
"Sayang.......Arvan mana?" tanya Rendra yang baru saja pulang dari kantor.
"Main sama Oma nya bang..." saut Arsy dari dapur.
Ya setelah menjalani berbagai persidangan keluarga dan juga berbagai perdebatan kecil, akhirnya Rendra dan Arsy tidak di perkenankan keluar dari rumah Dad Ferdi, Dad Ferdi beralasan rumah ini terlalu besar untuk di tinggali Acca, Arra dan sepasang suami istri itu, walhasil Rendra dan Arsy harus tinggal di sana. Arsy sama sekali tak keberatan, begitupun dengan Rendra,dia merasa senang ketika Arsy nyaman di tengah-tengah keluarga nya,Hanya saja Rendra kadang sering menculik istri nya tersebut dan menitipkan Arvan, anaknya pada sang Tante atau Oma nya hanya untuk bisa ber 'honeymoon' kecil-kecil an versi Rendra di apartemen milik mereka.
"Yang.....gak pengen bikin adik gitu buat Arvan?" kata Rendra sambil memeluk Arsy yang sedang sibuk dengan masakannya di dapur.
"Tiap hari juga bikin bang!" saut Arsy dengan entengnya
Sejak kelahiran anaknya, entah mengapa Arsy sedikit berubah, dia tak mudah di perdaya oleh Rendra suaminya, dan tentu saja dia sudah tak sepolos yang dulu, walaupun kepolosan itu masih tetap ada,namun Arsy lebih pintar sekarang bila di akali oleh Rendra.
"Yank... mumpung si resek sama Oma nya!" rengek Rendra dengan tangan yang sudah tidak bisa di kendalikan.
"Iihh Abang!!! kebiasaan deh nyebut anaknya sendiri resek!....gak boleh gitu tau!!"
Rendra hanya tersenyum sambil menciumi pipi sang istri, bagaimana Rendra tidak menyebut anaknya sendiri resek, kalau nyatanya dia memang selalu menganggu Rendra, Bocah berusia dua tahunan itu benar-benar duplikat Rendra dalam segala hal, wajah tampannya, kecerdasan otaknya juga kejahilan nya, semuanya benar-benar turunan dari Rendra.
Pernah suatu ketika, ketika Rendra sedang on fire dan bahkan sudah siap tempur, dengan tidak ada akhlak nya bocah kecil itu keluar dari dalam lemari yang ada di dalam kamar mereka, rupanya dia bersembunyi di sana tanpa sepengetahuan Arsy dan Rendra.
"Papi main apa?" tanya Arvan dengan polosnya.
"Main tuda-tudaan ya? Avan itut ya Pi?"
lanjut Arvan ketika melihat Arsy berada di bawah Kungkungan Rendra, bukannya apa-apa, suster yang membantu Arsy menjaga Arvan, kadangkala menaikkan Arvan ke atas punggung nya dan bergaya layaknya seorang penunggang kuda, untung saja,Arsy selalu meminta bermain di dalam selimut,hingga Arvan tak melihat tubuh polos mereka.
"Aaarghhh Abang!!!!" pekik Arsy yang kepergok anaknya sendiri.
"Sa...sayang....sedang apa di sana?"
__ADS_1
tanya Arsy takut-takut kalau anaknya sampai paham apa yang sedang mereka lakukan.untung juga Arsy dan Rendra tak melakukan pemanasan yang menyita waktu,hingga bisa di pastikan bocah resek itu tak mendengar suara ah..uh...ah...dari mulut kedua orangtuanya.
"Eh resek!! ngapain sih di sini?" ucap Rendra terlihat kesal acara enak-enak nya terhenti karena ulah si resek Arvan, di tambah tampang sok polos yang di pasang Arvan menurut Rendra.
"Avan cuma main petak umpet cama cucter!"
kata Arvan dengan santai nya sambil duduk bersila di lantai.
Rendra diam-diam memakai boxer nya kembali, dengan bersungut-sungut dia duduk bersila di depan Arvan.
"Apalagi sekarang?" tanya Rendra yang tau betul dengan permintaan sang anak.
"Ada lobot balu kapten amelika....Avan mau beli" kata bocah kecil itu.
"Perasaan kemarin baru di beliin om Wahyu!"
kata Rendra yang ingin segera mengusir anaknya itu, bukan apa-apa hanya saja Mr Phoenix masih pusing karena belum memuntahkan laharnya.
"Ya...ya...nanti Papi beliin, udah sana tidur, besok biar bisa bangun pagi buat beli robot! Ayo...papi anter ke luar."
"Papi gak pintel! Mall itu buka ciang Pi, jadi Avan tidul malam gak papa" saut si anak resek tersebut.
"Iya...ya...."
Rendra mengambil kaosnya kemudian mengendong anaknya dan berlalu ke pintu kamar nya, ketika membuka pintu ada seorang suster yang tengah menunggu dengan mondar-mandir di depan pintu.
"Tu-tuan muda" sapa si suster dengan takutnya.
"Lain kali kalau di ajak Arvan main petak umpet malam-malam di tolak!! kenapa kalian selalu kalah dari anak yang batu berusia 2 tahun itu!!"
__ADS_1
kata Rendra sambil menyerahkan Arvan ke tangan suster, dia juga tak sadar kalau dia sering kalah dari si anak resek tersebut.
"Papi jangan lupa lobot nya ya..." kata Arvan dengan berbinar.
"Iya sayang....sudah tidur dulu, besok papi beliin!"
Dan begitulah Rendra dan Arvan, walaupun mereka saling menyayangi namun tanpa kejahilan Arvan, Rendra pun merasa sepi, walaupun tak jarang kejahilan anaknya membuat Rendra darah tinggi, begitu pula dengan kejahilan Rendra pada sang anak yang juga sering membuat Arvan nangis guling-guling.
Seperti sekarang ini, Arvan yang katanya di asuh sang Oma nyatanya sudah berada di depan kedua orang tua nya.
"Papi!!! jangan cium-cium Mami Avan!!" teriak Arvan.
"Apa?? ini milik papi, mau Papi ciumi sampai puas!" goda Rendra.
"Huwaaaaaa.... ini Mami Avan!!! ini Mami Avan!!"
teriak Arvan sambil memeluk kaki Arsy,. sedangkan Rendra seolah berusaha memisahkan Arvan dari kaki Arsy, sambil terus menyebut bahwa Arsy adalah miliknya.
"Re....bisa tidak kamu mengalah sama Arvan!! kebiasaan!!" ucap Mommy Raisya yang melihat perdebatan ayah dan anak itu.
"Apa sih Mom! lucu tau!" ucap Rendra dengan entengnya.
Sedangkan Arvan sudah menangis sambil berguling-guling di lantai, dan begitu kebiasaan Arvan untuk meraih simpati orang-orang yang ada di rumah itu ketika di jahili Papi nya sendiri.
Dad Ferdi yang baru saja masuk ke rumah di buat bingung dengan cucu dan anaknya.
"Oh Tuhan drama apa lagi ini?" gumam Dad Ferdi.
"Drama perebutan kekuasaan atas nama Arsyila Dad!! kebiasaan anak dan ayah itu!! selalu saja tak ada yang mau mengalah!!" ucap Arra yang juga baru datang.
__ADS_1
bersambung