
Arvan keluar kamar dengan tergesa-gesa, dia sedari tadi tak menemukan Aluna di setiap sudut kamar nya, bahkan dia sudah mengelilingi rumah sang Papi, namun Arvan memang belum bertanya pada para pelayan ataupun sang mami. Bahkan jam dinding menunjukkan pukul 9 malam, Namun Aluna tidak terlihat batang hidungnya. Arvan memang pulang malam, dia harus bertemu dengan kliennya dan menemani sang klien makan malam bersama asisten nya, serta membahas beberapa poin kerja sama mereka, Karena sang klien harus bertolak ke luar pulau malam ini juga, hingga pertemuan mereka tak bisa di tunda sampai besok.
Arsy nampak heran dengan ketika anak-anaknya, mereka terlihat uring-uringan sendiri sedari tadi. Arvan yang tiba-tiba kehilangan istri nya yang tak kunjung datang, pasalnya, Aluna tak pernah sekalipun pulang malam, dia akan selalu bekerja di jam 5 sore, jadi menurut Arvan ini sangat tidak biasa ,ketika tak mendapati Aluna di rumah di jam 9 malam. sama halnya dengan Thisa, dia sedari tadi mengutak-atik ponselnya sambil bergumam tidak jelas, namun lain dengan Thika yang terang-terangan merajuk pada sang Papi.
"Pi..... bilang Opa dong! kalau Thika gak mau di jodohkan sama cowok slengean itu!!" pinta Thika.
"Kenapa gak Thisa aja sih??" lanjutnya.
"Eh gak ada ya!!! aku udah punya pacar! kamu aja tuh yang masih betah jomblo!" saut Thisa tak terima.
"Pacar dari mana??!!! emang dia mau kamu akui jadi pacar??" saut Thika dengan nada mengejek.
Thisa nampak berdecak tak suka, Sedangkan Rendra sudah memijit pelipisnya sendiri,pusing memikirkan ketiga anaknya itu. Arvan terus berusaha menelpon sang istri, namun lagi-lagi, hanya suara operator yang dia dengar.
__ADS_1
"Mi, memang pesenan banyak ya?" tanya Arvan, dia terlihat tak suka jika sang istri terlalu banyak bekerja.
"Hmmm.... Mami belum ngecek toko, harusnya sih hanya tadi pagi, itupun siang sudah harus di anter! kamu gak nyamperin ke toko?" tanya Arsy dengan santainya.
Aluna memang senang bekerja, dia paling rajin dulu ketika belum jadi mantu Arsy, jadi Arsy berpikir mungkin saja Aluna sedang berada di toko dan mempersiapkan sesuatu.
"Arvan gak mau ya, kalau Luna kecapean!! besok harus di hentikan dia!!" ucap Arvan sambil berlalu menuju kamar, dia hendak mengambil jaketnya dan menyusul sang istri ke toko.
"Eh....jangan gitu Ar, dia suka bekerja!! jangan kekang dia!" teriak sang Mami ketika melihat anaknya beranjak dari ruang keluarga.Namun langkah Arvan terhenti ketika mendengar suara Rendra, Papi nya.
"Ada apa Pi? apa ada masalah dengan perusahaan?" tanya Arvan pada sang papi sesampainya di ruang kerja Papi nya.
"Kamu belum menyadari nya juga?" tanya Rendra.
__ADS_1
"Maksud Papi?" tanya Arvan balik.
"Kita sebagai lelaki harus lebih peka Ar, apa kamu tak menangkap gelagat aneh Luna beberapa hari ini?" tanya Rendra, dan Arvan masih belum paham.
"Ar.... Luna sama dengan Mami mu, dia berasal dari kalangan biasa, bukan seperti kita....bahkan mereka sama-sama di paksa menikah dengan kita...." kata Rendra.
Akhirnya, Rendra menceritakan bagaimana kehidupan rumah tangga nya di awal pernikahan dengan Arsy, Arsy yang dari kalangan biasa bahkan berniat bercerai darinya bila Rendra sudah menemukan tambatan hati kala itu, kepolosan Arsy yang membuat Rendra jatuh cinta, namun gengsinya membuat Rendra hampir kehilangan Arsy.
"Mami bahkan pernah meninggalkan rumah kala itu Ar, semuanya karena kebodohan Papi" ucap Rendra di akhir cerita nya.
"Eh mau kemana?" tanya Rendra ketika melihat Arvan berlari ke luar ruangan.
"Mengejar cinta ku Pi!!!"
__ADS_1
bersambung