
Christina mati kutu berada di rumah Echa. Mulut pedas semua keluarga Echa membuat mentalnya tertekan. Dia pamit pulang dengan rasa sesak di dada.
"Apa kurangnya aku?" gumamnya. Tak terasa air matanya menetes begitu saja.
Dia mengendarai mobil dengan hati yang benar-benar sakit. Semua keluarga Aska seakan tidak merestui dirinya sekarang Askara.
Tiba di kediamannya, Christina menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Dia menangis sejadi-jadinya. Kenapa kisahnya selalu sama dengan yang terdahulu.
Beginilah Christina, jika sudah suka dengan seroang akan terus memaksa orang itu menerimanya. Hubungannya yang terdahulu pun sama hingga membuat pria itu mengakhiri hubungannya.
Di lain tempat, Aska masih betah memandangi langit malam. Bibirnya melengkung sempurna ketika dia teringat semasa SMA dulu. Seorang wanita yang culun dan berbeda dengannya menangis di pundaknya. Hanya karena bintang dan bulan yang indah di langit malam air mata perempuan itu surut.
"Kamu di mana sekarang? Apa kamu sudah menikah?"
Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Aska. Rasa itu tak bisa dihilangkan dan masih ada hingga saat ini. Riana hanya sebagai pemeran pengganti untuk sesaat. Sesungguhnya pemeran utama di hatinya adalah perempuan itu.
"Ayo kita ke pantai. Aku ingin melihat senja di pantai. Aku belum pernah lihat itu."
Askara tersenyum kecut. Perih rasanya ketika dia teringat akan hari itu. Hari di mana dia tidak bisa menepati janjinya karena ada urusan keluarga yang mengharuskannya hadir di sana.
"Aku ingin menebus kesalahanku," gumamnya.
Seorang playboy yang tengah bergelut dengan kesedihannya. Ketika dia sendiri inilah yang dia rasakan. Memang, Aska adalah casanova. Akan tetapi, dia tidak pernah menyentuh wanita yang dekat dengannya. Hanya memegang tangan pun dia sangat jarang melakukannya.
Kesendiriannya yang biasa bersama sang saudara kembar, dia lampiaskan pada wanita. Meskipun, wanita itu yang meminta-minta kepadanya bukan dirinya. Jika, kakaknya tahu mungkin dia sudah diceramahi tujuh hari tujuh malam. Apalagi, jika Aksa tahu dia telah menyakiti Christina secara tidak langsung. Sudah pasti sebuah bogem mentah akan mendarat di wajahnya.
Tengah malam Aska baru kembali ke kediaman sang kakak. Itupun hanya untuk mengembalikan sepeda Pak Yok yang dia gunakan.
"Gak masuk dulu?" tanya Pak Yok.
"Enggak, makasih."
Aska memberikan satu lembar uang kertas berwarna merah. Pak Yok terlihat sangat riang gembira.
"Sering-sering aja ya, Den."
Aska hanya tertawa, dari mana sang kakak menemukan penjaga rumah seperti itu.
****
Jum'at malam, keluarga Addhitama mengadakan acara kumpul keluarga. Semuanya kumpul semua termasuk Satria, Kalfa dan juga Jingga. Melihat kasih sayang Jingga kepada Kalfa yang sangat tulus, membuat satu keluarga Addhitama sedikit menggoda Satria.
"Cocok buat ibunya Kalfa," goda Rifal.
Satria hanya tersenyum.Dia tidak terlalu menanggapi serius perkataan dari Rifal. Dia akui Jingga adalah wanita yang sangat keibuan. Akan tetapi, dia sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak akan menikah. Hanya akan membesarkan Kalfa dan menjadikannya orang yang sukses.
Si triplets segera menghampiri Jingga. Mereka sangat bahagia sekali.
"Kak Jing-jing."
Bukan hanya ketiga anak Echa yang bahagia, Jingga pun merasa bahagia bisa bertemu kembali dengan si triplets. Mata Jingga berkeliling mencari sosok ibu dari si triplets. Tidak dipungkiri, perempuan yang katanya menantu dari keluarga Addhitama yang tadi menyapanya pun sangat cantik. Namun, dia sangat penasaran dengan ibu dari si triplets ini.
Tak lama pria yang belum lama ini dia lihat menggandeng mesra tangan seorang wanita yang sangat cantik. Tubuhnya sangat proporsional dan wanita itu pun disambut hangat oleh keluarga ini.
"Menantu cantikku satu lagi."
Mendengar kalimat itu Jingga sangat yakin kalau wanita itu adalah ibu dari si triplets.
"Maaf ya, Pih. Echa lagi banyak meeting."
Mendengar ucapannya yang sangat lembut membuat Jingga seakan terhipnotis.
"Kalau kalian sama-sama sibuk, kapan mau memberikan cucu lagi untuk Papih?" Echa dan Radit pun tergelak mendengar ucapan Addhitama.
Jingga melihat kecantikan yang sangat sempurna pada diri Echa. Apalagi pria yang dia kagumi semakin merengkuh erat pinggang Echa.
Mereka semua menikmati makanan yang sudah Addhitama siapkan. Ketiga anak Echa tengah asyik bermain dengan Kalfa dan juga Jingga. Sesekali Jingga melihat ke arah orang tua si triplets. Mereka berdua sangat romantis apalagi Radit yang selalu bersikap manis kepada Echa.
"Ya Tuhan. Ingin sekali memiliki suami seperti itu," batin Jingga.
"Kakak Jing-jing lihat apa?" tanya Aleena.
Hingga sedikit terkejut mendengar ucapan dari Aleena. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Itu Bubu dan Baba kami," tunjuk Aleesa ke arah kedua orang tuanya.
Dugaan Jingga benar adanya, bahwa mereka adalah orang tua si triplets.
"Meleka selalu sepelti olang pacalan," lanjut Aleeya.
Cinta antara Radit dan Echa memang tak bisa terbantahkan. Mereka berdua selalu kompak dan romantis. Bukan untuk sekedar pencitraan, tetapi memang kenyataannya seperti itu.
Jingga merasa iri kepada kedua orang tua si triplets. Sedari tadi bagai orang pacaran. Tak mengenal tempat dan seolah acuh dengan keluarga mereka.
Si triplets mengajak Jingga ke arah kedua orang tuanya. Sontak Jingga terkejut. Namun, itu tidak membuat si triplets mengurungkan niatnya.
"Bubu ... Baba," panggil mereka bertiga.
"Dari mana aja?" tanya Echa sambil memeluk tubuh ketiga putrinya.
"Main sama kelapa," jawab Aleeya.
"Kalfa, Dek," ujar Radit.
"Susah Baba." Radit dan Echa pun tertawa.
"Bubu ... Baba kenalin ini Kak Jing-jing. Pengasuh Kalfa," terang Aleena.
Jingga tersenyum ke arah Echa dan juga Radit. Dibalas dengan senyuman juga oleh Echa. Belum juga mereka berbincang, ponsel Echa berdering. Dahinya sedikit mengkerut melihat nama si pemanggil.
"Iya, Dek."
"Jemput Adek di rumah Ken, Kak. Motor Adek mogok. Kendaraan di rumah si Ken gak ada."
"Ya udah, nanti Kakak dan Abang jemput kamu, ya."
"Makasih Kak."
Jingga yang melihat cara bicara Echa benar-benar salut. Ternyata dia juga sangat perhatian kepada adiknya.
"Kenapa, Sayang?" tanya Radit.
"Kita ke rumah Ken, Ay. Si Adek ada di sana. Motornya mogok," jawab Echa.
"Makasih ya, sudah mau menjaga anak saya. Saya berharap nanti kita bisa bertemu lagi. Mohon maaf yang sebesar-besarnya karena saya harus menjemput adik saya di rumah temannya," ungkap Echa.
"Iya Bu, gak apa-apa. Saya juga sangat senang bertemu dengan Ibu."
"Sayang, ayo," panggil Radit.
"Sebentar Ay."
Echa mengeluarkan lembaran uang berwarna merah dari dalam tasnya. Dia berikan kepada Jingga dengan senyum yang merekah. Jingga menolaknya, tetapi Echa tetap memaksa.
"Sebagai tanda pertemanan kita," kata Echa seraya tersenyum tulus.
Jingga merasa terharu mendengar ucapan Echa. Seorang wanita kaya raya mau berteman dengannya adalah hal yang sangat luar biasa. Belum juga Jingga mengucapkan terima kasih, Echa sudah pergi. Ketiga anak Echa pun melambaikan tangan ke arah Jingga.
"Sampai bertemu lagi," kata si triplets.
Rasa tidak suka ketiga anak Echa tidak bisa dicegah oleh siapapun. Watak mereka sangat keras, apalagi Aleena. Semakin orang memaksa. semakin dia keras kepala. terbukti sekarang ini. Meskipun mereka duduk di kursi belakang bersama Aska. Mereka tetap diam tak bicara.
Aska menepuk pelan punggung sang kakak, Echa hanya mengangkat bahunya. Radit hanya mengulum senyum.
Tibanya di rumah pun, mereka bertiga segera masuk ke kamar. Sama sekali tidak ingin berbicara kepada Aska. Seakan mereka memiliki dendam yang belum terbalaskan. Aska hanya bisa pasrah dan menunggu mereka berubah pikiran dan mau memaafkan.
Semenjak kejadian makan malam di rumah Echa, Christina sudah tidak pernah datang kembali ke rumah Echa maupun Aska. Aska pun sudah tidak pernah dihubungi oleh Chrstina dan membuat dirinya sangat amat bahagia. Jahat sekali lelaki ini.
Tidak pernah sekali pun Aska mencoba menghubungi Christina. Status WhatsApp yang selalu Christina pasang sama sekali tak pernah Aska baca. Seakan Aska tidak memiliki rasa ingin tahu terhadap Christina.
Pagi hari, si triplets sudah merengek ingin bermain ke rumah Kalfa. Alasan mereka karena ada pengasuh Kalfa. Jing-jing namanya.
"Bubu ada meeting, Nak," ujar Echa.
"Baba juga gak bisa, Sayang. Jadwal hari ini sangat padat."
Si triplets melipat kedua tangan mereka di atas dada. Bibir mereka sudah manyun beberapa centimeter.
__ADS_1
"Diantar Om Aska mau?" bujuk Echa.
Ketiga anak itu pun menggeleng. Seperti sedang memiliki dendam kesumat kepada Aska.
"Ya sudah, gak jadi ke rumah Kalfa-nya kalau begitu," tukas Echa.
Akhirnya mereka menyetujui tawaran dari sang ibu, tetapi dengan syarat yang diberikan oleh mereka.
Aska datang dengan wajah yang cerah. Dia menyapa semua orang yang ada di sana termasuk Iyan.
"Si anak Indihome," canda Aska sambil mengusap kepala Iyan.
"Indigo, Kak. Bukan Indihome," sungut Iyan.
Semua orang pun tergelak, jika Aska datangan ada aja kelakuan makhluk satu ini. Ketiga keponakannya sudah sangat cantik. Aska memuji mereka, tetapi mereka seakan acuh pada Aska.
"Jutek banget, sih," ujar Aska.
Tidak ada jawaban dari mereka. Mereka memilih untuk langsung pergi ke depan daripada harus meladeni paman mereka yang satu ini.
"Gimana rasanya didiemin si triplets?" tanya Rion.
"Nyesel, Yah. Lebih baik didiemin tiga cewek Adek lah. Dirayu dan digimbalin dikit aja langsung luluh," terangnya.
Rion pun tergelak mendengar jawaban dari Aska. Kemarahan si triplets seperti marabahaya untuk mereka.
"Batu banget," lanjut Aska.
"Sama persis kayak ibunya," sahut Rion.
"Ayah!"
Rion dan Aska pun tertawa, ternyata manusia yang sedang mereka ghibahkan ada di belakang mereka.
Aska membawa ketiga keponakannya ke alamat yang sudah Radit berikan. Ingin rasanya Aska memulai obrolan. tetapi dia tidak diperbolehkan untuk banyak berbicara. Itulah persyaratan yang mereka ajukan.
Keadaan di dalam hening bagai pemakaman. Ketiga keponakannya yang aktif pun seakan menjadi sosok alim.
"Udah sampai," ujar Aska.
Mereka bertiga turun didampingi Aska. Tidak mungkin akan meninggalkan mereka begitu saja. Pasti ada etikanya.
Aksa menekan bel yang ada di depan. Tak lama, seorang pria seumuran sang ayah membukakan pintu.
"Pagi, Om."
Satria menyunggingkan senyum kepada Aska. Dia pun menyapa ketiga anak kembar di hadapannya.
"Hai juga, Om."
"Silakan masuk," ajak Satria. Aska masuk ke dalam rumah mewah itu.
Rumah yang sangat nyaman dan rapi. Apalagi Satria sangat ramah. Aska tersenyum ketika melihat anak laki-laki menghampiri mereka. Apalagi anak laki-laki itu sudah tersenyum ke arah si triplets
"Ajak main mereka," titah Satria kepada Kalfa.
Mereka pun bermain di halaman belakang yang ternyata disumpal menjadi area bermain oleh Satria.
"Mau minum apa?" tawar Satria.
"Makasih Om, gak perlu repot-repot," tolak Aska.
Satria tetap memaksa dan dia pun ke dapur. Menyuruh Jingga untuk membuatkan dua gelas kopi susu untuknya dan juga Aska. Jingga hanya mengangguk dan menuruti perintah majikannya.
Setelah dua gelas kopi susu selesai dibuat, Jingga membawanya ke ruang tamu. Namun, dia hanya melihat Satria.
"Loh, tamunya mana Pak?" tanya Jingga seraya meletakkan dua cangkir kopi tersebut.
"Lagi angkat telepon di luar."
Jingga memilih untuk kembali lagi ke dapur. Meninggalakan majikannya dan tamunya.
"Om, saya harus pergi. Saya harus ke kampus."
__ADS_1
Suara yang menghentikan langkah Jingga. Suara yang Jingga rindukan selama ini.