
Wahyu nampak mondar-mandir di depan anaknya yang sedang di suapi oleh Arra, Wahyu merasa jengkel dan kesal pada anak gembul nya itu, sejak tadi siang Kian sudah menangis saat menelpon Papa nya, Kian melaporkan kalau dia sedang kelaparan karena hukuman yang di berikan Bram padanya, padahal dia menangis bukan hanya karena itu, dia merasa iri dengan apa yang di minum oleh Aish. Wahyu masih menunggu anak nya mengisi perutnya sebelum nantinya dia akan mulai berceramah karena kenakalan Kian, Kian selalu menuruti kemauan Faash,dan tentu saja semuanya karena bujuk rayu dan akal-akalan dari Faash.Faash, anak itu lebih mirip Birendra, wajahnya yang lebih dominan ke Acca membuatnya hampir sama dengan sepupunya yaitu Arvan,dan dalam hal kecerdikan dia juga lebih mirip Birendra, sedangkan dalam bersikap dia cenderung mengikuti sifat Papanya.
"Aaahhh.....kenyang Ma..." ucap Kian setelah selesai makan.
Wahyu terlihat melongo ketika melihat ke empat piring di depan Kian habis di lahap sang anak.Wahyu mengusap wajahnya dengan kasar, entah lah mirip siapa anaknya ini, kalau soal wajah, Kian lebih mirip dirinya namun dalam hal makan, jelas Wahyu mengelak,karena dia merasa tak serakus anaknya.
"Sudah selesai?" kata Wahyu yang kembali ke mode wibawanya.
"sebentar Pa....ini rendang daging nya masih antri masuk lambung" ucap Kian sekenanya.
Wahyu langsung memijit pelipisnya pelan, sedangkan Arra mengulum bibirnya sendiri menahan tawanya. Rasanya ingin terbahak melihat tingkah anaknya,namun demi menjaga kewibawaan sang suami, Arra mencoba menahan tawanya.Wahyu mengambil duduk di depan sang anak, mencoba menunggu beberapa menit.
__ADS_1
"Sudah pa" kata Kian, sebenarnya dia sengaja mengulur waktu, melihat raut muka sang Papa jelas saja Kian takut.
"Kamu tadi membohongi Papa?" tanya Wahyu
"Kian memang lapar pa" katanya sambil menunduk
"Tapi kamu tau kan Kian! Om Bram tidak salah memberi kamu hukuman" kata Wahyu lagi.
"Apa kamu tau! mencuri itu salah! apapun alasannya Kian!....kenapa kamu selalu saja mengikuti kemauan Faash?" tanya Wahyu yang mulai kesal
"Soalnya Kian kan di ancam sama Faash" jawab Kian dengan polosnya
__ADS_1
"Memang apa ancaman Faash?" tanya sang Papa
"Katanya kalau Kian gak nurut, Kian gak akan di kasih makan siang....kan Kian takut lapar pa, apalagi Papa jemput nya masih sore, Kian takut kurus pa" lagi-lagi jawaban polos Kian membuat kepala Wahyu berdenyut.
"Hahahahahaha.......Ups..... sorry sayang.." Arra sudah tak bisa lagi menahan tawanya, namun ketika mendapatkan sorotan tajam dari sang suami Arra langsung terdiam.
"Oh My God.....darah tinggi ku.....oh Tuhan seperti nya sebentar lagi aku benar-benar punya darah tinggi!" gumam Wahyu di depan anak dan istrinya.
"Kalau tinggi di turunkan saja pa" jawab Kian asal yang tak tau apa maksud dari perkataan Wahyu.
Wahyu menatap tajam anaknya, Arra yang tau gelagat kurang menyenangkan segera beranjak dari kursi nya dan memanggil pengasuh Kian, Arra memintanya membawa Kian masuk ke kamar dan bersiap untuk tidur. Tak beda jauh dari Kian, Faash pun sama saja, malah seakan dia sudah di kirim ke rumah Dad Ferdi, Opa nya.Faash paling takut dengan sang Opa, alamat kali ini Faash tak akan bisa menjahili Aish dan tak akan bisa berbuat nakal lagi, di rumah sang Opa yang tinggal di daerah elit tak pernah ada tetangga yang berkeliaran di luar rumah seperti di daerah perumahan nya, dia akan terkurung di rumah megah sang Opa selam seminggu ini sebagai hukumannya.
__ADS_1
bersambung