
Rasa bosan melanda ibu tiga orang anak. Dia memutuskan untuk jalan-jalan ke mall sekalian bertemu dengan dua sahabatnya, Mima dan Sasa.
"Kenapa gak nunggu aku aja sih, Yang."
Itulah yang Radit katakan via sambungan telepon.
"Kamu 'kan lagi ada rapat penting. Kalo nunggu kamu kemalaman. Kasihan anak-anak dan belum tentu juga Sasa dan Mima mau menunggu kamu," balas Echa.
Radit hanya menghela napas kasar. Dengan berat hati dia mengizinkan istrinya.
"Setelah aku selesai meeting, aku akan nyusul kalian." Sebuah ucapan yang tidak bisa dibantah lagi. Hanya kata iya yang Echa katakan agar semuanya berjalan lancar.
Echa bersiap terlebih dahulu sebelum ketiga anaknya bangun. Si triplets sedang tertidur dengan saling memeluk.
Setelah cantik dan menyiapkan keperluan si triplets, Echa kembali ke kamar ketiga buah hatinya. Mereka sudah terjaga, tetapi masih bermalas-malasan di tempat tidur.
"Kok tumben. Mau ikut Bubu jalan-jalan gak?"
Mendengar kata jalan-jalan ketiga anak Echa segera bangkit dari posisi tiduran mereka.
"Babababa."
"Baba nanti akan menyusul kita. Kita berangkat duluan, ya." Echa mengambil baju lucu di lemari ketiga putrinya.
Menurunkan si triplets dan membawa mereka ke wastafel untuk mencuci muka. Setelah selesai, Echa mengganti baju anak-anaknya satu per satu. Tak lupa menguncir rambut si triplets agar lebih terlihat lucu. Kunciran dua menjadi ciri khas mereka, yang membedakan hanya bordiran baju depan yang dikenakan oleh ketiga putrinya. Aleena memakai baju berbordir AN, Aleesa berbordir AS dan Aleeya berbordir AY.
Semua baju si triplets bukanlah baju murahan. Mereka bertiga memiliki designer baju tersendiri. Di mana Addhitama yang bertanggung jawab atas semuanya. Addhitama, opa dari ketiga anak Echa-Radit rela mengeluarkan puluhan juta per bulan untuk baju ketiga cucunya. Belum lagi Gio yang selalu mengirimkan baju bermerk luar untuk ketiga cucunya. Serta Rifal yang akan mengirimkan susu, popok bayi serta perlengkapan mandi si triplets setiap bulan. Bisa dibilang anak-anak Echa adalah anak endorse.
"Sudah pada cantik mau ke mana?" tanya Mbak Ina yang tersenyum bahagia melihat ketiga anak Echa yang berjalan saling bergenggaman tangan.
"Echa mau ajak mereka ke mall. Kalau Riana dan Iyan pulang suruh langsung makan ya, Mbak."
"Iya, Neng."
Inilah yang Mbak Ina sukai dari Echa. Meskipun berbeda ibu, Echa sangat sayang kepada dua adiknya. Dia selalu memposisikan dirinya sebagai ibu untuk Riana dan Iyan yang telah ditinggalkan oleh ibu kandungnya untuk selama-lamanya.
"Kalian senang?" Ketiga anak Echa bertepuk tangan gembira membuat Pak Mat yang sedang melajukan mobil tertawa.
"Ya ampun, Neng. Lucu-lucu banget anak-anaknya. Gak kerasa udah mau satu tahun aja," ucap Pak Mat.
"Iya, Pak. Gak nyangka juga bisa dikasih anak sekaligus tiga begini," balas Echa seraya tersenyum.
Tiba di mall, Pak Mat yang hendak membantu Echa larang. Echa menggendong Aleeya dengan gendongan kangguru. Sedangkan Aleena dan Aleesa duduk manis di stroller.
Semua mata tertuju pada Echa. Wanita muda yang membawa ketiga anak kembarnya ke mall seorang diri. Sungguh luar biasa. Echa menuju food court di mana Sasa dan Mima berada.
Teriakan histeris Sasa dan Mima menyambut Echa membuat Echa menggelengkan kepala.
"Anak-anak kalian ke mana?" tanya Echa heran.
"Gak kita bawa lah. Kita 'kan ingin mengenang masa remaja," balas Sasa.
"Lu kenapa bawa ketiga anak lu yang gemoy ini," ujar Mima.
"Gak ada yang jagain kalau mereka ditinggal," sahut Echa sambil mendudukkan dirinya.
"Anak orang kaya, istri pengusaha muda masa iya gak mampu nyewa baby sitter." Ucapan Sasa membuat Echa mendengus kesal.
"Bukannya gak mampu, gua yang gak mau," jawab Echa.
"Kenapa?" tanya bingung mereka berdua.
"Gua tidak ingin melewati perkembangan ketiga anak gua. Itulah alasannya," jelas Echa.
Kedua sahabat Echa menggeleng tak percaya mendengar penuturan Echa. Perempuan cuek kini berubah menjadi seorang ibu yang luar biasa. Mereka asyik berbincang dan tertawa. Apalagi melihat kecentilan ketiga anak Echa membuat Mima dan Sasa sangat terhibur.
"Cantik banget sih anak-anak lu, Chut," puji Mima sambil mencubit pipi Aleeya yang tengah memakan cemilan khusus bayi.
"Itu si Aleena, persis bapaknya banget, ya," ujar Sasa melihat ke arah Aleena yang tengah memakan cemilan tanpa ekspresi.
Mereka bertiga memesan makanan sambil sesekali membicarakan masa remaja mereka yang tidak akan pernah bisa terulang kembali.
"Echa," panggil seseorang.
__ADS_1
Bukan hanya Echa yang menoleh, Sasa dan Mima pun ikut menoleh ke asal suara. Echa memicingkan matanya, meyakinkan penglihatannya.
"Doni," balas Echa.
Pria itu pun tersenyum. "Masih ingat sama gua," ucapnya.
"Boleh gabung gak?" tanya Doni. Sasa dan Mima mengangguk setuju.
"Makin cantik aja, Cha." Seketika Aleeya yang berada di pangkuan Echa menatap tajam ke arah Doni. Tanpa aba-aba dia menggigit tangan Doni.
"Aw!" ringisnya.
"Jangan ganjen makanya, tuh anak-anak si Echa turunan maung (harimau)," kelakar Mima.
"Pepatah mengatakan, jangan bangunkan macan yang sedang tidur," sambung Sasa.
Mereka bertiga pun tertawa bersama. Terus bercerita hingga ada seorang pria yang menepuk pundak Doni.
"Riza," ucap Mima dan Sasa berbarengan.
Mendengar nama Riza, Echa yang sedang menimang Aleeya melihat ke arah Doni. Matanya melebar melihat sosok yang dulu pernah menjadi bagian dari cintanya.
"Dia bukan Riza. Dia Rezal, teman nge-band gua," terang Doni.
Rezal pun mengenalkan dirinya dengan menjabat tangan ketiga wanita secara bergantian. Namun, ketika menjabat tangan Echa Rezal menatap Echa dengan penuh kekaguman.
"So beautiful," ucapnya pelan dengan bibir yang terangkat.
Dengan cepat Echa segera melepaskan jabatan tangan Rezal. Dia mengatur napasnya. Bagaimana pun wajah Rezal mirip sekali dengan Riza. Seakan mengingatkannya akan kisah cinta di masa remaja.
Mereka berlima terus berbincang. Namun, Echa hanya sesekali menimpali. Cara bicara dan bercanda Rezal sama persis seperti Riza. Pria yang sudah tenang di surga.
Kecupan hangat di kepala membuat Echa mendongak ke atas. Wajah sendunya kini berubah. Senyuman bahagia terpancar di wajahnya.
"Meeting-nya udah selesai?" Radit mengangguk dan duduk di samping sang istri.
"Ditunda besok karena aku tahu, istriku pasti kewalahan bawa ketiga putriku." Bukan hanya Echa yang tersenyum, Mima dan Sasa merasa iri dengan keromantisan Radit.
"Manis dan romantis," sambung Mima.
Echa hanya tertawa dan memandang ke arah sang suami yang masih memakai kemeja berwarna gelap. Sama seperti tadi pagi. Radit mengambil alih Aleeya dari gendongan Echa.
"Mau pesan makan apa?" tanya Echa.
"Terserah istriku saja."
Doni dan Rizal hanya dapat melihat perlakuan Radit kepada Echa dengan tatapan datar. Apalagi, mereka berdua sangat melihat binar kebahagiaan di wajah Echa ketika Radit datang.
Mima dan Sasa terus berbincang bersama Rezal dan Doni. Sedangkan Echa sibuk menyuapi suaminya. Sesekali Echa ikut tertawa. Tanpa Echa sadari, Radit melihat tatapan aneh dari Rezal. Pria yang mirip sekali dengan mantan kekasih Echa di masa putih abu-abu.
"Yang, udah mau Maghrib. Pulang, yuk. Anak-anak juga udah pada bangun." Echa mengangguk pelan dan berpamitan kepada dua sahabatnya dan juga Doni serta Rezal.
"Echa masih cantik banget, ya. Gak keliatan udah punya anak," kata Doni. Ketika Radit dan Echa sudah pulang.
"Semuanya karena duit, Don. Orang tuanya kaya, lakinya tajir, mertuanya jangan ditanya. Mau apa pun pasti mudah," jawab Sasa.
"Suaminya juga gak berubah, ya. Malah makin ganteng," balas Doni.
"Mereka pasangan serasi. Pasangan yang selalu saling melengkapi. Contohnya aja tadi, suami mana yang mau nyamperin istrinya ke mall setelah lelah bekerja. Seribu satu laki-laki yang seperti Kak Radit."
Doni akui Radit pria yang sempurna dan patut dicontoh. Radit memiliki cinta yang kuat dan tulus untuk Echa. Mampu menunggu Echa bertahun-tahun tanpa pernah mendengar mereka putus atau break.
Tibanya di rumah, si triplets disambut hangat oleh sang engkong yang memang sedari tadi menunggu kedatangan mereka di teras rumah.
"Kenapa pulang malam?" tanyanya pada Echa.
Tanpa mau mendengar jawaban dari putrinya, Rion segera membawa ketiga cucunya untuk segera dibersihkan dan berganti pakaian.
"Kalian juga bersih-bersih. Biar Ayah yang bersihin mereka."
Radit dan Echa menuruti perintah sang ayah. Mereka berdua masuk ke dalam kamar. Namun, ada yang berbeda dari Radit. Sedari tadi Radit hanya diam.
"Ay," panggil Echa.
__ADS_1
Radit tak menjawab sedari tadi dia sibuk mengendurkan dasinya. Kemudian, masuk ke dalam kamar mandi. Echa hanya menghela napas kasar. Jika, suaminya sudah seperti ini pasti ada yang tidak beres.
Echa menyiapkan baju untuk Radit. Keluarnya Radit dari kamar mandi, dia masih diam membisu. Apalagi wajahnya yang sangat datar. Echa merasa ini bukan waktu yang tepat untuk bertanya. Dia memilih untuk masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.
Echa menghela napas kasar ketika dia melihat Radit tidak ada di kamar. Echa sangat yakin, Radit sedang marah. Marah karena apa, Echa pun tidak tahu. Dia menuju ke dapur, membuatkan Radit kopi dan membawakan Radit puding buah.
Tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu, Echa membuka pintu ruang kerja Radit. Dia tersenyum melihat suaminya yang tengah fokus menatap ke layar laptop.
"Ay, aku bawain kopi sama puding," ucap Echa yang membawa nampan ke arah meja Radit.
Radit masih bergeming. Dia diam seribu bahasa sehingga membuat Echa hanya bisa menghela napas berat.
"Kamu kenapa sih, Ay?" tanya Echa setelah meletakkan kopi yang masih mengepul asapnya dan puding di atas meja kerja. Sekarang Echa berada di samping Radit dengan membawa nampan kosong di tangan.
"Kalau kamu marah sama aku, kamu bilang. Jangan diam kaya begini," ucap Echa.
Satu menit, dua menit, tiga menit, Radit masih terdiam membuat Echa mulai geram.
"Ya udah, aku minta maaf kalau aku salah. Meskipun, aku gak tahu letak salahku di mana. Maaf, jika aku ganggu kamu."
Echa memilih untuk meninggalkan Radit, tetapi tangan Echa ditarik sedikit kasar oleh Radit hingga nampan yang dipegangnya menyenggol cangkir kopi dan tumpah membasahi kaki Echa.
"Aw! Panas," ringis Echa.
Radit segera menggendong Echa ke kamar mandi dan menyiram punggung kaki Echa yang terlihat merah dengan air yang mengalir. Setelah dirasa sudah cukup, Radit menggendong tubuh istrinya dan mendudukkannya di sofa.
"Maaf, Sayang," sesal Radit.
Radit baru membuka suara dengan tangan yang terus mengelap kaki Echa. Dia segera mengambil kotak P3K dan membubuhkan salep ke punggung kaki Echa yang memerah. Setelah selesai, Radit menaruh kembali kotak P3K tersebut ke tempatnya.
Ketika Radit kembali ke sofa, Echa sudah berdiri dan berjalan tertatih. "Mau ke mana?" tanya Radit yang sedikit berlari mencegah sang istri pergi.
"Aku tidak ingin mengganggu kamu," ulangnya lagi.
Radit segera memeluk tubuh Echa dengan erat meskipun tanpa balasan dari Echa.
"Aku cemburu," ucapnya pelan.
Sudah Echa duga, pria yang paling Radit cemburui adalah Riza. Apalagi, teman Doni tadi mirip sekali dengan Riza.
Radit membawa tubuh Echa untuk duduk di sofa dengan tangan yang terus merengkuh pinggang sang istri.
"Aku takut ... jika kamu akan ...."
"Riza sudah meninggal. Lagi pula, dia hanya bagian masa laluku yang menyakitkan. Sekarang, aku sudah mendapatkan kebahagiaan, yaitu hidup bersama kamu dan juga anak-anak kita," potong Echa.
Echa mengecup bibir Radit sedikit lama. Kemudian, dia menyudahinya dengan tersenyum ke arah Radit.
"Kamu adalah pemenang. Pria pertama yang memberikanku ciuman hangat. Memberikan ku kenikmatan surga dunia yang sebenarnya. Hingga melahirkan ketiga buah hati kita yang sangat cantik jelita. Kamu pemenangnya, Ay. Kamu." Radit tersenyum bahagia mencium kening sang istri sangat dalam. Lalu, turun ke bibir merah Cherry. Memagutnya dengan pelan dan penuh dengan cinta. Hingga Echa melingkarkan tangannya di leher sang suami.
Setelah oksigen dirasa berkurang, mereka saling melepas dengan senyum yang sama-sama mengembang di wajah mereka.
"Love you my wife."
"Love you too, my husband."
"Kamu mau tidur?" tanya Radit. Echa pun menggeleng. Dia malah merangkul lengan sang suami.
"Mau nemenin aku kerja?" Hanya sebuah anggukan yang menjadi jawaban.
Radit memindahkan laptop yang berada di atas meja kerjanya ke meja yang ada di depan sofa. Namun, mereka duduk lesehan di karpet berbulu dengan bersandar ke sofa.
Sekali-kali Radit mengecup ujung kepala sang istri yang terus merangkul lengannya. Meletakkan kepalanya di bahu sang suami.
"Sakit gak kakinya?" Echa menggeleng. "Kalau masih sakit, besok kita ke rumah sakit. Kamu istirahat dulu. Biar aku minta Mbak Nesha untuk jagain anak-anak."
"Aku gak apa-apa, Ay. Udah adem kok karena udah dikasih salep." Radit tersenyum dan menarik dagu sang istri hingga mendongak ke arahnya. Mengecupnya kembali dengan sangat lembut.
"Terima kasih, Sayang," ucapnya. Hanya seulas senyum yang Echa berikan. Dia merebahkan kepalanya di dada bidang sang suami dengan tangan yang melingkar di pinggang Radit.
"Kalau kamu marah, bilang. Jangan diam seperti itu. Aku bukan cenayang yang bisa mengerti isi hati dan kepala kamu." Radit pun terkekeh mendengar ucapan dari Echa.
"Iya. Maafin aku juga karena udah buat kaki kamu kesiram kopi panas."
__ADS_1