Birendra

Birendra
Extra part (Kisah Baru) 44


__ADS_3

Aluna berulang kali mengedipkan mata melihat sebuah berkas di tangannya, dia rasanya tak percaya dengan apa yang dia lihat.Arvan hanya tersenyum tipis melihat wajah heran dan polos sang istri, Arvan memutar badannya dan sekarang berdiri di belakang sang istri. memeluk erat pinggang Aluna. Arvan benar-benar sudah memikirkan masak-masak apa yang dia lakukan saat ini.


"Bagaimana? kamu suka?" tanya Arvan yang meletakkan kepalanya di bahu sang istri.


"Lalu Mas Hari, Bu Karjo, Bu Henny... bagaimana dengan rumah mereka Mas?" tanya Aluna bingung.


Bagaimana Aluna tidak bingung, sekarang ini dia sedang memegang sertifikasi rumah mereka bertiga, rumah Bu Karjo dan Bu Henny yang berada di samping kiri rumah Aluna sekarang sudah di beli Arvan, dan di sebelah kanan ,ada rumah mas Hari dan sebuah lahan kosong. Arvan benar-benar ingin mewujudkan impian sang istri yang ingin hidup di komplek sederhana, Namun Arvan yang tak bisa hidup terlalu sederhana, memutuskan memperlebar rumah mereka, walaupun dengan konsep rumah yang tak terlalu mewah, Arvan akan membangun rumah yang cukup luas dengan pekarangan terbuka tanpa pagar, dan bahkan dia sudah memutuskan untuk mempekerjakan beberapa satpam yang akan menjaga di pintu masuk komplek dan di pekarangan rumah nya akan di bangunan sebuah pos satpam, tentu saja atas persetujuan warga sekitar.


"Mereka bertiga sudah pindah di ujung sana sayang, Masih satu blok kok, tapi ada dua lahan kosong dan satu rumah yang kebetulan di jual, nah di sana mereka akan pindah.....bagaimana hebat kan suamimu" kata Arvan membanggakan diri. Aluna hanya tersenyum sambil menolehkan kepalanya.


"Iya....iya... suamiku memang hebat!" saut Aluna pada akhirnya.


"Nah...karena rumah ini harus di bongkar, kita pindah ke rumah Mami, gak masalah kan?" tanya Arvan.


"Atau kita ngontrak dulu?" lanjutnya, Namun wajah Arvan sangat bisa di baca oleh Aluna, dia terlihat benar-benar ingin kembali ke rumah sang Mami.

__ADS_1


Aluna tertawa kecil melihat ekspresi wajah sang suami.


"Baiklah mas, kita tinggal di rumah Mami saja sementara ini,okey?" kata Aluna.


"Beneran sayang?" rasanya Arvan tak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Iya....aku sudah tidak sabar ingin belajar masak dari Mami " kata Aluna melepaskan tangan Arvan dari perutnya. Kemudian dia mengambil tas tangannya dan hendak berlalu keluar rumah tersebut.


"Eiitt....mau kemana sayang...." tiba-tiba Arvan menarik tangan Aluna.


"Kita bikin anak dulu di sini, sebagai kenang-kenangan sebelum rumah nya di roboh kan" ucap Arvan dengan santainya, hal itu membuat Aluna membelalak kan matanya seketika, dasar otak mesum Arvan memang tak tau waktu.


"Tapi Mas! aku sudah......" ucap Aluna coba menjelaskan, namun omongan nya terpotong Arvan.


"Tidak ada penolakan sayang.....aku mau pake gaya baru! aku baru saja mengamati gaya baru nya!" saut Arvan, lagi-lagi dengan santainya dia menjelaskan pada sang istri.

__ADS_1


"Tapi Mas... denger kan aku dulu...aku sudah..." Aluna tetap menolaknya.


"Apa lagi sayaaaaaang" rengek Arvan persis seperti anak kecil minta di beli kan mainan.


"Luna sudah mengundang aku ke sini!!! enak aja mau enak-enak an pakai gaya baru!!" saut Kian yang sedari tadi ada di teras bersama Kiara.


"Hah??? ngapain loe kemari?? ganggu pengantin baru aja!!" ucap Arvan tak suka, sudah pasti dia tak akan mendapat jatah nya kali ini.


"Mau belajar gaya baru dari loe!! sekalian praktek juga boleh!!" ucap Kian.


"Praktek?? emang udah boleh?" tanya Arvan.


"Boleh gak Kiara? praktek gaya baru?" tanya Kian pada Kiara.


"Ehh...gaya baru apa?" tanya Kiara dengan polosnya, dia benar-benar tak tau apa yang di maksud Kian, Sedangkan sepasang pasutri di samping nya hanya bisa menepuk jidatnya masing-masing melihat kejahilan Kian.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2