Yang Terluka

Yang Terluka
Cantik Alami


__ADS_3

Jingga tertawa melihat tingkah laku si triplets kepada Rifal. Seakan mereka tau maksud dan tujuan Rifal itu apa. Rindra dan Nesha yang sedari tadi memperhatikan Rifal dari marah belakang tertawa terbahak-bahak.


"Kalah sama bocah," ejek Rindra.


Mendengar keramaian di halaman sampinn, Addhitama dan Satria menuju ke sana. Mereka hanya menggelengkan kepala ketika Rifal dianiaya oleh ketiga cucunya.


Di lain rumah, Beeya tengah bermain PS dengan Askara. Playboy tengik ini malah menghabiskan waktu dengan playgirl gendeng.


"Kak, malam mingguan, yuk," ajak Beeya.


"Mau ke mana?" Aska masih menatap layar kaca dan memegang stik PS.


"Ke mall, main zona waktu," pintanya.


"Dasar bocah," ejek Aska tanpa mengalihkan pandangannya.


Beeya merengut kesal dan Aska malah tertawa dan mengacak-acak rambutnya.


"Ya udah, tapi abis maghrib aja ya berangkatnya." Beeya mengangguk cepat. Aska memang tidak akan menolak ajakan Beeya. Mereka memiliki watak yang sama dan pada akhirnya mereka merasa cocok.


Tak lama berselang, suara bel berbunyi. Kedua anak ini bagai manusia yang tidak memiliki telinga. Ayanda yang tengah di dapur mendengkus kesal.


"Kuping kalian di mana?" omelnya.


Beeya dan Aska pura-pura tidak mendengar dan malah semakin asyik bermain PS. Ketika pintu terbuka mata Ayanda melebar ketika melihat Keysha sudah ada di depan pintu.


"Mommy." Keysha memeluk hangat tubuh Ayanda, begitu juga Ayanda yang sangat merindukan anak dari sepupu suaminya ini.


"Makin cantik aja kamu, Sayang." Keysha hanya tersenyum.


Mereka berdua masuk, Beeya dan Aska yang masih fokus pada layar televisi sedikit terkejut dengan suara lembut yang tak asing di telinga mereka. Kompak mereka menoleh.


"Keysha!" seru Aska.


Aska berhambur memeluk tubuh Keysha menumpahkan rasa rindunya. Begitu juga dengan Keysha. Beeya merengut kesal dan membuat Ayanda tertawa.


"Kalau udah ada Kak Key, Bee pasti dilupain," geramnya.


Aska dan Keysha pun terkekeh, mereka memeluk tubuh Beeya.


"Istri pertama dan istri kedua harus akur dong," kelakar Aska.


Suasana rumah yang biasa sepi kini riuh karena keseruan obrolan tiga remaja ini. Ayanda melengkungkan senyum. Dia tengah membayangkan jika semua anak-anak dari para sahabatnya serta suaminya berkumpul. Pasti sangat menyenangkan.


Ayanda memasakkan menu yang spesial untuk mereka bertiga. Menu-menu pedas kesukaan anak-anak zaman sekarang.


"Kabar Riana gimana, Kak?" tanya Keysha.


"Dia jarang balik ke Jakarta," jawab Aska.


"Iya, paling kalau libur panjang dia baru pulang ke sini," timpal Beeya.


"Key kira dia sering pulang. Bisa ngumpul bareng kalian."


"Riana itu lagi menimba ilmu sekaligus melupakan si Abang. Sama halnya si Abang yang lagi menimba ilmu tanpa melupakan Riana," terang Aska.


Key dan juga Beeya tertawa mendengar penjelasan Aska. Ayanda membawa seblak pedas khusus untuk mereka bertiga. Ketiga remaja itu bersorak gembira.


"Mommy is the best," puji Beeya.


Melihat keakraban anak-anaknya dengan para saudaranya membuat hati Ayanda sangat bahagia.


"Mommy berharap, kalian bisa terus akur begini sampai punya cucu dan cicit nanti," ucapnya.


"Amin," jawab mereka bertiga.


"Itu harus, Mom. Adek juga ingin seperti persahabatan Mommy dengan yang lainnya. Selalu akur meskipun saling mengejek," sambung Aska.


Setelah makan seblak, mereka memutuskan untuk pergi ke sebuah mall yang cukup besar. Menuruti keinginan istri kedua Askara. Namun, ketika di dalam mobil Askara mendengkus kesal. Dia bagai sopir taksi online dan kedua perempuan itu malah duduk di kursi penumpang belakang.


"Yang benar aja atuhlah," dengkus Aska.


"Ini udah benar, Kak," sahut Key.

__ADS_1


"Ribet nih, udah cepat jalanin mobilnya," titah Beeya.


Aska menggelengkan kepalanya, dia menggerutu kesal di sepanjang perjalanan. Berbeda dengan kedua perempuan di belakangnya. Mereka malah ketawa-ketawi.


Tibanya di mall mereka jalan bertiga dengan Aska yang berada di tengah-tengah. Mereka menuju zona waktu. Aska hanya terkekeh ketika melihat Key dan juga Beeya asyik bermain di sana. Dia malah asyik memainkan ponselnya.


"Om!" panggil seseorang.


Aska tidak menoleh, dia masih terdiam karena dia mengenal suara seseorang yang memanggilnya itu.


"Om!"


Panggilan itu terdengar lagi, Aska mencari ke asal suara dan Aska tertawa ketika melihat ketiga keponakannya melambaikan tangan. Aska menghampiri keponakannya. Dia sangat rindu terhadap ketiga boneka cantiknya ini.


"Bubu dan Baba mana?" tanya Aska.


Mereka bertiga menggeleng. Dahi Aska mengkerut. Namun, Nesha menyapa Aska dengan sangat sopan.


"Eh, Mbak Nesha," sapa balik Aska.


"Mereka kita bawa soalnya Echa lagi gak enak badan," terang Nesha.


Aska mengangguk, Nesha menawarkan untuk bergabung bersama keluarganya dan juga si triplets. Akan tetapi, Aska menolaknya.


"Aku juga lagi sama dua sepupu aku, Mbak. Makasih," tolaknya dengan sopan.


"Tiga kurcaci, jangan nakal, ya. Om ke sana lagi," ujarnya. Mereka bertiga melambaikan tangan ke arah Aska.


Aska mencari kedua sepupunya ini. Mereka sudah menghilang entah ke mana. Lagi-lagi Asal dibuat kesal oleh kedua wanita itu.


Baru saja Aska membuka ponselnya, sudah ada pesan yang dikirim Beeya. Kedua alis Aska menukik tajam. Dia dikirim gambar Keysha tengah menangis.


Aska segera menuju lokasi di mana mereka berdua berada. Aska mencari Keysha dan Beeya ke sana ke mari. Pada akhirnya, dia melihat Keysha yang ada di pojokan bersama Beeya.


"Kenapa?" tanya Aska. Beeya menggelengkan kepala.


"Tadi mau ke toilet, tiba-tiba Kak Key berhenti di tengah jalan dan langsung nangis," jelasnya.


Aska mengusap lembut rambut Keysha. Dia menatap ke arah Aska dengan wajah yang sudah basah. Tangannya segera memeluk tubuh Aska.


Aska menghela napas kasar, sudah dia duga. Dia juga sempat melihat Rifal ketika berbincang dengan Nesha.


"Dia ... sama cewek," lanjutnya.


Aska tidak bisa berkata apapun. Belum lama ini dia bertemu dengan Rifal dan mengatakan hal yang sejujurnya kepada Aska perihal Keysha. Kini, Keysha berbicara seperti ini kepada Aska.


"Key, Kakak mau tanya sama kamu," ujar Aska setelah mengurai pelukannya.


"Bagaimana hubungan kau dengan Rifal?" Tatapan tajam Aska berikan.


Beeya sudah memesan makanan karena perutnya sudah lapar sambil mendengarkan dua kakak sepupunya ini.


"Kamu melihat Rifal bersama wanita marah, tetapi ketika Rifal melihat kamu jalan sama cowok malah kamu yang marah besar sama dia." Aska menjeda ucapannya.


"Jangan hanya ingin dimengerti. Kamu juga harus bisa mengerti dia. Saling mengerti itu akan lebih baik," terang Aska.


"Rifal banyak cerita kepada Kakak tentang kamu. Kakak melihat setiap apa yang dia katakan memang benar adanya. Tidak ada kebohongan sama sekali," lanjutnya lagi.


"Jangan selalu merasa disakiti, padahal kamu sendiri yang sudah menyakiti hati Rifal tanpa sengaja."


Keysha semakin menunduk dalam mendengar ucapan Aska. Dia datang ke Jakarta untuk bertemu dengan Rifal. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Rifal. Namun, inilah yang dia dapat.


"Kakak tidak akan membela kamu. Kalau memang kamu salah, ya tetap salah," tegasnya.


Suasana mendadak hening, Keysha semakin menunduk dalam.


"Kalau kamu memang sudah bosan sama Rifal, sudahi hubungan kalian. Jangan sakiti dia karena dia tulus mencintai kamu," tukasnya lagi.


Air mata Keysha semakin mengalir deras. Ucapan Aska benar-benar pedas. Aska memilih untuk pergi dari restoran itu. Dia memilih untuk kembali tempat bermain. Membiarkan Keysha berpikir.


Di lain tempat, Rifal telah termenung seorang diri di area merokok. Semua keluarganya sedang menikmati makan malam lezat. Namun, makanan itu mendadak hambar ketika dia melihat wajah Keysha. Apalagi dia melihat jelas Keysha menangis.


Kepulan asap rokok keluar dari mulutnya. Sungguh dia tengah galau sekarang ini.

__ADS_1


"Maaf, bukannya aku tak mau mengejar. Aku ingin kamu lebih dewasa lagi," batinnya.


Rifal mengantar Jingga ke kamar mandi karena Jingga tidak tahu letak kamar mandi di mana. Tidak sengaja mereka bertemu dan saling pandang untuk sesaat. Namun, Rifal memilih mendiamkan Keysha dan memilih mengantar Jingga ke kamar mandi.


Sebenarnya hatinya juga sakit ketika dia melihat Keysha menangis. Akan tetapi, dia tidak boleh lemah untuk sekarang ini. Membiarkan Keysha merasakan apa yang dia rasakan. Bukannya kejam, hanya memberikan sedikit pelajaran.


Ting!


Rifal meraih ponselnya yang ada di atas meja. Dia melihat Askalah yang mengirim pesan.


"Di mana?"


"Lu ada di sini?" tanya baliknya.


"Gua tunggu di kedai kopi Sturbugh."


Rifal menghela napas kasar. Dia mengikuti isi pesan Aska. Dia masuk ke kedai kopi yang dimaksud. Aska sudah ada di sana.


"Lu mau marah sama gua?" sergah Rifal ketika dia baru mendudukkan bokongnya.


Aska menggeleng sambil menyesap es kopi yang sudah dia pesan.


"Lalu?" tanya Rifal bingung.


"Keysha terlalu kekanak-kanakan," ucap Aska sambil menatap ke arah Rifal.


Hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Rifal. Dia menyandarkan tubuhnya di kepala sofa.


"Gua sayang banget sama dia," jawabnya.


"Apa lu sanggup?"


Rifal belum bisa menjawab. Selama ini dia sudah mencoba bersabar dan mengalah. Sudah lebih dari dua tahun hubungannya dengan Keysha.


"Gua masih berusaha, Sa," sahutnya.


"Lu tahu 'kan, di sini gua yang banyak dikhianati. Gua masih bertahan karena gua yakin Keysha hanya terbawa pergaulan. Aslinya dia gak begitu," tutur Rifal.


Aska tersenyum bangga terhadap Rifal, kakak dari Radit.


"Ternyata lu gak jauh beda sama si Bandit," ucapnya. Rifal pun terkekeh.


"Dia masih nangis?" Aska mengangguk. "Gua omelin," jawab Aska.


Dahi Rifal mengkerut, dia tidak mengerti dengan ucapan Aska.


"Gua gak suka sama cewek yang merasa tersakiti. Padahal dia yang udah nyakitin," terangnya.


"Lu tahu 'kan gimana pedasnya mulut gua kalau udah ngomong. Gak Mandang saudara atau teman," lanjutnya lagi.


Mereka banyak berbincang, hingga Aska menanyakan perihal wanita yang bersamanya.


"Yang tadi Keysha lihat beneran cewek lu?" tanya Aska.


"Bukan," jawab Rifal.


"Cewek sewaan?" tebak Aska.


Rifal malah tertawa keras. Dia menggelengkan kepala mendengar ucapan Aska.


"Dia pengasuh sepupu kecil gua," jawabnya.


"Ettdah, gua kira pacar lu beneran," balas Aska.


"Dia minta diantar ke toilet, gak sengaja ketemu Keysha. Kebetulan," jelas Rifal.


Aska mengangguk dan menyesap es kopinya lagi. "Pengasuh sepupu lu emangnya cantik? Bisa-bisanya di Keysha mewek begitu," tanya Aska penasaran.


"Dia itu cantik alami, tanpa make up pun kecantikannya sudah terpancar jelas," jawab Rifal.


"Wah, penasaran gua. Lain kali boleh lah kenalin sama gua. Gua suka cewek-cewek alami gitu, gak banyak dempulan," balasnya.


Rifal pun tertawa dan dia mengacungkan kedua jempolnya.

__ADS_1


"Beres."


__ADS_2