Birendra

Birendra
Kedatangan Rendra


__ADS_3

Setelah mendapatkan ijin dari dokter, Acca masuk ke dalam ruang perawatan Bram, namun dokter tak memberikan ijin lama pada Acca, Bram masih dalam pengawasan ketat dokter.


"Bram...bangun! aku janji gak akan nakal lagi hiks......aku janji akan menuruti semua perkataan mu!" ucap lirih Acca sambil memegang tangan Bram. Sayangnya Bram tak bisa merespon apapun yang di katakan oleh Acca, hingga akhirnya Acca hanya bisa menangis dan menatap iba pada Bram.


"Aku janji aku nurut pada mu Bram, jadi aku mohon...bangunlah!!" Acca terus berbicara walaupun cukup lirih, tapi Acca yakin Bram bisa mendengar apa yang Acca katakan.


"Maaf Nona, sebaiknya anda segera keluar, jam kunjung yang di berikan dokter sudah habis"


kata seorang suster dengan sopan, dia berharap Acca mau bekerja sama dan keluar dari ruangan tersebut.


"Iya sus, sebentar saja ya.....boleh kan? janji tak akan lama!" kata Acca dan suster tersebut meninggalkan Acca.


Setelah berbisik pada Bram, Acca akhirnya meninggalkan Bram seorang diri, Bram belum melewati masa kritisnya, kalaupun sudah Acca meminta pada suster untuk mengabarkan pada nya terlebih dahulu. Sesampainya di luar ruangan dia di sambut oleh Roy.


"Nona, sebaiknya Nona istirahat dulu, saya sudah memesankan kamar VIP di rumah sakit ini, saya tau Nona pasti tak mau kembali ke hotel"

__ADS_1


kata Roy panjang lebar, dan benar saja Acca bersedia istirahat di ruang rawat VIP yang sengaja di pesan oleh Roy untuk nya.Untuk keselamatan Acca, Roy siap siaga di depan ruangan tersebut karena anak buahnya beserta tuannya yaitu Rendra belum juga sampai ke kota di mana mereka sekarang berada.


Setelah menunggu beberapa jam akhirnya Rendra datang bersama beberapa anak buahnya.


"Tuan Rendra" sapa Roy yang memberitahukan di mana keberadaan Acca, dan Rendra segera menghampiri di sana.


"Bagaimana Bram? lalu Acca di mana?" tanya Rendra dengan sangat tak sabar, bagaimana pun juga Bram adalah anak buah kesayangan Rendra.


"Bos masih dalam keadaan kritis Tuan, dia belum melewati masa kritis nya tuan, namun Untung saja pelurunya tidak menembus sampai ke jantungnya, hanya berada di samping jantungnya saja, begitulah dikatakan dokter,tapi keadaannya belum stabil Tuan, Bos Bram harus melewati masa kritis dulu untuk bisa mendapatkan penanganan selanjutnya" kata Roy menjelaskan pada Rendra.


"Bagus Roy, dan cari tau siapa mereka yang berani macam-macam dengan keluarga ku Roy, bawa anak buah mu untuk mencari mereka, dan aku mau semuanya selesai sebelum satu jam!" kata Rendra buang raut wajahnya berubah menjadi dingin dan terlihat menyeramkan.


"Baik Tuan, saya akan meninggalkan dua bodyguard untuk berjaga di sini" kata Roy


"Ya Roy... pergilah! jangan mengecewakan aku!! aku tau kamu adalah anak buah andalan Bram" kata Rendra.

__ADS_1


"Baik Tuan!"


Roy memang bisa dibilang adalah tangan kanan Bram, jika Bram adalah orang kepercayaan Rendra dan Rendra selalu mengatakan Bram adalah anak buah kesayangannya, tak beda pula dengan Roy,Roy adalah anak buah kepercayaan Bram selama bekerja dengan Rendra,dimanapun ada Bram di situ juga ada Roy. Roy mencoba menghubungi beberapa orang yang di kenalnya di kota ini, tak jauh beda dengan Bram yang berasal dari kalangan bawah dan dulunya juga berkecimpung di dunia hitam, Roy pun sama, karena itu mudah bagi Roy menghubungi gembong preman di kota tersebut.


"Bagaimana?" tanya Roy pada seseorang yang dia hubungi.


"Dapat Roy! datanglah kemari untuk memastikan!"


saut orang yang ada di sebrang sana.


"Baiklah!"


"Dapat kau!!" kata Roy setelah menutup panggilan telepon nya dengan seringai di wajahnya.


bersambung....

__ADS_1


__ADS_2