
Celia bersungut-sungut keluar dari ruangan Bos nya, bahkan kalau bibirnya bisa di ukur mungkin sekarang sudah maju 10 Senti dari normalnya.Bagaimana dia tidak kesal, mengingat bagaimana percakapan antara dirinya dan Bos Rendra nya itu.
percakapan sebelum Celia keluar
"Bos..... untuk undangan acara syukuran, tolong sebutkan nama anak anda Bos, itu akan di tulis dalam surat undangan nya" kata Celia menanti sambil memegang polpoin dan siap menulis nama anak Rendra.
"Nama anakku?...." Rendra nampak berpikir keras
"Oh ya sekertaris Celia, aku belum mendapatkan nama anakku!" ucap Rendra, Celia nampak melongo dengan apa yang di dengar nya.
"Menurut mu siapa nama anakku ya sekertaris Celia?" tanya Rendra penuh harap
"Karena tampan namanya juga harus tampan Bos,bagaimana kalau Arda! perpaduan dari Arsy dan Rendra!" kata Celia nampak antusias.
"Arda? mana ada Rendra nya sekertaris Celia!! harusnya Ardra!... Arsy.. Rendra....!" kata Rendra
"Tapi kedengarannya gak bagus Bos! masa' ArDra, kan gak elit Bos"
"Kok jadi kamu yang ngatur nama anak saya!" kata Rendra.
"Hah??" kata Celia kaget
"Loe yang minta pendapat Bambang!!" namun kalimat berikut hanya bisa di teruskan oleh Celia di hatinya saja, wajah geram mulai nampak di wajah cantik Celia.
"Harusnya kamu segera menikah sekertaris Celia!! benar kata Farel!! kamu segera menikah dan punya anak sendiri! dan kamu bisa ngasih nama anak kamu dengan sesukanya! bagaimana?" kata Rendra
"Baik Bos,saya permisi karena banyak yang harus saya kerjakan! permisi Bos!"
ucap Celia sambil berlalu tanpa menunggu persetujuan dari Rendra, sedangkan Rendra hanya tersenyum penuh kemenangan karena bisa membuat sekertaris nya itu kesal, terlihat jelas di wajah Celia.
Dan setelah sampai mejanya, Celia nampak bergumam gak jelas, hal itu membuat Farel yang baru saja datang merasa heran.
"Ada apa sih sekertaris Celia?" tanya Farel yang sekarang juga ikutan Rendra memanggil Celia dengan embel-embel sekertaris di depan nama Celia.
"Oh astaga!!!pak Farel!!!" sentak Celia karena merasa kaget.
Kaget dengan dua hal yang ada di hadapannya, pertama dia kaget karena tiba-tiba saja,suara Farel tanpa aba-aba mengagetkan dirinya, dan yang kedua, setelah menoleh ke sumber suara, melihat dengan jelas apa yang terjadi pada Farel.
"Apes banget deh gue!!" gumam Celia sambil menatap nanar ke arah Farel
"Kenapa sih?" tanya Farel heran.
__ADS_1
"Nona Kamilaa ganas ya pak?" tanya Celia sedikit memicingkan matanya.
"Maksud kamu?" tanya Farel heran
"Nih...bapak lihat! hu'uh!! pamer aja deh!" kata Celia sambil menyerahkan kaca rias kecil nya pada Farel dan Farel melihat ke arah wajahnya.
"Tampan!" narsis Farel, malah mengarahkan cermin itu ke wajahnya.
"Ih..bapak narsis!!...nihh pak!! walaupun saya jomblo!! saya tau itu apa!!" kata Celia pada Farel, memang Celia lebih bisa santai kalau berbicara dengan Farel.
"Hehehehe keren kan istri ku sekertaris Celia!" kata Farel menutupi kegugupannya karena terdapat beberapa bekas kepemilikan di leher bagian atas Farel yang di cetak oleh istrinya, apalagi bagian itu tak tertutupi kemejanya.
Farel segera berlalu dari sana, dia tak mau lebih malu lagi di hadapan Celia, sifat pemalu Farel masih saja melekat walaupun dia sudah menikahi gadis pujaan hatinya.
Setelah lewat dari jam 3 sore, Celia ijin ke Bos nya untuk menemui Rio dan menyerahkan berkas kerjasama mereka, Karena Rendra ingin pulang sore dan bermain dengan anak nya, maka pekerjaan itu di serahkan kepada Celia sesuai perjanjian tadi pagi, kini Celia sudah berada di lobby perusahaan keluarga Dawson.
"Maaf nona Celia, saya sekertaris tuan Rio, dan saat ini Tuan Rio baru saja pulang, beliau ada urusan mendadak, bagaimana kalau nona Celia langsung saja ke kediaman keluarga Dawson, saya sudah menghubungi tuan Rio!" kata sekertaris nya Rio.
Celia melirik jam di tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, sudah hampir satu jam dia menunggu dan berita yang dia dapat sangat mengejutkan, yang dia cari malah sudah pulang, dan resepsionis lupa kalau sekertaris pimpinan nya berpesan agar Celia segera ke rumah saja, resepsionis tersebut berulang kali meminta maaf kepada Celia, dan akhirnya Celia mengerti dan memaafkan nya.
Disini lah Celia berada, setelah seorang satpam mengantar Celia sampai di depan pintu utama.
"Cari siapa ya?" tanya seorang gadis cantik berwajah setengah bule.
"Siapa Del....." teriak seseorang dari dalam rumah.
"Nyari kakak Mi....." Saut Delina, gadis cantik tersebut.
"Mari masuk!" kata Delina
Dengan sopan Celia masuk ke dalam rumah tersebut dan duduk di ruang tamu.
"mencari....." tanya wanita yang di pastikan adalah nyonya rumah tersebut.
"Tuan Rio nyonya, saya sekertaris Bos Rendra" kata Celia
"Benarkah? wahh..... Rio masih menjemput tunangan nya, mau nunggu kan?" kata Kayla Mami dari Rio.
"Iya Nyonya"
"Jangan panggil Nyonya! ayo ikut ke dapur ya...bantu Tante buat bikin makan malam!"
__ADS_1
ajak Mami Kayla dengan antusias, walaupun sebenarnya Celia bingung,kenapa bisa wanita di hadapannya ini sok akrab namun akhirnya Celia mengiyakan saja permintaan Mami Kayla. Delina mengikuti Mami nya ke dapur, mereka memang keluarga kaya, namun tak sepenuhnya segala sesuatu di kerjakan pelayan, Mami Kayla ingin dia dan keluarganya hidup yang apa adanya bahkan terkesan sederhana.
"Bisa masak?" tanya Mami Kayla
"Bisa nyonya" jawab Celia
"Tante! Mami ku bilang panggil Tante kak" kata Delina, dan di anggukin senyum canggung dari Celia.
Beberapa saat kemudian, semua masakan sudah tersaji di meja, dan benar sekali hampir semua masakan nya adalah masakan Celia.
"Wahh masak spesial Mi?" kata Dea tunangan Rio
"Kamu sudah datang sayang? mana Rio?" tanya Mami Kayla.
"Mandi mi, dia naik ke atas dulu!" saut Dea
"ini siapa Mi?' tanya Dea pada Celia yang baru saja dari kamar Delina, Mami Kayla memaksa Celia untuk mandi dan berganti pakaian setelah masak beberapa jenis masakan.
"Dia Celia! calon mantu Mami juga sayang" kata Mami Kayla dengan santainya.
"Hah??'' Celia nampak kaget.
"Udah-udah....ayo siap-siap untuk makan malam dulu" kata Mami Kayla menghilangkan kecanggungan Celia.
Semua sudah berkumpul di meja makan, nampak jelas sekali satu persatu dari anggota keluarga tersebut datang dan duduk di kursi nya masing-masing, tuan Haris, Rio dan semuanya sudah di posisi nya masing-masing. Celia semakin gelisah, dia baru sadar atau entah karena kebodohannya atau apa, di sini dia pasti bertemu dengan Eno,kembaran Rio, walau pun mereka nampak berbeda apalagi gaya rambut dan ekspresi wajah yang berbeda, namun Celia baru bisa berpikir bahwa mereka jelas satu rumah.
"Tuan Rio, mohon maaf saya datang dengan berkas-berkas yang harus anda tandatangani, apa bisa sekarang saja, saya rasa saya sudah terlalu lama menunggu"
kata Celia berdiri dari kursinya, sungguh dia tak enak ada di situasi tersebut, dia merasa terjebak dengan keadaan nya sekarang.
"Bisakah kita melakukan nya setelah makan malam nona Celia?" kat Rio dengan datar.
Semuanya hanya diam memperhatikan Celia yang semakin canggung dan gelisah.
"Duduklah! makan malam dulu!nanti aku antar pulang"
sebuah suara membuat Celia menoleh reflek, dia bahkan sudah mengigit bibirnya pelan. Eno!! ya lelaki itu adalah Eno, lelaki yang selama ini dia hindari, namun karena pekerjaannya hingga membuat Celia terjebak dalam situasi seperti ini.
"Aku senang kau datang!" bisik Eno bahkan terlihat seperti mencium telinga Celia saking dekatnya.
Deg......
__ADS_1
bersambung....