
Waktu untuk dilakukan tindakan operasi sudah tiba. Radit ikut masuk ke dalam ruang operasi menemani sang istri. Echa pun sudah berganti pakaian. Sebelum dilakukan tindakan, dokter menyuntikkan obat di punggung Echa terlebih dahulu. Agar nantinya Echa tidak merasa kesakitan.
Dokter sudah melakukan penyayatan di perut Echa. Radit terus saja mencium kening Echa dengan penuh kasih sayang.
"Sakit?" Echa menggeleng pelan.
"Anak-anak mau dinamai siapa?"
"Terserah ayahnya aja," jawab Echa.
"Jika mereka perempuan, pasti akan cantik seperti kamu. Jika, laki-laki pasti akan tampan seperti aku." Echa hanya tersenyum mendengar ucapan Radit.
Radit terus menemani sang istri dan mengajak istrinya berbincang. Menghilangkan rasa gugup serta takut yang ada di hatinya.
Suara tangisan bayi terdengar. Radit mencium kening Echa sangat dalam dan tak terasa bulir bening pun. menetes di wajahnya.
"Selamat, anak pertama Bapak dan Ibu perempuan." Perawat memperlihatkan bayi mungil tersebut ke arah Echa dan Radit.
"Sayang, anak kita." Echa tidak bisa berkata-kata. Hanya air mata yang menjadi jawaban atas anugerah Tuhan yang telah diberikan.
Bayi mungil itu dibawa oleh perawat untuk dibersihkan. Kemudian perawat membawa bayi mungil kedua ke arah Radit dan Echa.
"Perempuan lagi," ujar perawat yang lain.
Senyum bahagia merekah di wajah orang tua baru ini. Seorang perawat membawa seorang bayi mungil lagi ke arah Radit dan Echa.
"Tiga perempuan." Radit terus mengucapkan rasa syukur karena Tuhan telah memberikannya rezeki yang tidak disangka-sangka. Tiga anak perempuan lahir dari wanita yang sangat dia sayangi. Penantian cukup lama membuahkan hasil yang sangat membahagiakan.
"Makasih Sayang. Makasih." Radit mengecup kening Echa kemudian turun kedua mata sang istri yang masih mengeluarkan air mata.
"Kamu wanita hebat dan aku yakin, kamu akan menjadi ibu yang baik untuk ketiga putri kita."
Perawat memanggil Radit untuk mengadzani anaknya satu per satu. Pertama anaknya yang berada di sebelah kiri, kemudian yang berada di tengah, lanjut ke yang terakhir.
"Jadilah anak-anak yang membanggakan, ya. Nak." Baru kali ini Radit merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
Mih, lihatlah cucu-cucu Mamih. Sangat cantik seperti Mamih dan ibunya.
Setelah operasi selesai, Echa dibawa ke ruang perawatan kembali. Di ruang perawatan sudah ada keluarga Echa yang menunggu dengan harap-harap cemas. Lengkungan senyum terukir di bibir mereka ketika melihat brankar yang tengah didorong oleh beberapa perawat masuk ke dalam ruangan itu.
"Sakit, Kak?" Echa menggeleng.
__ADS_1
Tangan Radit terus menggenggam tangan sang istri. Sesekali dia pun mengusap lembut rambut Echa.
"Bayinya di mana?" tanya Arya.
"Masuk NICU."
"Selamat, kamu sudah menjadi ibu sekarang." Mata Ayanda sudah berkaca-kaca memandang wajah Echa.
"Ayah yakin, kamu akan menjadi ibu yang hebat dan kuat." Kini, air mata jatuh di pelupuk mata Echa. Menatap ke arah mamah dan ayahnya secara bergantian.
"Maafkan Echa, belum bisa menjadi anak yang berbakti kepada Mamah dan Ayah." Suara Echa sangat bergetar. Dia merasakan bagaimana perjuangan seorang ibu untuk melahirkan anak-anaknya. Meskipun secara caesar, tetap saja rasa sakit itu terasa.
"Mah, bimbing dan ajari Echa untuk menjadi ibu yang baik untuk ketiga anak Echa. Maafkan Echa, jika Echa sering membuat Mamah marah dan kesal. Maafkan Echa jika sering membantah Mamah. Maafkan Echa, Mah." Linangan air mata sudah membanjiri wajahnya.
Ayanda mengusap lembut rambut sang putri. Mengecup kening Echa dengan penuh kasih sayang.
"Setiap wanita memiliki naluri keibuan. Tanpa Mamah ajari dan Mamah bimbing, kamu pasti bisa." Ucapan sang mamah mampu membuat Echa menyunggingkan senyum disela rasa dingin yang kini menghampirinya.
Tubuh Echa sudah terlihat menggigil. Radit segera mendekap tubuh sang istri.
"Dingin, Ay."
"Itu pengaruh obat bius yang telah habis," ujar Gio.
"Sabar ya, Sayang." Gio menghubungi seseorang dan meminta untuk dibawakan obat terbagus pasca operasi Caesar. Sebelumnya, dia berkonsultasi terlebih dahulu kepad dokter kandungan terbaik ketika Echa sedang berada di ruang operasi.
Keadaan Echa sedikit membaik, kedatangan tiga perawat membuat semua tamu di kamar perawatan Echa berbahagia.
"Silahkan diberi ASI," ujar salah seorang perawat.
Perawat itu memberikan bayi mungil berpipi merah ke tangan Echa. Radit membantu membuka bantalan favoritnya. Pertama kali Echa meringis karena hisapan anak pertamanya cukup kuat.
"Awalnya pasti sakit, Bu."
Perawat meninggalkan tiga bayi itu. Kini dua bayi yang lain digendong oleh Gio dan juga Rion.
"Cantik-cantik sekali cucu-cucu ku," ujar Gio.
Pipi bayi yang ada di tangannya dicium lembut oleh Gio. Ayanda terus mengusap lembut pipi sang cucu dan hatinya tak berhenti mengucapkan rasa syukur.
Sedangkan Rion sedang sibuk beradu argumen dengan Arya. Masalah kemiripan anak-anak Echa sedang mereka perdebatan. Bukannya terganggu, bayi itu malah semakin terlelap dengan perdebatan unfaedah dari dua kakeknya yang absurb.
__ADS_1
Echa masih terus meringis ketika hisapan itu semakin kencang.
"Sakit?" Radit terus mengusap rambut Echa dan sesekali mengecup kening sang istri.
"Perih," jawabnya.
"Apa mau dicampur susu formula?" Dengan cepat Echa menggeleng. "Biar asi saja. Kurang sempurna jika seorang ibu tidak memberikan ASI kepada anaknya." Radit tersenyum bangga kepada Echa. Dia mengecup kening Echa lalu kening putrinya.
"Jadilah wanita yang kuat seperti Bubu, ya."
Setelah anak pertama merasa kenyang, giliran anak kedua yang Echa berikan ASI.
"Udah kamu kasih nama anak-anak kamu?" Rion membuka suara.
"Sudah." Radit menjeda ucapannya.
"Anak pertama Radit, Aleena Addhitama." Radit menunjuk ke arah bayi yang digendong Ayanda.
"Anak kedua Radit, Aleesa Addhitama." Menunjuk ke arah putrinya yang sedang digendong Echa.
"Anak ketiga Radit, Aleeya Addhitma." Radit menunjuk ke arah bayi yang digendong Rion.
"Irit banget nama anak-anak lu. Bapak malas mikir," cibir Arya.
Radit hanya terkekeh mendengar ucapan Arya. Sedangkan Rion sudah menoyor kepala Arya.
"Ngatain menantu gua malas mikir. terus lu apa? Nama anak lu juga Abeeya Bhaskara."
Semua orang pun tergelak mendengar sungutan Rion. Jika, Rion dan Arya sudah berdebat pasti akan membawa suasana semakin hangat dan penuh tawa.
"Dih, nih bocah malah ikut ketawa," ucap Arya sambil menoel pipi anak Echa yang ada di gendongan Rion.
"Cucu gua tahu, bahwa seorang Arya Bhaskara diciptakan untuk ditertawakan."
"Ay, ambil bayi kita. Takut nanti Ayah lupa, anak kita yang jatuh." Radit segera mengambil anak ketiganya dan dia serahkan kepada Echa. Sedangkan anak pertamanya sudah terlelap di dalam boks bayi. Anak keduanya pun sudah berada di tangan Ayanda dan akan diletakkan di dalam boks bayi juga. Tinggal anak ketiganya yang sedang diberi ASI oleh Echa.
"Jangan nakal seperti Engkong dan Wawa ya, Nak."
...****************...
Trio tuyul udah hadir ...
__ADS_1