
"Nggak ... nggak mungkin itu anakku," kilahnya.
Radit menutup pintu apartmentnya dengan sangat keras. Dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri.
"Kenapa aku gak ingat semuanya!" teriak Radit seraya menjambak rambutnya sendiri dan membentur-benturkan kepalanya ke dinding.
"Apa mungkin aku melakukan itu? Sedangkan dengan kekasihku saja aku tidak pernah berbuat hal yang tidak-tidak."
Semenjak kejadian itu, Radit tidak pernah keluar kamar. Hampir seminggu dia tidak masuk kuliah serta tidak pergi ke rumah sakit.
Dia benar-benar hancur sekarang. Bagiamana jika papihnya tahu? Sudah pasti dia akan disuruh untuk bertanggung jawab.
Fani ternyata sudah memberitahukan kabar kehamilannya kepada para sahabat Radit serta orangtua Radit. Wajah marah Addhitama sangat terlihat jelas, terlebih dia melihat Fani yang menangis karena sikap Radit. Radit tidak ingin bertanggung jawab dan tidak mau mengakui anak yang ada di kandungannya ini sebagai anaknya.
"Kamu jangan khawatir, saya pastikan Radit akan bertanggung jawab," tukas Addhitama,
Fani mengangguk mengerti. Namun, Fani memiliki niat yang sedikit licik. Dia membeberkan kepada media jika dia sudah diperkosa oleh Raditya Addhitama hingga berita itu menjadi trending topic di beberapa media online.
Amarah Addhitama pun memuncak, dia benar-benar geram kepada Fani. "Sungguh kurang ajar," geramnya.
Addhitama menyambangi kediaman Radit. Sudah beberapa kali dia menekan bel namun, Radit tak kunjung membukakan pintu apartmentnya. Addhitama menanyakan password apartment yang ditempati oleh Radit kepada Rival. Ketika sudah Rival sebutkan, pintu pun terbuka.
Addhitama langsung menarik tubuh Radit yang sedang bergumul di bawah selimut.
"Anak tak tahu diri," bentaknya.
Bugh!
Pukulan keras mendarat di wajah mulus Radit hingga meninggalkan tanda kebiruan di wajahnya.
Bugh!
Satu pukulan lagi mendarat di perut Radit hingga Radit tersungkur. Tidak sedikit pun Radit melawan. Dia tidak ingin jadi anak yang durhaka.
"Nikahi wanita itu! Jangan mempermalukan nama baik Papih," serunya.
"Kamu tahu, akibat ulah kamu ini perusahaan kita tercoreng," tukas Addhitama.
Tak ada satu pun kata yang mampu diserap oleh Radit. Yang ada dipikirkan adalah pergi menyusul sang Mamih.
Dari pada aku menjadi beban kalian, lebih baik aku mati sekalian.
Radit terus meratapi hidupnya. Hidupnya tak seindah di novel. Di mana seorang anak pengusaha kaya raya akan mendapatkan kehidupan yang layak dan berlebih. Yang Radit terima malah sebaliknya.
__ADS_1
Setelah kepergian papihnya, Radit membersihkan diri dan memakai celana training panjang dan baju lengan panjang berwarna hitam. Serta topi yang menghiasi kepalanya.
Radit berdiri di jembatan dan menatap air sungai yang mengalir sangat derasnya. Hidupnya sudah tidak berarti lagi, dunianya yang dia susun indah kini hancur berantakan.
"Mamih, lebih baik Radit bersama Mamih," lirihnya.
Kaki Radit sudah menaiki pilar jembatan. Air matanya sudah mengalir deras. Yang ada di kepalanya hanya Echa, Echa dan Echa.
"Maafkan aku Bhul."
Tubuhnya sudah dia condongkan ke depan dan dia akan terjun. Namun, ada empat tangan yang menahannya. Lalu, mereka menyeret Radit masuk ke dalam mobil menuju suatu tempat.
Tidak ada penolakan dari mulut Radit. Dia berharap, jika dia akan dibawa jauh oleh kedua pria ini. Hingga mobil itu berhenti di sebuah rumah mewah.
"Tuan kami sudah menunggu Anda." Radit pun menuruti perintah pria berbadan kekar itu.
Radit dibawa ke halaman belakang tempat sang Tuan bersantai. Mendengar langkah kaki, si Tuan pun menoleh. Dia tersenyum ke arah Radit.
"Masih ingatkah kamu kepada saya?" Radit mencoba mengingat-ingat wajah pria paruh baya yang ada di depannya ini.
"Anda bukannya orang yang waktu itu pingsan di pinggir jalan?" Pria itu pun mengangguk.
"Maaf, waktu itu saya buru-buru, ada hal yang harus saya kerjakan. Jadi, tidak bisa menemani Anda di rumah sakit," jelas Radit.
Setiap hari Radit selalu berjalan kaki menuju rumah sakit tempatnya praktek. Di negara orang kehidupan mereka lebih masing-masing dibandingkan dengan di Indonesia. Mau tidak mau, Radit harus terbiasa dengan budaya seperti itu.
Radit melihat seorang pria paruh baya yang berada diseberang jalan sedang memegangi dadanya dan Radit melihat napas pria itu pun tersengal. Pria itu pun berhenti berjalan dengan tangan yang menempel di dadanya.
Radit berlari menghampirinya. "Pak, apa Anda baik-baik saja?"
Pria paruh baya itu pun hanya tersenyum ke arah Radit lalu dia tak sadarkan diri. Radit langsung menghubungi ambulance dan membawanya ke rumah sakit tempatnya bekerja.
Tibanya di sana, Radit menyuruh perawat dan dokter untuk menangani pasien ini. Dan Radit bersedia menjadi penanggung jawab atas pasien ini.
Ketika dokter menerangkan penyakit pria ini, Radit mendapat kabar jika di harus buru-buru naik ke bagian kantor karena ada yang memanggilnya.
# Flashback off.
"Sudah lama saya mencari kamu," ucap pria itu.
Pria itu memperhatikan Radit dengan seksama. Terlebih luka yang ada di wajahnya.
"Wajah kamu kenapa?"
__ADS_1
"Hanya dipukuli oleh Papih saya," sahutnya.
"Hanya?" Pria itu sangat heran. Mendengar kata hangat yang dilontarkan oleh Radit. Padahal wajahnya sudah hampir tak berbentuk.
"Saya tidak bisa menjadi anak yang baik dan membanggakan untuk beliau. Saya hanya mencoreng nama baik keluarga," sesalnya.
"Kenapa bisa begitu?" Radit hanya terdiam.
"Baiklah jika kamu tidak mau bercerita. Saya tidak akan memaksa. Jangan sungkan jika kamu perlu bantuan saya. Saya siap membantu kamu, karena kamu telah menolong saya dengan tulus. Jika kamu tidak menolong saya, mungkin saya sudah mati."
Radit dijamu bak raja di rumah itu. Segala makanan enak dan juga fasilitas mewah pria itu berikan.
"Tu-tuan, boleh saya menginap di sini?" tanya Radit yang tidak berani menatap wajah pria itu.
Pria itu pun tersenyum dan mengusap lembut kepala Radit."Tinggal selamanya di sini juga tidak masalah. Saya akan sangat senang karena saya tidak sendiri di sini."
"Memangnya keluarga Tuan di mana?" Radit mulai berani menatap wajah pria itu.
"Mereka di Indonesia, saya sudah nyaman tinggal di sini dan di Singapura. Panggil saya Kakek, seperti cucu kesayangan saya memanggil saya seperti itu," imbuhnya.
"Baik Kek."
Setelah selesai makanan dan berbincang, Radit dibawa ke kamar yang akan ditempatinya. Radit hanya menghela napas kasar. Kepergiannya pasti akan menambah kehebohan dan kebencian papihnya.
"Apa yang sekarang harus aku lakukan?" gumamnya.
Pria paruh baya yang sedari tadi melihat Radit dengan wajah sulit diartikan pun masuk ke kamar Radit dan mengusap punggung Radit yang sedang menelungkupkan wajahnya.
"Saya tahu masalah kamu." Radit mendongakkan kepalanya menatap pria paruh baya.
"Apa itu anak kamu?" Radit menggeleng.
"Aku sama sekali gak tahu Kek. Aku gak ingat," sahutnya lemah.
"Dia menjebak kamu?" Radit mengangguk.
"Aku meninggalkan Kakek di IGD karena ada telepon dari pihak kantor rumah sakit. Aku diberi minuman di sana dan aku sudah tidak ingat apa-apa lagi," ujarnya seraya menundukkan kepala.
"Kakek akan membantumu."
***
Ada notif UP langsung baca jangan ditimbun-timbun. Semoga kalian suka ...
__ADS_1