
Tidak ada angin, tidak ada hujan tiga saudara kandung sedang berkumpul dalam satu ruangan. Ya, mereka berkumpul di ruangan Rifal. Di mana Rindra berkunjung ke kantor sang Papih. Radit pun melakukan hal yang sama.
"Pada ngapain ke sini?" Heran dan bingung. Tidak biasanya kakak serta adiknya kompak begini.
"Yang sopan dikit, jabatan saya lebih tinggi dari kamu," sungut Rindra.
"San, ambil karpet merah gih. Gelar tuh di muka Abang gua." Rifal tak kalah bersungut-sungut.
Sandi dan Radit hanya tertawa melihat perdebatan antara manusia kaku dengan manusia bermulut ember bocor.
"Pada ngapain sih ke sini? Emangnya di kantor kalian masing-masing gak ada kerjaan?" Kini, Rifal menatap Rindra dan Radit yang sudah duduk dengan santainya di sofa.
"San, bikinin kopi," titah Rindra.
Rifal benar-benar geram sekarang ini. Bukannya menjawab pertanyaan dari dirinya malah menyuruh asisten pribadi Rifal untuk membuatkan kopi. Bodohnya lagi, Sandi mau saja.
Desahan kesal keluar dari mulut Rifal. Kedatangan dua manusia aneh ini pasti diutus oleh sang Papih untuk menanyakan perihal jodoh. Rifal bangkit dari duduknya dan bergabung dengan Rindra dan juga Radit.
"Mau nanyain jodoh?" Pertanyaan yang tanpa basa-basi meluncur dari mulut Rifal.
"Roy Kiyoshi," ucap Rindra.
"Mbah Mijan," sambung Radit.
Baru kali ini Rifal merasa kesal dengan dua saudara kandungnya ini. Ingin rasanya dia mencekik Abang dan adinya.
"Nerima gak?" Sebuah pertanyaan yang membuat Rifal mendengus kesal untuk kesekian kalinya.
"Ini bukan zaman Siti Nurbaya," geramnya.
Rifal mengatur napasnya agar emosinya terkontrol. Memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.
"Apa kamu gak mau melihat Papih bahagia?"
Rifal menatap ke arah Rindra yang baru saja melontarkan pertanyaan. Tatapan Rifal datar seperti sedang menanggung beban.
"Apa Papih bisa menjamin aku bahagia menikah karena perjodohan?"
Mulut Rindra terbungkam. Sedangkan Radit hanya menatap Rifal dalam-dalam.
"Aku ingin menikah dengan orang yang tepat. Orang yang benar-benar aku cintai. Bukan karena sebuah keterpaksaan dan berujung pada kesakitan."
"Bukankah cinta bisa hadir karena terbiasa. Sama halnya dengan aku," balas Rindra.
"Abang memang dijodohkan dengan Mba Nesha, tetapi Abang dan Mba Nesha udah saling kenal dan menyimpan perasaan masing-masing sebelumnya. Sedangkan aku?" tutur Rifal.
"Dari awal aku gak masalah dilangkahin Radit. Aku juga gak peduli dengan cemoohan orang lain yang mengatakan bujangan lapuk. I'm okay. Tidak masalah untuk aku."
"Selama ini bukannya aku berdiam diri. Aku juga sedang mencari calon istri. Aku sadar, usiaku sudah tidak muda lagi. Sudah bukan saatnya lagi untuk bermain-main. Aku juga yakin, Tuhan akan mengirimkan jodoh yang tepat di waktu yang tepat pula. Kalian tinggal hanya bersabar dan memberikan kepercayaan kepadaku."
__ADS_1
"Biar nanti aku yang bilang ke Papih," imbuh Radit.
"Tapi, Dit ...."
"Bang, kita tidak bisa memaksa. Semua keputusan ada di tangan Kakak. Apa yang kita anggap terbaik tidak bisa menjamin seseorang itu bahagia," potong Radit.
"Apa kamu sudah memiliki 'target'?" Rindra terus mendesak Rifal.
Tidak ada jawaban dari Rifal. Diamnya Rifal membuat Radit tersenyum.
"Sabar Bang. Nanti juga ada kabar baik." Mata Rifal memicing ketika mendengar ucapan dari Radit. Hanya seulas senyum yang Radit berikan kepada Rifal.
Sial! Adik gua itu bisa baca pikiran gua. Tapi ... gimana reaksinya kalo dia tahu gua suka sama bocah?
Di malam Minggu, tidak biasanya Rifal menghubungi Radit. Dia malah mengajak Radit beserta istri dan ketiga anaknya pergi ke mall.
"Tumben banget, Kak. Mau ajak shoping Echa, ya."
"Mau jual anak lu. Buat bayar cicilan gua," sungut Rifal.
Echa hanya mendengus kesal sedangkan Radit hanya tersenyum sambil memangku Aleesa.
"Jemput Rio dulu."
"Ngasuh day," ucap Echa.
"Berisik! Tahan lu ya, Dit. Punya bini macam dia." Radit hanya tertawa.
"Jadi, lu anggap gua manusia kurang waras?" Kali ini Echa yang tertawa terbahak-bahak.
Tibanya di mall, Rifal menggandeng tangan Rio yang terlihat bahagia.
"Om, Iyo boleh main itu 'kan." tunjuk Rio ke sebuah wahana permainan.
"Boleh." Rifal tersenyum dan mengusap kepada Rio.
"Udah pantas punya anak, Kak," bisik Radit.
Rifal menatap jengah ke arah Radit yang tengah mendorong stroller Aleesa.
"Kak Sheza!" panggil Echa.
Wanita yang sangat cantik menoleh ke arah Echa dan tersenyum manis. Echa berhambur memeluk tubuh Sheza.
Rifal mengernyitkan dahinya. Wajah wanita itu seperti mirip seseorang. Kefokusan Rifal buyar karena Rio sudah menarik tangannya untuk segera ke wahana permainan.
"Dit, gua ke sana dulu, ya." Radit mengangguk pelan.
Sebelumnya, Rifal mengisi powercard dengan nominal yang fantastis. Tujuannya agar keponakannya yang satu ini puas bermain. Beginilah Rifal, dari pada menghambur-hamburkan uang lebih baik menyenangkan para keponakannya.
__ADS_1
"Om, Iyo mau main itu," tunjuk Rio ke arah moto GP.
"Tapi, main sendiri, ya." Rio pun mengangguk.
Selama Rio bermain, Rifal merogoh sakunya dan mengambil benda pipih miliknya. Tujuannya cuma satu, mengambil gambar Rio sebagai laporan kepada ayah Rio yang sangat bawel.
Kamera ponsel itu menangkap sesosok bidadari yang turun dari kahyangan yang sedang tersenyum bahagia.
"Keysha," gumam Rifal.
Jantungnya tidak bisa diajak kompromi. Sekarang sudah berdentum-dentum hebat. Padahal jaraknya dengan Keysha cukup jauh. Keysha pun tidak melihat keberadaannya.
"Om!" Suara panggilan dari Rio mengalihkan kefokusan Rifal. Dia segera menghampiri Rio yang meminta bermain di wahana yang lain.
Rifal terus mencari sosok perempuan yang bisa mencairkan hatinya yang sudah membeku. Namun, tak dapat dia temui. Rifal hanya mendesah pelan. Satu jam sudah dia menemani sang keponakan. Wajah lelah kini menghiasi wajah Rio.
"Udahan?" Rio mengangguk pelan.
Rifal menggendong Rio dan membawanya ke sebuah restoran di mana Radit dan Echa berada.
"Aunty!" Rio berlari menuju meja Echa dan Radit. Di sana juga sudah ada satu orang perempuan dan anak laki-laki.
"Udah mainnya jagoan Aunty?" Rio mengangguk lalu mencium si kembar.
"Anak siapa itu, Cha? Tampan sekali," ucap si wanita yang tengah berada di meja dengan Echa.
"Anaknya Abang Rindra," jawab Radit.
"Rio, salim dulu sama Tante," titah Radit. Rio menuruti saja. Sedangkan Rifal masih berada di luar karena harus menjawab panggilan dari Sandi.
Setelah panggilan selesai dia menghampiri Radit dan Echa. Matanya menajam ketika melihat perempuan yang dia cari-cari di tempat permainan sedang bergabung dengan kedua adiknya. Dengan langkah lebar Rifal mendekat ke arah meja Echa.
"Rio mau pesan apa?" Suara Rifal membuat semua orang menoleh ke arahnya. Termasuk perempuan yang telah melelehkan hati Rifal.
Untuk sejenak mata mereka bertemu. Rifal memandang manik mata cantik itu dengan penuh kekaguman. Apalagi perempuan itu tersenyum ramah kepada Rifal.
"Udah pesan makanan dia, Kak," jawab Echa.
"Kak Sheza, kenalin ini Kakak kedua Radit." Rifal menjabat tangan Sheza. Senyuman hangat terukir di wajah cantik Sheza.
"Rada asing ya, Dit," ucap Sheza.
"Dia sangat sibuk, Kak. Jadi, jarang hadir kalo kita lagi kumpul." Sheza mengangguk mengerti.
"Oh iya, ini dua anak saya. Yang perempuan Keysha dan yang ini Kaza." Rifal tersenyum sambil menganggukkan pelan kepalanya.
Anjiirr, calon mertua.
"Papih!" panggil Kaza pada sosok yang baru saja datang. Sontak mata Rifal melebar.
__ADS_1
Pak Azkano.