
Pagi ini semua anak-anak bangun pagi, dan dengan ijin dari Kakek Sakti, akhirnya Dewo di biarkan menginap di rumah bersama dengan Arvan, Faash dan Kian. Faash dan Dewo yang sepemikiran sangat senang bisa bersama malam ini. Setelah sarapan pagi, Tarjo dan Budi nampak bersantai di kursi, di teras depan bersama kakek Sakti, dengan di temani secangkir kopi.Sedangkan ke empat Bocil itu sudah bersantai di atas tikar,di samping ke tiga lelaki dewasa itu.
"Main ini yuk?" Ajak Dewo, sambil menunjukkan sebuah kartu Remi yang ada di tangan nya.
"Hush!! kecil-kecil udah ngajak main judi!!'' sentak Arvan.
"Ckckc.....dasar bocah kaya! kasihan banget sih!! hidup kamu kebanyakan gadget!! makanya lihat yang kayak gini aja bilang nya judi!!" kata Dewo.
"Van, ini tuh permainan Remi, aku sama pak satpam di rumah sering main! dan kita cuma main doang, gak pakai acara judi!" kata Faash yang paham betul permainan itu.
Jangan salahkan Arvan yang memang tak pernah bersentuhan dengan hal-hal seperti itu, yang dia tau permainan dengan kartu adalah judi, seperti yang sering dia lihat di gadget milik nya, mereka bermain di tempat yang bernama Casino.Itupun hanya sekilas pintas saja Arvan tau.Kian datang dengan membawa tepung dari dapur.
"Buat apa itu? kita gak lagi mau masak Kian!!" kata Arvan yang lagi-lagi gagal paham.
"Ini tuh tepung buat bedakin muka kalau salah satu dari kita kalah!!" kata Dewo.
__ADS_1
"Begini cara mainnya!"
Akhirnya Dewo menjelaskan pada Arvan dan yang lain, bagaimana cara mainnya, dan dengan penjelasan yang cukup terperinci, akhirnya Arvan dan yang lain mengerti.Permainan demi permainan di mulai, Kian yang terlihat paling sering menang, dan wajah Arvan sudah penuh dengan coretan tepung,hingga terlihat wajahnya putih sekali.Faash yang sering cekikikan melihat Arvan, pasalnya si resek itu, biasanya selalu menang dalam segala hal dari Faash dan Kian.Kali ini Kian yang paling beruntung karena coretan tepung hanya ada di pipi kanannya.Sedangkan Dewo dan Faash hampir mirip Arvan, namun begitu, Arvan yang paling terlihat mengenaskan.
"Ayo dong Kian!!! tunjukkan kartu mu!!" perintah Arvan tak sabar.
"Sabar napa Van! ini kalau aku menang...... muka kamu harus di masukin ke tepung!! bukan lagi di coret!" kata Kian dengan jumawa.
"Iya....ya......" jawab Arvan sambil memutar bola matanya.
Dengan sedikit bergaya ala-ala penjudi profesional, Kian membanting kartu di tangan nya.
"Hahahahahhaha...lihat wajahmu Van, seperti donat gula hahahaha!" kata Faash.
Faash tertawa sangat kencang,di ikuti Dewo dan Kian yang hanya tersenyum namun penuh ejekan untuk Arvan, baru kali ini,kian bisa menyombongkan diri dari kedua sepupu nya itu.Jangan tanyakan bagaimana wajah Arvan, dia nampak sangat kesal,namun pada akhirnya dia menerima kekalahan nya, karena memang dalam permainan ini, Arvan mengakui kehebatan Kiandra, sepupunya itu. Ditengah asyik-asyiknya bermain, terdengar suara seseorang menyapa semuanya.
__ADS_1
"Pagi semuanya......" sapa Wati dengan menenteng sebuah rantang yang berisi makanan.
"Pagi mbak Dewi" saut Kian, karena kian tau betul Dewi membawa makanan, dan dengan sambutan ramah nya kian berharap bisa ikut menikmati makanan tersebut. dan Dewi hanya tersenyum menanggapi Kian, dia berjalan menuju ke arah Budi, Tarjo dan Kakek Sakti.
"Pagi mas Tarjo" sapa Dewi dengan wajah berbinar.
"Hemmmm" saut Tarjo.
"Kok cuma mas Tarjo, saya enggak mbak Dewi?" ucap Budi
"Iya Iki Bud, aku juga gak di sapa!" kata Kakek Sakti.
"Eh iya...mas Budi,pak Sakti.... selamat pagi" kata Dewi
"Maaf ya, abis mas Tarjo itu, sudah seperti matahari, yang paling bersinar dan secara otomatis semuanya jadi gak kelihatan kalau ada di dekat mas Tarjo" lanjut Dewi menggombali Tarjo.
__ADS_1
"hooeeeeekkkkkk!!!!"
bersambung