Birendra

Birendra
Ngidam pertama


__ADS_3

"Hahahhahahaaha"


Tawa tak juga surut walaupun mereka sekarang sudah berada di dalam mobil Wahyu dan melaju meninggalkan warung bakso pak Komar, ya setelah Mila berkenalan dengan bapak tukang bakso yang ternyata namanya pak Komar.


"Mila berhenti tertawa, sebelum Wahyu jengkel dan menabrak kan kita ke mobil yang ada di depan" kata Farel memperingatkan Mila.


"Iya...sayang....hahahahah sebentar!!! aku benar-benar tidak bisa menahan tawaku sayang...." kata Mila yang menjawab Farel namun masih belum bisa berhenti tertawa.


"Terus aja kak!! tertawa saja terus" kata Wahyu dongkol


Wahyu yang merasa malu hanya bisa memanyunkan bibirnya saja sambil fokus menyetir, Mila yang sekarang menyadari keadaan Wahyu akhirnya mencoba menetralkan dirinya agar tidak tertawa lagi, terbesit dalam pikirannya untuk membantu Wahyu mendapatkan gadisnya, Mila ingin membantu Wahyu untuk bisa mendapatkan gadis tersebut. kendala utamanya sangat terlihat dengan jelas, siapa lagi kalau bukan si bapak tukang bakso yaitu pak Komar, yang sedari awal mereka berkenalan selalu saja terjadi perdebatan antara Wahyu dan juga pak Komar, tak dapat di pungkiri tentu saja hal itu menjadi kendala utama pendekatan yang akan dilakukan Wahyu pada gadis yang bernama Kara tersebut.


"mau kakak bantuin kamu Wahyu? kakak ini jagonya!! bahkan untuk lelaki sekelas Farel sekalipun kakak bisa takluk kan!! jadi untuk membantumu mendapatkan Kara, kakak punya berbagai jurus jitu agar kamu bisa mendekatinya dengan mulus'' kata Mila dengan penuh percaya diri.


"beneran kak?" tanya Wahyu antusias


"Benaran? ya benaran lah!"


"Caranya kak??" tanya Wahyu lagi

__ADS_1


"gadis seperti Kara yang hidup dikalangan pinggiran kota yang penuh dengan kerukunan diantara warganya, pasti mereka menjadi gadis yang penurut pada orang tuanya!" kata Mila yang terpotong dengan pertanyaan Farel


"Emang gadis kota gak ada yang nurut orang tua Mil?"


"bukan begitu sayang! biasanya mereka yang hidup di rumah yang sederhana dengan pergaulan yang sederhana juga, mereka lebih banyak menghormati orang tua dan juga menurut kepada orang tua, beda dengan gadis kota yang lebih modern, yang kadang-kadang segala keputusannya jarang sekali dibicarakan dengan orang tua tetapi mereka mengambil keputusannya sendiri, seperti itu maksudku sayang" jelas Mila


"Bukan aku bermaksud membedakan mereka" lanjut Mila


"Jadi intinya kak?" tanya Wahyu


"Dekati bapaknya!! ambil hatinya, dengan begitu kamu mudah dekat dengan anaknya" kata Mila dengan percaya diri.


########


"Ehem...ehemm... sayang..... Arsy ku sayang....bisa makan yang lain saja tidak?" tanya Rendra yang sedang duduk manis di hadapan bumil tersebut.


"Katanya tadi di suruh minta sesuatu, kan Arsy ngidamnya memang begitu bang!" ucap Arsy dengan sangat lirih dan menunduk ke bawah


"Udah Re, turutin aja, Daddy aja! waktu Mommy hamil kalian,juga menurut aja apa yang di minta Mommy kalian"

__ADS_1


kata Dad Ferdi sambil membayangkan ngidam ala Mommy Raisya, hal yang paling membuat Dad Ferdi jengkel,saat Mom Raisya ngidam ingin memandang wajah Haris, suami Kayla,adik Dad Ferdi.


"Masih untung cuma minta itu doang!" kata Dad Ferdi yang malah memanaskan keadaan.


Rendra malah sudah menatap tajam sang Daddy, dia berharap di bela oleh Daddy nya, nyatanya, sejak kehamilan Arsy, Rendra bukan lagi anak kesayangan Dad Ferdi, karena semuanya seakan beralih ke pada Arsy.


"Arsy sayang..." panggilan wajib setelah beberapa hari lalu,saat Arsy di minta Rendra untuk meminta sesuatu.


"Arsy sayang.....dimana beli belalang goreng krispi,di tengah kota seperti ini sayang..." ucap Rendra dengan menahan rasa frustasinya.


"Ada bang" kata Arsy dengan polos


"Dimana?" tanya Rendra


"Aku gak tau! tapi pasti ada!" kata Arsy antusias


Ngidam aneh Arsy membuat Rendra bekerja lebih keras lagi, 'Belalang goreng krispi' makanan pertama di acara ngidam Arsy, dengan dalih bahwa makanan itu sangat enak,karena dulu saat tinggal di luar pulau,Arsy sering memakan nya bersama sang ayah.


bersambung

__ADS_1


__ADS_2