Yang Terluka

Yang Terluka
Duda Lagu


__ADS_3

Sore ini Echa harus menemani Radit ke sebuah acara resepsi pernikahan koleganya. Berlanjut ke acara resepsi sahabat Radit. Serta acara reunian dengan Sasa dan Mima.


"Titip ke Mamah aja, ya." Ide yang tercetus dari Radit.


"Sekalian menikmati momen berdua, Yang. Selama lima bulan ini kita susah untuk ngapa-ngapain," keluhnya lagi.


Echa hanya tersenyum dan menyetujui ide dari Radit. Ketika Echa sudah rapih dengan gaun yang cantik, Rion melihat ke arah anak-anak Echa yang masih memakai pakaian tidur.


"Si Triyul (Tiga tuyul) mau dibawa ke mana?"


"Ke rumah Mamah, Yah. Echa dan Kak Radit mau kondangan." Rion segera mengambil alih anak yang sedang Echa gendong.


"Biar sama Ayah aja, di sini." Echa terdiam mendengar ucapan sang ayah. Ada keraguan dari sorot mata yang Echa pancarkan.


"Kamu ragu? Ayah mampu mengurus bayi," imbuhnya.


Echa menatap ke arah sang suami. Hanya sebuah anggukan yang Radit berikan.


"Tapi Ay, anak kita tiga bukan satu. Pasti Ayah kewalahan," tutur Echa.


"Anak kamu emang tiga, tapi bayi yang sesungguhnya cuma satu. Nih, si Uyul," tunjuknya pada Aleeya yang sedang mengoceh tidak jelas.


Apa yang dikatakan sang ayah benar adanya. Dari ketiga anaknya, yang menguras tenaga dan emosi cuma Aleeya. Anak super aktif dan banyak tingkah serta cengeng.


"Gak apa-apa, Yang. Nanti, kita hubungi Mamah dan Papa untuk membantu Ayah di sini. Boleh 'kan, Yah?"


"Menantu pintar," puji Rion sambil menunjukkan dua ibu jarinya.


Dengan sangat terpaksa, Echa meninggalkan ketiga anaknya bersama Rion. Namun, dia juga sudah menghubungi mamahnya untuk memantau ayahnya. Echa takut jika sang ayah tidak bisa menghandle si triplets.


Setelah Echa pergi Rion terus bermain bersama ketiga cucunya. Ocehan dan tertawa keras dari ketiga bayi ini memenuhi ruang keluarga. Riana dan Iyan pun ikut bergabung dengan sang ayah.


"Ayah, kok Aleeya bau, ya," ujar Riana.


Rion segera mengendus tubuh Aleeya. Seketika dia menutup hidungnya.


"Nih anak ngelunjak," gerutu Rion. Kemudian, dia tertawa terbahak-bahak.


"Cepet ganti popoknya, Ayah," titah Riana.


"Biarin aja dulu, belum semua yang dia keluarkan," sahut Rion.


Riana dan Iyan tertawa melihat Aleeya yang tengah mengejan dengan wajah yang sangat lucu. Dengan isengnya Rion mengambil gambar Aleeya dalam keadaan sedang berkonsentrasi untuk mengeluarkan emas berharga di dalam perutnya.


Seperti biasa akan Rion jadikan status whatsapp. Baru Lima menit status whatsapp itu muncul. Ponsel Rion terus berdenting menandakan banyak pesan yang masuk.


"Engkong laknat lu." (Arya)


"Kakek si Alan lu." (Giondra)


"Besan gak ada akhlak." (Addhitama)


"Ayah😈😈😈😈" (Echa)


Rion tertawa terpingkal-pingkal membaca pesan yang masuk ke ponselnya. Melihat sang cucu sudah kembali normal dan mulai merengek karena tidak betah. Rion segera membawa Aleeya ke kamar mandi.


"Beginian doang mah kecil," ucapnya sombong.


Baru saja popok Aleeya dilepaskan, tiba-tiba tangannya mendapat hadiah mewah dari Aleeya. Emas batangan yang keluar dari perut Aleeya. Sungguh Rion syok dibuatnya. Sedangkan Aleeya tertawa keras.


"Uyul!" teriak Rion.


Riana dan Iyan segera menghampiri ayah mereka. Mereka berdua langsung memundurkan langkahnya ketika melihat sang ayah sedang menahan napas. Tertawa renyah pun keluar dari mulut kedua anaknya.


"Ayah kena prank si Uyul," kekeh Iyan.

__ADS_1


"Kilo, Yah. Harga emas lagi naik sekarang," canda Riana.


Bukan hanya Iyan dan Riana yang tertawa. Aleeya pun ikut tertawa juga. Menambah keriangan di dalam rumah ini.


Setelah mengganti pakaian serta popok Aleeya, Rion diusir oleh kedua anaknya. Menurut mereka aroma emas batangan Aleeya masih tercium. Mereka menyuruh ayahnya untuk mandi kembali. Mau tidak mau Rion melaksanakannya.


Ketika Rion sedang membersihkan tubuhnya, Arya datang seorang diri ke rumah Rion. Beby dan Beeya sedang ke rumah Kano.


"Ayah kalian mana?" tanyanya pada Riana yang tengah asyik mengajak berbicara Aleena.


"Mandi."


"Udah malam mandi, rematik yang ada," sahut Arya.


"Berisik lu!" sungut Rion yang sudah terlihat segar.


"Emak bapaknya pada ke mana emang?" tanya Arya.


"Lagi kondangan," jawabnya.


"Ke emol yuk. Ajak nih bocah," ujar Arya.


Rion menimbang-nimbang ajakan Arya. Kemudian kedua anaknya berseru ingin pergi ke mall juga.


"Ajak si Andra sekalian. Bininya lagi di rumah Kano." Rion segera menghubungi Gio. Tanpa lama menunggu, Gio pun datang dengan setelah santai.


"Let's go!" seru Arya ketika mobil melaju.


Tiga pria sedang mengajak jalan-jalan anak dan cucu mereka. Wajah riang terlihat jelas di wajah si triplets.


"Senang ya, kita jalan-jalan." Aleena tertawa menanggapi ucapan Gio.


Sesampainya di parkiran mall, Arya segera mengeluarkan stroller untuk para bayi cantik ini. Apalagi, mereka sudah didandani cantik oleh Riana. Baru masuk ke dalam mall saja semua mata tertuju pada tiga pria tampan ini.


"Bukan sugar Daddy biasa," balas si teman.


Semua mata para wanita tertuju pada ketiga pria yang sedang mendorong stroller. Diikuti oleh anak remaja yang cantik dan juga anak laki-laki yang tampan.


Pesona tiga pria ini sangat luar biasa. Padahal usianya sudah tidak muda, tetapi masih mampu menghipnotis para wanita.


"Ayah, itu kenapa pada ngikutin kita," adu Iyan pada Rion.


Rion membalikkan tubuhnya dan perkataan Iyan benar adanya. Malah ada anak seusia Riana yang melambaikan tangannya ke arah Rion dengan wajah yang genit.


"Ri, awas kalo kamu begitu," ancam Rion.


"Apa sih, Ayah," dengus Riana.


"Kakak mah gak suka pria bangkotan, Yah. Tipe Kakak mah masih sama, Abang Aksa." Ucapan Iyan membuat Riana kesal. Mendengar nama Aksa membuat perasaannya hadir kembali.


"Masih kecil, gak boleh pacaran dulu," tegas Rion.


Sedangkan di resepsi pernikahan, kedatangan Radit menjadi pusat perhatian. Baru kali ini Raditya Addhitama muncul di acara besar bersama sang istri. Banyak para wanita yang mengagumi Radit dalam diam menelan pil kecewa. Bagaimana tidak, Radit hadir dengan wanita yang sangat cantik dan anggun. Apalagi pakaian yang istrinya kenakan senada dengan yang Radit pakai.


Semua mata tertuju pada Radit yang terus menggenggam tangan Echa dengan posesifnya. Dia tidak membiarkan istrinya jauh dari dirinya. Apalagi banyak mata lelaki nakal yang menatap Echa dengan tatapan tak biasa.


"Ay, malu," bisik Echa.


Risih karena tangan Radit yang terus merengkuh pinggang Echa jika berada di depan teman prianya.


"Aku gak suka kamu diliatin sama pria lain." Echa menatap ke arah sang suami yang tengah cemburu. Dia pun tersenyum. Kemudian mengecup pipi Radit.


"Aku juga gak suka kamu diliatin banyak cewek," sungut Echa.


"Makanya jangan lepasin tangan aku," ujar Radit.

__ADS_1


Mereka berdua dijuluki goal couple oleh para tamu undangan. Setelah datang kedua acara resepsi yang berbeda. Mereka menuju sebuah kafe di mana Mima dan Sasa telah menunggu. Tentu saja, Merkea bersama suami dan anak mereka.


Canda tawa mengalir begitu saja. Mengenang masa remaja. Kenakalan mereka hingga cinta sejati yang Echa temukan pada sosok Radit.


"Jujur, saya itu minder jika bertemu dengan dokter Radit." Begitulah yang Derin katakan. Ini kali pertama mereka berkumpul berpasangan.


"Santai aja, suami Echa baik kok," ujar Sasa istri Derin.


"Ay, Ayah ada telepon kamu gak?" Echa baru saja mengecek ponselnya. Namun, tidak ada panggilan dari ayahnya.


"Gak ada," jawab Radit.


"Perasaanku gak enak, Ay," imbuh Echa.


"Lagian kenapa anak kalian gak diajak?" tanya Mima.


"Niatnya ingin mengenang masa pacaran. Setelah punya anak tiga gak bisa berduaan lagi," terang Radit .


Mima dan Sasa pun tertawa. Radit memang tidak berubah dari dulu. Budak cinta itulah Radit. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tiga puluh. Echa dan Radit memutuskan untuk pulang. Padahal mereka berdua masih ingin berbincang bersama.


Echa nampak gelisah selama perjalanan menuju rumah. Radit terus menggenggam tangan sang istri agar tenang.


"Kalo ada apa-apa, Ayah pasti ngabarin kita, Yang." Echa mengangguk pelan.


Baru saja masuk ke dalam halaman rumah. Sudah banyak mobil yang terparkir di depan rumah Echa.


"Ay."


Echa benar-benar panik dibuatnya. Dia takut terjadi apa-apa. Setelah mobil berhenti, dia segera turun dan


berlari ke dalam rumah. High heels yang dipakai dia lepaskan begitu saja.


Seketika matanya membola ketika melihat bukan ketiga putrinya yang ada di ruang keluarga. Melainkan tiga orang pria yang tengah dihukum saling menjewer telinga satu sama lain. Di depan mereka ada dua ibu negara yang sudah bertolak pinggang.


"Ada apa ini, Mah? Anak-anak Echa mana?" Semua mata tertuju pada Echa yang sudah mengangkat gaunnya sebatas lutut dengan kaki yang polos.


Sedangkan Radit yang baru saja masuk sedang menjinjing high heels Echa.


"Kamu kebanjiran?" Pertanyaan dari sang mamah membuat Echa terdiam karena tidak paham.


"Itu," tunjuk Ayanda ke arah bawah tubuh Echa. "Gaun diangkat, kaki nyeker," lanjutnya lagi.


Semua orang pun tertawa termasuk para pria yang sedang dihukum.


"Echa panik, Echa takut terjadi apa-apa sama anak-anak Echa," jelasnya.


"Anak kamu gak apa-apa. Hanya saja, pengasuh dari anak-anak kamu yang banyak tingkah." Beby menjelaskan dengan wajah yang sudah menahan amarah.


"Maksudnya apa?"


"Tiga pria tua di depan Mamah ini membawa anak kamu ke mall." Echa terkejut mendengar ucapan sang mamah.


"Lebih parahnya lagi, mereka malah asik sendiri. Digoda para ABG lenjeh dan membiarkan si triplets begitu saja. Untung ada Iyan dan Riana."


Dengan wajah penuh kemarahan dan kemurkaan, Echa menghampiri Ayahnya. Tangannya dengan luwes menjewer kuping sang ayah.


"Mau Ayah apa? Ayah mau memberikan anak-anak Echa Nenek, iya?" Tangan Echa terus menarik telinga sang ayah. Si pemilik telinga sampai mengaduh kesakitan. Namun, tidak Echa hiraukan.


"Tarik terus, Kak. Kalo gak teman Iyan jatuhin ponsel si ABG genit itu bisa tukeran nomor ponsel tuh Ayah." Riana sangat geram melihat tingkah laku ayahnya yang kembali genit.


"Namanya juga duda lagi," sahut Rion.


"Ayah!" teriak ketiga anak Rion.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2