
Semenjak Aksa datang dari London, ketiga anak Echa tidak mau pulang ke rumah. Mereka selalu ingin tidur bersama sang paman. Apalagi Mimo dan juga Akinya sudah pulang dari Singapura dan membawa oleh-oleh yang banyak untuk mereka.
"Mah ... Pah, jangan terlalu manjain anak-anak Echa. Nantinya mereka kebiasaan," pinta Echa kepada kedua orang tuanya.
"Mamah dan Papah tuh gak manjain mereka. Ini ada rezeki buat mereka, makanya Mamah dan Papah beliin ini untuk ketiga cucu-cucu Mamah yang cantik-cantik."
Benar apa yang dikatakan orang-orang. Seorang ibu dan ayah akan lebih menyayangi cucunya dibandingkan anaknya. Ini terjadi pada Ayanda dan juga Gio.
"Mah, ini sih kayak mau buka toko baju," keluh Radit.
"Biarin aja sih, Dit. Anak-anak kamu 'kan udah sekolah. Masa bajunya itu-itu aja," sanggah Gio.
Radit dan Echa sudah tak mampu membalasnya ucapan Mamah dan Papah mereka, takut durhaka dan dikutuk jadi Malin Kundang.
Jangan ditanyakan bagaiman reaksi ketiga anak Echa. Mereka terus bersorak gembira karena apa yang mereka minta via sambungan video call dipenuhi semua oleh Mimo dan akinya.
"Sa-yang, Mimo." Kalimat yang selalu mereka ucapkan ketika modus mereka berhasil.
Aksa baru turun dari kamarnya dan menghampiri kedua orang tuanya yang sedang asyik bermain dengan si triplets.
"Mom, makan di luar yuk."
"Ayuk!" jawab si triplets bersamaan.
Aksa tertawa mendengar jawaban ketiga keponakannya ini.
"Kan Uncle ngajak Mimo dan Aki. Bukan kalian," jelas Aksa.
Wajah si triplets merengut kesal. Aksa pun sangat terhibur melihat wajah menggemaskan ketiga keponakannya ini.
"Cucu-cucu Aki mau makan di mana?" tanya Gio.
"Bubu, ayam kuning yang ada daun pisangnya namanya apa?" tanya Aleena.
__ADS_1
"Yang Mbak kemalin buat. Enak," timpal Aleesa.
"Oh, pepes ayam," jawab Echa.
"Ya udah, kita cari restoran khas Sunda aja kalau begitu." Ketiga cucu Gio pun bertepuk tangan gembira.
Mereka berangkat dengan menggunakan satu mobil saja. Kebersamaan yang sangat jarang terjadi. Ini pun minus Aska karena dia masih ada mata kuliah.
Gio sudah memesan semua makanan yang ada di sana. Termasuk kerupuk kesukaan ketiga cucunya. Tidak ada kebahagiaan yang lain ketika melihat ketiga cucunya makan dengan lahap. Apalagi nasi liwetnya sangat nikmat.
"Kak, anak-anak kakak rakus begitu mirip siapa?" Aksa benar-benar heran melihat cara makan si triplets yang sangat luar biasa.
"Enak gak, Sayang?" tanya Ayanda.
"Enak Mimo. Boleh nambah lagi?"
Mata Aksa melebar ketika mendengar ucapan Aleeya. Dia sudah menghabiskan dua bungkus pepes ayam dan sekarang ingin menambah lagi. Aksa hanya menggelengkan kepalanya.
"Mereka itu pada rakus. Sekali jajan habis satu juta. Pantas aja Papah Arya sebut mereka anak tuyul. Wong bocah yang bisanya ngabisin duit bukan ngehasilin duit," sungut Aska.
"Apa yang dikatakan oleh Daddy kalian itu benar. Mereka itu keponakan pertama kalian. Harusnya kalian merasa senang. Setelah sekian lama tidak ada anak kecil, dan setelah puluhan tahun kalian meminta adik kepada Mommy, akhirnya Tuhan memberikan kalian tiga anak kecil yang mewarnai rumah ini." Aksa dan Aska mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh kedua orang tuanya.
Si triplets tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh orang dewasa. Mereka malah asyik memakan pepes ayam yang ada di meja. Ketika acara kuliah tujuh menit dari Gio dan Ayanda selesai, kedua paman kembar si triplets terperangah ketika melihat nampan berisi ayam pepes sudah tak tersisa.
"Om makan apa?" tanya Aska.
"Tuh!" tunjuk Aleeya ke arah sambal dan juga lalapan.
"Pesan lagi. Jangan takut, Daddy yang bayar semuanya."
Hati Aksa dan Aska bersorak gembira mendengarnya. Akhirnya isi dompetnya aman.
Mereka menikmati acara makan-makan dadakan dengan sangat bahagia. Apalagi tingkah laku si triplets yang mengundang gelak tawa semua orang.
__ADS_1
Di tempat mereka makan, ketiga anak Echa terpaku pada sosok anak berusia satu tahun yang sedang asyik belajar berjalan. Lucu dan sangat menggemaskan membuat ketiga anak Echa bangkit dari duduk mereka dan menghampiri balita tersebut.
"Dek, sepertinya ketiga anaknya ingin adik," ujar Ayanda.
Echa hanya tersenyum, sedangkan Radit sudah menggeleng.
"Jangan deh, Mah. Luka kemarin aja belum kering. Radit gak ingin melihat istri Radit kesakitan lagi," tolaknya.
"Dih, lebay banget Bandit," cibir Aksa.
"Wanita itu diciptakan untuk melahirkan karena itu sebuah keistimewaan yang Tuhan berikan. Kata orang, sakitnya melahirkan gak sebanding dengan rasa bahagia ketika manik mata kecil itu berkedip," terang Aksa yang sok tahu. Padahal menikah pun belum. Pacar juga tidak punya.
"Ya karena gua cowok makanya gua gak mau cewek yang gua cintai tersiksa lagi karena proses melahirkan. Apalagi, Caesar. Meskipun, secara operasi tetapi memiliki imbas yang luar biasa," jelas Radit.
Echa mengusap lembut pundak sang suami. Jika, menyangkut kehamilan Radit akan menjelma menjadi manusia yang sangat sensitif.
"Bang, kamu bicara sekarang ini mudah. Namun, ketika kamu punya istri dan menghadapi persalinan istri kamu. Kamu pun akan merasakan hal yang sama seperti Abang kamu dan juga Daddy. Tugas wanita itu berat, Bang. Selain melahirkan, pekerjaan mereka di rumah tidak habisnya. Diberi upah pun tidak oleh para suami," tutur Gio.
"Itu uang gaji bulanan?" sergah Aksa.
"Kita bukan memberi uang, tetapi hanya menitip uang kepada istri kita untuk beli segala kebutuhan rumah dan juga makan sehari-hari. Apa itu cukup, Bang?" Gio mulai memberikan. pengarahan berumah tangga kepada putra sulungnya, putra bungsunya sudah kabur jika ditanyakan perihal nikah.
"Pesan Daddy, jika kamu memiliki istri perlakukanlah istrimu dengan sangat baik. Jadikan dia ratu di dalam rumah tangga kamu, bukan malah dijadikan babu. Ketika kamu berani melamar anak orang, berarti kamu sudah siap untuk memberikannya nafkah yang cukup secara finansial dan juga lahiriah. Jangan pernah berani meminta menikah ketika kamu masih belum punya apa-apa. Berjuang bersama lebih enak? Apa benar? Pada nyatanya tidak seperti itu. Laki-laki yang baru sukses cenderung 'banyak gaya' dibanding dengan laki-laki yang sukses sebelum menikah atau masih muda. Kenapa? Karena mereka sudah lelah dengan para wanita yang mengejar-ngejarnya. Malah mereka mencari wanita yang benar-benar tulus kepadanya."
Aksa mengangguk mengerti dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Dia akan mempraktekan wejangan dari sang Daddy.
Lain halnya dengan Aska yang sudah berlarian ke sana ke mari di taman tak jauh dari mereka duduk. Si triplets terus mengejar Aska karena ingin digendong. Namun, pamannya yang satu ini sangatlah gesit.
Gio, Ayanda, Echa, Radit dan juga Aksa tersenyum bahagia ketika melihat adiknya sangat sayang kepada ketiga keponakannya.
"Semoga Mommy dan Daddy bisa menyaksikan anak kamu lahir, Bang. Biar suasana rumah semakin bising dan ramai."
Manusia tidak akan pernah memprediksi sampai usia berapa mereka masih diberikan kesempatan untuk bernapas.
__ADS_1
"Doakan saja, Mom. Doakan Abang semoga sukses dan bisa langsung meminang dan membawa wanita yang Abang cintai langsung ke penghulu.'