Birendra

Birendra
Extra part (Kisah Baru) 15


__ADS_3

Perhelatan pernikahan Arvan akhirnya di gelar, Aluna terlihat sangat cantik bersanding dengan Arvan di pelaminan, sudah bukan rahasia umum lagi, kalau menantu dari keluarga Hardiansyah tidak harus dari kalangan berada saja, siapapun orangnya, asalkan anak mereka bahagia, maka mereka menerima nya. Aluna nampak sedikit syok, melihat begitu banyak keluarga dari Hardiansyah, apalagi seorang wanita yang seusia Dad Ferdi,yang selama ini menjadi idolanya, seorang dokter psikolog yang sangat terkenal di kalangan rumah sakit, bahkan dia menjadi pembicara di beberapa stasiun televisi, siapa lagi kalau bukan Naina, adik dari Dad Ferdi.


Wanita yang nampak sangat anggun dan kalem, Aluna sampai terpesona dengan Naina, berharap jika sang Mama menjadi seperti Naina.Walaupun kenyataannya, Mama nya lebih memilih suami baru nya daripada dirinya.Bahkan di saat pernikahan nya, sang Mama tak bisa di hubungi.Jangan tanyakan di mana ayahnya, sejak perpisahan nya beberapa tahun lalu, sang Ayah tak di ketahui keberadaan nya.


"Dia Oma Naina" bisik Arvan pada sang istri yang terlihat terpesona dengan Naina, yang baru saja menyalami mereka.


"Beliau sangat cantik dan anggun" saut Aluna sambil pandangan matanya tertuju pada Naina.


"Ya kita nanti akan bikin anak yang cantik dan anggun seperti Oma Naina!" bisik Arvan lagi.


Kali ini Aluna tidak menyauti perkataan Arvan, Namun matanya menatap tajam ke arah lelaki rese'yang beberapa jam lalu mengucapkan janji pernikahan nya. Arvan hanya tersenyum meledek ke arah sang istri yang baru saja sah itu, tentu saja, Arvan bermain cantik, bahkan yang di lihat orang adalah senyuman penuh cinta pada Aluna, Tapi tidak dengan Aluna.


"Tersenyum lah Tuan muda menyebalkan!!! setelah ini, aku akan melihat penderitaan mu hahahahahaha....!!!" batin Aluna tertawa, bahkan tawa dalam hatinya sampai tercetak senyuman di bibirnya.Aluna membayangkan kejutan yang dia berikan untuk Arvan sebagai syarat pernikahan mereka.Hingga ke tiga teman Arvan yang sama rese'nya datang menyalami di pelaminan.


"Wow........ini kejutan sekali Arvan!!" ucap Kian yang maju ke pelaminan bersama Faash dan Dewo, mereka sekarang bisa melihat dua orang yang selalu berseberangan ini menjadi satu, berdampingan di pelaminan.


"Akhirnya perjuangan panjang Aluna membawa hasil!!"

__ADS_1


kata Dewo meledek,karena sebelumnya memang Aluna banyak datang ke perusahaan Arvan, sebenarnya tujuan utama Aluna adalah membujuk Arvan untuk membatalkan pernikahan,semua di artikan lain oleh teman-temannya Arvan malam ini, walaupun sebenarnya mereka tau antara Aluna dan Arvan tak pernah ada akur-akurnya, mendengar perkataan Dewo, Aluna hanya memutar bola matanya sejenak.


"cinta ku berlabuh di tangan musuhku!......pas banget kan??" kata Kian.


"Bagaimana rasanya menikah dengan si rese ini Lun?" tanya Faash.


"Hambar!! pahit!! dan gak ada manis-manisnya!!" jawab Aluna dengan muka manyunnya, bagaimana dengan Arvan? dia sama sekali tidak terpengaruh dengan ucapan Aluna.


"Hahahahahhaha......hambar Van!!" saut Kian.


"Pahit Van!!" di susul Faash.


Aluna tersenyum penuh kemenangan mendengar ejekan teman-temannya Arvan.


"Halah!! ntar malam pertama juga dia gak kerasa hambar lagi, apalagi pahit!.....malam pertama pasti berasa gado-gado....arah..nikmat sayang!!!" ucap Arvan dengan mimik wajah menggoda nya.


uhuk....

__ADS_1


uhuk....


uhuk....


Kian dan Dewo yang tak pernah pacaran pun, merasa ucapan Arvan terlalu vulgar, sedang Faash ikut tersenyum jahil bersama Arvan.


"Emang udah persiapan Van?" tanya Faash tanpa mempedulikan wajah Aluna yang sudah merona karena malu.


"Ini juga di persiapkan!!... persiapan mental!" saut Arvan santai.


"Mau video pemersatu bangsa gak?? guru paling hebat buat pemula kayak loe!" kata Faash mencoba mempengaruhi sepupunya itu.


"Emang loe punya Ash?" tanya Kian antusias.


"Anak kecil di larang kepo!!!"


ucap Faash dan Arvan bersamaan, dan mulut Kian langsung monyong beberapa centi, sedangkan Dewo, sudah cekikikan melihat tingkah mereka bertiga.Dan Aluna, ingin rasanya menenggelamkan dirinya ke rawa-rawa demi mendengar perbincangan absud ke empat lelaki yang sedari tadi tidak ada yang turun dari pelaminan.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2