Birendra

Birendra
Generasi Baru


__ADS_3

Kiandra nampak bersiap-siap untuk pergi ke rumah kakeknya yaitu Papa dari Wahyu, mereka sekarang tinggal di pedesaan yang asri, menghabiskan waktu berdua dengan sang istri di sana.Arra nampak tak yakin dengan kepergian Kian anaknya saat ini, dia tak terbiasa pergi jauh dari Arra dan Wahyu.


"Kenapa sayang?"


tanya Wahyu yang melihat istrinya melamun sambil menata baju yang akan di bawa Kian, dia memang mempunyai beberapa pelayan,namun untuk urusan Kian Arra lebih sering melakukan nya sendiri.


"Apa Kian tidak akan menyusahkan Papa dan Mama di sana?" tanya Arra terlihat sedikit cemas.


"Hei.....jangan cemas, mereka akan sangat senang kedatangan cucu kesayangan nya, lagi pulang dari sini hanya berjarak 2 jam sayang....kita bisa mengunjungi nya nanti!" kata Wahyu mencoba menenangkan sang istri.


"Entahlah....aku takut Papa dan Mama kerepotan, apalagi kit tak ada di sana" kata Arra lagi.


"Aku meminta dua babysitter untuk ikut dan seorang bodyguard, tenang saja dia akan aman di sana" kata Wahyu sambil memeluk sang istri.


"Baiklah.....pergi temui dia aku akan mengemasi barang-barang nya" kata Arra dan Wahyu pun menuruti kemauan istri nya.

__ADS_1


Di sisi lain, di rumah Bram, Faash sedang mengikuti langkah sang Papa kemana pun Papa nya melangkah.Dia terus saja merayu Bram agar terpenuhi keinginan nya.


"Ayo lah pa! aku akan jadi anak yang baik di sana" kata Faash


"Aku janji! aku tak akan membuat Om Tarjo melaporkan hal-hal yang tidak-tidak pada Papa, aku bisa jaga diri!! aku ini jagoan pa!" lanjut Faash.


"Papa hanya perlu memberikan ku ijin" kata Faash sedikit memaksa.


"Apa kamu bisa janji tidak akan menyusahkan di sana?" tanya sang Papa


"Janji pa!" tegas Faash.


"Yes!! papa memang terbaik!" teriak Faash berlari ke dalam kamar dan meminta salah satu pembantu nya untuk berkemas.


Ya ketika Kian bercerita bahwa dia akan berlibur di rumah kakek dan juga neneknya, Faash seketika senang bukan kepalang, Karena bagaimanapun Faash tak punya kakek atau nenek yang ada di luar kota,karena dia tinggal bersama kakek dan juga Papa dan Mamanya,sedangkan Opa dan Oma nya pun jarak rumah mereka tak begitu berjauhan, Faash dengan jiwa petualangan yang sudah membayangkan bagaimana asik dan seru nya tinggal di desa, dia bisa melakukan apapun di sana, berkelana menjelajahi desa dan bermain-main dengan lumpur itulah yang ada di benak Faash saat ini.

__ADS_1


Tak jauh beda dengan Faash, Arvan juga sudah bersiap, mereka bertiga dengan antusias ingin liburan di kampung


tempat tinggal Kakek dan nenek Kian, ini hal pertama bagi Arvan, dia tak pernah tinggal di pedesaan, tak seperti Faash dengan berjuta fantasi nya, Arvan nampak antusias namun malah bingung apa yang akan di lakukan nya di sana nanti.


"Yakin Van ikut mereka?" tanya sang Papi


"Yakin Pi, tenang aja... Nikmati saja hidup Papi selama satu Minggu gak ada Arvan!" ucap Arvan terdengar seperti sindiran buat Papi nya.


"Dasar anak nakal" seru Rendra dan di sambut suara cekikikan dari sang anak.


"Yakin kamu?" tanya Rendra lagi seakan-akan tidak rela Arvan pergi, bukan apa-apa! Arvan tak pernah tinggal di daerah pedesaan,dan bahkan Arvan tak seperti Faash yang mudah berbaur, ditempat baru biasanya Arvan bersikap diam dan cuek.


"Tenang aja Pi......Arvan baik-baik saja!" kata Arvan


"Ingat!! jangan jahili Kian lagi?!" kata Rendra tegas

__ADS_1


"Siaaap Pi!! tapi gak janji!"


bersambung


__ADS_2