
Tempat untuk pulang sesungguhnya adalah keluarga. Di mana keluarga mampu menerima segala baik-buruknya seorang anak, ayah dan juga ibu. Sama halnya dengan keluarga Addhitama. Keluarga yang pincang sebelah karena hanya ada sosok ayah di sana.
Mencoba menjadi ayah sekaligus ibu untuk ketiga putranya sangatlah tidak mudah bagi Addhitama. Pria tampan, mapan dengan segala profesi mempuni. Ditinggal istri ketika anak-anaknya masih kecil membuat psikisnya cukup terguncang. Namun, dia sadar bahwa ketiga anaknya masih membutuhkannya.
Menjadi seorang ibu ternyata tidaklah mudah. Addhitama merasakan hal itu. Gagal sering dia rasakan. Di mana anak-anaknya menjadi anak pembuat onar, perokok, pembolos masalah yang harus Addhitama hadapi ketika ketiga anaknya masih sekolah.
"Jangan salahkan Abang kalau Abang menjadi anak seperti ini!"
Kalimat yang Rindra katakan ketika papihnya menanyakan perihal onar yang dia buat. Addhitama hanya diam. Dia bukanlah orang tua yang suka main tangan. Dia tidak ingin menciptakan trauma baru untuk ketiga anaknya.
Rindra Addhitama putra sulungnya tumbuh menjadi anak pembuat onar. Senang bertengkar dan membuat kegaduhan. Sudah puluhan kali Addhitama menerima surat panggilan dari pihak sekolah perihal kenalan Rindra. Namun, tak sekalipun Addhitama bersikap kasar kepada putranya itu.
"Rindra, sampai kapan kamu mau bersikap seperti ini terus?" Sebuah pertanyaan dengan nada yang sangat letih.
"Sampai Papih bisa menghidupkan Mamih kembali!"
Sebuah jawaban yang akan mengiris hati Addhitama. Putra pertamanya ini sangatlah menyayangi ibunya. Hampir sepuluh tahun berlalu, dia masih saja menyalahkan adiknya perihal kematian sang ibu. Belum lagi putra bungsunya, Raditya Addhitama yang memang tengah menjalani pengobatan penyembuhan trauma.
Sungguh berat sekali beban yang dipikul Addhitama sekarang ini. Ingin rasanya menyerah dengan keadaan. Belum lagi putra keduanya yang suka sekali membolos dan juga merokok semenjak di bangku SMP. Berkali-kali Addhitama melarangnya, Rifal Addhitama malah semakin menjadi.
"Dengan satu batang rokok bisa menghilangkan kesetresan yang ada, Pih." Santai sekali jawabannya.
Di sinilah titik kegagalannya menjadi orang tua tunggal. Meskipun begitu, dia tetap optimis bahwa ketiga anaknya kelak akan menjadi orang-orang yang sukses. Terbukti, ketiga anaknya ini menjadi penerus perusahaannya.
Ada lengkungan senyum bahagia di wajah senja Addhitama. Usianya sudah tidak muda lagi, dia ingin melihat ketiga anaknya bahagia.
"Fal, sampai tidak umur Papih menuju pernikahan kamu?"
Ketiga anak Addhitama yang tengah asyik bermain PS tersentak. Mereka menatap ke arah wajah ayahnya yang sendu.
"Kenapa Papih berbicara seperti itu?" balas Radit.
__ADS_1
Mereka meletakkan stik PS yang mereka genggam. Berjalan menuju sang ayah dan duduk di bawah ayahnya berada.
"Papih akan terus sehat, akan melihat anak-anak Ipang lahir," tutur Rifal.
"Papih ayah yang kuat," lanjut Rindra.
"Papih adalah pahlawan untuk kami," tambah Radit.
Addhitama tersenyum dengan bulir bening yang menetes begitu saja. Dia menatap satu per satu putranya yang kini tumbuh menjadi pria hebat.
"Jaga anak dan istri kalian. Sayangi mereka," ucap Addhitama.
Mereka bertiga memeluk tubuh sang ayah dengan begitu eratnya. Tangan keriput Addhitama mengusap lembut kepala ketiga putranya.
"Papih bangga kepada kalian," ucapnya dengan suara bergetar.
"Jangan buat Abang takut, Pih." Kini Rindra sudah menatap wajah Addhitama.
"Jangan tinggalkan Abang. Abang belum bisa membahagiakan Papih," terangnya.
"Berubahnya kamu adalah sebuah kebahagiaan yang tak terkira untuk Papih. Rindra putra sulung Papih telah kembali. Rindra yang penyayang kini hadir lagi. Papih yakin, kamu bisa menjadi orang tua untuk kedua adik kamu."
Rindra menggeleng dengan cepat. "Abang gak suka Papih berbicara seperti itu," pungkasnya.
Bukan hanya Rindra yang merasa sedih. Radit dan juga Rifal merasakan hal yang sama.
"Kamu tahu tidak, Bang. Ketika ... kamu membenci Radit, hati Papih sangat sakit. Apalagi ketika semua keluarga Mamih juga ikut membenci bayi tampan yang tak berdosa. Papih ingin marah kepada kamu ... Papih ingin membentak kamu. Papih ingin memukul kamu ... tapi, rasa sayang Papih lebih besar dari pada rasa sakit yang Papih miliki ketika waktu itu."
Rifal dan Radit menunduk dalam, mereka berdua tidak bisa membendung air mata ketika mengingat bagaimana masa kecil mereka dulu.
"Sampai kamu besar ... kamu menjelma menjadi pria pembuat onar pun, Papih tidak pernah bisa marah kepada kamu. Papih memiliki keyakinan yang kuat bahwa nanti kamu akan menjadi orang yang besar dan akan menjadi sosok yang akan menjadi contoh untuk kedua adik kamu." Air mata Rindra sudah menetes sangat deras mendengar ucapan sang Papih.
__ADS_1
"Ketika kamu melakukan kesalahan terbesar pun, rasa benci Papih tidak sepenuhnya untuk kamu. Malah Papih membenci diri Papih sendiri karena tidak becus menjadi ayah yang baik untuk kamu. Papih sudah gagal mendidik kamu dan karena Papihlah kamu menjadi sosok seperti itu," ungkapnya.
Air mata Rindra sudah tak bisa berhenti menetes. Dia menangis di pangkuan sang ayah dengan Isak tangis cukup keras.
"Maafkan Abang, Pih."
"Semua manusia pasti pernah berbuat kesalahan, Bang. Papih sudah memaafkan kamu jauh-jauh hari sebelum kamu sadar dan kembali ke jalan yang benar. Apalagi, Papih menemukan intan permata yang sekarang menjadi pendamping hidup kamu. Ibu dari anak kamu dan Tulang rusuk kamu."
"Perubahan kamu bukan karena Papih. Kamu mau berubah karena kamu memiliki keinginan yang kuat. Kamu juga memiliki istri yang sangat sabar. Dikasari tetapi masih bisa menyayangi kamu dengan tulus."
Tangis Rindra semakin keras. Dia seperti kembali ke masa lalu. Ingatan keburukannya tengah menari-nari di kepalanya.
"Radit ...."
Radit menatap ke arah sang ayah yang kini tersenyum ke arahnya.
"Makasih Nak, telah hadir di dalam hidup Papih." Suara Addhitama bergetar dia tak sanggup menahan air matanya. Radit segera memeluk tubuh sang Papih.
"Kamu yanh dibenci dan dicaci oleh keluarga. Malah kamu yang menjadi kebanggaan untuk Papih. Makasih, Nak. Maafkan Papih, jika selama ini Papih selalu membedakan kamu dengan Abang kamu. Maafkan Papih yang selalu Papih abaikan. Maafkan. Papih." Derai air mata membasahi wajah Addhitama. Terlihat jelas gurat penyesalan di wajah senjanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan, Pih. Radit sangat bersyukur karena telah dilahirkan dari rahim seorang wanita hebat. Menjadi putra dari seorang Addhitama," balasnya dengan seulas senyum. Tangan Radit sudah menghapus air mata yang membanjir wajah sang ayah.
"Harusnya Radit yang meminta maaf kepada Papih. Radit sudah membuat Papih lelah karena trauma dan depresi Radit waktu kecil. Radit sudah banyak membuang waktu berharga yang Papih miliki hanya untuk menyembuhkan sakit tak kasat mata itu. Maafkan Radit, Pih."
Radit sudah memeluk tubuh Addhitma. Rasa haru dan bangga menyelimuti hatinya saat ini. Putra bungsunya adalah anak yang sangat luar biasa.
Bisa membangun bisnis besar di negara lain dari hasil kerja kerasnya membuka praktek psikiater. Di tengah kuliah kedokterannya serta kegiatan magangnya.
Anak yang sama sekali tidak mau menerima bantuannya dan kekeh ingin berjuang sendiri. Jungkir-balik dia rasakan hingga dia sampai pada titik kesuksesan. Sukses tanpa bantuan orang tua dan kekayaannya malah melebih kedua kakaknya sekarang ini. Terkadang, anak yang diabaikan malah menjadi anak yang membanggakan.
Rifal tersenyum bahagia melihat keluarganya seperti ini. Dialah yang menjadi saksi bisu kehancuran keluarganya. Dia juga yang menyatukan keluarga yang terpisah menjadi utuh kembali. Rifal banyak membantu Addhitama perihal apapun. Sedari ditinggalkan ibunya, dia sudah melihat ketidak beresan keluarganya. Dari situlah dia menjelma menjadi anak yang harus bisa menjadi pemersatu.
__ADS_1
Nakalnya Rifal yang menjadi perokok sejak SMP karena keluarganya sendiri. Ketika dia pusing dengan pelajaran dan keluarganya yang sering beradu argumen. Belum lagi Radit yang terus mengurung diri di kamar, dia memilih untuk melampiaskan semuanya pada sebatang rokok. Itulah yang membuat pikirannya tenang dan bisa berpikir jernih kembali.
Mereka adalah contoh keluarga yang saling melengkapi. Mereka juga membuktikan bahwa hubungan darah itu kuat. Sebenci apapun mereka, mereka akan tetap bersatu dalam ikatan keluarga. Tidak ada yang dapat menerima mereka dengan tulus, kecuali keluarga mereka sendiri.