
Waktu terus berjalan ke depan. Rasa sedih itu mulai pergi dari hati Echa. Butuh waktu hampir satu tahun melupakan anaknya yang telah pergi untuk selamanya. Tanpa bisa Echa lihat ataupun dekap.
Seminggu lagi Radit dan Echa akan bertolak ke London. Di mana Radit ditugaskan di sana. Radit meminta kepada Echa untuk ikut dengannya. Biarkan rumah megahnya di sini para asisten yang mengurusnya. Usaha praktek, yang baru saja dimulai kembali, Radit percayakan kepada sahabatnya. Serta kafe yang baru mulai ramai ada Firman yang mengurusnya. Kafe tersebut kini bukan hanya milik Radit, tetapi milik para sahabat Radit juga. Firman, Dani serta Lala menanam saham di sana.
"Kamu gak keberatan 'kan?" Radit memeluk istrinya dari belakang ketika Echa menutup koper berisi keperluan mereka.
"Seorang istri wajib untuk mengikuti suami kemana pun dia melangkah." Senyum Radit melengkung dengan sempurna.
Malam ini adalah malam terakhir mereka berada di Canberra. Echa memilih untuk menikmati langit malam di balkon kamar. Dengan tangan Radit yang tidak pernah lepas memeluk sang istri.
"Ini jawaban dari perginya anak kita," ucap Radit sambil meletakkan dagunya di bahu Echa.
Echa mengusap pipi Radit dengan sangat lembut. "Tuhan tidak ingin kita merawat anak kita dalam kondisi berpindah-pindah tempat seperti ini," sambung Echa.
Radit mencium pipi sang istri dengan penuh cinta. Mereka akan memulai kembali kehidupan mereka di negeri yang berbeda. Semoga negeri itu bisa menyempurnakan hidup Radit dan Echa.
Siang hari Radit dan Echa sudah bertolak ke Bandara. Sebelum pergi, ada keharuan yang tercipta di rumah megah milik Radit. Kedua asisten rumah tangganya menangis karena tidak ingin berpisah dengan majikan.
"Ketika kami ada waktu, kamu pasti akan main ke sini," kata Radit.
Tangan Radit tak sedikit pun melepas tangan Echa. Kedua tangan itu saling bertaut bak pengantin baru. Radit terlalu posesif jika sudah mengajak istrinya keluar.
Lama mereka melakukan perjalanan, tiba sudah Radit di apartment yang sudah dia sewa.
"Maaf, apartment-nya kecil." Echa hanya tersenyum.
"Tidak apa, Ay."
Echa hendak merapihkan koper yang berisi barang bawaannya, tetapi dicegah oleh Radit.
"Yang, aku mau mencobanya di sini." Mata Echa membola tak percaya. Sedangkan Radit sudah menyentuh bagian sensitif Echa membuat Echa terbawa suasana.
"Ay." Suara Echa parau menandakan tubuhnya memanas.
__ADS_1
Radit segera membawa tubuh sang istri ke tempat tidur. Bermain-main lagi di sana membuat Echa tidak mampu untuk meladeni rangsangan sang suami.
"Sayang ...."
Ketika sedang berada di puncak kenikmatan, suara ponsel mengganggu mereka berdua. Ingin sekali Radit membanting ponsel milik sang istri . Apalagi yang menghubungi Echa adalah Arya. Jika, menyangkut keluarga, Echa akan segera menjawabnya. Sedangkan Radit hanya berdecak kesal.
"Wih, kayaknya udah proses pengadonan nih," ejek Arya karena melihat tanda merah di leher Echa.
Wajah Echa terlihat sangat malu hingga dia menaikkan selimutnya hingga ke leher membuat Arya tertawa.
"Buat anaknya lebih dari satu. Biar gak jadi bahan rebutan dua kakeknya yang gak mau ngalah," seloroh Arya.
"Siap Om. Udah dulu, ya. Lagi tanggung nih." Kini, Radit yang mengambil alih ponsel Echa. Kemudian mematikannya.
Kegiatan yang harusnya mencapai kenikmatan malah harus terjeda sebentar. Sepasang suami istri ini melanjutkan apa yang seharusnya sudah selesai.
Beda negara beda juga suasana, itulah yang dirasakan oleh Echa. Namun, dia harus bisa beradaptasi. Lagi pula, Echa akan keluar rumah jika bersama Radit. Selebihnya dia hanya berada di dalam apartment.
Malam ini tubuh mereka masih bermandikan keringat karena olahraga berat di ranjang. Echa membaringkan kepalanya di pundak sang suami.
"Kalo aku belum hamil juga, kita proses bayi tabung, ya," ucap Echa.
"Kita berusaha dulu dan tunggu beberapa bulan ke depan. Rahim kamu sehat dan kondisi aku juga sehat. Jika, dalam satu tahun ke depan belum dikasih juga, baru kita program bayi tabung." Echa tersenyum dengan tangan yang melingkar di pinggang sang suami.
Sudah satu tahun lebih pasca keguguran. Namun, Echa belum ada tanda-tanda kehamilan. Siklus menstruasinya pun masih berjalan dengan lancar.
"Yang terpenting kamu makan makanan yang sehat dan olahraga." Radit mengecup kening Echa dengan sangat dalam.
Tiga tahun lebih menikah, belum juga memiliki anak pasti akan menjadi cibiran jika berada di negara +62. Berbeda dengan di negara lain. Mereka seakan tidak peduli dengan sekelilingnya. Hidup masing-masing yang mereka anut. Ada untungnya untuk Echa. Telinga dan hatinya terasa tenang dan damai.
Siang hari yang tidak terlalu panas, Echa menginginkan rujak. Rasa ingin itu sangat tidak biasa. Namun, dia sadar dia sedang berada di negeri orang. Apakah ada tukang rujak di London? Echa memilih untuk diam dan memainkan ponselnya.
Echa hanya bisa menelan air liur ketika melihat makanan-makanan enak. "Sepertinya nikmat," ucap Echa.
__ADS_1
"Apanya yang enak, Sayang?" Suara Radit membuat Echa sedikit terkejut. Radit berjalan ke arahnya dengan senyumannya yang manis.
"Kamu mau makan apa?" tanya Radit sambil mengusap kepala Echa.
"Aku mau rujak," jawabnya.
Radit mengernyitkan dahinya. Tidak biasanya istrinya menginginkan makanan seperti itu.
"Sepertinya susah untuk mencari rujak di sini, Yang."
"Ya, aku tahu," balas Echa melemah.
Radit memeluk sang istri dan membelai rambutnya. "Kita beli bahannya aja, nanti aku yang bikin. Mumpung aku pulang masih siang." Senyum di wajah Echa pun merekah.
Setelah Radit dan Echa sudah siap. mereka menuju toko yang menjual produk makanan Indonesia. Echa terlihat kalap ketika mengambil makanan Indonesia yang ada. Tidak dia lihat harganya berapa, yang terpenting makanan kesukaannya masuk ke dalam keranjang.
Sebagai suami Radit tidak akan pernah melarang. Apalagi istrinya merasa senang. Sekalipun Echa menghabiskan uangnya untuk belanja dia tidak akan mempersoalkan. Kebahagiaan istri adalah nomor satu.
Ketika puas berbelanja dan mereka tiba di rumah, Radit segera mengeluarkan bahan-bahan untuk membuat rujak dibantu oleh Echa.
Mata Echa berbinar melihat bumbu rujak yang penuh dengan biji cabai. Air liurnya ingin sekali menetes.
"Itu pedes banget loh, Yang," ucap Radit.
Di mulut Echa bumbu itu tidak terasa pedas. Malah nikmat sekali. Satu mangkuk sambal beserta satu piring buah habis tak tersisa. Melihat istrinya seperti orang kelaparan membuat Radit menggelengkan kepala.
"Kamu gak makan emang tadi?" Tangan Radit sedang mengelap keringat di kening Echa.
"Udah, tapi akunya malah ingin makan yang seger-seger."
"Ya udah, tapi jangan sering-sering. Nanti lambung kamu sakit," ujar Radit.
...****************...
__ADS_1