ucapan kasar yang ibu itu lontarkan.
Di dalam mobilnya selalu tersedia alat P3K. Aska membersihkan luka di bagian kaki ketiga keponakannya dengan telaten. Kemudian, memasang plester ke luka yang sudah bersih.
"Beres," ucap Aska.
Aska merapihkan kotak P3K. Kemudian hendak menyalakan mobilnya. Namun, ketukan kaca jendela membuatnya menoleh. Aska menurunkan kaca mobilnya.
"Mau apa lagi? Mau minta ganti rugi? Harusnya saya yang minta ganti rugi kepada Anda karena anak Anda sudah mencelakai ketiga keponakan saya," ucap Aska bersungut-sungut.
"Maafkan anak saya. Anak saya memang nakal."
Aska mendengus kesal, dia menatap kesal ke arah anak laki-laki gembul yang berwajah songong.
"Minta maaf sama si kembar tiga," titah Aska kepada musuh bebuyutan si triplets, yaitu si Choki.
"Gak mau!" bantah Choki.
Aska keluar dari mobilnya dan menyentil kening Choki dengan cukup keras hingga Choki mengaduh.
"Dasar Patkai!" umpat Aska. Tak dia pedulikan ada orang tuanya juga. Toh, orang tuanya juga tidak akan berani apalagi Aska sudah memberitahukan siapa dirinya.
"Om, Patkai itu siapa?" Mendengar nama itu membuat si triplets penasaran.
Aska membuka ponsel pintarnya dan mencari nama tersebut. Setelah ditemukan dia memberikannya kepada ketiga keponakannya.
"Ini mah pig," kata Aleeya.
"Milip sama si Choki-choki."
__ADS_1
Ketiga keponakan Aska pun tertawa puas.