Yang Terluka

Yang Terluka
Ke Singapura


__ADS_3

Semuanya sudah bahagia, keadaan Iyan pun sudah membaik pasca kembalinya Jojo. Hari-hari keluarga Echa dan Radit sangat bahagia. Namun, hari ini mereka kedatangan tamu seorang pria bujang dengan wajah yang sangat kusut.


"Tumben banget," cibir Radit.


"Ke Singapura yuk!"


Ajakan Rindra mampu membuat Radit melebarkan mata. Mengajak ke negara orang seperti mengajak ke tukang bakso.


"Kakak gak salah minum obat 'kan." Ucapan Radit mampu membuat Rindra memukul bahu sang adik dengan cukup keras hingga dia mengaduh.


"Gua masih waras, Radit!" pekiknya.


Echa yang baru saja keluar dari kamar si triplets menggelengkan kepala dan tidak lupa meletakkan telunjuknya di bibirnya.


"Di ruang tamu aja ngobrolnya," titah Echa.


Dua pria itu menuruti ucapan Echa karena Echa sudah memasang wajah yang sangat menyeramkan. Lebih baik mengalah dari pada dapat ceramahan yang pastinya akan membuat mereka berdua kegerahan.


Echa membuatkan kopi untuk kakak ipar serta suaminya. Dia tidak terbiasa menyuruh Mbak Ina jika tamunya itu adalah keluarganya sendiri.


Tiga cangkir kopi sudah diletakkan di atas meja. Echa sudah merangkul lengan Radit dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami.


"Lu mau bikin gua iri?" sungut Rifal.


"Kok sensitif? Lagi M ya," canda Echa.


Rifal sudah mengangkat bantal sofa, tetapi mata Radit sudah membuka menandakan bahwa dia memberikan peringatan kepada Rifal agar tidak berbuat macam-macam kepada istrinya.


"Lu kasih pelet apaan sih ke adik gua. Sampai adik gua nurut banget dan bertekuk lutut banget sama lu," sarkas Rifal.


Echa hanya tertawa mendengar ucapan Rifal. Sedangkan Radit sudah melempar Rifal dengan bantal. Mereka malah asyik berbincang tanpa membahas perihal ke Singapura. Rifal sepertinya lupa akan tujuan utamanya. Apalagi jika sudah bertemu dengan Echa mood-nya pasti akan berubah.


"Udah lah, gua pulang. Bini lu kayanya minta dikelonin, nguap Mulu dari tadi kaya kuda nil," kelakar Rifal.


"Kurang asem emang nih orang. Echa laporin Papih loh biar dimarahin. Ngatain menantu kesayangannya mirip kuda Nil," sungut Echa.


"Tau deh yang sekarang jadi anak kesayangan Papih mah," ledek Rifal sambil mencebikkan bibirnya.


Setelah Rifal pulang, Echa segera masuk ke kamarnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


"Ganti baju dulu, Yang," ujar Radit.


"Aku ngantuk banget, Ay." Namun, Radit memaksa Echa untuk bangun dan membantu Echa membersihkan tubuhnya. Bukannya dibersihkan, Radit malah mengotori tubuh Echa yang seputih susu. Meninggalkan jejak-jejak merah layaknya orang yang tengah masuk angin.


"Udah dong, Ay. Aku lemes," imbuh Echa dengan suara pelan.


Radit segera menggendong tubuh sang istri menuju tempat tidur. Mulai menjalankan aksinya yang pastinya akan membuatnya tidak mau berhenti. Satu setengah jam berlalu, akhirnya Radit pun menyudahi kegiatannya. Mata istrinya sudah terlelap dengan damainya. Kecupan penuh kasih sayang Radit berikan di kening Echa.


"Good night, Sayang."


Keesokan paginya, tubuh Echa bagai tulang ayam lunak. Tulangnya terasa remuk karena permainan sang suami yang seperti manusia kesetanan.


"Kenapa Sayang?" tanya Radit.


"Lemes, Ay." Radit pun tertawa mendengarnya.

__ADS_1


Kemudian, dia membantu Echa untuk bangun dari posisi tidurnya dan duduk di tempat tidur. Menarik tangan Echa agar masuk ke dalam dekapannya.


"Hari ini libur aja dulu," imbuh Radit.


"Gak bisa, ada pertemuan penting, Ay," tolak Echa.


"Tapi ... makan siang pengen makan di luar sama kamu. Udah jarang banget 'kan." Radit tersenyum mendengar ucapan sang istri.


Dia pun menyetujui ajakan istrinya. Meskipun, siang ini dia ada pertemuan penting membahas project yang cukup besar. Namun, demi sang istri bahagia dia rela menunda semuanya.


"Nanti aku jemput, ya." Echa tersenyum dan semakin mengeratkan pelukannya.


Setelah sampai kantor, Radit sudah ditunggu oleh kedua kakaknya. Dahi Radit mengernyit karena tidak biasanya mereka berdua ada di sini.


"Ada apa?" tanya Radit.


"Nih anak ngajak ke Singapura," jawab Rindra.


"Bilang dulu ke Papih. Jadwal aku padat banget soalnya," cerca Radit.


"Udah, makanya aku ke sini mau bilang sama kalian supaya kalian menyetujuinya. Nanti malam Papih akan mengumpulkan anak dan menantunya," tutur Radit.


"Atur ajalah, yang penting gratis." Rifal melempar Radit dengan bolpoin miliknya hingga Radit mengaduh.


"Bayar sendiri-sendiri, kaya orang susah lu," umpat Rifal.


"Dih, kalau gitu Abang gak mau ikut deh. Ingat ya, Rifal, biaya untuk liburan di sana itu sangat mahal. Mending liburan di dalam negeri," timpal Rindra.


"Tau nih, mana anak-anak aku ada tiga. Mending uangnya ditabung buat masa depan mereka."


Mendengar ucapan kedua kakaknya, Rifal frustasi sendiri. Dia mengerang kesal dan menjambak rambutnya.


"Bangkrut bangkrut dah," sesal Rifal.


Setalah Rifal menerima panggilan dari asisten pribadinya, Rindra yang masih berada di ruangan Radit menatap Radit dengan penuh tanda tanya.


"Ada apa dengan Rifal? Apa ada hubungannya dengan anak SMA itu?" Radit mengangkat bahunya. Radit benar-benar tidak tahu akan hal itu. Rifal pun tidak menceritakan apapun semalam.


Singapura.


Seorang gadis tengah termenung di kamarnya. Hari ini dia ijin tidak masuk sekolah karena dia tengah demam. Sebelumnya sang Mamih sudah memberikan sarapan kepada Keysha.


"Makan Key," ucap Sheza.


Keysha menjadi anak yang sangat penurut. Dia memakan sarapan yang sudah Mamihnya buatkan. Setelah itu, dia menatap ponselnya dengan nanar.


Kenapa kamu seperti anak kecil, Key? Aku ini kerja, gak ke mana-mana.


Bentakan yang Keysha terima dari pria yang telah merebut hatinya, membuat hati Keysha teriris. Cinta pertamanya, sang ayah tidak pernah membentaknya seumur hidup. Keysha selalu diperlakukan sangat lembut oleh papihnya.


Apa Key tidak boleh menanyakan kabar tentang Kakak? Apa tidak bisa Kakak luangkan waktu satu menit saja untuk memberi kabar kepada Key?


Perdebatan kecil itu baru kemarin sore terjadi. Ketika wanita ingin diperhatikan dan pria yang masih kukuh pada pendiriannya membuat hubungan itu terasa penuh kehambaran. Itulah yang terjadi di dalam hubungan Rifal dan Keysha.


Rifal yang terlalu sibuk dan acuh kepada Keysha. Baginya, cukuplah menelepon satu sampai dua menit dalam sehari. Sedangkan Keysha menginginkan Rifal yang rutin mengirim kabar, meskipun hanya lewat pesan singkat.

__ADS_1


Keysha menghela napas kasar. Hingga sebuah keputusan sudah dia ambi.


Jika, kita selalu tidak sepaham. Lebih baik kita introspeksi diri kita masing-masing. Perbaiki diri kita dulu. Jika, memang semuanya tidak bisa kita perbaiki. Lebih baik kita menyudahi apa yang sudah kita mulai. Sebelum semuanya terlalu dalam.


Pesan yang membuat Rifal frustasi dan tidak tahu harus melakukan apa. Berkali-kali Rifa menghubungi Keysha, tetapi tidak tersambung.


Kembali ke Jakarta, Rifal mengurut keningnya yang sangat pusing. Dia tidak tahu di mana keluarga Keysha tinggal. Jalan satu-satunya hanya Echa. Echa yang tahu akan Keysha. Tanpa berpikir panjang, dia menghubungi Echa. Namun, panggilannya selalu tidak dijawab.


Inilah yang membuat Rifal mengajak kakak dan adiknya untuk ke Singapura. Otaknya sudah sangat buntu, hanya mereka berdua yang mampu membantu Rifal. Terutama adik iparnya. Echa sudah pasti tahu di mana Kano tinggal.


Radit menjemput Echa di kantornya. Tangan mereka terus bertaut hingga keluar dari kantor.


"Makan di mana?" tanya Radit.


"pengen yang private tapi enak." Radit tersenyum mendengar jawaban sang istri. Dari dulu Echa memang tidak berubah. Tidak menyukai keramaian.


Tibanya di restoran mewah dan memang sangat private, mereka duduk bersampingan. Mereka tidak suka duduk berhadapan. Lebih romantis duduk seperti ini dengan tangan yang saling menggenggam dan kepala Echa yang bersandar.


"Nanti kita disuruh ke rumah Papih. Katanya kita disuruh berlibur ke Singapura," ujar Radit sambil membelai lembut rambut sang istri.


"Berlibur atau membantu Kak Rifal?" Radit memicingkan matanya. Menatap Echa dengan sangat tajam.


"Kemarin sore Keysha memilih menyudahi hubungan mereka," terang Echa.


"Pantas," keluh Radit.


"Gagal dalam berkomunikasi penyebabnya," jelas Echa.


"LDR itu gak mudah. Buktinya aja kita berdua, hampir dua tahun cobaan terus datang. Hingga kamu membenci aku," tutur Radit.


"Kebanyakan sih salah paham." Radit pun mengangguk.


Mereka menikmati makan siang dengan mengenang masa pacaran LDR-an.


"Ay, kamu ke rumah Papihnya sendiri aja, ya. Aku ingin istirahat." Radit mengangguk, dia juga tidak tega melihat istrinya seperti ini.


Tibanya di kantor Echa, Radit mengantar sang istri hingga masuk ke dalam ruangannya. Mencium kening sang istri sangat dalam sebelum dia pergi.


"Aku ke kantor lagi, ya."


Radit datang ke rumah sang Papih seorang diri. Di mana Rindra datang bersama sang istri dan juga Rio.


"Boneka ke mana, Uncle?" tanya Rio.


"Mereka udah tidur," jawab Radit.


"Istri kamu?" tanya Addhitama.


"Dia kecapean, Pih. Dari pulang kerja langsung tidur," sahut Radit.


"Kalian pasti sudah tahu dari Rifal. Papih hanya dapat mendukung saja. Semuanya balik lagi ke kalian," tutur Addhitama.


"Kalau aku sih mau aja," imbuh Rindra.


"Kalau kamu, Dit?"

__ADS_1


"Radit mah ikut aja," jawabnya.


"Baiklah, lusa kalian berangkat. Pakai pesawat pribadi milik Genta."


__ADS_2