Birendra

Birendra
Generasi Baru


__ADS_3

Liburan yang panjang telah usai,dan mereka siang ini akan meninggalkan kampung di mana Kakek dan nenek Kian berada, sejak tadi Kian sudah berada di dekapan sang nenek, maklum saja Kian adalah cucu pertama mereka, waktu dua Minggu rasanya sangat singkat untuk mereka bercengkrama bersama.


"Nanti nenek ke rumah Kian kan?" tanya Kian sambil membalas pelukan neneknya.


"Iya....pasti....kapan pa kita ke sana?" tanya nenek Mira.


"Dua bulan lagi, kan kita waktu nya kontrol ma" saut sang suami.


"Tuh dengar....dua bulan lagi nenek ke rumah kamu" kata sang nenek,dan wajah Kian nampak berbinar.


"Siap!!!" jawab Kian dengan penuh semangat.


Sedangkan di samping pintu, Dewo sedang bersandar sambil melihat mereka yang sebentar lagi akan berangkat. Dewo nampak beberapa kali menghapus air mata nya.Dia tak rela kalau teman-teman nya pulang ke kota.Arvan mendekati Dewo, menepuk bahu teman barunya itu, Dewo bukannya berhenti menangis, malah semakin kencang.

__ADS_1


"Udah dong Wo, gitu aja cengeng! ntar kalau udah besar, kamu nyari kita aja di kota! pasti deh kita bakalan ketemu lagi!'' kata Faash yang ikut menenangkan Dewo.


"Iya Wo, ntar kalau kamu udah besar, bisa deh jadi asisten aku!" kata Arvan


"Kenapa hiks....gak sekarang aja jadi asisten kamu hiks...." saut Dewo.


"Yeeee...... warisan Papa aku belum di bagi!" kata Arvan dengan kesal, Arvan merasa Dewo sangat bodoh, apa perlunya kecil-kecil punya asisten. Nanti kalau dia sudah di ijinkan memimpin perusahaan sang Papi, baru bisa cari asisten, begitu lah pikir Arvan. Drama keempat Bocil itu benar-benar menguras emosi Tarjo, apalagi karena ulah mereka jam kepulangan mereka harus terundur. Belum lagi Dewi,kakak Dewo yang sedari tadi menampilkan wajah sendu nya di hadapan Tarjo.


"Mas Tarjo, gak pengen gitu ngasih kenang-kenangan sama Dewi?" tanya Dewi dengan wajah sendu nya, sungguh dia tak rela Tarjo pulang ke kota.


"Masa' gak ada sih mas?" tanya Dewi sedikit merengek.


"Sumpah ya... pengen gue jitak aja ni cewek!!!" batin Tarjo menjerit dengan wajah yang sudah di penuhi emosi.

__ADS_1


"Sabar Jo.....jangan terlalu benci! benci dan cinta cuma terhalang setipis tisu, kalau kena air sedikit saja .... tisu nya bisa luntur" bisik Budi,yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Tarjo


"Mas Jo" panggil Dewi lagi, kali ini bahkan Dewi sudah berada di depan Tarjo.


"Oh Tuhan!!! Dewi!!! minggir!!" bentak Tarjo karena kaget tiba-tiba Dewi sudah ada di hadapannya.


"Mas Tarjo ih....bikin kesel!!" kata Dewi, dia benar-benar bersikap seolah seperti pacar yang akan di tinggal merantau pacarnya.


"Ayo anak-anak masuk!" perintah Tarjo,tanpa mempedulikan Dewi yang cemberut.


Sedang kan Dewo masih terisak di dekat Faash,Bahkan Arvan merelakan gadget miliknya agar Dewo bisa diam dari tangisan nya. begitu banyak foto yang di ambil oleh mereka yang berada di penyimpanan data di dalam gadget tersebut,Arvan bilang, Dewo bisa melihat foto-foto kebersamaan mereka dari situ.


Akhirnya Tarjo dan kawan-kawan pergi meninggalkan kampung Kakek Sakti, dengan drama tangisan nenek Mira yang berpelukan dengan Dewi, tentunya tangisan mereka berbeda, Dewi karena merasa kehilangan Tarjo, sedangkan nenek Mira yang belum puas bercengkrama dengan sang cucu.Dan Dewo memegang erat gadget peninggalan mereka, mulai sekarang Dewo berjanji gak akan nakal lagi, berjanji akan menjadi juara kelas dan menyusul ketiga temannya ke kota, meraih kesuksesan di sana.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2