Birendra

Birendra
Mencoba mendapatkan restu


__ADS_3

"Saaaayaang..... bagaimana ini?? lihat Arvan!!"


Teriak Rendra ketika melihat popok Arvan penuh dengan poop bayi tersebut, bahkan ada sebagian yang keluar dari wadahnya.


"Ntar bang.....aku sedang sakit perut!" balas Arsy sambil berteriak juga dari dalam kamar mandi.


"Hah!?!!!" helaan nafas Rendra jelas terdengar.


"Kenapa anak dan emak sama-sama poop sih!!" gerutu Rendra


"Okey Van sayang!!! kita tidak akan menunggu Mami,Papi akan berusaha mengoperasi mu!"


kata Rendra sambil berpikir bagaimana cara melepas popok dan mengganti yang baru.Rendra meninggalkan Arvan kecil sebentar untuk mengambil peralatan yang di gunakan untuk menggantikan popok sang anak. Dan Rendra kembali dengan sarung tangan dan masker di wajahnya.Dan tidak lupa popok baru serta tisu basah yang sering di gunakan Arsy untuk membersihkan Arvan.


"Kita mulai baby Van!" kata Rendra.


Rendra mulai membuka, popok bayi yang penuh tersebut, namun beberapa detik, dia merasa mual dan ingin muntah, apalagi bau khas nya membuat Rendra benar-benar harus ekstra kerja keras dan bahkan menahan nafasnya, bukannya bersih poop nya bahkan sudah sampai tercecer ke beberapa bagian.


"Aaaarrggghhh Aaar!!!! bagaimana ini!!" teriak Rendra, spontan mendengar teriakkan sang Papi, baby Van menangis, Rendra semakin panik di buatnya.Arsy segera keluar dari dalam kamar mandi dan betapa kagetnya Arsy melihat Rendra menenteng popok bekas Arvan dengan gaya seperti seorang dokter yang keluar dari ruang operasi dengan sarung tangan dan masker yang mentereng di wajahnya, hal itu sontak membuat Arsy geleng-geleng kepala.


"Abang apain baby Van?" ucap Arsy yang melihat Arvan yang masih kotor.


"Ini gak bau bang! anak umur belum satu bulan, kalau poop gak bau, apalagi baby Van kan cuma nyusu ke aku" lanjut Arsy melihat gaya sang suami.

__ADS_1


"Masa' sih yank?"


kata Rendra sambil membuang foto bekas Advan ke tempatnya kemudian melepaskan sarung tangan dan membuangnya juga seketika disana membersihkan Advan yang baru saja menggantikan dengan popok yang baru kemudian mengganti beberapa alas kasur yang dibuat kotor oleh Rendra.


"Sini biar abang yang bawa ke bawah!" kata Rendra sambil mengambil Arvan dari tangan Arsy.


"Abang gak ngantor?" tanya Arsy yang mengekor Rendra


"Bentar lagi yank, aku rasanya gak pengen jauh dari jagoanku ini" kata Rendra sambil mengecup pipi gembul sang anak.


Kegiatan Rendra setiap pagi bertambah setelah lahirnya sang buah hati, kalau biasanya dia akan sangat pagi berangkat ke kantor, kini Rendra mulai mengikuti jam kerja kantor seperti pada umumnya, di pagi buta dia akan sibuk dengan anaknya yang terbangun di jam 4 pagi, Rendra hanya terbaring diam di samping sang anak yang sudah terjaga, dan bayi itu hanya diam atau kadang mengeliat pelan.


Di sebuah restoran cukup besar.


"Ngapain sih kamu ngikutin mulu'?" tanya Arra yang sedari tadi di ikuti oleh Wahyu.


"Mau di masakin apa? biar aku masakin spesial buat kamu hari ini" kata Wahyu,


ya memang benar itu adalah restoran besar milik keluarganya Wahyu.Wahyu yang awalnya tidak berniat untuk kuliah S1 jurusan tata boga, pada akhirnya di usianya yang menginjak ke-20 tahun Wahyu baru mendaftarkan kuliahnya,Wahyu memang 1 tahun lebih tua dari pada Arra, dia harus menempuh sarjana S1 karena permintaan keluarga untuk meneruskan bisnis restoran, restoran mereka yang berada di pusat kota dan beberapa cabang di luar kota,kebetulan Wahyu pun juga hobi memasak sehingga hal itu tak mempersulit Wahyu untuk kuliah dan sekaligus mengelola restoran milik keluarga mereka.


"memang aku boleh ikut masuk ke dapur?" tanya Arra terlihat antusias.


"mau ikut?mau melihat Abang memasak?" tanya Wahyu.

__ADS_1


"Abang terlihat seksi kalau sedang memasak!" bisik Wahyu.


Arra terlihat tersipu malu,beberapa waktu ini memang Wahyu sedang mendekati Arra, dengan mencoba berbagai trik untuk bisa mendapatkan Arra sebagai kekasihnya,Wahyu memang sering menggoda gadis-gadis yang ada di sekitarnya, namun dia hanya menggodanya saja tanpa berniat untuk memiliki gadis-gadis tersebut, tapi dengan Arra rasanya berbeda, seringkali melihat Arra tersenyum membuat detak jantungnya semakin kencang, karena itu Wahyu sering menutupinya dengan godaan godaan kecil terhadap Arra, Wahyu sedang mencari waktu yang tepat untuk menembak Arra atau lebih tepatnya menyatakan perasaannya pada Arra dan menjadikannya kekasihnya, tentu saja dia sekarang ini dalam tahap terbaik baik terhadap Rendra dan juga mengambil hati Dad Ferdi agar dapat mendapatkan Restu bisa berpacaran dengan Arra gadis incarannya.


Meninggalkan Wahyu yang terlihat kurang satu langkah lagi untuk memikat hati Arra,Eno kini nampak berdiri di samping Celia yang sedang duduk di samping ayahnya, Eno memberanikan diri untuk bertegur sapa dengan pak Rudi Ayah Celia.


"Ayah sudah mendingan?" tanya Celia pada Ayah nya.


Ini adalah hari terakhir Celia cuti, dan pak Rudi juga sudah terlihat lebih segar dari sebelumnya. Hampir 4 hari di sana, Eno belum secara resmi memperkenalkan dirinya pada pak Rudi ayah Celia,namun di hari terakhirnya di kota tersebut, Eno ingin meminta secara langsung kepada pak Rudi untuk menjaga Celia dan merestui perjalanan ini untuk mendapatkan hati Celia.


"pak Rudi izinkan saya berbicara apakah bapak tidak keberatan?" tanya Eno tiba-tiba.


"Nak Eno? apa yang hendak nak Eno katakan?" tanya pak Rudi,


Entah mengapa Celia terlihat begitu gelisah melihat wajah serius Eno,beberapa hari bersama Eno, Celia bisa melihat bahwa Eno sangat tulus kepadanya, tulus membantunya serta menemaninya menjaga sang ayah, apakah pertahanan hati Celia sudah runtuh?entahlah namun Celia merasa nyaman beberapa hari ini bersama dengan Eno.


"Pak kenalkan nama saya Valeno Dawson,maaf baru bisa memperkenalkan diri secara resmi dengan anda pak Rudi"


Pak Rudi nampak menunggu terusan dari kata-kata Rendra.


"Bolehkah saya melamar anak bapak?" kata Eno dengan tegas dan sopan tentu nya.


"Saya janji! akan selalu membahagiakan anak bapak! yang ada di samping saya ini!" lanjut Eno.

__ADS_1


"Tolong restui kami!"


bersambung.....


__ADS_2