Yang Terluka

Yang Terluka
Endorse


__ADS_3

Hari terus berganti bulan. Usia kandungan Echa sudah memasuki bulan kesembilan. Meskipun banyak sekali cobaan untuk keluarganya, kandungan Echa masih dalam keadaan baik-baik saja dan sangat sehat.


"Yang, jangan ikut campur dulu dengan masalah Ayah. Aku yakin, Ayah bisa mengatasinya sendiri." Radit berbicara sambil mengusap lembut rambut Echa.


"Kamu sekarang harus relaks. Seminggu lagi kamu harus menjalani operasi cukup besar, yaitu operasi caesar," imbuhnya lagi.


Tiga hari menjelang operasi, bukannya Echa yang panik. Melainkan Radit yang tidak bisa tidur nyenyak. Jika, Echa sudah terbiasa tidur sambil duduk karena jika dia terlentang akan terasa sangat engap.


Radit tak hentinya menatap wajah sang istri. Mengusap lembut kepala sang istri serta perut buncitnya.


"Anak-anak Baba. Jangan nakal ya, Nak. Jangan buat Bubu susah ketika persalinan nanti."


Radit datang ke rumah sang Papih dengan wajah yang frustasi. Bagi sebagian pria yang belum merasakan menghadapi persalinan istri, akan berkata bahwa Radit ini berlebihan. Belum tentu mereka yang berkata seperti itu bisa kuat seperti Radit.


"Tenangkan dirimu, Dit. Jangan buat Echa semakin kepikiran," imbuh Addhitama.


"Mau operasi Caesar ataupun lahiran normal itu sama-sama menyakitkan bagi semua wanita. Tidak ada yang enak, semuanya memiliki risiko masing-masing. Melahirkan sama dengan mempertaruhkan nyawa wanita." Radit hanya menghela napas kasar mendengar ucapan sang Papih.


"Jika, kamu seperti ini. Ketika waktu operasi tiba, kondisi psikis Echa sedikit terganggu. Dia akan meminta perlindungan kepada siapa?" Radit merenungi ucapan dari Addhitama.


"Hal yang terpenting, kamu harus menemani istrimu berjuang di antara hidup dan mati. Agar kamu bisa lebih menghargai istrimu yang telah melahirkan anak-anak kamu yang lucu."


Pulang dari rumah Addhitama, Radit mencerna setiap kalimat yang Addhitama sampaikan. Apa yang papihnya ucapkan sangat benar. Sekarang yang harus kuat adalah dirinya sebagai kepala keluarga. Jika, kepala keluarganya saja rapuh bagaimana dengan anggotanya?


Tibanya di rumah, dia melihat Echa sedang berdiri di teras rumah sambil mengusap perut buncitnya.


"Loh, kenapa di luar?"


"Tendangan mereka semakin kuat, Ay. Makanya aku bawa jalan-jalan kecil biar gak terlalu sakit." Hati Radit sakit mendengar penuturan sang istri.


Radit menuntun Echa masuk ke dalam. Membantunya berjalan dan mendudukkannya di sofa empuk dengan Radit yang duduk di atas karpet sambil memangku kaki sang istri.


"Pegal?" Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.


Tanpa diminta Radit segera memijat kaki Echa dengan sangat lembut. Sehingga membuat Echa merasakan kenyamanan tiada tara.

__ADS_1


"Kamu mandi dulu, gih," titah Echa dengan mata yang sudah lima Watt.


"Aku akan pijat kamu dulu, baru aku mandi." Echa hanya tersenyum mendengarnya.


Sepuluh menit berselang, Echa sudah tertidur pulas. Senyum Radit melengkung dengan sempurna. Radit mengambil sofa single dan dia pindahkan ke tempat di mana dia berada. Dia letakkan kaki Echa dengan pelan di atas sofa itu.


"Aku mandi dulu, ya." Radit mengecup kening Echa.


"Baba, mandi dulu, ya," ucapnya pada perut buncit Echa.


Setelah membersihkan badan, Radit kembali menuju ruang keluarga. Istrinya masih terlelap dengan damainya. Tangan Radit seolah tidak mau diam jika sudah melihat perut buncit istrinya. Dia pun terlelap di samping tubuh Echa dengan posisi tangan Radit memeluk perut Echa.


Kedatangan Rion serta dua anaknya membuat mereka tersenyum bahagia. Melihat Radit yang sangat menyayangi Echa membuat mereka bersyukur.


"Kakak beruntung, ya. Mendapatkan suami seperti Abang." Rion tersenyum dengan tangan yang mengusap lembut kepala Riana.


"Ayah selalu berdoa agar kamu juga mendapatkan suami seperti Abang kamu. Menyayangi kamu dan mau menerima kamu apa adanya."


Hari ini Echa harus dibawa ke rumah sakit karena besok dia akan menjalani proses Caesar. Radit terus menggenggam tangan Echa dengan eratnya. Khawatir sudah pasti Radit rasakan. Apalagi, Echa sering melihat video-video tentang operasi Caesar dan mengurus anak kembar.


"Kamu tegang?" Echa hanya tersenyum. "Sedikit." Jawaban Echa membuat Radit menghela napas kasar.


Pak Mat yang mendengar dan melihat perlakuan manis Radit tersenyum bahagia. Akhirnya, anak dari majikannya itu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Tiba di rumah sakit, Radit sudah disambut oleh dua perawatan yang tengah membawa kursi roda ke arah mobil Radit.


"Apa ini tidak berlebihan?" Radit tersenyum kemudian mengecup pipi sang istri. "Tidak, Sayang. Ini perintah dari Papih."


Dengan gagahnya Radit mendorong kursi roda hingga mereka tiba di kamar perawatan yang sangat nyaman. Semua sudah Addhitama persiapkan dari satu minggu yang lalu.


Radit terus menggenggam tangan istrinya. Seperti perkataannya, dia tidak ingin jauh dari Echa.


"Yang." Echa menatap ke arah Radit.


"Semalam aku mimpi. Mamih membawa tiga bayi perempuan lucu dan meyerahkannya kepada aku dan kamu." Radit menghela ucapannya sejenak. "Mamih tersenyum bahagia dan dia membisikkan sesuatu ke telinga salah seorang anak kita. Kemudian, Mamih pergi dengan lengkungan senyum yang tidak pernah pudar."

__ADS_1


Echa mengusap lembut rambut sang suami dengan senyuman yang melengkung indah.


"Itu tandanya Mamih bahagia melihat kita berdua bahagia. Apalagi, kita akan menjadi orang tua," ujarnya.


Radit menatap wajah sang istri, sekelebat terlihat wajah sang mamih di wajah Echa.


"Aku ingin, setelah anak kita lahir kita bawa mereka ke pusara Mamih. Mengenalkan mereka kepada Mamih." Radit mengangguk cepat, lalu mencium punggung tangan Echa dengan penuh cinta.


"Makasih, sudah mau mengandung anak-anak dari aku," ujar Radit.


"Makasih, telah menanam benih di rahim aku." Mereka berdua pun tertawa.


Malam hari, keluarga Echa berdatangan. Ayanda memeluk tubuh sang putri dengan sangat erat.


"Jangan stres ya, Kak." Echa mengangguk patuh.


"Dek, kalo setelah operasi kamu merasakan sakit segera bilang ke suami kamu atau kepada Ayah. Jangan pernah menyembunyikannya seorang diri."


Beribu petuah Echa dapatkan dari orang-orang yang menyayanginya. Echa hanya tersenyum dan sangat merasa bersyukur karena memiliki keluarga yang luar biasa.


"Ayah, maaf Echa sudah merepotkan." Sebuah kalimat yang membuat Rion mengerutkan dahi.


Tanpa Echa menjelaskan, Rion sudah tahu maksud dari ucapan Echa. Dengan cepat Rion memeluk tubuh Echa. Mengusapnya lembut.


"Ayah akan selalu ada di samping kamu. Apalagi di hari kamu harus berjuang demi mengeluarkan tiga nyawa yang berada di dalam perut kamu. Maafkan Ayah, ketika kamu lahir Ayah tidak berada di samping Mamah kamu. Dan maaf, bukan Ayah pula yang mengadzani kamu ketika kamu lahir ke dunia."


Bulir bening lolos begitu saja di wajah Echa. Begitu juga Ayanda yang sudah menunduk dalam. Gio mengusap pundak sang istri untuk memberikan kekuatan. Dia tahu, masa lalu Ayanda tidaklah semembahagiakan yang dipikiran banyak orang. Terlalu banyak luka yang dia rasakan. Di usia yang sudah tidak muda dia baru mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.


"Dit, tetap temani Echa. Jangan pernah meninggalkan Echa walau sedetik pun. Ayah tidak mau Echa merasakan kesakitan hanya seorang diri. Kamu harus bertanggung jawab atas semua perbuatan kamu. Tanpa ulahmu, Echa tidak akan pernah mengandung."


Radit mengangguk paham. Mertuanya ini memanglah mertua posesif terhadap Echa. Radit tidak mempermasalahkan itu. Malah Radit sangat merasa bahagia. Dia melihat bahwa Echa adalah wanita berharga di mata ayahnya.


"Semua keperluan bayi kalian sudah Papa siapkan. Tinggal lihat jenis kelaminnya saja. Nanti, Papa tinggal hubungi mereka dan menyuruh mereka untuk mengirim keperluan anak-anak kalian sesuai dengan jenis kelamin cucu-cucu Papa."


"Serba di endorse," celetuk Arya. "Rumah sakit dibiayai mertua, perlengkapan bayi ditanggung sama papa sambung tercinta." Arya menggelengkan kepala. "Modal lu apa, Dit?"

__ADS_1


Radit tertawa mendengar ucapan Arya. "Benih yang berkualitas," sahutnya. "Radit jamin kalian akan jatuh cinta pada anak-anak Radit di pandangan pertama."


...****************...


__ADS_2