
Berita tentang kecelakaan yang menimpa Acca dan Bram serta Roy, sudah sampai ke telinga Rendra. Rendra merasa tak terima dengan kabar dari Roy yang mengatakan bahwa Bram terluka tembak di dadanya.Bagaimapun juga, Bram adalah orang kepercayaan nya, tidak ada yang lebih dia percayai selain Bram.
Rendra bingung harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Ayah Bram, Rendra hanya takut bila tak menyampaikan berita ini pada ayah Bram, Rendra takut terjadi sesuatu kepada Bram, bisa saja Bram kehilangan nyawanya dan Rendra akan mengalami penyesalan yang cukup dalam bila ayah Bram tidak mengetahui keadaan anaknya.
"Aku akan segera kesana Roy,kau urus segalanya dan kerahkan orang-orangmu untuk mencari begal-begal tersebut, aku yakin sekali ada dalang dibalik semua ini!"
kata Rendra saat Roy menelponnya.
"Baik tuan Rendra, saya akan melakukan nya!" saut Roy sebelum akhirnya mematikan sambungan teleponnya.
"Ada apa Re?" tanya Dad Ferdi yang kebetulan sedang berkunjung ke perusahaan Rendra.
__ADS_1
"ada yang mencoba menyerang Acca Dad, dan kebetulan Bram menjadi korbannya,dia tembak di bagian dadanya Dad, aku harus segera kesana untuk memastikan semuanya!" kata Rendra terlihat sendu.
"Semuanya akan baik-baik saja!! Daddy percaya padamu!" kata Dad Ferdi
Dan akhirnya membiarkan Rendra pergi ke kota di mana Bram, Acca dan Roy di serang.Rendra mempersiapkan diri untuk menyusul Acca, Rendra juga membawa beberapa anak buahnya agar bisa melacak keberadaan begal-begal tersebut dan juga dalang dari penyerangan terhadap Acca dan Bram, saat ini otak jenius Hendra hanya berpikir bagaimana bisa begal seperti mereka berbuat nekat dengan menembak Bram kalau bukan ada orang yang menyuruh atau ada dalang dibalik semua peristiwa itu.
Di rumah sakit, seluruh keluarga nya belum juga datang.
"Gak....aku mau di sini!" tegas Acca.
"Tapi Nona.."
__ADS_1
"Sudahlah Roy....aku akan menunggu nya di sini sampai dia sadarkan!"
Akhirnya Roy membiarkan Nona nya duduk di kursi tunggu di depan ruang ICU.Acca benar-benar berharap Bram bisa tersadar dari koma sementara nya. Entah mengapa lelaki datar dan kaku yang selalu menempel padanya tersebut seakan membuat hati Acca jungkir balik. terkadang Acca sungguh sangat membenci keberadaan Bram yang ada di sampingnya selalu namun melihat ketidakberdayaan Bram kali ini Acca merasa iba dan bersalah,seharusnya Acca yang mendapatkan tembakan itu bukan Bram.
"Bram ayo bangun!" ucap lirih Acca melalui kaca ruangan tersebut.
Acca segera berlari ke depan kamar ICU ketika melihat seorang dokter keluar dari sana,dia menanyakan bagaimana keadaan Bram, Bram mengalami luka tembak di dada bagian kirinya, tepatnya di sebelah jantung, untung saja peluru tersebut tidak bersarang di bagian vital tubuh Bram, namun demikian Bram masih mengalami masa kritis, Acca meminta ijin untuk duduk dan menemani Bram di dalam, dokter sebenarnya tidak mengijinkan, namun dengan berbagai alasan akhirnya Acca di ijinkan masuk dan menemani Bram.
"Bram...bangun! aku janji gak akan nakal lagi hiks......aku janji akan menuruti semua perkataan mu!" ucap lirih Acca sambil memegang tangan Bram. Sayangnya Bram tak bisa merespon apapun yang di katakan oleh Acca, hingga akhirnya Acca hanya bisa menangis dan menatap iba pada Bram.
"Aku janji aku nurut pada mu Bram, jadi aku mohon...bangunlah!!"
__ADS_1
bersambung