
Rendra bangun pagi sekali, beberapa hari menguntit sang istri di rumah Opa Kenan,membuat pekerjaan nya berantakan, farel sudah ngomel-ngomel tidak jelas di telpon tadi malam, Proyek besar kali ini sedang menghampiri perusahaan mereka yang namanya baru-baru ini jadi perhitungan banyak investor. Rendra bagi ini kembali bersemangat setelah apa yang di katakan oleh Farel.
"Bos...kali ini investor kita dari luar negri,dan kamu tau bos,dia adalah orang yang tidak gampang percaya dengan perusahaan yang ada di tanah air!" jelas Farel sambil berjalan mengiringi Rendra yang baru saja datang ke kantor.
"Bagaimana dengan proyek yang di luar pulau? apa mengalami kendala?"
tanya Rendra sambil duduk di kursi kebesaran nya.
Rendra memang manusia penuh ambisi, membanggakan sang Daddy adalah tujuan utama dalam berbisnis, dia juga tak ingin di remehkan oleh beberapa orang yang masih menganggap nya selalu ada di dalam naungan dan perlindungan sang Daddy.
Siapa yang tak mengenal Ferdi Hardiansyah, CEO yang memimpin perusahaan Hardiansyah group, anak angkat dari Kenan Putra Hardiansyah dan bahkan dia adalah memantu dari kembaran papa angkat nya Kenzo Putra Hardiansyah.
Sepak terjang Ferdi tak dapat di abaikan begitu saja dalam mempertahankan kebesaran nama Hardiansyah group. Maka dari itu, Birendra tak ingin hidup di bawa bayang-bayang kebesaran nama sang Daddy.
"Semuanya berjalan lancar bos!" jawab Farel.
__ADS_1
tok...tok...tok.....
"Masuk!" jawab Farel
"Maaf tuan Rendra, tuan Farel ada tamu di luar!" kata Celia sekertaris baru Rendra.
"Siapa?" tanya Rendra
"Perwakilan dari MNC corp. tuan" jawab Celia
tanya Rendra, farel tak mau di panggil dengan sebutan kakak di lingkungan perusahaan, dia merasa tak nyaman bila bos nya memang nya kakak, namun jika di luar perusahaan secara otomatis Rendra akan memanggil lelaki yang lebih tua 6 tahun dari nya tersebut dengan sebutan kakak.
"Iya bos! harusnya bos mengadakan pertemuan dengan mereka beberapa hari yang lalu, namun rasanya bos kurang enak badan beberapa hari ini, jadi aku selalu membatalkan nya!"
kata Farel dengan nada sedikit menyindir dengan menekankan kata-kata 'kurang enak badan', karena pada kenyataannya hati Rendra yang tak nyaman alias tak sehat karena di jauhkan dari istri nya.Tatapan mata tajam Rendra membuat Celia perlahan mundur, dia bahkan sudah menahan senyumnya dari tadi, dia tentu tau maksud dari perkataan Farel,karena beberapa hari lalu Farel seringkali mengomel perihal Rendra yang di dengar secara jelas oleh Celia.
__ADS_1
"Mari silahkan masuk!" kata Celia
"Tuan,maaf ini tamunya!" kata Celia
Rendra dan Farel yang sedang meeting kecil-kecil an, menoleh ke arah suara tersebut, sedang berdiri dua orang gadis dengan pakaian formal mereka, namun satu dengan gaya centilnya dan yang satu dengan gaya anggunnya. Farel langsung menegakkan tubuhnya, dua gadis tersebut memandang ke dua lelaki tampan tersebut, namun tatapan mereka tidak sama, si centil sedang memandang ke arah Rendra, sedangkan gadis satunya memandang ke arah Farel. Rendra yang melihat suasana di antara mereka merasa canggung. Deheman Rendra membuyarkan pandangan para gadis tersebut.
"Ehem....ehem.. mari silahkan duduk nona-nona!"
kata Rendra sambil berdiri dari kursinya dan menuju ke arah sofa di ruangan tersebut. Si centil itu segera berjalan menuju ke sofa dan duduk di samping Rendra dengan senang hati.
"Masih merasa tegang?" tanya gadis satunya pada Farel.
"Ya tegang!! eh..a-apa??" jawab Farel gugup dan Rendra hanya geleng-geleng kepala saja.
bersambung......
__ADS_1