Yang Terluka

Yang Terluka
Berita


__ADS_3

Radit mengulurkan tangan kepada Echa dan diterima oleh Echa dengan mata yang menyiratkan kesedihan. Melihat perlakuan keluarga Radit terhadap Radit dengan mata kepalanya sendiri.


"Abang ingin kami pisah, kan." Radit menunjukkan genggaman tangannya tepat di hadapan Rindra.


"Tapi, Tuhan Maha Baik. Tuhan malah mempersatukan kami kembali. Obsesi Abang tidaklah sebanding dengan kekuatan dan ketulusan cintaku kepada Echa," ucapnya pada Rindra.


"Papih, tidak selamanya anak emas Papih itu bisa membanggakan. Ada saatnya anak yang Papih anak tirikan akan membawa kebanggaan untuk Papih." Ucapan yang terdengar sangat memilukan.


Radit menarik tangan Echa dan menjauhi mereka berdua. Saat ini yang dia rindukan adalah Mamih. Biasanya, jika dia sedang bertengkar dengan Papih atau abangnya. Radit akan pergi ke makam sang Mamih untuk meluapkan semua kekecewaan dan kesedihannya.


"Bhal, kita ke rumah Kakek, ya." Radit hanya mengangguk tanpa melepaskan genggamannya.


Laki-laki yang selalu menempel kepada Echa layaknya benalu, ternyata memiliki kesedihan dan luka yang sangat dalam. Tidak jauh berbeda dengan dirinya. Hanya saja, Echa masih beruntung. Meskipun, dia anak broken home tapi, kasih sayang Mamah dan Ayahnya sangat berlimpah. Berbeda dengan Radit, seperti anak sebatang kara.


"Kamu istirahat, ya," titah Echa.


"Temani aku."


Echa pun mengangguk dan duduk bersandar di tempat tidur Radit yang disiapkan oleh sang kakek. Radit tidur menyamping ke arah Echa dan memeluk pinggang Echa layaknya anak kecil yang tidak ingin ditinggalkan oleh ibunya.


Refleks, Echa mengusap lembut rambut hitam Radit dengan air mata yang sudah ingin keluar.


"Aku kira hidupmu sempurna. Ternyata, penuh luka sama seperti aku," batinnya.


Genta yang baru saja pulang, mematung di ambang pintu melihat cucunya dan Radit dalam satu kamar. Tapi, Genta yakin Echa dan Radit bukanlah anak yang bebas. Mereka tahu norma agama.


Echa menggelengkan kepalanya dan dimengerti oleh Genta. Ketika tangan Radit sedikit melonggar, Echa ikut bergeser menjauhi Radit. Dia tersenyum kecut ke arah Radit.


"Aku sayang kamu, Bhal." Dikecupnya rambut Radit dan Echa meninggalkan kamar Radit dan membiarkan Radit beristirahat.


"Ada apa?" tanya Genta.


Echa baru saja turun dari lantai atas segera duduk di samping Genta.


"Papih dan Kakaknya Kak Radit," jawab Echa.


Genta hanya menghela napas kasar. "Mau mereka apa sih?" geramnya.

__ADS_1


"Kek, apakah hubungan Kak Radit dengan keluarganya memang seperti itu?" Genta pun mengiyakan pertanyaan Echa.


"Radit anak yang malang. Lahir ke dunia tapi, tidak merasakan kasih sayang seorang ibu sedikit pun."


Genta menceritakan semuanya tentang kelahiran Radit dan dibarengi dengan kepergian Vivi yang adalah Mamih Radit untuk selama-lamanya.


Hati Echa sakit mendengarnya. Bagaimana bisa Radit menjalani hari-harinya tanpanm belaian hangat seorang ibu. Apakah keceriaan Radit hanya untuk menutupi kesedihannya?


"Radit mengalami gangguan psikis ketika menginjak bangku sekolah."


Echa sangat terkejut mendengar cerita dari Genta. "Setiap ada tamu Papihnya yang datang ke rumahnya, matanya seolah menyiratkan ketakutan yang luar biasa. Dia akan berlari dan mengunci diri di kamar."


"Itu berawal ketika keluarga dari Mamih Radit berkunjung ke rumah Addhitama. Semua keluarga dari Mamihnya menyebut Radit seorang pembunuh. Tentu saja karena hasutan Rindra. Karena kepergian Vivi pun menggoreskan luka yang sangat dalam untuk Rindra."


Genta menceritakan semuanya yang dia ketahui tentang masa kecil Radit. Dada Echa terasa sesak mendengarnya. Bagaiman Radit yang menjalani harinya dengan penuh tekanan dari Abang dan juga Papihnya?


"Kamu masih beruntung, Cha," imbuh Genta sambil mengusap lembut rambut Echa.


"Meskipun kasih sayang dari Ayahmu datang terlambat. Tapi, kasih sayang Ayahmu sangatlah besar begitu juga Mamahmu. Walaupun pada akhirnya mereka berpisah, tapi kamu masih mendapatkan kasih sayang dari mereka tidak ada yang berubah. Malah semakin bertambah karena kehadiran Papa Gi dan Bunda kamu."


"Tidak seperti Radit, yang sama sekali tidak merasakan kasih sayang dari Mamihnya. Dan Papihnya, selalu mementingkan Rindra ketimbang Radit. Padahal yang sangat tersiksa di sini adalah Radit," jelas Genta.


"Iya, Kek. Echa pasti dampingi Kak Radit."


"Anak pintar," ucap Genta seraya mengusap lembut rambut Echa.


"Kakek memberi kepercayaan kepada kalian bukan berarti pengawasan Kakek terhadap kalian berkurang." Echa pun mengangguk paham.


"Ya sudah, Kakek istirahat dulu.".


Echa kembali ke kamar Radit dan dilihatnya Radit sudah terbangun. Sedang bersandar di kepala ranjang.


"Kok udah bangun?"


"Kamunya pergi," imbuh Radit. Echa pun tertawa mendengar ucapan Radit.


"Ya udah tidur lagi. Sini," ucap Echa sambil menepuk pahanya untuk bantalan kepala Radit.

__ADS_1


Radit segera membaringkan kepalanya di atas paha Echa dan membenamkan wajahnya di perut Echa. Seperti berada di pangkuan sang Mamih.


Hari-hari Echa dilalui dengan sangat bahagia. Dia selalu menemani Radit praktek di ruko milik Kakeknya dan juga menghabiskan waktu libur bersama. Hanya rona bahagia yang mereka pancarkan. Ketika semua kesedihan diceritakan kepada orang yang tepat. Di situlah kesedihan itu semakin berkurang dan terus berkurang.


Radit seperti memiliki ilmu hipnotis. Satu pertanyaan dari Radit mampu Echa jabarkan secara detail. Mungkin, beginilah ilmu psikolog yang Radit gunakan untuk menyembuhkan luka tak kasat mata yang orang lain rasakan hingga menyebabkan gangguan psikis.


Hari ini, Radit mengajak Echa jalan ke sebuah mall besar di Canberra. Radit ingin menghabiskan waktu berdua bersama Echa karena hari ini dia full libur. Dan Echa pun diizinkan oleh Genta untuk pergi bersama Radit.


Senyum terus mengembang di bibir keduanya. Tangan mereka saling menggenggam dengan begitu eratnya. Mengitari mall tersebut dengan kemesraan layaknya para remaja Yangs erang dimabuk cinta.


Hingga salah seorang yang mengenali wajah Radit mengabadikan momen di mana Radit sedang memeluk tubuh Echa dan menggandengnya sangat mesra.


Tibanya di rumah, wajah bahagia sepasang kekasih ini terlihat sangat jelas. Namun, kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Genta dengan berwajah sedikit serius.


Tatapan yang tidak biasanya Genta tunjukkan pada Radit dan juga Echa. Membuat Echa takut. Karena dia tahu, bagaimana Kakeknya ketika dia marah. Radit yang menyadari ketakutan Echa segera menggenggam tangannya.


"Kita hadapi bersama. Kita juga gak tahu salah kita apa," ujar Radit dan dijawab anggukan oleh Echa.


"Duduk!"


Suara yang terdengar sangat dingin di telinga dua sejoli ini. Dan mereka pun menuruti perintah Genta.


Salah satu anak buah Genta menyerahkan iPad ke tangan Genta.


"Lihatlah!"


Radit dan Echa menatap ke arah iPad. Sebuah berita yang sedang menjadi buah bibir warga dunia Maya.


"Raditya Addhitama yang terang-terangan berselingkuh ketika istrinya sedang mengandung besar."


Begitulah judul artikel tersebut. Ditambah ada foto Radit dan Echa yang sedang berpelukan dengan senyum bahagia. Untung saja, wajah Echa tidak terlihat jelas


"Apa kamu masih akan tetap diam dengan beredarnya berita ini?"


...----------------...


Maaf telat Update

__ADS_1


Emang kurang ya cerita ini aku update sehari sekali?


__ADS_2