Yang Terluka

Yang Terluka
Cahaya Putih


__ADS_3

Tidak ada yang namanya persahabatan juga perkataan yang manis untuk sesosok makhluk yang mereka anggap benalu di rumah Ayanda.


"Loh? Kok ke sini gak bilang dulu?" sergah Ayanda dengan wajah riangnya.


"Mah, nanti bawain salad buah, ya. Echa ingin salad buah buatan Mamah," ucap Echa.


"Hanya salad buah?" tawar sang ibu.


"Iya," jawab Echa lagi.


"Mimo, Dedek ingin puding cokelat. Buatkan ya, tapi bawa ke rumah Dedek. Dedek gak mau ke sini dulu sebelum wewek gombel di sana pergi," kata Aleeya sambil menunjuk ke arah Ziva.


Kedua saudaranya pun tertawa termasuk Echa. Begitulah mulut anak Echa jika sudah tidak suka kepada orang. Mereka mengurungkan niatnya mereka untuk sarapan di sana. Kembali ke rumah dan menyantap makanan yang sudah disiapkan oleh Mbak Ina.


Sebelum ketiga anak Echa pergi ke sekolah, mereka dibiasakan untuk mencium tangan kedua orang tuanya juga kakeknya terlebih dahulu. Namun, ketika Aleesa mencium tangan sang ibu ada siluet aneh yang dia rasakan. Aleesa memejamkan matanya sejenak.


Dia melihat orang berbaju putih membawa kendi dan ibunya menangis keras. Aleesa menatap ibunya dengan tatapan sendu.


"Bubu ...." panggil lirih Aleesa.


"Kenapa Kakak Sa?" tanya Echa.

__ADS_1


Tuhan ... ada apa ini?


Melihat putri keduanya hanya mematung dengan mata yang berkaca-kaca membuat Echa memeluk tubuh putrinya cantiknya itu.


"Kenapa Kakak Sa?" tanya Echa lagi. Aleesa menggelengkan kepalanya.


Dia hanya bisa berdoa apa yang dia lihat tidak terjadi. Jika, dia melihat orang berbaju putih pasti bersangkutan dengan kematian.


Setelah sang ibu mengusir pelukannya, Aleesa mencium tangan sang ayah.


"Baba, tolong jaga Bubu, ya."


Selama berada di sekolah pun, Aleesa hanya termenung dengan tatapan kosong. Yansen yang merasa sepi karena Aleesa tak mengganggunya mencoba menghampiri Aleesa.


"Kenapa?" tanya Yansen.


"Aku melihat orang berbaju putih lagi," jawabnya.


"Lalu? Apa hubungannya orang berbaju putih itu dengan kamu?" tanya Yansen. Aleesa hanya menggeleng. Dia tidak mungkin menceritakan kemampuannya yang lain kepada Yansen.


Sama halnya dengan para sahabat Aleesa yang berada di pohon mangga. Mereka merasakan aura yang berbeda. Dev dan juga Om Uwo tengah berpikir keras. Tak lama, kedua lontong bungkus yang berjaga di depan rumah si triplets sudah ada di bawah pohon mangga.

__ADS_1


"Uwo ... akan terjadi apa di rumah ini? Dadaku sesak," ujar Om Poci.


"Aku pun tidak tahu. Mataku panas," balas Om Uwo.


Makhluk kerdil berwajah jelek bertelinga panjang berlari dari arah dalam menuju pohon mangga. Napasnya tersengal seperti tengah dikejar banci taman Lawang.


"Kenapa lu botak?" tanya anteu poci.


"Cahaya putih ... selalu mengikuti ibunya si triplets."


Sontak makhluk yang tajam kasat mata tersebut terkejut. Mereka tahu jika sudah ada cahaya putih, pasti akan ada kematian.


"Jangan bohong, botak!" sentak Om poci.


"Aku tidak bohong! Aku pun takut," balasnya.


Di lain sekolah pun, Jojo yang tengah menunggu Iyan belajar merasa hatinya gundah gulana. Dia sempat melihat sekelebat cahaya putih di rumah Iyan.


"Akan ada apa ini?" tanyanya sendiri.


Jojo merasa akan ada sesuatu yang menimpa salah satu anggota keluarga Iyan. Namun, Jojo tidak ingin mengatakannya kepada sahabatnya. Biarkan Iyan yang melihatnya sendiri dengan kemampuannya.

__ADS_1


__ADS_2