
Rion tersentak ketika merasakan kening Aleesa yang panas. Dia segera mengambil termometer untuk memeriksa tubuh Aleesa. Sedikit menunggu akhirnya termometer berbunyi.
"Tiga puluh sembilan koma dua derajat," gumam Rion. Dia sangat panik, mau menghubungi Echa pun dia tidak tega. Hari ini ada pertemuan penting dengan klien.
Rion meletakkan tubuh Aleesa dan berniat untuk mengambil air untuk mengompres kening Aleesa. Namun. tidak dia sangka kedua anak Echa yang lain ikut menggigil.
"Ya Tuhan." Rion segera membawa ketiga cucunya. Dua cucunya dia letakkan di stroller dan satunya lagi dia gendong.
Wajah panik Rion nampak terlihat jelas, sehingga Mbak Ina segera berlari menghampiri Rion.
"Pak, kenapa dengan anak-anak?"
"Katakan kepada Pak Mat bersiap sekarang untuk ke rumah sakit."
Perintah Rion membuat tubuh Mbak Ina lemas seketika. Dia melirik sekilas ke arah ketiga cucu sang majikan. Wajah mereka bertiga sudah pucat pasi.
Mbak Ina berlari dengan hati yang bercampur aduk. Ada takut sekaligus sedih.
"Jangan bilang kepada Echa. Saya tidak mau membuat Echa khawatir." Mbak Ina mengangguk. Namun, tidak bisa dia merahasiakan hal ini kepada anak majikannya. Kedua orang tua si triplets harus tahu. Begitulah batinnya.
Mbak Ina mencoba menghubungi Echa, tetapi tidak ada jawaban dari Echa. Berkali-kali Mbak Ina menghubungi Echa dan tetap sama. Tidak pernah dijawab. Kemudian, dia menghubungi Radit. Panggilan pertama dan kedua tidak ada jawaban. Dipanggilan ketiga barulah ada jawaban. Namun, ponsel Mbak Ina tiba-tiba mati karena baterai habis.
Tanpa berpikir panjang, Mbak Ina menggedor-gedor pintu rumah Gio. Dia berharap Ayanda ada di rumah. Harapannya pun tidak sia-sia.
"Ada apa, Mbak?" Melihat wajah Mbak Ina yang nampak khawatir membuat Ayanda ikut khawatir.
"Cucu-cucu ibu ...."
Ayanda menatap Mbak Ina dengan tajam agar lebih memperjelas ucapannya.
"Kenapa dengan cucu-cucu saya?"
"Demam tinggi dan sekarang dibawa ke rumah sakit."
"Ya Tuhan." Ayanda mulai panik, dia segera masuk ke dalam mengambil tasnya. Menyuruh sopir pribadi untuk mengantarnya. Dia tahu, Rion akan membawa ketiga cucunya ke rumah sakit terdekat.
Tangan Ayanda masih sibuk menghubungi suaminya. Namun, tidak ada satu panggilan pun yang suaminya jawab.
"Ya ampun, Dad," keluhnya.
Tibanya di rumah sakit yang paling dekat dengan rumahnya, Ayanda segera menuju ke ruang IGD. Benar dugaannya, Rion sudah berada di sana.
"Mas," panggil Ayanda.
Rion menoleh dengan wajah yang sendu.
"Kenapa bisa seperti ini?" Rion menggeleng.
"Aleesa merasa ketakutan ketika melihat ke arah pohon mangga. Dia menangis keras dan tidak mau lepas dari gendongan. Ketika mereka tidur, Mas merasa suhu tubuh Aleesa sedikit meninggi. Ternyata ... tiga puluh sembilan derajat," terangnya dengan nada lirih.
"Ya Tuhan, itu sangat tinggi, Mas." Rion mengangguk.
"Kita harus tebang pohon itu. Di situ sering terdengar suara aneh," ujar Ayanda. Rion tidak bisa menjawab.
Semenjak pertama Rion tinggal di rumah itu, dia ingin sekali menebang pohon mangga tersebut. Namun, sang putra melarangnya dengan alasan itu adalah rumah teman-teman Iyan yang tak kasat mata. Mau tidak mau, Rion membatalkan rencananya. Melihat sekarang cucunya ketakutan seperti ini, apa yang dikatakan Ayanda benar adanya. Dari pada ketiga cucunya terus takut melihat ke arah pohon mangga.
Setengah jam berselang, belum ada dokter yang keluar dari IGD. Mereka berdua semakin khawatir. Hingga terdengar suara sepatu yang mendekat ke arah mereka.
"Kenapa dengan anak-anak Echa?" Wajah Echa sudah sembab karena menangis selama di perjalanan.
"Sabar dulu, Kak. Kita berdoa yang terbaik untuk mereka semua," tutur Ayanda.
"Tapi, Mah ...."
Ayanda segera memeluk tubuh Echa yang sangat ketakutan. Dia sangat tahu, bahwa Echa takut jika penyakit yang dideritanya ketika kecil diderita oleh anak-anaknya.
"Jangan menangis, Kak. Mereka anak-anak yang kuat. Kamu juga harus kuat," ucap Ayanda.
"Apa Mamah dulu serapuh Echa?" Pertanyaan yang mampu membuka luka lama yang sudah lama Ayada kubur dalam.
Rion terdiam mendengar ucapan Echa. Kepalanya menunduk dalam karena dia telah menyia-nyiakan putrinya yang harusnya mendapat perhatian malah dibuang layaknya sampah.
__ADS_1
"Tidak ada orang tua yang tidak khawatir dengan kondisi anaknya, Kak. Mamah malah ingin menggantikan posisi kamu di ranjang pesakitan itu," terangnya.
"Dan sekarang, Echa merasakan hal yang sama seperti apa yang Mamah rasakan," tutur Echa dengan suara berat.
Radit menghembuskan napas kasar. Dia membiarkan istrinya meluapkan apa yang dia rasakan kepada mamahnya. Hanya mamahnya yang mampu mengerti hati Echa saat ini.
"Tunjukkan pada Mamah dan anak-anak kamu, bahwa kamu adalah ibu yang kuat. Semakin kamu rapuh, mereka akan semakin sedih. Kamu pasti bisa, Kak."
Selang lima belas menit, dokter yang menangani si triplets keluar.
"Ada orang tua dari si kembar tiga?"
"Saya, dok." Dokter umum itu pun tersenyum ke arah Radit.
"Dokter Radit," sapa dokter itu yang bernama dokter Ilham.
"Silahkan masuk." Radit menggenggam tangan Echa untuk ikut masuk ke dalam ruang IGD. Sedangkan Rion dan juga Ayanda menunggu mereka di luar.
Hati Echa teriris ketika melihat ketiga anaknya terbaring lemah dengan tangan yang dipasang jarum infus. Tubuh pucat mereka masih terlihat jelas.
"Saya harus menjelaskan kepada dokter Radit dan juga istri, bahwa salah satu dari anak dokter Radit ada yang mengalami gejala Aritmia."
Dunia Echa terasa hancur mendengarnya. Tubuhnya seperti tidak bertulang. Tangannya mencengkram lengan Radit dengan sangat erat.
Hanya usapan lembut di punggung tangan Echa yang Radit berikan. Bohong, jika Radit tidak sedih. Namun, dia masih bisa membalut sedih itu dengan wajah yang terlihat baik-baik saja di hadapan semua orang.
"Siapa dok?" tanya Radit.
"Aleesa Addhitama."
Kini, air mata Echa sudah tidak bisa tertahan. Mengucur deras mendengar anak keduanya harus bernasib sama dengannya.
"Jangan khawatir, ini masih gejala awal. Aritmia masih bisa disembuhkan. Asal rutin cek kesehatan dan jangan membuat Aleesa syok berlebih."
Dokter Ilham menjelaskan secara terperinci kepada Radit dan Echa. Namun, telinga Echa mendadak tuli karena matanya sudah terfokus pada tubuh ketiga anaknya yang terbaring lemah.
"Sekarang, dokter Radit urus administrasinya agar ketiga anak dokter Radit bisa segera dipindahkan ke ruang rawat," ujar dokter Ilham.
"Saya ingin ketiga anak saya dipindahkan ke rumah sakit internasional di bawah naungan Wiguna Grup," pinta Echa dengan tangis yang tertahan.
"Aku ingin yang terbaik untuk Aleesa. Apapun akan aku korbankan untuknya." Radit sangat mengerti bagaimana hancurnya hati Echa mendapati kenyataan yang pahit seperti ini. Dia juga tidak bisa menolak karena memang lebih baik dirawat di rumah sakit yang lebih besar dengan dokter khusus.
Echa dan Radit keluar dari IGD dengan wajah yang nampak lesu. Ayanda dan Rion segera menghampiri sepasang suami-istri ini.
"Dek."
Echa berhambur memeluk tubuh ayahnya. Menumpahkan segala rasa sakit, sedih, dan hancurnya kepada sang ayah.
"Ada apa, Dit?" tanya Ayanda.
"Aleesa ... mengalami gejala Aritmia." Ayanda menutup mulutnya tak percaya. Air matanya sudah menganak. Dia menatap ke arah Echa yang sedang menangis tersedu.
Kenapa kamu harus mengalami hal yang sama seperti Mamah, Kak.
"Echa ingin memindahkan perawatan anak-anak ke rumah sakit internasional di bawah naungan Wiguna Grup." Ayanda mengangguk setuju.
"Akan Mamah urus semuanya," ujar Ayanda.
Tibanya di rumah sakit internasional, Echa masih betah memandang ketiga anaknya yang masih terlelap karena pengaruh obat. Sekarang, matanya tertuju pada Aleesa yang tengah terbaring di brankar nomor dua. Hatinya menangis, air matanya tak bisa berhenti menetes.
"Sayang, kita harus ikhlas. Aku yakin, Aleesa kuat."
Echa masih diam membisu, tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Otaknya belum mampu menerima kenyataan yang ada. Tidak ada seorang ibu pun yang tidak terluka mendengar sebuah penyakit bersarang di tubuh putrinya.
Rasanya seperti dicabik-cabik, disayat-sayat oleh pisau yang sangat tajam. Ditusuk belati yang sangat panjang dan ditembak dengan peluru yang sangat banyak.
"Lebih baik aku yang menggantikan Aleesa." Radit segera memeluk tubuh istrinya. Perkataan Echa sangat menyayat hatinya.
"Jangan seperti itu, Sayang. Masih ada Aleena dan Aleeya yang membutuhkan kamu. Ada aku yang tidak ingin ditinggalkan kamu. Kita rawat Aleesa sama-sama, ya. Kita sembuhkan penyakit yang diderita oleh Aleesa. Kita berjuang sama-sama, Sayang. Kamu tidak sendiri. Ada aku yang akan selalu mendampingi kamu dan berbagi tugas untuk merawat Aleesa. Ada ketiga kakeknya yang pastinya akan merawat Aleesa, dan juga Mamah yang akan membantu kita melewati semua ini." Echa mengeratkan pelukannya terhadap sang suami.
Apa yang dikatakan oleh Radit tidak ada yang salah. Nasibnya jauh lebih beruntung dari sang mamah yang harus berjuang sendirian merawat dirinya ketika sakit. Apalagi kondisi keuangan yang sangat minim yang mengharuskan mamahnya harus kerja siang malam dan menitipkannya kepada tetangga. Echa tidak mau hal itu terjadi kepada dirinya.
__ADS_1
"Jangan menangis lagi, ya." Radit mengusap lembut air mata Echa dan mengecup keningnya sangat dalam.
"Bu-bu." Suara dari salah satu dari anak Echa dan Radit.
"Kakak Sa."
Aleesa tersenyum ke arah Radit dan juga Echa. Namun, dadanya terasa sesak.
"A-tit," ucapnya, sambil memegang dadanya.
"Jangan terlalu banyak gerak, ya." Echa sudah duduk di samping Aleesa. Mencoba terlihat baik-baik saja.
"Nga-ngan--"
"Kakak Sa, sedang sakit. Makanya dipakaikan itu oleh dokter. Kalau ingin jarum itu dilepas, Kakak Sa harus sembuh," terang Radit.
"Atit, Ba." Aleesa mulai menangis membuat Echa harus membalikkan badannya karena tidak sanggup melihat penderitaan Aleesa seperti ini.
"Jangan nangis, dong. Kakak Sa 'kan anak pintar dan anak kuat. Jangan buat Kakak Na dan Dedek Ya bangun," imbuh Radit yang sedang berjuang menahan sesak di dada.
Aleesa menoleh ke arah kiri dan kanannya. Ternyata bukan hanya Aleesa yang dipasang jarum infus di tangannya. Kedua saudaranya pun sama.
"Sekarang Kakak Sa istirahat, ya. Akan Baba bacakan dongeng, okay?" Tangis Aleesa mereda dan dia mengangguk pelan.
Echa memilih untuk masuk ke kamar mandi menumpahkan rasa sedihnya di dalam sana. Melihat Aleesa seperti melihat dirinya waktu kecil. Beruntungnya Aleesa ada Radit yang menemaninya dalam kondisi sakit seperti ini. Sedangkan dirinya? Hanya sebuah angan-angan yang terbawa hembusan angin ketika dirinya ingin ditemani sang ayah.
"Bu-bu." Suara anak-anak Echa yang lain membuat Echa segera mencuci mukanya dan bergegas menghampiri mereka.
"Atit," keluh Aleena dan juga Aleeya.
"Iya, Nak. Bubu tahu. Jangan nangis, ya. Jangan buat Kakak Sa sedih," imbuh Echa dengan mata yang sudah membengkak.
Aleeya dan Aleena menatap ke arah samping mereka. Ada Aleesa yang sudah terlelap selepas dibacakan dongeng oleh sang ayah.
"Ay, Aleena dan Aleeya tidur dalam satu ranjang saja. Aleesa biarkan tidur sendiri." Radit mengangguk mengerti, dia memindahkan tubuh Aleeya ke ranjang Aleena.
"Tata Sa?" tanya Aleeya.
"Kakak Sa harus tidur sendiri," jawab Echa.
Beruntungnya Echa memiliki suami yang benar-benar siaga. Mau membagi tugas dengannya. Malah hampir semua tugasnya Radit yang menjalankan.
Kabar terbaringnya si triplets sudah terdengar ke telinga Addhitama dan juga Gio. Mereka datang dengan membawa mainan serta makanan kesukaan si triplets dan juga kedua orang tuanya.
"Dit, Makan dulu. Biar Papih yang ajak main mereka," ujar Addhitama yang kini mengahampiri ranjang Aleena dan juga Aleeya. Sedangkan Aleesa sedang disuapi puding kesukaannya oleh Gio.
"Makan dulu, Cha. Nanti kamu sakit. Seorang ibu tidak boleh sakit," kata Addhitama.
Radit mengajak istrinya untuk makan. Namun, mereka memilih untuk makan di kantin rumah sakit.
"Sayang." Air mata Echa tumpah lagi. Tangannya memeluk tubuh Radit.
"Keep strong! Anak-anak butuh dukungan kita. Jangan lemah," tukas Radit.
"Bukan hanya kamu yang sedih mendengar kenyataan ini. Aku juga sedih, tapi aku tidak ingin berlarut karena aku tahu, anak-anak memerlukan kekuatan dari kita. Kamu juga merasakan 'kan kekuatan mamah lah yang membuat kamu terus berjuang untuk sembuh. Sekarang, waktunya kita menjadi orang tua yang kuat dan tangguh demi kesembuhan mereka."
Maafkan Echa, Mah. Echa belum mampu membalas semua jasa Mamah.
Radit membiarkan Echa tenggelam dengan semua rasa yang ada di dalam dadanya. Ketika, semuanya terlihat membaik. Radit mulai menyuapi Echa dengan telaten.
"Kita gak boleh sakit. Kita harus selalu sehat demi anak-anak." Echa mengangguk.
Meskipun masakan yang dia makan rasanya enak, tetapi terasa hambar di mulut Echa. Hati Echa yang sedang mati rasa dan berimbas pada semuanya.
"Jangan pernah pergi meninggalkan aku," pintanya lirih.
"Tidak akan pernah, Sayang. Aku akan selalu menemani kamu. Suka dan duka akan kita lewati bersama. Aku tidak akan melepaskan tiga buah permata berlian yang dengan susah payah aku dapatkan."
"Aku hanya ingin menua bersama kamu dan melihat anak-anak kita tumbuh dewasa. Menjabat tangan para pria yang kelak akan menjadi pendamping mereka. Serta melihat bayi-bayi mungil hasil maha karya anak-anak kita dengan pasangannya." Echa tersenyum dan meletakkan kepalanya di bahu sang suami. Dia sangat merasakan besarnya rasa cinta yang Radit miliki untuknya dan juga ketiga putrinya.
"Makasih telah hadir di hidup aku. Makasih telah sabar menjadi suami aku." Radit memeluk tubuh Echa dari samping dan mengecup ujung kepalanya.
__ADS_1
"Tidak perlu berterima kasih. Kita dipersatukan untuk saling melengkapi satu sama lain."
Ketika hati seorang wanita sedang tidak baik-baik saja. Sebuah pelukan dan kata-kata tulus yang keluar dari mulut pasangan yang akan menjadi penenang dan penyejuk hati. Apalagi, pasangan yang mau bahu membahu mengurus segalanya. Itu akan lebih membuat bahagia para kaum hawa. Itulah yang dirasakan Echa. Kebahagiaan tiada Tara yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Memiliki suami Raditya Addhitama adalah anugerah terindah yang Tuhan berikan untuknya. Pria yang tidak banyak menuntut dan kesabarannya seluas samudera.