Birendra

Birendra
Rumah Bram


__ADS_3

Roy sangat pusing dengan apa yang dia dengar, perdebatan antara Bram dan Acca membuat dia pusing sendiri, entahlah apa yang di perdebatkan oleh mereka berdua, hingga suara Acca membuat Roy tersenyum tipis, kali ini Acca lah yang menang,pikir Roy.


"Tuan Bramantyo yang terhormat!mulai saat ini aku akan tinggal di rumahmu dan aku akan menjadi suster yang akan merawatmu sampai sembuh, jadi... mohon bantuannya Tuan Bram"


Kata Acca dengan menatap Bram dan jangan lupakan senyum manisnya itu.


"Apa???!!"


pekik Bram spontan menatap ke arah Roy seakan meminta penjelasan dari Roy. Roy hanya menghela nafasnya pelan kemudian dia memandang dua orang di belakang itu satu persatu,Roy benar-benar bingung dengan sikap mereka, beberapa waktu lalu sebelum Bram mengalami kecelakaan tertembak di dadanya, Bram yang begitu cuek,datar dan dingin namun perhatian kepada Acca karena perintah Rendra untuk menjaga Acca setiap saat dan sekarang keadaan berbalik ketika Bram sakit Acca yang lebih perhatian kepada Bram namun terlihat sangat jelas bahwa Bram tidak menyukai itu.


"Bos..maaf! ini perintah tuan Rendra, dan sudah mendapatkan persetujuan dari Om Surya" kata Roy menjelaskan.


Raut wajah Bram nampak tak suka dengan keputusan Rendra dan juga Ayah nya untuk membiarkan Acca merawatnya, dan Bram bertambah jengkel ketika melihat wajah penuh kemenangan Acca.

__ADS_1


Baru saja Bram ingin protes lagi, Roy sudah bersuara dan mengatakan mereka sudah tiba, Roy dan Bram memang tinggal satu rumah, Roy yang tak punya siapa-siapa dan juga mantan seorang preman pada akhirnya di minta Bram untuk bekerja dengannya dan mengabdi kan diri pada Rendra, tuannya. Dengan senang hati Roy menerima pekerjaan itu kala itu.Ada beberapa orang yang tinggal di sana, diantaranya adalah Om Surya Ayah Bram, Roy, Bram dan seorang pembantu yang bernama Bik Narsih dan suaminya sebagai satpam di sana pak Yanto, suami istri juga tinggal di sana, mereka hidup hanya berdua karena tak di karuniai seorang anak.


Setelah bekerja dengan Rendra, Bram hidup berkecukupan,dia tak lagi tinggal di gang sempit rumah lamanya.Sekarang dia tinggal di sebuah perumahan dengan rumah yang cukup besar dan berlantai dua.


"Nona Acca mari kita sudah sampai!" kata Roy yang lebih dulu turun dari mobilnya.


"Terimakasih Roy......sini aku bantu Bram" kata Acca yang sudah turun juga dari mobil dan menghampiri Bram.


"Stop!!! tidak perlu Nona! biarkan Roy yang menolong ku!" kata Bram


Acca beranjak pergi dari hadapannya Bram dan Roy, dia di sambut seorang lelaki paru baya dan seorang wanita saat menuju ke dalam rumah.


"Selamat datang Nona" sapa Om Surya, karena dia sudah mendapatkan informasi bahwa Acca akan ikut tinggal bersama nya, tentu saja dia sangat senang, Karena memang sejak lama dia menginginkan seorang anak gadis namun Bram tak kunjung menikah.

__ADS_1


"Om Surya? bik Narsih?" tanya Acca, dan mereka mengangguk.


"Jangan panggil Nona Om, Bik.... panggil saja Acca! beres kan? biar lebih akrab Om" lanjut Acca sambil tersenyum manis


"Baiklah Ca, ayo masuk...sudah makan?" kata Om Surya dengan ramah.


Mereka bahkan berbincang dan terlihat akrab, Roy dan Bram nampak saling berpandangan.


"Anaknya yang mana sih!! kenapa dia begitu akrab!!" gerutu Bram.


"Seperti nya kita sudah di sisihkan perlahan Bos! lihatlah, bik Narsih dan Om Surya lupa kalau kita juga butuh makan!" celetuk Roy.


"Seperti rumahku sebentar lagi akan terasa seperti neraka!" gumam Bram sambil berjalan pelan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


bersambung


__ADS_2