Birendra

Birendra
Farel dan Kamilaa


__ADS_3

Farel menatap Mila,dimana mereka masih sama-sama memegang berkas di masing-masing ujung berkas tersebut.


"Kau benar-benar akan menikah?" pertanyaan Farel meluncur begitu saja.


"Ya.....jadi lepaskan Rel!" jawab Mila, terdengar ambigu.


karena tak juga melepaskan berkasnya,Mila terpaksa menariknya.


"maaf karena aku segera pergi!! selamat tinggal Farel...!!"

__ADS_1


ucap Mila sambil berlari berlalu menuju ke pintu apartemen dan membuka pintu apartemen dan menutupnya segera,Farel hanya terdiam sambil memandang punggung wanita yang sangat dicintainya keluar dari apartemennya,hari ini dia harus merelakan Mila, benar-benar merelakan dia,karena Mila sebentar lagi akan menikah,keberaniannya benar-benar tidak ada, dia benar-benar menjadi seorang lelaki pengecut, Namun Farel merasa ini adalah hal yang harus dilakukan,dia harus merelakan perasaannya karena nyatanya kasta mereka tak pernah sama.Farel tiba-tiba lemas, kakinya seakan tidak bisa menopang berat tubuh nya.Ingin rasanya dia menangis dan mengejar Mila, dia tau pasti bila sedang menangis di balik pintu apartemen nya.


"Maafkan aku Mila..... maafkan aku!!! aku memang pengecut!!! aku memang pengecut!!" ucap Farel lirih, airmata nya tak lagi bisa di bendung.Dia sakit? tentu saja!! tapi sekali lagi Farel harus sadar diri, setidaknya itulah yang ada di pikirannya saat ini.


Di luar apartemen, Mila berjalan dengan tatapan kosong, air mata yang sedari tadi ditahan nyatanya tak bisa lagi dia tahan, Mila menangis sepanjang jalan menuju lift apartemen milik Farel,dia benar-benar hancur! lelaki yang dicintainya ternyata begitu pengecut,entah marah,entah kecewa, entah apapun yang di rasakan hatinya saat ini yang pasti dia hanya ingin menangis.


"Daddy....hiks.....hiks......!!"


Dan disinilah Mila sekarang...

__ADS_1


"Hiks....hiks.....hiks.....!"


Hanya tangisan Mila yang di dengar Dad Ferdi,bahkan itu sudah berjalan setengah jam yang lalu.


Dad Ferdi hanya menepuk punggung,gadis yang sudah dianggap anaknya sendiri bahkan sebelum si triple B hadir di dalam kehidupan Dad Ferdi.Dia tau Mila pasti sedang mengalami hal yang cukup berat, pasalnya Mila yang ceria dan kadang kala slengean bisa terlihat hancur seperti ini, hati Dad Ferdi ikut sakit dengan apa yang di lihatnya sekarang,tapi Dad Ferdi lebih memilih diam dan membiarkan Mila membuka ceritanya sendiri nanti, tentunya setelah Mila selesai menangis, Beberapa saat kemudian, tangisan Mila reda, namun dia malah tertidur beralaskan paha Dad Ferdi sebagai bantal nya.


Perlahan Dad Ferdi mengganti pahanya dengan bantal sofa, dia berjalan menuju ke meja kerjanya, rasanya dia sangat tak rela melihat anaknya menangis, lama dia memandang Mila sebelum mengambil gagang telepon kantor nya.


"Selidik apa yang terjadi pada anakku Kamilaa!! semuanya!! aku ingin tau semuanya!!" kata Dad Ferdi pada si penerima telepon yang tak lain adalah orang kepercayaan nya, aura gelap seakan mengitari lelaki yang tidak lagi muda itu.

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2