
Eno dengan percaya diri berdiri disampingnya pak Rudi yang sedang terbaring di ranjang rumah sakit tersebut.Pak Rudi nampak menunggu terusan dari kata-kata Rendra.
"Bolehkah saya melamar anak bapak?" kata Eno dengan tegas dan sopan tentu nya.
"Saya janji! akan selalu membahagiakan anak bapak! yang ada di samping saya ini!" lanjut Eno.
"Tolong restui kami! saya meminta dengan sangat agar saya bisa menikahi Celia, putri bapak!" kata Eno lagi.
Pak Rudi melihat ke arah Celia sejenak, dia bisa melihat wajah panik Celia dan tentu saja bercampur dengan wajah gugupnya, nampak dari remasan tangan Celia yang terlihat beberapa kali di mata pak Rudi.Pak Rudi memandang lekat anak sulung nya dari pernikahan pertama nya dulu, wajah yang mirip dengan mendiang istri pertamanya dulu, sungguh pak Rudi tak menyangka bahwa anaknya sekarang sudah tumbuh menjadi wanita yang dewasa, bahkan sudah ada seorang pemuda yang terang-terangan melamarnya di depan pak Rudi sendiri.
"tentu saya sangat bahagia ketika ada seseorang yang minta anak saya untuk jadikan pendampingnya,namun apapun itu keputusan tetap ada di tangan Celia, saya hanya bisa merestui hubungan anak saya dengan siapa saja, dengan pemuda pilihannya sendiri,karena hanya itu yang bisa saya berikan untuk anak saya, jadi,saya akan menerima lamaran ini jika memang Celia menerima juga" jawab pak Rudi panjang lebar.
tiba-tiba saja Eno mengeluarkan sesuatu dari sakunya dan dia berlutut didepan Celia,Celia yang tengah duduk di kursi itu langsung berdiri karena kaget, Eno memang sudah mempersiapkan cincin yang akan dijadikannya untuk melamar Celia bila perjuangan cintanya diterima oleh Celia, bahkan Eno membawa kemanapun dia pergi,Eno tidak mau berpacaran terlalu lama dengan Celia,rencananya memang jika Celia menerima cintanya maka Eno akan segera melamarnya dan akan segera mempersiapkan pernikahan mereka.
"Celia,Aku tahu aku bukan lelaki sempurna, bahkan mungkin aku bukan lelaki yang menjadi idaman mu, tapi disaksikan oleh keluargamu sekarang, Celia aku meminta padamu,maukah kau menikah denganku Celia?"
__ADS_1
tanya Eno sambil berlutut dan menyodorkan kotak cincin itu di depan Celia.Celia yang merasa terharu dengan apa yang dilakukan oleh Eno hanya bisa menutup mulutnya dengan telapak tangannya,dia merasa dihargai oleh Eno karena Eno meminta Celia tepat di depan orangtuanya, tepatnya di depan keluarganya. pertahanan Celia luluh juga, Celia yang awal nya tidak mau berhubungan dengan Eno, kini tak bisa membendung rasa haru dan bahagia nya ketika Eno dengan sangat berani melamarnya tanpa memperdulikan status sosial keluarga mereka yang berbanding terbalik, Celia bahkan sudah menangis menatap Eno yang masih berlutut di depannya, Celia menghapus air matanya pelan kemudian menyadarkan tangan kirinya untuk dipasangkan cincin oleh Eno tanda dia menerima lamaran dari Eno dan Bu Mala, Cindy serta pak Rudi ikut tersenyum bahagia ketika melihat Celia menerima Eno.
"Ya aku terima"
ucap Celia sambil menangis. Eno yang mendengarnya langsung mengambil cincin dari tempatnya dan memasukkan ke jari manis Celia dan secara spontan dia mengangkat Celia dan memutarnya sambil terus tertawa, dia bahkan lupa kalau dia berada di ruang rawat pak Rudi sang calon mertua.
"lepasin Eno!! aku bisa jatuh nanti!!lepaskan! Apa kau tidak malu ada ayah di sini!" kata Celia memperingatkan Eno, seketika ia tersadar mereka masih ada di ruang rawat pak Rudi.
"hehehe Maaf pak Rudi, Aku sangat senang mendengar jawaban dari anak bapak, sudah sangat lama aku mengejar dia, namun dia selalu saja tidak menghiraukan ku bahkan cenderung mengabaikannya" terang Eno.
mereka akhirnya terlarut dalam cerita bersama, Bu Mala Cindy dan juga Celia sudah tak canggung lagi untuk berinteraksi,selama ini memang Celia tak pernah berbicara empat mata dengan sang adik,kini Cindy yang mulai mendekati Celia dan menghilangkan rasa canggung, hingga obralan mengalir dengan sangat santainya.
hari semakin sore dan hari ini Celia dan juga Eno harus meninggalkan kota tersebut karena batas cuti Celia adalah hari ini, besok pagi dia sudah harus bekerja, pekerjaan sudah menantinya untuk membuat acara perkenalan dan syukuran lahirnya anak bos Rendra nya.
"ibu terima kasih karena sudah menjaga Ayah selama ini dan kau Cindy, jaga ayah dan ibu baik-baik kau harus sering-sering menghubungi kakak" kata Celia pada Cindy,sang adik.
__ADS_1
Lain Eno, lain lagi dengan Wahyu, Wahyu sekarang sedang di sidang oleh Rendra dan Farel karena beberapa waktu lalu, Rendra memergoki Wahyu sedang mendekati mesra Arra adik kembarnya.
"kau serius? atau hanya menggoda Arra saja! katakan??" sidang Rendra tanpa palu.
"Serius Re! aku tidak sedang bercanda re!!''
Kata Wahyu meyakinkan Rendra dan Farel yang ada di hadapannya, bagaimana Rendra tidak marah bila melihat sang adik kembarnya tengah berdempetan mesra dengan Wahyu, bahkan Wahyu hampir mencium bibir Arra kalau saja Rendra tak melihatnya.
"Apa jaminannya kau bisa membuat adikku bahagia, bukankah kau salah satu spesies yang mirip dengan Eno si playboy abal-abal itu?kau terlalu banyak menggoda gadis gadis itu Wahyu, aku jadi sanksi dengan kepribadianmu itu!!"
" aku mempertaruhkan restoran keluarga ku ini!" Ucap Wahyu dengan lantang.
"oh bodoh!" gumam farel
Wahyu mengatakan itu tentu saja Rendra mendelik mendengar apa yang dikatakan Wahyu dan Farel hanya bisa menepuk jidatnya sendiri,dan restu untuk Wahyu masih sangat jauh karena apa yang dikatakan Wahyu terlihat menyinggung Rendra, Wahyu seakan mengatakan bahwa Arra terlihat sangat matre hingga dia membawa-bawa perihal restoran atau kekayaan Wahyu, padahal maksud Wahyu adalah dia rela kehilangan segalanya hanya untuk memperjuangkan cintanya pada Arra.
__ADS_1
bersambung