Birendra

Birendra
Extra part (Kisah Baru) 19


__ADS_3

Arvan memandang tak suka pada sang istri yang dengan santainya makan di depannya, Aluna bukannya tak sadar bila Arvan memperhatikan nya dengan sangat tajam, Namun karena kelaparan,dia tak menghiraukan tatapan tajam sang suami.


"Makan mas, ini adalah makanan enak dari hotel terakhir di rumah ini, karena mulai besok....aku yang akan masak sendiri...tentu saja, masakan sesuai budget kita" kata Aluna di sela-sela acara makan nya.


"Maksud kamu? apa lagi ini?" tanya Arvan, kini dia malah melipat kedua tangannya di dadanya.


"Mas gak paham juga?....kita akan hidup sederhana mas...." kata Aluna menjelaskan, setelah menyelesaikan makan nya.


"Semua gaji mas, akan masuk ke dalam sini" lanjut Aluna sambil menunjukkan sebuah kartu ATM dan sebuah buku tabungan yang memang sudah dia persiapan, walaupun masih atas nama Arvan dan tentu saja atas bantuan sang mertua, Rendra.


"Dan aku, yang akan mengelola keuangan kita, untuk masa depan kita.....jadi bersiaplah mas".


"Tidak!! kamu pikir bisa mengatur ku?" kata Arvan tak terima.Otak cerdas Arvan tiba-tiba tak bisa berpikir dengan jernih, dia yang selalu punya ide brilian untuk perusahaan,seakan mati gaya di depan Aluna, istri liciknya, setidaknya itulah julukan yang pantas untuk Aluna, menurut Arvan.


"Bisa... bukti nya mas ada di sini sekarang! dan itu aku yang mengaturnya!!" saut Aluna dengan jumawa sambil membawa Piring kosong milik nya ke wastafel yang ada di dapur.

__ADS_1


"Alunaaaaaaaa!!!" teriak Arvan geram dengan sikap Aluna.


"Ssstttt......jangan berisik mas, nanti di dengar tetangga, gak enak!" saut Aluna setelah mencuci piring dan mengelap tangan nya, kemudian dia berlalu masuk ke dalam kamar.


Arvan benar-benar di buat gila oleh ulah Aluna, hingga dia berpikir keras untuk membalas Aluna.Dan sedetik kemudian, senyum seringai nampak terpampang di wajah tampan Arvan.


"Aku ikuti permainan mu Aluna!!" ucap Arvan kemudian menyusul Aluna ke kamar.


Aluna nampak mengeluarkan bantal dan guling dari lemari, dia memang tak berencana untuk pisah ranjang dengan Arvan, namun dia sengaja memberikan batasan pada ranjang yang akan mereka tiduri.


Arvan masuk ke dalam kamar dengan tenang, kemudian dia menutup pintu agak keras, bertujuan mengalihkan perhatian Aluna dari menata ranjang.Aluna yang mendengar langsung menoleh ke arah suara.


"Jangan keras-keras juga kali nutup nya!" ujar Aluna protes.


"Yang pelan ya dek" kata Arvan dengan lembut dan pelan.

__ADS_1


Aluna bukannya terpesona, tapi dia malah merasakan aura kegelapan di sekitar Arvan.Aluna nampak terkejut ketika Arvan membuka kaos yang di pakai nya dan melemparkannya sembarangan.


"Mau apa kamu Van??!!!" pekik Aluna melihat apa yang di lakukan Arvan, sungguh Aluna sedikit merasa takut.


"Kenapa sayang....ini malam pertama kita bukan?" kata Arvan yang semakin maju ke arah ranjang.


"Jangan khawatir aku akan pelaaaan dan lembuuuuut....." lanjut Arvan.Aluna yang sedang duduk di atas ranjang semakin mundur.


"Akan ku cekik kalau kau berani maju Van!!!" teriaknya bahkan tanpa embel-embel mas saat memanggil Arvan.


"Ssstttt....ini sama-sama pengalaman pertama buat kita berdua kan?" ucap Arvan yang sudah menyisakan celana boxer miliknya. Dia sangat menikmati wajah kecemasan dan ketakutan sang istri.


"Di mulai dari nol ya sayang...." lanjutnya di barengi dengan seringai licik di wajahnya.


"Pembalasan yang setimpal!!!" batinnya.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2