
Akhirnya, Radit mengantongi izin dari Echa. Meskipun berat, tetapi Echa tidak boleh egois. Apalagi, sang mertua sudah menghubunginya dan memastikan akan membatu Radit di Singapura supaya pekerjaannya cepat selesai.
"Bener kamu ijinin aku?" Echa tidak menjawab, dia semakin menelusupkan wajahnya di dada bidang sang suami. Seakan tidak ingin terlepas darinya.
"Aku janji akan sebentar. Akan menemani kamu untuk menjaga anak-anak kita."
Echa tidak ingin mendengar ucapan itu. Hatinya akan berubah sesak. Keesokan paginya, Radit sudah membawa tas ransel yang berisi bajunya.
"Sudah semua 'kan?" Echa mengangguk pelan.
Radit menarik sang istri ke dalam pelukannya. Mengecup ujung rambut Echa dengan penuh cinta. Dia pun enggan untuk pergi, tetapi tanggung jawabnya semakin hari semakin besar kepada perusahaan.
"Mau oleh-oleh apa?"
Echa mendongakkan kepalanya menatap manik mata sang suami.
"Cepat kembali. Aku rapuh tanpamu."
Permintaan sederhana, tetapi membuat Radit terhenyak mendengarnya. Ditambah wajah Echa yang terlihat tidak ingin ditinggal oleh sang suami.
"Secepatnya aku akan kembali."
Radit dan Echa keluar dari kamarnya dan menuju meja makan. Mata ketiga anaknya memicing ketika melihat sang ayah membawa tas yang cukup besar.
"Baba au nana?" tanya Aleena.
"Baba harus ke Singapura, Kakak Na. Ada pekerjaan di sana," jawabnya sambil menarik kursi makan untuk sang istri.
"Aik tawat?" Radit mengangguk menjawab pertanyaan Aleesa.
"Dedek Ya ikut," ucap Aleeya antusias.
"Tidak boleh ya. Kita akan jalan-jalan setelah Kakak Sa sembuh. Setuju?" Mereka bertiga berteriak setuju.
Sedangkan Iyan dan Riana menatap ke arah sang kakak yang terlihat sangat sendu. Iyan tahu, kakaknya itu tidak sekuat yang dibayangkan orang-orang. Pada nyatanya mengurus anak yang menderita sakit parah itu sangat melelahkan.
"Iyan, Riana, tolong jaga Kakak dan juga si triplets ya. Abang cukup lama di sana. Maksimal seminggu." Hanya anggukan yang mereka berikan.
Sebelum pergi, Radit memeluk tubuh ketiga anaknya dan menciuminya. Mengucapkan kata-kata yang sangat menyentuh hati. Echa hanya diam membisu. Sesekali dia menyeka ujung matanya.
"Jangan nangis dong. Aku gak suka," ujar Radit yang menarik Echa ke dalam pelukannya.
Sedari semalam Echa menjadi istri yang hemat bicara. Dia sedang menahan hatinya. Dia sedang menguatkan hatinya bahwa dia mampu.
Radit mengecup kelopak mata Echa secara bergantian. Mencium kening Echa sangat dalam.
"Aku mencintai kamu. Aku percaya kamu pasti bisa menjaga ketiga anak kita." Echa mengangguk pelan dengan air mata yang sudah menganak.
Bagi orang yang melihatnya, Echa terlihat berlebihan. Akan tetapi, itu wajar Echa lakukan. Tidak mudah merawat Aleesa. Lelah tenaga dan juga air mata. Anak seusia Aleesa sedang aktif-aktifnya. Melarangnya pun Echa tidak akan bisa. Apalagi dia memiliki dua saudara yang sehat. Echa tidak ingin membanding-bandingkan ketiga anaknya.
Namun, ketika Aleesa sudah kelelahan hatinya terasa sakit. Apalagi, jika Aleesa sudah mengeluh sakit. Hatinya semakin hancur.
Apa Mamah dulu merasakan hal yang sama seperti Echa rasakan?
Hanya kalimat itu yang Echa ucapkan dalam hati. Berat bagi Radit untuk pergi. Namun, dia harus profesional.
"Baba pergi ya, anak-anak. Setelah Baba kembali, kita akan jalan-jalan dan bermain bersama." Ketiga anak Radit bersorak gembira. Berbeda dengan Echa.
"Aku berangkat ya, Sayang. Jika, ada apa-apa jangan ragu untuk hubungi aku." Echa mengangguk dan memeluk tubuh Radit kembali.
"Sabar ya, Sayang. Kita pasti bisa melalui semua ini."
Setelah kepergian Radit, Echa mengajak ketiga anaknya untuk masuk ke dalam.
Dari pohon mangga, Dev dan Om Uwo mengawasi Aleesa. Wajah Dev terlihat sangat sedih.
"Kamu belum boleh mendekat ke arah Aleesa?" Dev menggeleng sedih.
"Dev, kok ada cahaya putih ya yang mengikuti Aleesa," ujar Om Uwo.
Dev memicingkan matanya, dia mengangguk mendengar ucapan Om Uwo.
"Kenapa cahaya yang selalu ada di samping Aleesa sekarang tidak ada?" Om Uwo sedikit heran dengan apa yang terjadi dengan Aleesa.
Dev ingin mendekat, tetapi dilarang oleh Om Uwo. "Nanti kamu dimarahi oleh Iyan," ucapnya.
"Kita cukup lihat dari kejauhan." Dev mengangguk.
Ketika Echa sedang bermain dengan ketiga anaknya, Ayanda datang dengan membawa makanan kesukaan ketiga cucunya. Mereka pun terlihat sangat bahagia dan menikmati makanan yang dibawa oleh sang Mimo.
__ADS_1
"Enak?" Merkea kompak mengangguk.
Ayanda menatap putri sulungnya yang sangat terlihat tak bergairah.
"Kenapa lemah seperti ini, Dek?" tanya Ayanda. Echa menatap nanar ke arah sang mamah.
"Kamu hanya ditinggal sebentar oleh suami kamu sudah begini. Bagaimana jika kamu seperti mamah? Hampir lima tahun berjuang sendiri untuk membuat kami sembuh." Air mata yang sedari tadi ingin tumpah pun akhirnya muncul deras. Echa memeluk tubuh ibunya dengan Iskan yang cukup keras.
"Kakak, Mamah yakin kamu pasti sanggup melalui ini semua. Kamu ini yang hebat dan Aleesa juga anak yang kuat. Kamu akan lebih kuat dari mamah. Ingat ya, Sayang. Seroang ibu akan melakukan apa saja untuk anaknya. Pasti kamu juga neraka. hal yang sama 'kan." Echa mengangguk.
"Mamah sedih mendapati kenyataan bahwa Aleesa harus divonis seperti itu. Akan tetapi, Mamah sedikit bahagia karena Aleesa tidak seperti kamu. Berjuang melawan sakit hanya dengan Mamah. Sedangkan Aleesa, memiliki orang-orang yang sangat menyayanginya di sampingnya. Ada kamu dan Radit yang tak henti memberikan dukungan Aleesa. Mamah sangat bahagia dan bersyukur dengan itu ... karena Mamah yakin, kamu kesepian ketika kamu harus menghadapi sakitmu seorang diri."
Ucapan yang sedikit melegakan di hati Echa . Benar apa kata sang mamah, Aleesa lebih beruntung darinya.
"Jangan terus-terusan sedih, Kak. Tuhan tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan kita."
"Bubu anis talna tata Sa?"
Perkataan Aleesa membuat Echa segera menghapus air matanya. Dia mencoba tersenyum ke arah Aleesa.
"Tidak, Kakak Sa."
"Map, uat Bubu anis telus."
Echa segera memeluk tubuh Aleesa dengan air mata yang tak tertahankan. Kedua anaknya pun memeluk tubuh Echa dan tangan mungil Aleena menghapus air mata yang sudah membasahi pipi Echa. Sedangkan Aleeya mengecup kening Echa dengan penuh cinta.
Ayanda ikut menyeka ujung matanya. Dia tahu Echa anak yang kuat, tetapi karena dua anaknya yang lain yang masih membutuhkan perhatian darinya dia merasa tidak mampu. Itulah masalah yang sebenarnya sedang dihadapi Echa. Berbeda kisah dengan dirinya yang hanya terfokus pada Echa. Sedangkan Echa, fokus kepada Aleesa dan akan mengabulkan dua anaknya yang lain.
"Kamu istirahat, ya. Biar Mamah yang jaga ketiga anak kamu." Echa mengangguk. Sebelumnya dia mengecup ketiga anaknya.
Echa mencoba merebahkan tubuhnya di kamarnya. Hatinya terasa kosong karena sang penghuninya tengah pergi ke negeri orang.
"Cepat kembali, Ba," gumamnya sambil memeluk guling. Kemudian, matanya terpejam.
Dua jam sudah Ayanda menemani sang cucu bermain. Ayanda tertawa melihat tingkah laku ketiga cucunya. Apalagi Aleeya yang banyak tingkah.
Suara ponsel berbunyi, ternyata ponsel Echa yang berdering.
Suamiku Sayang Calling ...
"Iya, Dit."
"Dia lagi istirahat. Apa ada hal yang penting? Nanti Mamah bangunin."
"Jangan Mah, biarin aja Echa istirahat. Anak-anak gimana?"
"Mereka lagi main sama Mamah."
"Ya udah, Radit baru sampai Singapura. Tolong jaga istri dan anak-anak Radit ya, Mah."
Sambungan telepon pun terputus. Ayanda tersenyum bahagia melihat perlakuan Radit terhadap Echa.
"Sungguh beruntungnya kamu, Kak," gumamnya.
Setelah ketiga anak Echa lelah, mereka meminta untuk masuk ke kamar. Meminta susu kepada sang Mimo.
"Pintar sekali cucu-cucu mimo."
Sepulangnya Iyan dari sekolah, Dev sudah menghadang Iyan. Kemudian, dia menarik tangan Iyan dengan cukup keras.
"Apa sih Dev?" tanya Iyan heran.
"Coba kamu lihat Aleesa. Di belakangnya ada cahaya putih yang sangat terang. Cahaya putih yang selalu ada di samping Aleesa pun malah hilang." Iyan sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya.
Iyan segera melihat ke kamar Aleesa. Dibukanya pintu kamar si triplets dengan sangat pelan. Iyan terbelalak ketika melihat cahaya putih itu malah semakin terang dan mengelilingi tubuh Aleesa.
"Ada apa ini?" tanya Iyan kepada Jojo. Jojo mengangkat bahunya.
"Iyan harus tanya Ibu," imbuhnya.
Seharian ini Ayanda menemani si triplets dan juga Echa. Hingga Rion pulang pun Ayanda masih berada di sana.
"Baru pulang, Mas?" tanya Ayanda.
"Iya, Dek."
Ayanda menyerahkan teh manis hangat ke arah Rion.
"Diminum dulu, Mas. Baru mandi." Hati Rion menghangat mendengar ucapan Ayanda. Mantan istrinya ini tidak berubah. Masih sama seperti mereka bersama dulu.
__ADS_1
"Makasih."
Kedatangan Iyan membuat Ayanda dan Rion yang larut akan ingatan masa lalu mulai tersadar.
"Mommy, si triplets di mana?" tanya Iyan.
"Lagi di luar. Mereka kekeh ingin menunggu baba mereka. Padahal Radit sedang di Singapura." Iyan segera berlari menuju si triplets, sedangkan Rion tersenyum ke arah Ayanda.
"Makasih, masih perhatian terhadap Mas," imbuhnya
"Rumah kita tangga memang telah hancur, tetapi hubungan persaudaraan kita harus tetap rukun. Mas, sudah aku anggap seperti kakakku sendiri," terangnya.
Betapa leganya Rion mendengar penuturan dari Ayanda. Menyesal, satu kata yang ada di dalam benak Rion. Akan tetapi, dia dan Ayanda sudah bahagia dengan pasangan mereka masing-masing. Meskipun, Rion terkena karma atas perbuatannya di masa lalu. Mengkhianati dibalas dengan pengkhianatan.
Iyan menghampiri kakaknya dan juga ketiga keponakannya yang asyik turun naik tangga. Iyan masih fokus pada cahaya putih yang ada di belakang Aleesa.
"Kakak Sa, sini," panggil Iyan.
Aleesa berlari menghampiri Iyan. Kemudian, Iyan menggenggam tangan Aleesa. Monitor yang berbunyi, selang di tubuh Aleesa, menangis dan bendera kuning. Iyan segera melepas tangan Aleesa. Matanya nanar melihat Aleesa yang nampak kebingungan. Perlahan Iyan menggelengkan kepalanya.
Gak mungkin!
"Iyan, kamu kenapa?" tanya Echa.
Iyan menggeleng pelan dan mencoba tersenyum ke arah Echa. "Kak, apa Aleesa baik-baik saja?" Echa mengangguk. "Hari ini dua tidak mengeluh apapun," jawabnya.
Semoga penglihatanku ini salah.
Malam hari, Iyan memanggil ibu. Iyan bertanya perihal Aleesa, tidak ada jawaban dari ibu. Dia seperti sedang menyembunyikan sesuatu kepada Iyan.
"Bu, tolong jawab pertanyaan Iyan," pinta Iyan.
"Kamu bukan Tuhan, Iyan. Penglihatan kamu tidak selamanya harus selalu benar," terang ibu.
"Tapi ...."
"Sekarang kamu tidur, ya." Ibu mengecup kening Iyan dan pergi begitu saja.
"Jo, ada apa sebenarnya?" Jojo hanya diam seribu bahasa.
Iyan benar-benar cemas, dia pergi ke kamar si triplerts untuk melihat keadaan mereka secara langsung. Iyan mengusap dadanya ketika Aleesa tidur dengan nyamannya. Iyan menutup kembali pintu kamar ketiga keponakannya. Kembali ke kamar miliknya. Direbahkan tubuh Iyan dia atas kasur empuk. Tak perlu menunggu waktu lama, mata Iyan pun mulai terpejam.
Dari arah sofa, Jojo menatap pilu ke arah Iyan. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Jojo. Om Uwo dan Dev pun menghampiri Iyan. Wajah mereka nampak sendu karena mereka sudah mengetahui semuanya dari ibu.
"Dev, gak sanggup, Kak Jojo," lirih Dev.
Malam ini, Echa tidak bisa tidur. Dia memilih untuk ke kamar si triplets. Hanya helaan napas berat yang keluar dari mulut Echa.
Baru saja dia duduk di karpet, terdengar gumaman dari salah satu anaknya. Echa segera bangkit dari duduknya, dia melihat ke arah tempat tidur ketiga anaknya.
"Aleesa!"
Mata Aleesa sudah mendelik ke atas. Hanya menyisakan warna putih matanya. Echa benar-benar panik dan berteriak histeris. Hingga semua orang yang berada di rumah itu terbangun.
"Cepat ke rumah sakit!" Itulah teriakannya.
Ayanda ikut histeris ketika melihat napas Aleesa sudah mulai pendek. Tanpa memikirkan apapun, Echa berangkat ke rumah sakit. Tanpa menggunakan alas kaki, tanpa membawa uang, yang dia bawa hanya tubuh putrinya dengan segala ketakutan yang ada.
"Bertahan, Nak."
"Jangan tinggalkan Bubu."
Echa berlari ke arah IGD dengan air mata yang terus menetes. Langkahnya harus terhenti ketika dia berada di depan pintu IGD. Tidak diperbolehkan masuk, itulah aturannya.
Tak hentinya air mata Echa menetes. Ketakutan sedang menjalar di hatinya karena ini baru pertama kali Echa melihat Aleesa separah ini.
Ya Allah, selamatkan lah putriku.
Selang satu jam, dokter keluar dengan wajah yang sedikit pilu.
"Pasien harus dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya kritis."
Bahagia dihujat belati yang sangat tajam tubuh Echa. Napasnya mulai tidak teratur dan tubuhnya pun melemah. Untung saja asa Rion yang menangkap tubuh Echa.
"Aleesa."
...****************...
Para pembaca setia Yang Terluka, doakan aku ya semoga pendapatan minimum aku diubah oleh pihak Noveltoon. Level karya bulan ini level 9 tetapi hanya mendapat 500.000 harusnya 1jt. Sedih rasanya ðŸ˜
__ADS_1