Yang Terluka

Yang Terluka
Istimewa


__ADS_3

Sebuah keistimewaan hadir pada buah hati Rion yang ketiga. Rian Dwi Juanda yang lebih akrab disapa Iyan. Bocah laki-laki ini berbeda dengan bocah pada umumnya. Anak yang selalu diabaikan oleh sang bunda yang lebih fokus kepada sang kakak, Riana.


Kesendirian Iyan membuatnya memiliki dunia sendiri. Ketika dia berumur lima tahun dia memiliki seorang teman bernama Jojo. Setiap kali Iyan bercerita tentang Jojo kepada sang bunda, Iyan selalu dibentak. Pada usia itu Iyan memang belum mengerti apa-apa. Iyan hanya diam ketika sang bunda membentaknya.


"Jo, kenapa Bunda selalu bersikap seperti itu jika aku mau memperkenalkan kamu?" Jojo si bocah laki-laki seumuran Iyan itu hanya tersenyum.


Larangan yang bundanya buat membuat Iyan tumbuh menjadi anak rumahan. Segala aktifitasnya selalu dia lakukan di rumah. Untung saja ada Jojo di sampingnya yang selalu membuat Iyan tertawa dan merasa memiliki teman.


Hinga satu ketika, Iyan ditinggal sendiri oleh sang bunda. Tidak ada makanan di rumah. Hanya mie instan yang tersedia. Mau tidak mau dan bisa tidak bisa Iyan membuat mie. Namun, Iyan meninggalkan wajah berisi air itu ke ruang televisi. Saking asiknya dia lupa tujuan utamanya. Bau kepulan asap menyeruak membuat Iyan berlari ke arah dapur. Kepulan asap hitam di dapur membuat Iyan panik.


"Bagaimana ini?" Takut dan Panik yang sekarang Iyan rasakan.


Tiba-tiba kompor itu mati dan muncullah Jojo dari kepulan asap itu.


"Jangan takut tidak apa-apa." Jojo selalu memberikan kehangatan kepada Iyan.


Kedatangan sang bunda yang tiba-tiba histeris membuat Iyan keluar kamar.


"Kamu apain dapur?" bentak sang bunda pada Iyan.


"Maaf, Bunda. Tadi, Iyan lapar. Ingin buat mie rebus tapi ...."


"Dasar anak nakal." Sang bunda menyeret Iyan ke dalam gudang dan menguncinya di sana.


"Sebagai hukuman."


Iyan tidak bisa membela diri. Ini memang salahnya. Iyan hanya menundukkan kepala. Dia hanya teringat akan kata sang kakak pertama.


Iyan anak laki-laki. Iyan harus kuat, jangan lemah dan cengeng.


"Iyan tidak lemah Kak. Iyan tidak cengeng Kak." Namun, kepalanya dia tundukkan ke atas lututnya. Pundaknya bergetar menandakan di sedang menangis.


Usapan di pundak Iyan membuat Iyan menoleh. Jojo dengan senyum manisnya duduk di samping Iyan.


"Kamu bisa masuk?" Iyan merasa heran.


"Aku bisa menembus apapun." Sebuah kalimat yang membuat Iyan menukikkan kedua alisnya.


"Hanya kamu teman aku, Iyan. Yang bisa melihat aku hanya kamu." Begitulah yang Jojo ucapkan.


"Maksudnya?" Iyan masih tidak mengerti dengan apa yang Jojo katakan.


Jojo menggenggam tangan Iyan. Seketika tubuh Iyan menegang dan kejang-kejang. Dengan penuh kepanikan Rion membawa putra bungsunya ke ruman sakit terdekat dengan amarah yang terus membuncah. Apalagi di rumahnya tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


"Bertahan Iyan. Bertahanlah."


Ketika Iyan masuk ke ruang IGD. Rion menunggunya dengan penuh kebingungan.


"Om, tolong pulang sekarang. Iyan sedangu dalam bahaya di gudang rumah Om."


Sungguh Rion terkejut dibuatnya. Meeting yang seharusnya berlanjut harus Rion akhiri dengan cepat. Hatinya sungguh tidak tenang. Apalagi suara itu mirip sekali dengan suara Iyan.


Tibanya di rumah, Rion segera masuk ke dalam gudang yang terkunci. Dia dobrak pintu itu dan dia lihat tubuh Iyan yang sudah membiru.


Siapa yang tadi menelepon?


"Jojo!" teriak Iyan yang mengagetkan Rion.


"Kamu sudah sadar, Nak." Rion segera memeluk tubuh Iyan.


"Jojo, Ayah. Jojo," ucap Iyan.


"Siapa Jojo?"


"Temen Iyan yang ...."


Dia melihat Jojo yang menutup mulutnya dengan jari telunjuknya. Kepalanya pun menggeleng.


"Iyan," panggil sang ayah.


Mereka seperti manusia biasa di penglihatan Iyan. Hanya wajahnya saja yang pucat pasi. Setelah kejadian itu, mata Iyan semakin tajam. Dia bisa melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat. Itulah yang membuatnya merasa senang di dalam rumah. Semua makhluk tak kasat mata yang ada di rumah sang ayah selalu berkomunikasi dengan baik bersama Iyan. Setiap malam mereka selalu masuk ke dalam kamar Iyan. Berbincang hangat dan bercanda bersama.


Selain Jojo ada satu teman Iyan yang sangat menyayangi Iyan. Iyan selalu menyebutnya dengan panggilan Ibu.


"Bu, kenapa Bunda tidak mau membacakan Iyan dongeng? Padahal Iyan ingin seperti teman-teman Iyan yang selalu dimanja sebelum tidur."


Jika dilihat oleh manusia biasa, Iyan tengah berbaring di sofa. Akan tetapi, bagi Iyan dia tengah berbaring di pangkuan ibu.


"Biar Ibu bacakan dongeng mau?" Wajah Iyan berbinar mendengar ucapan dari Ibu berjubah putih ini.


Iyan terlelap dengan damainya membuat ibu si jubah putih itu tersenyum hangat.


"Jo, dampingi Iyan terus. Ibu akan berjaga di luar menjaga rumah ini."


Jojo mengangguk paham. Si ibu itu sudah menghilang dan sekarang tengah duduk di pohon besar di depan rumah Rion.


Hari-hari Iyan di rumah sang ayah sangat menyenangkan. Hingga dia mendapati kenyataan bahwa dia harus pindah. Semua teman-teman Iyan bersedih. Termasuk ibu.

__ADS_1


"Ibu ikut Iyan, ya. Kita tinggal di rumah Kakak." Dengan cepat ibu itu menggeleng.


"Rumah Ibu di sini, Iyan. Ibu tidak ingin ke mana-mana."


"Tapi, Bu ...."


"Ada Jojo yang akan selalu menemani kamu."


Tangan Ibu mengusap lembut rambut Iyan. Ibu adalah sosok pengganti sang bunda. Dari ibu lah Iyan dapat merasakan kasih sayang yang tulus.


"Iyan, ayo pergi." Radit menyembulkan kepalanya di pintu.


Melihat Iyan menangis, Radit terheran-heran. Dia menghampiri Iyan.


"Kenapa kamu menangis?"


"Ibu tidak ingin ikut dengan Iyan," lirihnya.


Radit segera memeluk tubuh Iyan. Dia mengusap lembut punggung sang adik.


"Ibu? Ibu siapa? Di sini tidak ada orang."


"Mereka ada di sini, Bang." Radit baru mengerti apa yang dikatakan Iyan.


Dia teringat akan mimpi-mimpi Iyan yang selalu menjadi kenyataan. Apalagi Iyan sekarang terlihat semakin terpukul.


"Di mana ibu sekarang?" Iyan menunjuk ke arah belakang Radit. Radit merasa ada hawa yang berbeda. Dan sekarang dia percaya.


Radit membalikkan tubuhnya seperti dia berbicara kepada orang lain.


"Bu, makasih sudah menjaga adik saya. Makasih sudah menjaga rumah ini. Makasih sudah menjadi teman untuk Iyan. Saya tidak bisa melihat Ibu, tapi saya. merasakan kehadiran ibu di sini. Makasih banyak, Bu."


"Abang, Ibu menangis."


"Kalian anak baik."


Seperti ucapan ibu, Iyan hanya didampingi oleh Jojo. Namun, ketika tiba di rumah baru banyak teman baru Iyan yang menyambutnya penuh dengan kehangatan. Sesekali ibu datang menjenguk Iyan. Memastikan jika Iyan bahagia.


"Kakak sangat baik Ibu. Kakak tidak pernah marah. Kecuali, Iyan nakal." Curhatnya pada ibu.


Dari kejauhan ibu berjubah putih, selalu memperhatikan Echa. Hanya ukiran senyum yang ibu berjubah putih itu tunjukkan.


"Wanita yang baik dan tulus."

__ADS_1


Ketika anak-anak Echa lahir, ketiga anak Echa sudah memiliki baby sitter tak kasat mata. Makanya ketiga anak Echa terlihat sangat anteng dan tenang.


...****************...


__ADS_2