
"Kak Celia!" panggil Arsy yang sedang berjalan pelan masuk kedalam lift.
"Nona Arsy? sedang apa di sini? mau menemui Bos Rendra?" tanya Celia sambil berjalan mendekati Arsy dan juga memegang tangan Arsy dan memapah Arsy masuk ke dalam lift.setelah sampai di ruangan Rendra, ternyata orangnya tidak ada di ruangannya, akhirnya Arsy meminta Celia untuk menemani nya.
"Kok kakak gak tau kalau Abang keluar? kan kakak sekertaris nya" kata Arsy sambil memakan camilan yang di bawa Celia masuk ke dalam ruangan Bos nya tersebut.
"Tadi aku kirim berkas-berkas ke tempat klien non, jadi gak tau kalau Bos Rendra sedang keluar" kata Celia.
"Kak...makan rujak buah siang-siang begini seger kali ya?" tanya Arsy pada Celia, tentu saja Celia sudah sangat was-was, apalagi dia ingat dengan acara ngidam Rendra yang bikin dia kerepotan dan pusing tujuh keliling.
"Tenang aja kak! aku pengennya di beliin sama seseorang! bukan sama kakak"
lanjut Arsy ketika melihat wajah tegang Celia, Celia tersenyum tipis dan terlihat tidak enak hati.
Arsy memainkan ponselnya dan mengetik sesuatu dan mengirimkan pesan pada seseorang, dia sungguh tak sabar menikmati rujak buah di siang hari Arsy akhirnya. benar-benar cuti kuliah setelah beberapa kali Rendra ngomel-ngomel karena Arsy tak mau menuruti nya, namun pada akhirnya Arsy memutuskan untuk mengikuti anjuran suaminya itu.
"Memang siapa yang nona tunggu?"
tanya Celia karena sudah hampir setengah jam berlalu rujak yang dipesan Arsy belum juga datang, Celia bahkan sudah terlalu bosan berada di ruangan Bos Rendra, Celia ingin sekali kembali ke kursinya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya, namun dia tak tega melihat Arsy sendirian di ruangan Rendra,karena tadi ada seorang karyawan yang mengatakan kalau Rendra sedang ada di ruang rapat, karena ada klien yang tiba-tiba datang ke perusahaan dan meminta meeting mendadak, karena itu Rendra berpesan pada salah satu karyawannya untuk mengatakan kepada istrinya agar menunggu di ruangannya sampai rapat selesai.
ceklek...... pintu terbuka...
Arsy nampak antusias menyambut seseorang yang datang dengan membawa sekantong makanan ditangannya.
"Kak Eno! mana rujaknya?" tanya Arsy berbinar
"Nih.... kebiasaan banget deh Ar! untung ada uncle Ferdi yang bisa mimpin rapat! kakak lagi rapat Ar!!" celoteh Eno.
Celia yang ada di samping Arsy hanya diam, beberapa minggu ini setelah beberapa kali penolakan Celia, hubungan Eno dan Celia memang sudah berubah, Eno yang biasa ceria dan selalu menggoda Celia, gini berubah kembali seperti dulu saat belum terlalu dekat dengan sekertaris sepupunya itu. Eno bersikap dingin dan acuh pada Celia,dia tak lagi terlihat antusias mengejar Celia, Celia yang dari awal sadar diri siapa dirinya,hanya diam dengan semua perlakuan Eno padanya, baginya Eno hanya bermain-main dengan nya, jadi Celia tak begitu mempermasalahkan jauhnya Eno dari dirinya sekarang.
"Kalau begitu saya pergi dulu Nona, Nona sudah ada teman nya untuk menunggu bos Rendra, saya akan kembali ke meja saya nona" kata Celia sambil menunduk pada kedua orang yang ada di hadapannya.
"Iya kak.. makasih ya" ucap Arsy, sedang Eno hanya diam saja sambil memakan rujak buah di hadapannya. Setelah kepergian Celia, Arsy membuka suara.
__ADS_1
"Kakak marahan sama kak Celia?"
tanya Arsy yang memang tak pernah tau bahwa beberapa waktu lalu Eno mengejar Celia, yang dia tau mereka hanya saling kenal dan bertegur sapa.
"Enggak...biasa aja tuh!" jawab Eno santai.
"Kandungan kamu dah berapa ini Ar?" tanya Eno yang melihat Arsy serasa tak nyaman duduk di sofa
"Udah sembilan Kak, ini nunggu Abang soalnya mau periksa ke dokter!" kata Arsy sambil mengelus-elus perut nya.
"hah?? Ar! sembilan kan udah waktunya mau lahiran? kok masih jalan-jalan sih!" kata Eno khawatir.
"Enggak jalan-jalan kak, ini emang mau periksa ke dokter!" kata Eno yang memang kenyataannya dia akan pergi ke dokter karena ada janji.
"sttttttttt... aarrgghh.....aduuh kak!!" teriak Arsy pelan.
"Eh ada apa Ar? Ka-kamu kenapa Ar?" tanya Eno panik
"Sakit kak!!! ka-kayaknya anak aku mau lahir kak!" pekik Arsy.
Eno berlari keluar ruangan dan segera menuju ke meja Celia.
"Celia....!!" teriak Eno
"eh ada apa??" tanya Celia yang kaget dengan kehadiran Eno yang tiba-tiba.
"Ar... Arsy...... Arsy mau melahirkan!!" Teriak Eno
"Apa?? ayooo kesana!"
Celia dan Eno bergegas membawa Arsy ke parkiran di mana mobil Eno berada, bahkan Eno sudah membopong tubuh Arsy karena dirasanya Arsy berjalan terlalu lambat. ketika melewati ruang rapat bertepatan dengan keluar nya Rendra dan seorang kliennya karena rapat sudah selesai.
"Maaf pak Rendra, dan terima kasih sekali lagi!" kata si klien sambil menjabat tangan Rendra.
__ADS_1
"Minggir!!" hardik Celia yang panik dan tak peduli siapa yang di hardiknya.
"Lho.....itu....itu kan??!!" kata Rendra dan seketika memandang ke arah Farel.
"Arsy!!!" Teriak mereka bersama,
Rendra Langsung berlari mengejar Eno dan Celia, sedangkan Farel menjelaskan pada klien siapa tadi,karena sangat tidak terlihat sopan ketika Rendra lari begitu saja tanpa pamit.
"Aargghhhh......sakit kak!!! sakiitt!!!" pekik Arsy sambil meremas leher Eno yang sedang membopong nya.
"Arrrgghh....sakit Ar!!!" kini ganti Eno yang berteriak kesakitan karena goresan kuku Arsy di leher Eno.
"Kak Eno!!!" panggil Rendra
"Re....masuk Re biar gue setir!" kata Eno yang sudah meletakkan Arsy di kursi belakang, sedang Celia langsung keluar dari sisi lainnya dan berpindah ke depan, membiarkan Arsy di temani oleh Rendra.
"Tenang sayang...tenang ya....!" kata Rendra menenangkan Arsy.Arsy terus meringis kesakitan.
Lain Eno lain pula dengan Celia, Eno dengan tenang mengendalikan mobil nya, namun Celia nampak sangat cemas dan sesekali keringat dingin keluar dari keningnya, dia terlihat meremasi kedua tangannya, Eno melihat gelagat aneh pada diri Celia, seperti nya Celia terlalu cemas dengan apa yang terjadi pada Arsy, Eno berpikir betapa sayangnya dan perhatian nya Celia pada Arsy.
"Cepataaaaan kak!!!" teriak Arsy yang sudah tak tahan lagi.
"Sabar sayang ini sudah....sudah cepat!" kata Rendra yang ikutan gugup.
"Tapi....tapi.... rasanya Ar mau.... eeggghhh.....!!"
Tiba-tiba saja Arsy terlihat mengejan, dan hal itu membuat Celia menjerit, Rendra segera memposisikan diri Arsy untuk berbaring dengan pahanya menjadi bantalan kepala Arsy.
"Celia diam!!! jangan panik!! kak Eno fokus!!!"
kegaduhan mulai terdengar dari dalam mobil tersebut, beberapa kali Arsy terlihat mengejan dan setiap kali itu terjadi Celia berteriak histeris.Dengan secepat kilat Eno sampai di depan lobby rumah sakit,namun bersamaan dengan itu
"Oek....oek.....oek......!!''
__ADS_1
bersambung....