
Faash dan Kian nampak berdiri satu kaki dengan tangan yang menjewer telinga mereka masing-masing dan berada di pojokan ruang keluarga, Bram dengan muka sangar nya duduk bersilang kaki di depan mereka, Acca yang tak mau melihat wajah kedua lelaki kecil itu nampak asyik berada di dapur, Karena ketika Faash dan Kian menampakan wajah sendunya Acca seketika luluh,itulah yang biasa terjadi bila Faash dan Kian sama-sama melakukan kesalahan dan Acca yang memergoki nya, Acca akan selalu memaafkan kesalahan Faash dan juga Kian,namun kali ini Acca memilih untuk tidak ikut campur dengan tindakan yang akan di ambil Bram.
"Ada yang bisa jelaskan pada Papa?"
tanya Bram, walaupun Faash dekat dengan sang Papa, Tetap saja di mode seperti ini Bram tampak begitu menyeramkan bagi Faash.
"Bagaimana bisa.... Papa mendapatkan laporan seperti itu?" tanya Bram.
Sebenarnya Bram cukup maklum dengan apa yang dilakukan oleh Faash dan juga Kian karena semasa kecilnya dia juga melakukan hal yang sama seperti Faash dan Kian, dia yang notabennya dulu berasal dari keluarga yang miskin dan hidup di kampung,sehari-hari kadang seperti itulah yang dilakukan oleh Bram saat pulang sekolah bersama teman-temannya,tak jarang dia akan melewati sebuah perkebunan semangka dan membawa pulang semangka di dalam tasnya, sang ayah kerap kali memukulnya dengan galah bila Bram melakukan itu, namun sekarang itu berbeda, anak zaman sekarang tak bisa disamakan dengan anak zaman dahulu, jika perbuatan Faash dibiarkan maka Faash bisa semakin menjadi jadi, Bram tak mau Faash berubah menjadi dirinya,bagaimana hidupnya sebelum bertemu dengan Rendra remaja kalau itu,dia bahkan berani mencopet, merampas hanya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan untuk biaya pengobatan sang ayah karena bekerja saja tidak cukup untuk memenuhi pembelian obat ayahnya kala itu.
Bram benar-benar tidak mau Faash menjadi dirinya untuk yang kedua kalinya, dia ingin menjadikan Faash menjadi pribadi yang baik,yang peduli dan tentu saja yang bisa membanggakan kedua orang tuanya.
"Faash salah pa" jawab Faash.
__ADS_1
"Juga juga salah Om, tapi Om hukuman sudah belum? Kian lapar! tadi gak jadi makan mangga" ucap polos Kian, seketika Faash menendang pantat Kian ketika melihat sang Papa memejamkan matanya perlahan ketika mendengar perkataan Kian.
"Apa-apaan sih!" ucap Faash namun tak sampai mengeluarkan suara nya, dia hanya menggunakan isyarat mulutnya.
"Laper....masakan Tante kecium sampai sini" balas Kian dengan melakukan hal yang sama.
"Kalian tunggu setengah jam lagi dan kalian hanya boleh makan nasi putih saja hari ini!.... jangan mengingkari hukuman kalian, jika sampai Papa tau! kalian akan di tambah dengan hukuman yang lain! paham?"
"Paham Om......paham Pa" ucap mereka serentak.
"Aku yang akan mengawasi mereka Pa" seru Faisha,yang sering di panggil Aish.
Gadis ini benar-benar tak pernah akur dengan sang kakak kembarnya juga sepupunya si gembul, karena Aish hampir setiap hari menjadi korban kejahilan mereka.
__ADS_1
"Duuhh enak banget sih nih Es Boba coklat!" serunya dengan sengaja duduk di depan dua lelaki kecil yang masih harus menunggu jam selesai nya hukuman.
Sruuuuupp.......suara minuman dalam botol plastik yang sedang di minum Aish.
Glek....
Faash dan Kian nampak menelan ludah nya susah payah, apalagi Kian yang terlihat paling berminat.
"Eh manja!! kamu sengaja ya pamer depan kita??!!" sentak Faash walaupun tidak berani terlalu kencang, takut Papa dan Mama nya dengar.
"Emang iya.....hahahahahaha......Kaciaaann...." ucap Aish sambil berlalu dari sana.
"Papaaaa.... Kian mau pulang... huwaaaaaa....hiks.....!
__ADS_1
bersambung