
"Ardan Mahes Hardiansyah" kata Farel
"Bagaimana Bos? puas! ini kemarin sekertaris Celia belum sempat memesan undangan sebelum dia cuti jadi aku yang melakukan!" kata Farel
"Kenapa jadi Ardan? ada nama yang lain gak?" tanya Rendra seakan tak puas dengan nama anaknya.
"Mau kamu kasih nama siapa lagi Re? dari kemarin sibuk sama nama mulu'??" protes Dad Ferdi, pasalnya bayi itu sudah di rumah selama 3 Minggu,namun bayi tersebut masih saja di panggil dedek bayi.
"Andra? Arvan? Aries? Rendy? kira-kira mana yang pas ya?" kata Rendra, ya dari kemarin Rendra bingung menentukan nama anaknya, sampai-sampai Opa Kenzo ikut turun tangan memberikan nama untuk cicit nya tersebut.
"Itu nama dari Opa Kenzo Re! dan Arsy juga sudah setuju!" kata Farel, dia tak mau lagi mengubah undangan yang dia pesan, ribet! begitulah pikir Farel.
"Tapi kayak ada yang kurang gitu kak!" Rendra berubah jadi orang yang ngeyel.
"Eh Bambang!!! hobi banget loe ya nyusahin suami gue?!!!" sentak Kamila yang baru datang dari dapur sambil membawakan camilan dan minuman.
Kamilaa gemes sendiri karena dari datang ke rumah Dad Ferdi, Rendra terus saja mempermasalahkan soal nama anaknya, Farel sampai terlihat bingung dengan kemauan Bos nya tersebut, bahkan Arsy yang baru datang bersama anaknya karena harus menyusui nya di dalam kamar terlebih dahulu juga merasa Rendra terlalu ribet soal nama yang di berikan pada anaknya.
"Bang.... masa' belum setuju aja dengan nama anaknya?" kata Arsy yang duduk di samping Rendra, spontan Rendra mengambil anaknya dan membiarkan Arsy duduk terlebih dahulu.
"Arvan Mahesa Hardiansyah!! kak itu saja deh nama nya!"
Ucap Rendra tanpa mempedulikan wajah Farel yang nampak bingung,karena jelas-jelas undangan sudah jadi di tangannya, Kamila bukannya marah dengan ulah Rendra yang membuat suaminya bingung,namun dia merasa gemas sendiri, tanpa di sadari Farel, Kamila sudah berada di depan Farel dan menguyel-nguyel pipi kanan dan kiri Farel dengan kedua tangannya dan di akhiri kecupan singkat di bibirnya Farel.
"iiihh muka bingung nya bikin gemes deh!" kata Mila.
"Sayaaang....malu tau!" kata Farel dengan wajah merona, dan tampak jelas malu.
__ADS_1
"Ciihh Pamer!!" celetuk Rendra.
"Emang kalau di atas ranjang dia juga pemalu kak?" lanjut Rendra yang mulai gesrek.
"Beda dong Re! itu kan di medan perang!" Dad Ferdi tiba-tiba ikutan bicara.
"Beda gimana Dad?" Rendra yang mulai jahil bila sudah berkolaborasi dengan Dad Ferdi
"Ya beda dong Re!! di atas ranjang,dia jadi harimau kelaparan!! kalau gini kan dia jadi anakan kucing! setara noh sama si 'Endel'!!" kata Dad Ferdi yang menyamakan Farel dengan kucing kesayangan Arra.
"hahahahahaha.....miauww....." ejek Rendra.
"Haiisshh apaan sih Dad!!! tebakannya selalu bener deh!!" kata Mila sambil cekikikan sendiri, dan jangan lupa kan muka Farel yang sudah seperti kepiting rebus.
Begitu lah bila mereka sedang berkumpul, Farel akan selalu di buat bahan bercandaan dan bully an mereka, bukan apa-apa! Farel memang masih terlihat malu-malu bila berkaitan dengan Mila, hal itu menjadi hiburan tersendiri bagi mereka, namun bila berhubungan dengan karyawan nya maka mode galak layaknya Om Jhon, Papa nya akan langsung on begitu saja. Ya sejak menikah, aura wibawa dan ketegasan wakil Ceo itu meningkat, apalagi para karyawan wanita yang dulu sangat mengidolakan sosok Farel dan mencoba untuk mendekatinya, gini mereka harus berpikir dua kali, Selain Farel yang berubah dingin terhadap wanita selain istri nya, istri Farel juga terkenal sebagai salah satu cucu keluarga Hardiansyah dan juga anak dari seorang Krisna.
"Ini Bu minum dulu!" kata Eno menyerahkan minuman pada Bu Mala dan Cindy.
"Minum teh hangat dulu" kata Eno pada Celia sambil mengelus kepala Celia dan tanpa ragu mengecup puncak kepala Celia, Celia hanya diam saja, yang dia cemaskan sekarang hanyalah sang ayah.
"Mau makan sesuatu?" tanya Eno lembut, dia menggenggam tangan Celia, menguatkan gadis itu.
"Nanti saja" saut Celia.
Dan beberapa saat kemudian, ruang operasi terbuka, dan seorang dokter keluar dari sana, dokter tersebut mengabari kalau operasi nya berhasil dan sebentar lagi pasien bisa di pindahkan ke ruang rawat. Eno berpesan agar pasien di tempatkan di ruang VIP, karena bisa di pastikan kalau Celia tak akan mau pulang ke rumah orang tua nya, Eno sudah bisa memprediksi nya,dan kalau di tempat kan di ruang umum, mereka tak akan tempat untuk tidur atau beristirahat.
"Tidak perlu No, biar di ruang biasa saja" tolak Celia, dan hal itu di iya i oleh Bu Mala, karena Bu Mala yakin di ruang VIP pasti mahal dan uang tabungan nya takut tidak cukup, dia tak mau menyusahkan Celia.
__ADS_1
"Gak! biarkan saja! ayo...kita ke ruangan Ayah mu sekarang"
Beberapa saat kemudian, setelah kesadaran Ayahnya kembali, Ayah nya di pindahkan ke ruang rawat.
"Ayah.... bagaimana ayah? apa lebih baik?" tanya Celia yang langsung duduk di samping ayahnya.
"Ayah baik, terimakasih mau datang" saut Ayah nya dengan lemas.
Kemudian ayah Rudi di sarankan untuk istirahat, Bu Mala dan Cindy di minta pulang terlebih dahulu oleh Celia, besok pagi bisa datang lagi ke rumah sakit untuk berganti menjaga ayahnya, dan tinggal lah Eno dan Celia, Celia sudah terlihat sangat lelah.
Eno yang beberapa waktu lalu membeli kasur angin yang sengaja dia beli untuk istirahat Celia, karena Celia tidak mau mencari hotel untuk istirahat.Setelah menyetel kasur tersebut, Eno bahkan memasang seprainya sendiri.
Eno menarik Celia yang masih duduk di samping Ayah nya yang tertidur.
"Tidurlah!" perintah Eno sambil menarik Celia dan mereka berbaring bersama.
"A-aku ......" kata Celia gugup
"Aku tak akan berbuat apa-apa! Tidurlah" potong Eno
Eno menjadikan tangan nya sebagai bantalan kepala Celia, Eno mengecup kening Celia, Celia mendongak spontan melihat ke arah Eno,mata mereka saling bertemu, Eno tak menyia-nyiakan kesempatan, wajah mereka yang terlalu dekat memudahkan Eno untuk meraup bibir ranum Celia, Eno menciuuum Celia dengan lembut, bahkan Eno tak peduli ketika Celia hanya diam tanpa membalas perlakuan Eno padanya.
"Kau pasti lelah! tidurlah" pinta Eno setelah melepaskan ciumannya dan menyandarkan kepala Celia ke dalam dadanya.
Senyum Eno tertib, dia merasa Celia memberikan celah untuk hubungan mereka, walaupun perjuangan Eno belum mencapai puncaknya, namun Eno merasa sudah naik satu tingkat dari usahanya.
bersambung
__ADS_1