Yang Terluka

Yang Terluka
Kenangan Bunda


__ADS_3

Echa memandangi foto yang ada di atas buffet. Foto bundanya masih terpajang di sana. Sengaja Echa tidak menghilangkan foto tersebut. Dia teringat akan lima tahun yang lalu. Tangannya menyentuh foto tersebut. Dia dan kedua adiknya ada di dalam foto itu begitu juga dengan sang ayah.


Ada yang datang dan ada yang pergi. Ada kelahiran dan pasti ada kematian. Itulah hukum alam. Ketiga malaikat Echa hadir ke dunia disusul dengan kepergian Amanda yang tidak terduga. Sungguh rahasia Tuhan yang luar biasa.


Kedua anak yang tidak berdosa didampingi para keluarga sedang berada di pemakaman. Menatap gundukan tanah merah yang masih basah. Sedih, sudah pasti dirasakan oleh Riana dan Iyan. Kehilangan wanita yang telah melahirkan mereka dan merawat mereka. Di sana juga ada Juna, Mamah Dina dan juga Nisa.


"Kita pulang, ya," ajak Rion kepada dua anaknya.


"Jangan dulu pulang, Ayah. Setelah pemakaman selesai alangkah baiknya kita berada di sini kurang lebih lima belas menit. Mendoakan Bunda dengan khusyuk. Karena beliau akan sedih jika kita segera beranjak dari sini," terang Iyan.


Semua orang yang berada di sana bangga terhadap Iyan. Diusianya yang masih kecil, tapi mampu berbicara layaknya orang dewasa.


Setelah selesai berdoa. Iyan menyiramkan sisa air mawar ke nisan sang bunda. "Iyan dan semuanya pulang, ya, Bun. Iyan akan sering-sering jenguk Bunda di sini. Dan menaburkan bunga agar rumah Bunda terlihat cantik."


Sakit, itulah yang keluarga Iyan rasakan. Ucapan sederhana Iyan memiliki makna yang sangat dalam. Mampu membuat semua orang menahan sesak di dada mereka.


Mereka tidak langsung pulang ke kediaman Echa. Mereka lebih memilih berkumpul sejenak di rumah Gio. Karena di kediaman Echa ada bayi yang masih sensitif. Sedangkan mereka baru saja pulang dari tempat pemakaman. Harus membersihkan diri mereka dulu baru bisa kembali ke rumah Echa yang berada di samping rumah Gio.


"Almarhum memiliki harta berupa mobil dan uang," ujar Addhitama. Ya, mereka sedang membicarakan perihal harta yang dimiliki oleh Amanda.


"Itu hak anak-anak dan keluarganya," timpal Genta.

__ADS_1


"Saya tidak mau menerima," ucap Juna.


"Ri, juga tidak mau."


"Iyan juga."


Addhitama dan Genta hanya menghela napas kasar mendengar jawaban dari anak-anak Amanda dan kakak angkat Amanda.


"Permisi, Tuan," ucap salah seorang orang kepercayaan Genta.


"Rumah kontrakan almarhum baru saja mengalami kebakaran."


"Uang itu pun tahu, dia membakar diri dari pada harus jatuh ke orang yang tidak tahu apa-apa. Tetapi, harus menanggung dosanya," kata Juna.


Kepergian Amanda pasti membawa kesakitan yang luar biasa untuk kedua anaknya. Bukan hanya kesakitan, trauma psikis pun pasti mereka dapatkan. Beruntungnya mereka dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi mereka dengan sangat tulus.


Echa menghela napas kasar ketika mengingat kenangan itu. Dia sedih jika mengingat kepergian bundanya yang sangat tragis. Namun, dia melihat secara langsung betapa pedihnya azab Tuhan untuk manusia.


"Semoga Bunda tenang di sana." Echa menunduk dalam dan membacakan Al Fatihah untuk mendiang bundanya. Betapapun jahatnya sang bunda, dia sudah memaafkan semuanya. Meskipun, dia harus mengalami jahitan kembali pasca operasi karena tusukan oleh sang bunda.


Dia melihat ke figura selanjutnya. Matanya nanar melihat tulisan yang ada di dalam figura tersebut.

__ADS_1


Ayah ..


Aku tahu, bertahan dalam kepedihan itu tidaklah mudah. Tetapi, Ayah mampu melakukannya. Meskipun, banyak air mata yang Ayah tumpahkan dalam heningnya malam. Agar aku dan anak-anak Ayah yang lain tidak mengetahui kesedihan Ayah yang sesungguhnya.


Ayah adalah lelaki terhebat yang aku miliki. Menjadi orang tua tunggal pasti sangat sulit. Lagi-lagi, Ayah berhasil melakukannya. Membuatku merasa tetap memiliki orang tua yang utuh. Padahal, pada nyatanya aku hanya memilikimu, Ayah sekaligus Ibu untukku.


Terimakasih atas segalanya. Terimakasih, Ayah. Dampingi aku terus sampai aku bisa membuatmu bangga dengan hasil kerja kerasku.


Aku sangat menyayangimu, Ayah.


Rion tidak bisa berkata apa-apa. Tetesan bulir bening kini membasahi wajahnya. Terharu, itulah yang dia rasakan. Di bawah tulisan itu ditempel foto Rion, Riana, Iyan, Echa, Radit serta para kurcaci yang sedang tertawa bahagia.


Aku membuktikan, hidup tanpa seorang ibu tidaklah memilukan. Malah sebaliknya, hidupku sangat sempurna berada di tengah-tengah kalian semuanya. The real family.


I'm happy with you.


I love you all.


Air mata Echa menetes begitu saja ketika membaca tulisan itu.


"Semoga kita bisa selalu bersama ya,

__ADS_1


__ADS_2